SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisa Kekuatan Mekanis Biofoam Berbasis Pati Singkong Berpenguat Selulosa Bakteri

Jibril Maulana

Abstrak


RINGKASAN

Indonesia menempati peringkat kedua sebagai penghasil sampah plastik ke laut. Salah satunya merupakan sampah dari limbah styrofoam. Salah satu alternatif untuk mengurangi sampah styrofoam adalah menggantinya mengguna-kan biofoam. Beberapa penelitian terdahulu telah mencoba memanfaatkan pati sebagai bahan baku pembuatan biofoam, namun masih terdapat kekurangan pada biofoam yang dihasilkan. Pati singkong memiliki potensi yang cukup besar untuk dijadikan bahan baku biofoam karena singkong memiliki kandungan pati tertinggi sebesar 97%. Produksi singkong di Indonesia cenderung meningkat di tahun 2015, namun tingkat konsumsi masyarakat cenderung menurun dari tahun ke tahun. Hal tersebut membuat singkong menjadi sumber pati yang potensial tanpa mengganggu tingkat konsumsi masyarakat.

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan produk packaging ramah lingkungan berbentuk biofoam berbasis pati singkong berpenguat selulosa bakteri yang memiliki sifat mekanis yang mendekati styrofoam dengan tingkat degradasi yang tinggi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik biofoam yang dihasilkan. Karakteristik biofoam diteliti menggunakan beberapa metode (1) kekuatan tarik untuk melihat sifat fisik dari biofoam, (2) XRD untuk melihat kristalinitas biofoam, (3) SEM untuk melihat morfologi biofoam yang dihasilkan dan (4) FTIR untuk mengetahui gugus fungsi yang terbentuk pada biofoam. Proses pembuatan biofoam menggunakan metode baking pada suhu 200oC selama 20 menit. Bahan yang digunakan untuk membuat biofoam adalah: (1) Pati singkong, (2) air suling, (3) Mg stearate, (4) guargum, (5) selulosa bakteri dan (6) glycerol. Total volume adonan yang digunakan 100 gr.

Kuat tarik yang dihasilkan oleh biofoam dengan masing-masing persentase penambahan selulosa bakteri 0%; 0,5%; 1%; 1,5%; 2% menunjukkan nilai kuat tarik secara berurutan sebesar  135,85; 333,08; 690,8; 337,7 dan 207,96 kPa. Kristalinitas yang dihasilkan biofoam dengan penambahan selulosa bakteri secara berurutan adalah 20,37o dengan intensitas 107 pada 0%, 21,09o dengan intensitas 101 pada 0,5%, 19,15o dengan intensitas 106 pada 1%, 20,7o dengan intensitas 133 pada 1,5%, dan 20,37o dengan intensitas 119 pada 2%. Homogenitas luasan rongga biofoam berbasis pati singkong dilihat pada nilai standar deviasi yang dihasilkan, biofoam dengan penambahan 1% selulosa bakteri menunjukkan hasil rongga yang paling homogen dibandingkan dengan jumlah persentase yang lain, sedangkan homogenitas terendah dihasilkan pada biofoam dengan selulosa bakteri 1,5%. gugus fungsi yang dihasilkan pada biofoam dengan variasi penambahan selulosa bakteri tidak menunjukkan adanya puncak-puncak baru, melainkan hanya adanya perubahan intensitas pada gugus fungsi C-O dan CºC.