SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM, 2007

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Alih Fungsi Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) (Studi Kasus SMA Negeri 11 Dan SMA Negeri 12 Malang)

Aulia Krisna Yudi

Abstrak


ABSTRAK
Yudi, Aulia Krisna. 2007. Alih fungsi Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) (Studi Kasus SMA Negeri 11 Dan SMA Negeri 12
Malang). Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. H. Dwi agus
Sudjimat, S.T., M.Pd, (2) Aminnudin, S.T., M.T.
Kata kunci : alih fungsi, rasio perbandingan SMA-SMK, Renstra Dinas 2005-2009
Sektor Pendidikan di Indonesia dewasa ini mendapat sorotan yang lebih oleh
pemerintah, dimana wacana yang telah berkembang akhir - akhir ini adalah pada tahun
2020 perbandingan SMK-SMA adalah 70-30. Hal ini didasari oleh terjadinya fenomena
yang terjadi di Indonesia pada dewasa ini. Setiap tahun lulusan sekolah terutama sekolah
menengah atas (SMA) dan sederajatnya bertambah. Masalah baru akan muncul setelah
mereka lulus. Tidak semua yang lulus berkesempatan bisa masuk perguruan tinggi (PT),
ini karena berbagai alasan termasuk mahalnya biaya sumbangan pembangunan
pendidikan (SPP). Mereka yang tidak melanjutkan pendidikan ke PT, berusaha mencari
pekerjaan, Implikasi negatifnya, muncul pandangan buram bahwa dunia lembaga
pendidikan hanya sebagai lembaga yang melahirkan para penganggur. Fenomena ini
sungguh ironis dengan tujuan bangsa Indonesia untuk mencapai pasar bebas. Sehingga
perlu adanya langkah antisipatif yang harus dilaksanakan oleh pemerintah seperti halnya
tersebut diatas. Pemerintah akan memperbanyak pembangunan sekolah menengah
kejuruan (SMK) serta mengurangi pengembangan sekolah menengah atas (SMA)
sehingga pada tahun 2009 rasio perbandingan SMK dan SMA menjadi 60 berbanding 40.
Penelelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang pelaksanaan kebijakan
alih fungsi SMA menjadi SMK yang merupakan salah satu upaya mendapatkan rasio
perbandingan SMA-SMK 40:60. Dan berbagai reaksi seluruh elemen sekolah dalam
menyikapi kebijakan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
rancangan studi fenomenologis. Penelitian ini memaparkan proses pelaksanaan, faktor
pendukung dan penghambat pelaksanaan dan reaksi seluruh elemen sekolah terhadap
kebijakan alih fungsi dari SMA menjadi SMK yang terjadi di SMAN 11 dan SMAN 12
Malangt.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses alih fungsi berjalan dalam waktu
yang cukup singkat, sehingga tahap persiapan kurang maksimal. Kurangnya sarana dan
tenaga pengajar menjadi salah satu faktor penghambat dalam proses alih fungsi.
Keberadaan kedua sekolah (SMAN 11 dan SMAN 12 Malang) yang berada di pinggiran
Kota Malang dan merupakan sekolah baru menjadi salah satu alasan untuk dialih
fungsikan. Keberadaan guru yang rencananya akan dilakukan peng-upgrade-an belum
berjalan secara maksimal. Dari sisi siswa, juga masih terdapat permasalahan yang salah
satunya adalah praktek yang sangat minim.

Teks Penuh: DOC PDF