SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perbedaan Pertumbuhan Artemia salina akibat Pemberian Pakan Ulat Sutera (Samia cynthia)

NURUL HIKMAH

Abstrak


ABSTRAK

 

Kebutuhan produksi ikan terus mengalami peningkatan sehingga perlu adanya dorongan dalam industri perikanan dalam negeri. Beberapa biota laut seperti udang windu memerlukan pakan tertentu pada fase larva seperti zooplankton yang biasa digunakan dalam budidaya ikan. Zooplankton yang sering digunakan adalah Artemia salina. Budidaya Artemia di Indonesia masih belum banyak dilakukan sehingga masih import. Artemia sangat memerlukan protein tinggi untuk pakannya. Salah satu sumber protein yang dapat digunakan adalah pupa ulat sutera (Samia cynthia). Pupa ini memiliki kandungan protein kasar 48%  dan 27% asam lemak tak jenuh, berdasarkan hal tersebut maka pupa ulat sutera sangat berpotensi sebagai pakan Artemia.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jumlah A. salina yang berhasil hidup serta panjang A. salina yang dapat hidup akibat variasi dosis jus pupa ulat sutera (S. cynthia). Penelitian ini diharapkan dapat memerikan manfaat bagi peneliti lainnya dalam penelitian lebih lanjut mengenai dosis pakan. Manfaat lain adalah dapat memberikan informasi bagi masyarakat mengenai alternatif pakan Artemia yang memiliki nilai nutrisi tinggi, serta bagi pemerintah bisa menjadi informasi mengenai pengembangan budidaya Artemia.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancang Acak lengkap (RAL) menggunkan 4 taraf perlakuan pakan, yaitu 0,16 ml; 0,33 ml; 0,50 ml dan 0,67 ml dengan 6 ulangan per perlakuan. Tahap persiapan pada penelitian ini adalah penyediaan wadah kultur beserta air garam dan penyediaan jus pupa ulat sutera. Wadah kultur berupa gelas plastik ukuran 400 ml, serta menyiapkan air garam bersalinitas 3 % menggunakan garam ikan. Jus pupa ulat sutera dibuat dengan cara menghaluskan pupa ulat sutera dengan blender kemudian disaring dengan menggunakan kain saring, hasil saringan berupa jus tersebut digunakan untuk pakan Artemia salina.  Perlakuan diberikan pada media kultur setiap harinya, dan dihitung jumlah serta diukur panjang A. salina yang hidup setiap dua hari sekali. Faktor abiotik seperti DO, pH, salinitas, dan suhu dikontrol. Pengambilan data dilakukan selama 21 hari dengan 11 kali pengamatan jumlah dan panjang. Jumlah A. salina merupakan jumlah yang masih hidup saat pengamatan, perhitungan dilakukan menggunakan pengambilan sampel 5 kali dan dihitung setiap pengambilan. Panjang A. salina merupakan panjang tubuh mulai bagian anterior hingga posterior. Data jumlah dan panjang A. salina yang didapat dianalisis dengan deskriptif dan uji anova.

Hasil dari penelitian menunjukan adanya perbeedan pertumbuhan (jumlah dan panjang) pada dosis pakan yang diberikan. Pada analisis grafik data jumlah, dosis 0,67 ml menunjukan adanya kenaikan yang lebih tinggi dari dosis lainnya. Uji anova data jumlah mendapatkan hasil dosis 0,67 ml berbeda nyata yaitu pada pengamatan ke 8, ke 9, dan ke 10. Pada data panjang yang telah dianalisis grafik menunjukan dosis 0,50 ml meiliki pertumbuhan panjang lebih besar dibanding dengan dosis lain. Pada uji anova dosis 0,50 ml menunjukan adanya beda nyata yaitu pada pengamatan ke 7, ke 8, ke 9 dan ke 11. Beda nyata yang terjadi pada pengamatan jumlah dan panjang memiliki terdapat perbedaan dosis, keadaan ini berhubungan dengan jumlah individu dalam area tertentu serta ukuran tubuh individu dalam populasi. Pertumbuhan sendiri akan terjadi lebih baik jika terdapat kelebihan asam amino dalam tubuh, jika dilihat jumlah pakan yang diberikan tetap dan pertumbuhan populasi terus terjadi maka akan tersjadi penurunan jumlah A. salina dalam populasi media kultur.

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahi adanya dinamika populasi dalam kultur A. salina karena jumlah individu dalam populasi berhubungan dengan ukuran individu dalam populasi tersebut. Pertumbuhan Artemia yang terkontrol memiliki fase-fase yang menunjukan adanya kenaikan dan penurunan jumlah individu dalam populasi. Saat fase dimana jumlah menunjukan nilai tertinggi, ukuran tubuh yang membesar, ketersediaan pakan yang tetap dan area yang tetap menyebabkan kultur tidak bertumbuh dengan maksimal. Fase tersebut akan terjadi berulangkali sehingga akan terlihat fase yang sama akan terjadi berikutnya jika luar area media kultur dan jumlah pakan tetap. Pertumbuhan dapat naik jika ada penambahan luas area kultur dan jumlah pakan sehingga populasi A. salina dapat tumbuh secara maksimal.