SKRIPSI Jurusan Akutansi - Fakultas Ekonomi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Pengaruh Kompetensi Moral, Tingkat Religiusitas, dan Efikasi Diri Terhadap Academic Dishonesty (Studi Pada Mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang)

Fadhilah Nur Asa'a

Abstrak


ANALISIS PENGARUH KOMPETENSI MORAL, TINGKAT RELIGIUSITAS, DAN EFIKASI DIRI TERHADAP ACADEMIC DISHONESTY (STUDI PADA MAHASISWA S1 AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI MALANG)

Asa’a Nur Fadhilah

Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang

Asaafadhilah07@gmail.com

Summary: Academic dishonesty or academic fraud is any kind of individual action that is consciously done to fulfill his or her personal advantage, in unlawful and invalid ways that will harm the various parties in the academic or educational environment. Several factors influencing academic dishonesty was moral competence, level of religiosity, and self-efficacy. This study aimed to determine

(1) the influence of moral competence on academic dishonesty

(2) the influence of level’s religiosity on academic dishonesty

(3) the influence of self-efficacy on academic dishonesty. This research used quantitative approach with explanation type. The population in this study is undergraduate student of Accounting Program force 2015 and 2016 Economic Faculty, State University of Malang. The number of samples in this study were 210 students that taken using proportional random sampling method. The data gained with questionnaire method. Meanwhile, the measure of variables used likert scale and TID concepts. Data analysis technique used multiple linear regression analysis. The results of the study can be concluded that moral competence has a negative effects but not significant on the academic dishonesty of -985 with ttable of -1,65251 and significant value is 0,326 > 0,05. The value of religiosity has a negative effects on the academic dishonesty of -2.311 with ttable of -1,65251 and significant value is 0,022 < 0,05. While self-efficacy has a negative effects on the academic dishonesty of -3.219 with ttable of - 1,65251 and significant value is 0,001 < 0,05. This explains that moral competence has not important meaning toward academic dishonesty. In addition, the higher level of religiosity, so more lower the student’s academic dishonesty. And than, the higher self-efficacy, so more lower the student’s academic dishonesty.

Keyword: Moral Competence, Level of Religiosity, Self-Efficacy, Academic Dishonesty

LATAR BELAKANG

Academic dishonesty atau kecurangan dalam bidang akademik merupakan segala jenis tindakan individu yang secara sadar dilakukan untuk memenuhi keuntungan pribadinya, dengan cara-cara yang tidak benar dan tidak sah yang

nantiinya dapat merugikan berbagai pihak di dalam lingkungan akademik atau pendidikan (Farida, 2018). Berbagai bentuk tindakan tidak jujur tersebut berupa mencontek, plagiarism, mencuri, dan memalsukan sesuatu yang berhubungan dengan akademisi (Hendricks dalam Fariqoh, 2014). Fenomena academic dishonesty merupakan persoalan yang memerlukan perhatian khusus dalam penyelesaiannya. Pasalnya jika dibiarkan dan tanpa ada tidakan yang tegas akan menjadi kebiasaan untuk diulang-ulang oleh para peserta didik. McCabe, dkk (2001) menekankan bahwa intensitas perilaku kecurangan yang dilakukan seseorang akan menimbulkan efek kebiasaan buruk di kemudian hari. Hal ini sejalan dengan pendapat Ridhayana (2018) yang menyatakan bahwa perilaku kecurangan akademik yang tinggi menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia, karena generasi muda yang tidak memiliki kejujuran akademik nantinya bisa menjadi pemegang kekuasaan negara yang tidak jujur pula. Penelitian Octavian & Valentina (2014) menemukan adanya hubungan antara tingkat perilaku kecurangan akademik saat menjadi peserta didik dengan tingginya tingkat ketidakjujuran di tempat kerja.

