SKRIPSI Jurusan Akutansi - Fakultas Ekonomi UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH/US$ DAN TINGKAT SUKU BUNGA SERTIFIKAT BANK INDONESIA (SBI) TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) TAHUN 1998.1-2008.12

Dwi Retno Palupi

Abstrak


ABSTRAK

 

Retno,Dwi Palupi.2009. Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/US$ dan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 1998.1-2008.12. Program Studi Keuangan Perbankan. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

            Pembimbing(I) Drs. Mardono, M.Si, (II) Dr.Imam Mukhlis,M.S.i

 

Kata Kunci: Nilai Tukar Rupiah/US$, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

 

IHSG merupakan cerminan dari kegiatan pasar modal secara umum. Peningkatan IHSG menunjukkan kondisi pasar modal dalam keadaan bullish dan sebaliknya apabila IHSG mengalami penurunan hal tersebut menunjukkan pasar dalam keadaan bearish. Pergerakan IHSG tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor makroekonomi yang mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi keadaan perekonomian suatu negara. Faktor makroekonomi yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai tukar rupiah/US$ dan Tingkat suku bunga SBI. Namun kebenaran argumen ini masih perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat.

Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah Nilai Tukar Rupiah/USD dan Tingkat Suku Bunga SBI secara partial dan simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tahun 1998.1-2008.12. (2)Apakah faktor dominan yang perpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tahun 1998.1-2008.12. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis pengaruh Nilai Tukar Rupiah/USD dan Tingkat Suku Bunga SBI secara partial dan simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tahun 1998.1-2008.12. (2) Menganalisis faktor dominan yang perpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tahun 1998.1-2008.12.

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan Bank Indonesia. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kausal eksplanatori dengan menggunakan statistic deskriptif dan analisis data menggunakan  uji stasioneritas (uji akar-akar unit, uji derajat integrasi), uji ECM (Error Correction Model), uji F, uji t dengan menggunakan program E-views.3 sedangkan  uji asumsi klasik (SPSS). Data dalam  penelitian ini merupakan data kuantitatif dalam model time series yang diperoleh melalui studi pustaka. Data yang digunakan adalah data bulanan dalam kurun waktu sebelas tahun yaitu tahun 1998.1 hingga 2008.12.

Dari hasil analisis data dengan menggunakan uji akar unit, pada ordo 0 (nol) dari data kurs dan tingkat suku bunga SBI sudah berada pada kondisi stasioner. nilai hitung mutlak ADF dari variable nilai tukar dan tingkat suku bunga yang lebih besar dari nilai kritis mutlak MC Kinnon pada tingkat alpha 10%. Nilai hitung ADF mutlak nilai tukar rupiah sebesar 3,41753 sedangkan nilai suku bunga SBI sebesar 2,752046 dengan nilai kritis mutlak pada tingkat alpha 10% adalah 2,5788. Berbeda dengan variable IHSG yang mempunyai nilai hitung mutlak ADF yang lebih kecil dari nilai kritis mutlak MC Kinnon yaitu 1,266576 sehingga data untuk variable tingkat suku bunga belum stasioner pada ordo 0 (nol). Keadaan tersebut dapat diatasi dengan uji derajat integral atau  mengulang kembali uji stasioneritas menggunakan uji ADF pada ordo 1. Pada ordo 1 (satu) semua data berada kondisi stasioner. ordo 0 (nol) dari data nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga SBI dan IHSG sudah berada pada kondisi stasioner. Hal tersebut dapat dilihat pada nilai hitung mutlak ADF dimana nilai hitung mutlak nilai tukar rupiah sebesar 4,989182, tingkat suku bunga  SBI sebesar 2,603820 dan IHSG sebesar 8,058165 yang lebih besar dari nilai kritis mutlak MC Kinnon pada tingkat alpha 10% sebesar 2,5788.

Berdasarkan dari hasil analisis data yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa (1) secara simultan nilai  tukar rupiah/US$ dan  tingkat suku bunga SBI secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal  ini terbukti dari besarnya nilai F­hitung sebesar 7,913970 dengan signifikansi sebesar 0,000002  yang  mana tingkat signifikansi tersebut < dari angka signifikan yang ditolerir (0,05) dan nilai

R-square sebesar 0,24194. (2) secara parsial nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika tidak berpengaruh secara signifikan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek  sebesar  0,5213 dan besarnya signifikansi nilai tukar rupiah dalam jangka panjang sebesar  0,3650. Sedangkan suku bunga SBI jangka pendek  tidak berpengaruh secara signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,467,  sedangkan dalam jangka panjang SBI memberikan pengaruh yang signifikan sebesar  0,0485

Berdasarkan dari hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat suku bunga SBI dalam jangka panjang merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Adanya pengaruh yang signifikan tersebut terhadap IHSG pada Tahun 1998.1-2008.12 dapat dijadikan sebagai acuan dalam  membuat keputusan investasi di Bursa Efek Indonesia pada tahun-tahun berikutnya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para investor, pemerintah maupun bagi peneliti selanjutnya. Investor sebaiknya memperhatikan informasi tingkat suku bunga SBI untuk memprediksi IHSG di BEI yang kemudian dapat dijasikan acuan untuk mengambil keputusan apakah akan melalukan investasi dalam bentuk saham atau valuta asing. Pemerintah sebaiknya juga memperhatikan faktor-faktor tingkat suku bunga SBI melalui kebijakan-kebijkan yang diambil, sehingga dapat mendatangkan investor baik domestik maupun asing. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar dan juga dapat dikembangkan secara luas lagi dengan menggunakan faktor-faktor makroekonomi yang lain, selain nilai tukar rupiah/US$ dan Tingkat Suku Bunga SBI.