SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DIPADU READING, QUESTIONING, AND ANSWERING (RQA) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI SISWA KELAS X SMAN 1 KEPANJEN

Heryanti Nadia Puji

Abstrak


RINGKASAN

Heryanti, Nadia Puji. 2019. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dipadu Reading, Questioning, and Answering (RQA) untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Siswa Kelas X SMAN 1 Kepanjen. Skripsi. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Amy Tenzer, M.S (2) Siti Imroatul Maslikah, S.Si., M.Si.

Kata Kunci: inkuiri terbimbing, RQA, keterampilan komunikasi

Pendidikan di Indonesia menerapkan Kurikulum 2013 yang sesuai dengan perkembangan pendidikan jaman sekarang yaitu mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan hidup abad 21. Salah satu keterampilan abad 21 yang dibidik dalam Kurikulum 2013 adalah keterampilan komunikasi. Hasil observasi di kelas X MIA 6 SMAN 1 Kepanjen pada tanggal 17 September 2018 menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi lisan siswa masih rendah terlihat dari kurangnya aktivitas siswa untuk bertanya dan menanggapi dengan baik ketika presentasi atau diskusi kelas. Hasil tes kemampuan awal siswa tanggal 16 Januari 2019 pada materi Fungi menunjukkan hasil rata-rata nilai siswa yaitu 53,33 dengan siswa yang mencapai KKM sebesar 17,8% dari 32 siswa. Kedua aspek tersebut menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi siswa masih rendah sehingga diperlukan alternatif model pembelajaran yang mampu meningkatkan keterampilan komunikasi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran Inkuiri Terbimbing dipadu RQA yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi siswa kelas X SMAN 1 Kepanjen.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian terdiri dari 2 siklus, masin-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan tindakan, dan refleksi. Penelitian menggunakan materi Plantae yang terangkum dalam Kompetensi Dasar (KD) 3.8 dan materi Animalia yang terangkum dalam KD 3.9. Data yang dikumpulkan selama penelitian yaitu keterlaksanaan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing dipadu RQA dari aspek guru dan siswa dengan instrumen lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing dipadu RQA dari aspek guru dan siswa, keterampilan komunikasi lisan siswa dengan instrumen lembar observasi keterampilan komunikasi lisan siswa beserta rubrik, keterampilan komunikasi tertulis siswa diukur dengan pretest-posttest serta jawaban LKS secara tertulis pada tahap Answering.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan model Inkuiri Terbimbing dipadu RQA terlaksana dengan baik menggunakan sintaks

(1) mengeksplorasi fenomena,

(2) Reading,

(3) Questioning,

(4) merancang investigasi,

(5) melaksanakan investigasi,

(6) menganalisis data,

(7) membangun pengetahuan baru,

(8) mengomunikasikan,

(9) Answering. Keterampilan komunikasi lisan maupun tertulis mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Keterampilan komunikasi lisan siswa berdasarkan hasil observasi rata-rata semua aspek meningkat yaitu 64,64% pada siklus I menjadi 78,23% pada siklus II. Keterampilan komunikasi tertulis dari hasil pretest-posttest mengalami peningkatan dari 0,61 pada siklus I menjadi 0,81 pada siklus II. Keterampilan komunikasi tertulis berdasarkan jawaban LKS secara tertulis pada tahap Answering mengalami peningkatan dari 80,17% pada siklus I menjadi 85,21% pada siklus II.

Kesimpulan dari penelitian yaitu model pembelajaran Inkuiri Terbimbing dipadu RQA dapat meningkatkan keterampilan komunikasi baik secara lisan maupun tertulis pada kelas X MIA 6 SMAN 1 Kepanjen. Saran dari penelitian ini yaitu pada tahapan melaksanakan investigasi sebaiknya guru meminta setiap kelompok mengamati bahan amatan yang berbeda serta mengomunikasikan di depan kelas dengan tujuan agar setiap kelompok memperoleh informasi yang sama meskipun kelompok bahan yang diamati berbeda-beda, sehingga waktu pelaksanaan investigasi akan menjadi lebih efisien.