Handricks (dalam Farida, 2018) menyebutkan bahwa academic dishonesty sering ditemukan dalam lingkungan perguruan tinggi yang kebanyakan pelakunya adalah mahasiswa strata satu. Salah satu pilihan profesi yang cukup penting dalam dunia bisnis saat ini dan menjadi primadona calon mahasiswa strata satu adalah profesi akuntan dan auditor. Hal ini dikarenakan seorang Akuntan bertugas untuk menyediakan laporan keuangan yang dapat diandalkan dan dibutuhkan oleh pelaku bisnis (Sagoro, 2013). Menurut Rachmi (2010) profesi akuntan bukanlah profesi yang hanya menggunakan angka-angka dan menghitung penjumlahan atau pengurangan, akan tetapi ia juga merupakan profesi yang menggunakan penalaran yang membutuhkan logika dan etika moral yang baik. Trisnaningsih (dalam Putri & Saputra, 2013) memaparkan bahwa, seorang akuntan publik yang profesional dapat dilihat dari hasil kinerja auditor dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor menjadi hal yang penting dalam pelaksanaan fungsi pemeriksaan karena selain mematangkan pertimbangan dalam penyusunan laporan

hasil pemeriksaan, juga untuk mencapai harapan yakni kinerja yang berkualitas (Futri

&Juliarsa, 2014). Disisi lain, Brooks & Dunn (2010) berpendapat bahwa bidang akuntansi merupakan bidang yang sangat rentan terhadap kasus kecurangan dan penyelewengan..Oleh karena itu, sebagai seorang calon akuntan atau auditor sudah sepatutnya memiliki karakter moral dan etika yang baik.

Academic dishonesty atau kecurangan akademik bukanlah masalah yang baru. Fenomena tersebut telah menjadi masalah disebagian besar negara di dunia termasuk Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Tim Studental Jurnal Bogor dari berbagai Perguruan Tinggi di Bogor dan sekitarnya, menemukan bahwa 80% mahasiswa ternyata pernah melakukan kecurangan akademik (Martindas dalam Zamzam, dkk., 2017). Kasus academic dishonesty tersebut bukan hanya dilakukan oleh mahasiswa, melainkan juga oleh tenaga pendidik dan akademisi (Nursani, 2014). Seperti kasus pada tahun 2010 telah terjadi pencabutan gelar guru besar seorang tenaga pengajar karena terbukti melakukan plagiasi hasil karya orang lain (Detiknews, 23 April 2010). Beberapa kasus lainnya ialah plagiasi karya ilmuwan Austria oleh guru besar Perguruan Tinggi di Bandung dan pada tahun 2009 terdapat laporan tentang 3.680 guru di Yogyakarta dan 1.820 guru di Pekanbaru yang mengakui karya orang lain sebagai karya pribadinya yang dilakukan agar dinyatakan lulus program sertifikasi guru (Matindas dalam Mardiansyah, 2017). Hasil penelitian lain yang dilakukan Purnamasari (2013) menunjukkan bahwa sebanyak 85% mahasiswa setidaknya pernah melakukan tindakan academic dishonesty saat pelaksanaan ujian. Tingginya angka kecurangan akademik dikalangan mahasiswa dikhawatirkan akan semakin meningkat dan dapat mempengaruhi kualitas lulusan perguruan tinggi. Hasil penelitian Aryani (dalam Ashari, 2013) mengungkapkan bahwa tindakan kecurangan yang dilakukan pada saat menjadi mahasiswa akan terbawa saat individu masuk ke dunia kerja.

Tingginya tingkat academic dishonesty di lingkungan perguruan tinggi tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor yang bersumber dari diri individu maupun dari luar individu tersebut. Anderman & Murdock (dalam

