SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Instrumen Evaluasi Mata Pelajaran Biologi SMA Kompetensi Dasar 3.7, 4.7, 3.8, dan 4.8 Kelas X dalam Kurikulum 2013 di SMA Widyagama Kota Malang

Hanifa Fitria Ratri

Abstrak


ABSTRAK

 

Ratri, Hanifa Fitria. 2017. Pengembangan Instrumen Evaluasi Mata Pelajaran Biologi SMA Kompetensi Dasar 3.7, 4.7, 3.8, dan 4.8 Kelas X dalam Kurikulum 2013 di SMA Widyagama Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triastonno Imam Prasetyo, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M,Si.

 

Kata kunci: Instrumen Evaluasi, Biologi SMA, Kompetensi Dasar 3.7, 4.7, 3.8, dan 4.8

 

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi. Untuk mengukur kompetensi siswa dalam pembelajaran digunakan instrumen evaluasi. Instrumen evaluasi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah 36 soal pilihan ganda jawaban tunggal dengan 5 pilihan jawaban, dan 2 asesmen kinerja. Soal pilihan ganda jawaban tunggal mengacu pada indikator soal yang dikembangkan dari indikator kompetensi. Kompetensi dasar merupakan acuan perumusan indikator kompetensi. Asesmen kinerja mengacu pada kompetensi dasar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan rumusan soal pilihan ganda jawaban tunggal dan asesmen kinerja dari KD 3.7, 4.7, 3.8 dan 4.8, (2) mengetahui validitas logis dan validitas empiris soal pilihan ganda jawaban tunggal yang sudah dibuat dari kompetensi dasar 3.7, dan 3.8, (3) mengetahui validitas logis asesmen kinerja yang dibuat dari kompetensi dasar 4.7, dan 4.8. Pengembangan instrumen evaluasi dilakukan di SMA Widyagama Kota Malang.

Penelitian pengembangan ini menggunakan model penelitian R & D  menurut Borg and Gall yang dilakukan sampai tahap ke-7. Pengumpulan data diperoleh dari (1) hasil validasi logis oleh ahli evaluasi, ahli materi, dan ahli lapangan (guru), (2)  validasi empiris yang meliputi tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas dan analisis pengecoh. Pengembangan asesmen kinerja berdasarkan hasil validasi logis, sedangkan pengembangan soal pilihan ganda jawaban tunggal berdasarkan hasil validasi logis dan validasi empiris. Validasi empiris dilakukan dua kali yaitu, uji coba lapangan awal dan uji coba lapangan produk utama. Uji coba lapangan awal dilakukan dilakukan pada 12 siswa, sedangkan uji coba lapangan produk utama dilakukan pada 38 siswa kelas X SMA Widyagama Kota Malang.

Berdasarkan analisis validasi logis dilakukan perbaikan penambahan kriteria, latar belakang masalah pada penyusunan laporan pada asesmen kinerja. Berdasarkan analisis validasi logis terhadap soal pilihan ganda jawaban tunggal diketahui validitas konstruk soal sudah sesuai dengan indikator soal dan tujuan pembelajaran. Sedangkan untuk validitas isi diketahui materi tes sesuai dengan indikator soal dan tujuan pembelajaran. Untuk soal pilihan ganda jawaban tunggal berdasarkan analisis validasi logis dilakukan perbaikan terhadap pokok soal, pilihan jawaban, dan homogenitas pilihan jawaban. Berdasarkan program ITEMAN diperoleh hasil uji coba lapangan awal pada soal pilihan ganda jawaban tunggal untuk tingkat kesukaran soal mudah 33,33%, soal sedang 41,67%, dan soal sukar 25% dengan rasio soal mudah:sedang:sukar mencapai kurang lebih 3:4:2. Untuk daya beda persentase 16,67% jelek, 25% cukup , 25% baik, dan 33,33% baik sekali. Untuk analisis pengecoh, pilihan jawaban berfungsi mengecoh sebanyak 47,22%. Berdasarkan uji coba lapangan awal dilakukan revisi. Revisi juga dilakukan berdasarkan hasil analisis pengecoh. Setelah dilakukan validitas logis dan empiris dilakukan revisi untuk digunakan uji coba lapangan produk utama. Hasil uji coba lapangan produk utama pada soal pilihan ganda jawaban tunggal untuk tingkat kesukaran soal mudah 27,78%, soal sedang 47,22%, dan soal sukar 25% dengan rasio soal mudah : sedang : sukar kurang lebih 3:4:3. Untuk daya beda jelek diperoleh persentase 2,78%, cukup 38,89%, baik 36,11%, dan baik sekali 22,22%. Reliabilitas instrumen tergolong sangat tinggi dengan nilai 0,832. Untuk analisis pengecoh, pilihan jawaban berfungsi mengecoh sebanyak 77,78%. Berdasarkan uji coba lapangan produk utama dilakukan revisi. Revisi juga dilakukan berdasarkan hasil analisis pengecoh. Saran yang dianjurkan adalah sebaiknya guru dan peneliti lain terus melakukan validasi agar diperoleh instrumen evaluasi yang lebih baik. Penelitian ini perlu dikembangkan lebih lanjut dengan melanjutkan model pengembangan Borg and Gall pada langkah ke 8, 9, dan 10.