SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

SABUN CAIR EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO

dewi maspufah

Abstrak


ABSTRAK

 

Penyakit kulit masih menjadi masalah utama bagi masyarakat Indonesia. Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen utama yang dapat menyebabkan infeksi kulit. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan Husna (2016) di Rumah sakit Saiful Anwar Malang menunjukkan jumlah pasien yang terinfeksi Staphylococcus aureus mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2013 sebanyak 354 pasien dan meningkat di tahun 2014 menjadi 572 pasien. Tingginya kasus resistensi bakteri terhadap berbagai antibiotik maka dibutuhkan alternatif pengobatan infeksi bakteri. Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, minyak atsiri, saponin, alkaloid dan steroid yang berpotensi sebagai antibakteri.

Tujuan penelitian ini untuk memperoleh konsentrasi ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum L) yang efektif sebagai bahan sabun cair antibakteri  Staphylococcus aureus. Kegunaan teoritis pada penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai cara pembuatan ekstrak daun kemangi, pembuatan sabun cair dan dapat digunakan sebagai dasar penelitian sejenis dengan menggunakan tanaman dan bakteri uji jenis lain. Kegunaan praktis pada penelitian ini diharapkan menghasilkan produk sabun cair antibakteri yang berbahan alami dan memberikan inovasi baru untuk produk sabun cair.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental secara in vitro. Rancangan penelitian  yang digunakan adalah  rancangan penelitian RAL (Rancangan Acak Lengkap) terdiri atas 6 perlakuan yaitu antibiotik Ceftriaxone 30 µg/ml (Kontrol +), sabun cair ekstrak daun kemangi konsentrasi 5%(K1), 10% (K2), 15% (K3), 20%(K4) dan 0% (Kontrol -) dengan 4 kali ulangan. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi paper disk sehingga terbentuk diameter zona hambat. Pengukuran langsung terhadap diameter zona hambat pertumbuhan S. aureus dalam medium NA pada cawan petri setelah diinkubasi pada suhu 370C selama 1x24 jam dengan menggunakan jangka sorong

Data pengukuran zona hambat dianalisis statistik dengan ANAVA tunggal, kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan 1%. Berdasarkan uji lanjut Duncan diketahui bahwa perlakuan ekstrak daun kemangi 0% dalam sabun cair menunjukkan zona hambat terkecil yaitu sebesar 8,44 mm, kemudian perlakuan ekstrak daun kemangi 20% menunjukkan hasil zona hambat yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi ekstrak daun kemangi 5%, 10% dan kontrol positif (ceftriaxone), kemudian konsentrasi 15%