Purnamasari, 2013) menyebutkan bahwasanya faktor Self-eficacy dan perkembangan moral, serta menurut Rettinger dan Jordan (dalam Purnamasari, 2013) faktor religius juga dapat mempengaruhi terjadinya kecurangan akademik . Wardani (2015) menyatakan bahwa hal yang sering menyebabkan peserta didik menyontek adalah karena mereka merasa tidak mampu dalam menyelesaikan tugas-tugas atau soal-soal ujian yang dirasa sulit untuk dikerjakan sehingga mau tidak mau mereka memilih untuk menyontek. Hal ini menandakan bahwa self efficacy mereka masih rendah. Efikasi diri akademik dapat didefinisikan sebagai keyakinan yang dimiliki seseorang tentang kemampuan atau kompetensinya untuk mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi tantangan akademik (Purnamasari, 2013). Individu yang menganggap tingkat efikasi diri akademik cukup tinggi akan berusaha lebih keras, berprestasi lebih banyak, dan lebih gigih dalam menjalankan tugas dengan menggunakan keterampilan yang dimiliki daripada yang menganggap efikasi diri akademiknya rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian Aulia (2015) yang menyatakan bahwa efikasi diri akademik mempunyai hubungan yang signifikan terhadap perilaku kecurangan akademik.

Yanti, dkk (2017) menyebutkan bahwa kompetensi moral menjadi penting dalam membentuk karakter pribadi yang unggul dan berakhlak pada diri individu. Kompetensi moral merupakan kemampuan berfikir untuk memutuskan suatu tindakan baik atau buruk yang akan dilakukan (Santrock dalam Farida, 2018). Moral menjadi perhatian khusus bagi mahasiswa saat ini. Hal ini disebabkan bukan hanya adanya kesempatan dalam bertindak, namun lebih karena moral mahasiswa selalu berorientasi pada hasil yang didapat, bukan pada proses yang dijalani (Santoso & Yanti, 2015). Dengan menerapkan kompetensi moral, maka para mahasiswa bukan hanya memiliki kemampuan professional dalam akademik, namun juga memiliki moral dalam etika profesi di dunia kerja.

Menurut Alhadza (2004) mengemukakan alasan lain terjadinya perilaku academic dishonesty adalah dilanggarnya nilai-nilai dasar (fundamendal) pendidikan. Nilai-nilai dasar kejujuran, kebenaran dan keadilan merupakan salah satu hal yang ada dalam suatu ajaran agama atau religiusitas (Sukaini, 2013). Hal tersebut menjelaskan bahwa individu yang memiliki tingkat religiusitas yang lemah akan

mudah terdorong untuk melakukan tindakan academic dishonesty. Penelitian Purnamasari (2013) mengungkapkan bahwa tingkat religiusitas juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecurangan akademik yang terjadi pada mahasiswa. Hal tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Conroy & Emerson (dalam Zamzam, dkk., 2017) yang menunjukkan bahwa orang yang memiliki komitmen dalam agama, mereka mampu membuat keputusan sesuai dengan keyakinan moral mereka.

Diharapkan dengan mengetahui tingkat academic dishonesty mahasiswa S1 Akuntansi dapat memprediksi bagaimana tingkat moral dan etika mahasiswa tersebut sebagai representasi tenaga professional kedepannya. Dengan mengetahui tingkat academic dishonesty, peneliti berkeyakinan mahasiswa S1 Akuntansi dapat memprediksi bagaimana kondisi moral dan etika calon pemegang kuasa di masa depan. Selain itu, hal ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam melakukan antisipasi atau pencegahan untuk meminimalisir dan menghilangkan perilaku tak bermoral tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Yanti, dkk (2018) bahwa seorang akuntan atau auditor yang memiliki moralitas tinggi akan menghasilkan pertimbangan yang lebih independen, menjadikan moral dan etika sebagai dasar pertimbangan profesional dan penyelesaian konflik etis, tidak sekedar sesuai standar profesi.

Kompetensi Moral dan Academic Dishonesty

Kompetensi didefinisikan sebagai sebuah kemampuan dan wewenang untuk memutuskan sesuatu. Sedangkan menurut Piaget (dalam Santoso & Yanti, 2015) moral adalah kebiasaan seseorang untuk berperilaku lebih baik atau buruk dalam memikirkan masalah-masalah social terutama dalam tindakan moral. Maka dari itu, kompetensi moral dapat didefinisikan secara luas sebagai suatu kemampuan individu untuk membedakan benar dan salah berdasarkan keyakinan yang kuat akan etika dan menerapkannya dalam tindakan (Yanti, dkk., 2017). Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan moral yang dilakukan antara individu satu dengan satunya belum tentu sama, hal ini tergantung kepada pemikiran moral yang dimiliki individu itu sendiri (Budiningsih dalam Farida, 2018). Teori perkembangan moral yang dikemukakan

