SKRIPSI Jurusan Teknik Sipil - Fakultas Teknik UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kesesuaian Kompetensi Kejuruan antara Industri Mebel dan Sekolah Menengah Kejuruan Teknik Perkayuan di Kabupaten Rembang

NIAM MUTASHOWIFIN

Abstrak


ABSTRAK

 

Mutashowifin, Niam. 2015. Kesesuaian Kompetensi Kejuruan antara Industri Mebel dan Sekolah Menengah Kejuruan Teknik Perkayuan di Kabupaten Rembang. Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Priyono, M.Pd. (2) Drs. Hadi Wasito, Dip.Ed., M.Pd.

 

Kata kunci: kompetensi kejuruan, industri mebel, Sekolah Menengah Kejuruan.

Dunia industri memerlukan SDM yang memiliki keunggulan kompetitif dan tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja, tetapi juga piawai dalam aspek soft skill agar menghasilkan produk/jasa berkualitas dan mampu bersaing.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi kejuruan yang dibutuhkan industri mebel di Kabupaten Rembang, kemudian diungkap kesesuaianya dengan yang dibelajarkan di SMK. Subyek penelitian adalah perajin mebel kayu yang berada di Kabupaten Rembang dan Siswa  SMK Negeri 1 Rembang jurusan teknik perkayuan. Pengumpulan data dilakukan dengan angket, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif persentase.

 Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi hard skill yang dibutuhkan industri mebel di Kabupaten Rembang meliputi: (1) kompetensi dasar memilih bahan; (2) membuat gambar kerja; (3) mengetam bahan; (4)  melukis benda kerja; (5) merusut benda kerja; (6) memotong dan membelah; (7) melubang komponen benda kerja; (8)  merakit sambungan; (9) dan pekerjaan finishing. Tingkat persentase kesesuaian kompetensi hard skill tersebut adalah sebesar 81,93%. Sehingga masuk dalam kategori sangat sesuai.

Sementara itu tingkat kesesuaian soft skill yang dibutuhkan oleh industri mebel di Kabupaten Rembang dengan pembelajaran di SMK adalah sebesar (86,67%) yang diuraikan berdasarkan urutan kebutuhan sebagai berikut: (1) Disiplin; (2) Jujur;  (3) Etika dan sopan santun; (4) Kreatif; (5) Tanggung jawab; (6) Bekerja secara aman; (7) Menepati janji; (8) Kemampuan mengelola informasi; (9) Kepedulian terhadap sesama; (10) Semangat kerja; (11) Mudah menerima masukan; (12) Tangguh/gigih dalam bekerja; (13) Tidak bergantung kepada orang lain. Dari ketiga belas atribut soft skill tersebut masuk dalam kategori sesuai. Sedangkan atribut kemampuan komunikasi yang merupakan hal yang paling dibutuhkan dunia usaha/industri justru termasuk atribut yang tidak sesuai karena memiliki selisih 9 rangking dalam pembelajaran di SMK. atribut mampu mengatur diri dengan baik juga termasuk atribut yang kurang sesuai karena memiliki selisih 4 rangking dalam pembelajaran di sekolah.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, hendaknya dilakukan hubungan timbal balik antara industri dengan sekolah, yang mana pihak industri harus merumuskan standar kebutuhan kualifikasi SDM yang diinginkan, sedangkan pihak lembaga diklat/sekolah akan menggunakan standar tersebut sebagai acuan dalam mengembangkan bidang keahlian dan kurikulum.