SKRIPSI Jurusan Teknik Sipil - Fakultas Teknik UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Variasi Nilai Banding Bentang Geser Terhadap Tinggi Efektif untuk Menentukan Tipe Keruntuhan pada Balok

Bestari Triwindaningrum

Abstrak


Pada penelitian disebutkan bahwa dari berbagai hasil eksperimen menunjukkan bahwa nilai banding bentang geser (a) terhadap tinggi efektif (d) ternyata merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam perencanaan kekuatan geser balok (Wang dan Salmon, 1986:127-129). Penelitian ini dilakukan secara experimental. Benda uji yang digunakan dalam penelitian berupa balok dengan dimensi 6 x 8 x 80 cm sebanyak 8 buah, dengan tinggi efektif (d) yaitu 59 mm. Variasi bentang geser (a) yang digunakan yaitu 5 cm, 10 cm, 25 cm, 35 cm. Variasi nilai banding bentang geser (a) terhadap tinggi efektif (d) yang digunakan yaitu rasio a/d 0.847 untuk balok A1 dan A2. Rasio a/d 1.695 untuk balok B1 dan B2. Rasio a/d 4.237 untuk balok C1 dan C2. Rasio a/d 5.932 untuk balok D1 dan D2. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Uji Bahan dan Struktur Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui 

Didapatkan nilai rerata beban maksimum eksperimental yang tertinggi yaitu 20.40 kN, dengan rasio a/d balok 0.847. Hal ini menunjukkan bahwa jika rasio a/d atau nilai banding bentang geser (a) terhadap tinggi efektif (d) semakin kecil maka perolehan nilai beban maksimum atau Pmaks yang dicapai semakin besar. Nilai rerata beban retak awal (first-crack) tertinggi yaitu 8.7 kN dengan rerata lendutan awal (∆y) yaitu 1.78 mm pada balok dengan rasio a/d 0.847. Hal ini menunjukkan  bahwa jika rasio a/d atau nilai banding bentang geser (a) dan tinggi efektif (d) semakin kecil maka perolehan beban retak awal (P) semakin besar. Nilai rerata lendutan teoritis maksimum tertinggi (∆tmaks) diperoleh  yaitu 9.59 mm pada rasio a/d balok 5.932, nilai rerata lendutan ultimate (∆u) tertinggi yang diperoleh yaitu 9.72 mm pada rasio a/d 5.932.  Hal ini menunjukkan bahwa jika rasio a/d atau nilai banding bentang geser (a) dan tinggi efektif (d) semakin besar maka perolehan nilai lendutan ultimate (∆u) yang dicapai semakin besar.

Hasil pengamatan tipe keruntuhan untuk balok A1 dan A2 dengan rasio a/d 0.847 keruntuhan dominan yang terjadi yaitu keruntuhan geser. Untuk balok B1 dan B2 dengan rasio a/d 1.695 keruntuhan dominan yang terjadi yaitu keruntuhan geser. untuk balok C1 dan C2 dengan rasio a/d 4.237 keruntuhan dominan yang terjadi yaitu keruntuhan lentur. Untuk balok D1 dan D2 dengan rasio a/d 5.932 keruntuhan dominan yang terjadi yaitu keruntuhan lentur. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa jika rasio a/d atau nilai banding bentang geser (a) terhadap tinggi efektif (d) semakin besar maka keruntuhan balok dominan kearah keruntuhan lentur dibandingkan keruntuhan geser.

 

Kata Kunci :  Balok, Bentang geser (a), Tinggi efektif (d), Rasio a/d, Pola retak, Tipe Keruntuhan