oleh Kohlberg digunakan untuk mengembangkan konsep kompetensi moral yang dapat mengukur kedua aspek kognitif dan afektif sekaligus. Apabila mahasiswa memiliki kompetensi moral yang rendah, maka semakin besar kemungkinan ia untuk melakukan tindak kecurangan akademik. Menurut Santoso & Yanti (2015), apabila individu memiliki tingkat kompetensi moral yang tinggi, maka individu tersebut tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan untuk berbuat tindak kecurangan. Akan tetapi, apabila tingkat kompetensi moral orang tersebut rendah maka tanpa atau adanya pengaruh dari lingkungan maka orang tersebut akan melakukan tindakan berdasarkan hasil yang ingin ia capai tanpa melihat nilai moralnya. Hal ini didukung dengan hasil penelitian oleh Farida (2018) terdapat pengaruh negatif antara kompetensi moral terhadap academic dishonesty. Berdasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah:

H1 : Kompetensi moral berpengaruh negatif terhadap academic dishonesty

Tingkat Religiusitas dan Academic Dishonesty

Religiusitas sangat erat kaitannya dengan kepercayaan batiniah yang dipercayai oleh masing-masing individu. Menurut Ridhayani, dkk. (2018) religiusitas adalah tingkat kepercayaan kepada Tuhan dalam beragama yang dianutnya. Kepercayaan beragama merupakan keyakinan yang sudah mengakar pada diri individu, dan selalu diajarkan sejak dini dengan tujuan mampu mencapai berkah surga-Nya kelak. Dalam teori cognitive science of religion yang dapat diketahui bahwa religiusitas merupakan penghayatan nilai-nilai agama seseorang yang diyakini dalam bentuk ketaatan dan pemahaman agama secara benar serta mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (Widaina, 2016). Sebagai sebuah keyakinan diri, individu yang memiliki tingkat pemahaman agama yang tinggi akan cenderung berperilaku etis dan tentunya akan berusaha menghindari perilaku tidak terpuji. Tingkat pemahaman agama yang tinggi diharapkan mampu menjadi faktor pengontrol dalam setiap tindakan yang ingin dilakukan. Purnamasari (2013) melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kecurangan akademik pada mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa faktor religi berpengaruh terhadap kecurangan akademik mahasiswa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Herlyana, dkk (2017) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh negatif signifikan religiusitas terhadap kecurangan akademik. Berdasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah:

H2 : Tingkat religiusitas berpengaruh negatif terhadap academic dishonesty

Efikasi diri dan Academic Dishonesty

Purnamasari (2013) menyatakan bahwa Efikasi diri akademik dapat didefinisikan sebagai keyakinan yang dimiliki seseorang tentang kemampuan atau kompetensinya untuk mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi tantangan akademik. Individu yang menganggap tingkat efikasi diri akademik cukup tinggi akan berusaha lebih keras, berprestasi lebih banyak, dan lebih gigih dalam menjalankan tugas dengan menggunakan keterampilan yang dimiliki daripada yang menganggap efikasi diri akademiknya rendah. Efikasi diri memiliki keterkaitan erat dengan konsep diri yang melekat pada diri individu. Individu yang memiliki konsep diri tinggi diharapkan dapat mempertahankan konsep diri yang dimiliki, sehingga dapat mengurangi intensitas academic dishonesty. Sedangkan individu yang memiliki konsep diri rendah diharapkan lebih mengenal diri dan potensi-potensi yang dapat dikembangkan, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Hal tersebut membuat individu dapat menentukan tujuan yang realistis dan lebih mudah mencapai prestasi yang optimal. Namun dalam proses pelaksanaannya, konsep diri yang dimiliki masing-masing individu cenderung belum mampu menghasilkan tujuan yang diinginkan. Sehingga dalam proses pelaksanaannya banyak dijumpai individu yang melakukan tindakan kecuragan akademik demi memperoleh hasil yang diinginkan secara instan (McCabe dalam Farida, 2018). Korelasi antara academic dishonesty dengan efikasi diri telah banyak dilakukan oleh penelitian sebelumnya. Menurut Syahrina (2016), hubungan yang dimiliki antara efikasi diri dan perilaku mencontek memiliki hubungan yang berarah negatif. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan

