SKRIPSI Jurusan Akutansi - Fakultas Ekonomi UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perlakuan Akuntansi untuk Aset Bersejarah "Candi Rimbi" diKabupaten Jombang

Mar Atusolikah

Abstrak


ABSTRAK

 

atusolikah, Mar. 2017. Perlakuan Akuntansi untuk Aset Bersejarah “Candi Rimbi” di Kabupaten Jombang. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Bety Nur Achadiyah, S. Pd,. M. Pd

 

Kata Kunci: Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, Pengungkapan Aset Bersejarah, BPCB Jawa Timur.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum terdapatnya kepastian atas perlakuan akuntansi khususnya pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pelaporan Aset Bersejarah dalam pemerintahan, dan juga terdapat beberapa aset bersejarah yang masih mengalami permasalahan penguasaan salah satunya Candi Rimbi yang tentunya akan berdampak terhadap perlakuan akuntansinya. Aset Bersejarah sebenarnya telah diatur dalam PSAP 07 Aset Tetap, namun belum secara lengkap dan pelaksanaan di pemerintahan masih bersifat normatif. Aset bersejarah adalah aset yang mendapatkan perlakuan khusus dari pemerintah. Pemerintah memberikan 2 alternatif dalam memperlakukan aset bersejarah. Apabila suatu entitas mengakuinya sebagai aset maka entitas tersebut wajib melaporkannya pada neraca sebesar harga perolehan dari aset bersejarah tersebut. Apabila tidak mengakuinya maka cukup dilaporkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan studi kasus pada Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. Penelitian ini berfokus pada Candi Rimbi sebagai salah satu aset bersejarah yang dimiliki pemerintah. Peneliti berperan sebagai pengumpul data. Data didapatkan dengan 3 cara yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi di BPCB Jawa Timur dan Candi Rimbi.

 

Hasil temuan yang diperoleh peneliti berbeda dengan perlakuan yang diterapkan pada PSAP 07, IPSAS 17, GRAP 103, dan FRS 30. BPCB Jawa Timur tidak pernah menerapkan perlakuan akuntansi yaitu tidak melakukan pengakuan candi rimbi sebagai aset, tidak menilainya, dan tidak mengungkapkannya dalam laporan keuangan. Perlakuan Akuntansi aset bersejarah khususnya Candi Rimbi BPCB Jawa Timur dapat mengakuinya sebagai aset dalam kelompok aset tetap. Pengukuran saat pengakuan awal dapat menerapkan metode harga perolehan untuk menentukan jumlah rupiah yang harus diakui sebagai aset, sedangkan untuk penilaian dapat menggunakan model biaya dan untuk bangunan bersejarahnya sendiri tidak dapat dilakukan penyusutan karena kesulitan dalam menentukan nilainya. Setelah melalui pengakuan dan pengukuran Candi Rimbi harus disajikan di Laporan Keuangan Neraca dalam kelompok aset tetap dan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan atas informasi yang berkaitan dengan Candi Rimbi.