SKRIPSI Jurusan Teknik Sipil - Fakultas Teknik UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

UJI KEKUATAN SAMBUNGAN BALOK KAYU PADA JARAK SEPEREMPAT SETENGAH TIGA PEREMPAT BENTANG

ARSWENDY PRIMADIANTO

Abstrak


ABSTRAK

 

Kayu yang tersedia di pasaran saat ini tidak bisa memenuhi kriteria yang akan diaplikasikan pada sebuah konstruksi karena terbatasnya dimensi. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan bahan kayu yang ada yaitu dengan cara mengoptimalkan dimensi yang ada maupun mengolah bahan kayu sesuai kriteria yang diinginkan terlebih dahulu. Agar kayu dipasaran bisa digunakan dan dimaksimalkan dengan baik maka dapat diolah terlebih dahulu agar memenuhi bahan struktur yang diinginkan yaitu dengan mengolahnya terlebih dahulu dan kemudian disambung sesuai kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui penempatan titik sambungan yang paling baik menerima beban, (2) mengetahui apakah ada perbedaan akibat beban lentur yang signifikan dari penempatan titik sambungan yang akan diteliti, dan (3) mengetahui pola kerusakan yang sering terjadi dalam sambungan balok kayu.

Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen dengan jenis penelitian pengujian untuk mengetahui kuat lentur balok kayu. Pada penelitian ini digunakan dimensi ukuran balok kamper 6 cm x 12 cm x 200 cm sejumlah 12 batang kayu dengan tambahan masing masing 10 cm kanan dan kiri yang digunakan untuk perletakan tumpuan dengan baut diameter 12 mm sebagai alat sambung. Penempatan sambungan pada jarak seperempat, setengah, dan tiga perempat bentang. Sementara sambungan yang digunakan adalah sambungan bibir miring berkait. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Struktur dan Laboratorium Bahan Universitas Negeri Malang selama tiga bulan. Pengumpulan data diperoleh dari hasil pengujian melelaui hasil pembacaan Displacement Transducer dan dari pembacaan beban dari Mesin Data Logger uji lentur balok kayu kamper. Analisis data dalam penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan menggunakan statistik Anova dua jalur.

 

Hasil penelitian serta pembahasan menunjukkan  (1) penempatan titik sambungan yang paling baik menerima beban adalah sambungan pada jarak seperempat bentang karena memiliki nilai MOE dan MOR tertinggi yaitu 179825.33 kg/cm2 dan 651,08 kg/cm2, (2) perbedaan MOR dan MOE yang signifikan dengan data signifikansi < 0.05 adalah tanpa sambungan dengan setengah bentang, tanpa sambungan dengan tiga perempat bentang, seperempat bentang dengan setengah bentang, dan seperempat bentang dengan tiga perempat bentang, (3) pola kerusakan terjadi pada daerah sambungan yang berupa retakan pada daerah sekitar takikan yang mengakibatkan balok tidak lagi bisa menerima beban karena hilangnya kekuatan pada sambungan, (4) nilai MOR yang dihasilkan berbanding lurus dengan MOE, dan (5) perbandingan prosentase penurunan nilai MOE antara penempatan titik sambungan bibir miring berkait yaitu balok tanpa sambungan sebagai balok kontrol, pada titik seperempat, setengah dan tiga perempat bentang adalah 38,42%, 50,36% dan 56,29% dimana semakin besar nilai prosentase yang dimiliki semakin kecil nilai MOE yang dimiliki pula.