pendapat Aulia (2015) yang menjelaskan bahwa hubungan efikasi diri dengan kecurangan akademik bersifat signifikan. Dimana mahasiswa yang memiliki efikasi diri rendah memiliki kecenderungan melakukan kecurangan akademik lebih besar, daripada mahasiswa yang memiliki prestasi belajar tinggi. Berdasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah:

H3 : Efikasi diri berpengaruh negatif terhadap academic dishonesty

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Explanatory Research atau penelitian penjelasan yang bertujuan untuk menganalisis kompetensi moral, tingkat religiusitas, dan efikasi diri terhadap academic dishonesty. Penelitian eksplanasi atau penelitian penjelasan bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya (Sudaryono, 2017:83). Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen, yaitu kompetensi moral (X1), tingkat religiusitas (X2), dan efikasi diri (X3) serta satu variabel dependen yaitu academic dishonesty (Y). Populasi dalam penelitian adalah mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Tahun Angkatan 2015 dan 2016 sebanyak 444 mahasiswa. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 210 mahasiswa, dengan menggunakan teknik proporsional random sampling untuk pemilihan sampel. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa angket, yang digunakan untuk mengukur variabel kompetensi moral (dalam bentuk defining issue test), tingkat religiusitas, efikasi diri, dan academic dishonesty. Defining issue test (DIT) merupakan metode atau cara khusus yang digunakan untuk mengukur kompetensi moral yang dikemukakan oleh Rest tahun 1979 (Santrock, 2007). Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, yaitu angket yang sudah menyediakan beberapa alternatif jawaban. Dan berikut ini adalah pedoman untuk pemberian skor untuk masing-masing item pada angket, pemberian skor untuk kompetensi moral dari poin 1-6 berdasarkan 6 tahap perkembangan moral.

Tabel 1 Pedoman Pemberian Skor Variabel Tingkat Reliiusitas, Efikasi Diri, dan Academic Dishonesty

Alternatif Jawaban Skor

Favorable Unfavorable

Sangat Setuju (SS) 4 1

Setuju (S) 3 2

Tidak Setuju (TS) 2 3

Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4

Tabel 2 Pedoman Pemberian Skor Variabel Kompetensi Moral

Cirita Skor Alternatif Jawaban

A b c D e f

I 6 5 4 3 2 1

II 2 4 6 3 1 5

III 1 2 3 4 5 6

IV 2 1 5 4 6 3

V 1 3 5 4 2 6

Dalam penelitian ini, analisis data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh kompetensi moral, tingkat religiusitas, dan efikasi diri terhadap academic dishonesty menggunakan beberapa langkah tahapan, antara lain:

1) Uji validitas dan reliabilitas. Uji ini dilakukan untuk menguji kehandalan data agar tidak bias.

2) Uji Asumsi klasik. Uji asumsi klasik yang digunakan terdiri dari: Uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas.

3)Uji Regresi Berganda dan uji hipotesis. Uji statistik ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (kompetensi moral, tingkat religiusitas, dan efikasi diri) berpengaruh terhadap variabel dependen (academic dishonesty). Model persamaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

= +   1  1 +   2  2 +   3  3 +

Keterangan:

Y: Variabel dependen (terikat) yaitu academic dishonesty

: Konstanta

X1 : Variabel independen (bebas) pertama yaitu kompetensi moral

X2 : Variabel independen (bebas) kedua yaitu tingkat religiusitas

X3 : Variabel independen (bebas) ketiga yaitu efikasi diri

: Koefisien regresi atau predictor

e: Error (kesalahan pengganggu), artinya nilai-nilai dari variabel lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan dan yang tidak dihiraukan dalam perhitungan

