SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Kombinasi Ekstrak Tempe Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merril) dan Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) terhadap Kadar Advanced Glycation End-Product (AGE) Serum Darah Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe 2

Maulidan Asyrofil Anam

Abstrak


ABSTRAK

 

Anam, Maulidan Asyrofil. 2018. Pengaruh Kombinasi Ekstrak Tempe Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merril) dan Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) terhadap Kadar Advanced Glycation End-Product (AGE) Serum Darah Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe 2. Skripsi. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Abdul Gofur, M. Si., (II) Dr. Sri Rahayu Lestari, M. Si.

 

Kata Kunci: Tempe Kedelai Hitam, Ubi Jalar Ungu, AGE, DMT2

Diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) dikenal dengan DM yang tidak tergantung dengan jumlah insulin. Gejala fisiologis utama DMT2 adalah resistensi sel target terhadap insulin yang menyebabkan hiperinsulinemia. Jumlah kasus DM di Indonesia meningkat dua kali lipat dari 4,5 juta menjadi 8,4 juta antara tahun 1995-2000 yang sebagian besar adalah DMT2. Jumlah tkasus DM diperkirakan akan menjadi 21,3 juta pada tahun 2030. Obesitas merupakan faktor risiko terpenting yang menyebabkan peningkatan kasus DMT2 karena obesitas mempengaruhi terjadinya resistensi insulin. Resistensi insulin mengakibatkan down regulation protein glucose transporter 4 (GLUT-4) dan penurunan aktivitas enzim glikogen sintase sehingga menyebabkan hiperglikemia. Hiperglikemia akibat resistensi insulin menyebabkan glukosa berikatan kovalen dengan protein plasma melalui proses non-ezimatik yang disebut glikasi dan menghasilkan AGE. Interaksi antara AGE dengan reseptornya, RAGE, dapat  menyebabkan perubahan signaling intraseluler, ekspresi gen, dan berbagai komplikasi diabetes yang mencakup pembentukan reactive oxygen spesies (ROS).

Reactive oxygen species (ROS) dapat menyebabkan terjadinya stres oksidatif yang mengakibatkan berbagai komplikasi DMT2. Kerusakan sel akibat stres oksidatif dapat menyerang ginjal (nephropathy) sehingga terjadi inflamasi yang berujung pada disfungsi ginjal. AGE dalam sirkulasi darah dapat berupa protein serum atau peptida kecil. AGE-peptida dalam sirkulasi tersebut secara normal akan difiltrasi oleh ginjal. Akumulasi AGE akibat hiperglikemia dan adanya kerusakan pada ginjal mengakibatkan ginjal mengalami hiperfiltrasi dan tidak lagi mampu menyaring AGE sehingga kadar AGE serum darah meningkat. Antioksidan memiliki potensi terapi bagi penderita DMT2 dengan cara melindungi sel dari radikal bebas yang dihasilkan dari proses glikasi dan transport elektron. Antioksidan dapat menstabilkan ROS dalam sel dan dapat membantu terapi pasien penderita komplikasi nefropati. Alternatif sumber antioksidan yang potensial adalah  tumbuhan. Beberapa tumbuhan yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan tinggi adalah kedelai hitam (G. max (L.) Merril)  dan ubi jalar ungu (I. batatas L.)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi ekstrak tempe kedelai hitam dan ubi jalar ungu terhadap kadar AGE serum darah tikus model DMT2. Tikus dikelompokkan menjadi 7 kelompok, yaitu 2 kelompok kontrol (kontrol positif dan negative) dan 5 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan (P1-5) secara berurutan diberi perlakuan kombinasi ekstrak tempe kedelai hitam dan ubi jalar ungu dengan perbandingan 4:0, 0:4, 3:1, 2:2, dan 1:3. Tikus jantan galur Wistar diaklimatisasi selama sepekan kemudian diberi pakan high fat diet (HFD) sebanyak 20 g per hari dan minum sukrosa 10% secara ad libitum selama 9 pekan. Komposisi HFD adalah pakan Hi Gro 551 yang dihaluskan (300 g), jagung giling (200 g), minyak jelantah (150 g), kuning telur bebek (100 g), tepung terigu (50 g), dan asam kolat (0,1 g). Tikus model DMT2 diinjeksi STZ multiple low dose sepekan sekali selama 2 pekan secara intraperitoneal (IP). Tikus dianggap menderita DMT2 apabila  kadar glukosa darahnya ≥200 mg/dl. Kadar glukosa darah diukur sebelum dan setelah pemberian perlakuan, sisa pakan dan berat badan juga ditimbang. Serum darah tikus dikoleksi dan diuji dengan metode indirect ELISA untuk mengetahui kadar AGE setelah 5 pekan perlakuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat sisa pakan tikus model DMT2 cenderung menurun, sedangkan berat badannya cenderung naik sebelum diberi perlakuan, namun cenderung menurun setelah diberi perlakuan (kecuali kelompok K-). Kadar glukosa darah tikus sebelum perlakuan cenderung tinggi, kelompok tertinggi adalah klompok P4 (450 mg/dl), kemudian menurun setelah diberi perlakuan (kecuali kelompok K-). Penurunan kadar glukosa darah terbesar terjadi pada kelompok P4. Kadar AGE yang didapatkan melalui uji indirect ELISA menunjukkan distribusi data normal dan homogen. Berdasarkan uji ANOVA tunggal, didapatkan nilai P = 0,009 (