SKRIPSI Jurusan Akutansi - Fakultas Ekonomi UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Perbandingan Penyajian Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan International Financial Reporting Standards (IFRS).

Imroatush Sholichah

Abstrak


ABSTRAK

 

Sholichah, Imroatush. 2010. Analisis Perbandingan Penyajian Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan International Financial Reporting Standards (IFRS). Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Tuhardjo, SE, M.Si, Ak, (2) Ika Putri Larasati, SE, M.Com.

 

Kata Kunci: Laporan Keuangan, Standar Akuntansi Keuangan (SAK), International Financial Reporting Standards (IFRS).

 

Standar akuntansi memiliki peranan penting bagi pihak penyusun dan pemakai laporan keuangan sehingga timbul keseragaman atau kesamaan interpretasi atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. Objek penelitian ini adalah laporan keuangan PT. Selecta, Batu yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Adopsi penuh (full adoption) terhadap International Financial Reporting Standards (IFRS) oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) pada tahun 2010 membawa implikasi bagi perusahaan-perusahaan yang memenuhi syarat untuk menerapkan standar tersebut pada umumnya dan khususnya PT. Selecta, Batu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa perbandingan penyajian laporan keuangan berdasarkan kedua standar tersebut.

Dalam penelitian ini analisis dilakukan dengan tahapan-tahapan berikut ini: (1) menyusun laporan keuangan PT. Selecta menggunakan dasar IFRS; (2) membandingkan teknik penyajian dan kebijakan akuntansi yang disusun berdasarkan kedua standar tersebut; (3) berdasarkan analisis tersebut, memberikan saran kepada perusahaan terkait dengan rencana penerapan IFRS dalam penyusunan laporan keuangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika laporan keuangan PT. Selecta, Batu tahun 2008 disusun berdasarkan IFRS akan berdampak pada penurunan laba sebelum pajak, namun mengakibatkan kenaikan pada laba setelah pajak. Hal ini dikarenakan adanya penilaian kembali plant, property and equipment dan aktiva biologi perusahaan. Kenaikan nilai asset mengakibatkan naiknya beban penyusutan aset tersebut dan memperkecil beban pajak penghasilan badan yang harus dibayar oleh perusahaan. Penghematan beban pajak penghasilan badan ini dapat dinikmati oleh perusahaan sepanjang umur ekonomisnya. Namun akibat penilaian kembali aset ini, perusahaan juga harus membayar pajak penghasilan final sebesar 10% dari selisih lebih penilaian kembali aset tetap.