HASIL dan PEMBAHASAN

Deskripsi variabel kompetensi moral diperoleh melalui kuesioner/ angket dari 210 responden, sebanyak 81 mahasiswa dengan persentase 38% berada pada kategori tinggi, 121 mahasiswa dengan persentase 58% berada pada kategori sedang dan 8 mahasiswa dengan persentasi 4% berada pada kategori rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kompetensi moral yang dimiliki oleh mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2015 dan 2016 berada pada kategori sedang. Kemudian deskripsi dari variabel tingkat religiusitas dari 210 responden sebanyak 97 mahasiswa dengan persentase 46% berada pada kategori sangat tinggi, 108 mahasiswa dengan persentase 51% berada pada kategori tinggi, 5 mahasiswa dengan persentase 3% berada pada kategori rendah, dan 0 mahasiswa dengan persentase 0% berada pada kategori sangat rendah. Sehingga dari data di atas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2015 dan 2016 memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Lebih lanjut deskripsi dari variabel efikasi diri dari 210 responden sebanyak 0 mahasiswa dengan persentase 0% berada pada kategori sangat tinggi, 79 mahasiswa dengan persentase 38% berada pada kategori tinggi, 128 mahasiswa dengan persentase 61% berada pada kategori rendah, dan 3 mahasiswa dengan persentase 1% berada pada kategori sangat rendah. Sehingga berdasarkan data tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2015 dan 2016 memiliki efikasi diri yang rendah. Selain itu, untuk itensitas tindakan academic dishonesty yang kerap kali dilakukan berdasarkan data penelitian meunjukkan nilai rata-rata tertinggi terletak pada kategori membuat salinan soal atau jawaban untuk diberikan kepada mahasiswa lain.

Hasil analisis uji regresi berganda menunjukkan = 49.578 + (−0,79  1 + (−0,287  2) + (−0,407  3) + 0,05. Artinya, jika nilai konstanta (  ) sebesar 49.578

hal ini menunjukkan jika variabel independen X1, X2, dan X3 memiliki skor 0 (nol) atau konstan, maka nilai academic dishonesty (Y) mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2015 dan 2016 Universitas Negeri Malang adalah 49.578. JIka nilai koefisien X1 (Kopetensi Moral) sebesar -0,79 menunjukkan bahwa setiap peningkatan variabel kompetensi moral akan menurunkan variabel academic dishonesty mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2015 dan 2016 Universitas Negeri Malang sebesar -0,79. Data tersebut menunjukkan bahwa kompetensi moral berpengaruh negatif (berlawanan) terhadap variabel academic dishonesty. Selanjutnya jika nilai koefisien X2 (Tingkat Religiusitas) sebesar -0,287 menunjukkan bahwa setiap peningkatan variabel tingkat religiusitas akan menurunkan variabel academic dishonesty mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2015 dan 2016 Universitas Negeri Malang sebesar -0,287. Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat religiusitas berpengaruh negatif (berlawanan) terhadap variabel academic dishonesty. Lebih lanjut nilai koefisien X3 (Efikasi Diri) sebesar - 0,407 menunjukkan bahwa setiap peningkatan variabel efikasi diri akan menurunkan variabel academic dishonesty mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2015 dan 2016 Universitas Negeri Malang sebesar -0,407. Data tersebut menunjukkan bahwa efikasi diri berpengaruh negatif (berlawanan) terhadap variabel academic dishonesty, artinya semakin tinggi efikasi diri maka semakin rendah academic dishonesty mahasiswa yang terjadi.

Tabel 3 Hasil Analisis Uji Parsial (t)

Coefficientsa

Model Unstandardized Standardized Keterangan

Coefficients Coefficients

B Std. Beta t Sig.

Eror

1   (Constant) 49.578 4.069 12.183 .000

Kompetensi Moral (X1) -.079 .081 -.065 -.985 .326 Ditolak

Tingkat Religiusitas (X2) -.287 .124 -.179 -2.311