SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Instrumen Penilaian Untuk Mengukur Kompetensi Siswa Pada Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Teknik Pemesinan Dengan Standar Kompetensi Melakukan Pekerjaan Dengan Mesin Frais Kelas XI SMK Islam 1 Blitar

FRIESCHAN CAHYA

Abstrak


ABSTRAK

 

Cahya, Frieschan. 2012. Pengembangan Instrumen Penilaian untuk Mengukur Kompetensi Siswa Pada Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Teknik Pemesinan dengan Standar Kompetensi Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Frais Kelas XI SMK Islam 1 Blitar. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Eddy Sutadji, M.Pd, (II) Dra. Hj. Widiyanti, M.Pd.

 

Kata Kunci : kognitif, afektif, psikomotor, instrumen penilaian

Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terdapat banyak sekali mata pelajaran praktik, sehingga dalam penilaiannya tidak dapat diambil dari nilai tugas-tugas saja melainkan juga dari segi tes perbuatan/praktik. Seperti hal nya mata pelajaran kompetensi kejuruan teknik pemesinan dengan standar kompetensi melakukan pekerjaan dengan mesin frais dan kompetensi dasarnya (1) menjelaskan cara pengoperasian mesin frais, (2) mengoperasikan mesin frais, (3) mengecek komponen untuk penyesuaian dengan rinciannya, tidak memungkinkan jika aspek penilaian hanya bertumpu pada pemberian tugas saja melainkan juga terdapat aspek-aspek yang dinilai dari segi praktik. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru di SMK Islam 1 Blitar yang sekaligus ketua Jurusan Teknik Pemesinan, mengatakan bahwa untuk saat ini di SMK Islam 1 Blitar belum ada instrumen penilaian untuk mengukur tingkat kompetensi siswa, penilaian pelajaran praktik hanya dinilai dari hasil tes perbuatan saja (hasil kerja), sehingga guru pengajar tidak bisa membedakan tingkat kemampuan dari masing-masing individu (siswa), karena hasil kerja dari setiap siswa relatif hampir sama. Sedangkan untuk menilai ranah atau domain (kognitif, afektif, psikomotor) siswa, hampir sebagian besar guru tidak menilai ketiga domaian tersebut dengan menggunakan instrumen yang relevan, yang ada hanyalah penilaian yang dilakukan tanpa acuan yang jelas dan dianggap sudah menilai secara terstruktur dan terencana. Hal ini sangat berbeda jauh dengan tujuan utama pendidikan berdasar Permendiknas RI no 20 tahun 2007 yang menyebutkan bahwa penilaian hasil belajar siswa mencakup tiga domain (ranah), yakni kognitif, psikomotor, dan afektif.

Penelitian ini berupa pengembangan instrumen penilaian kompetensi siswa, dalam hal ini aspek kognitif, aspek psikomotor, dan aspek afektif.  Instrumen ini disusun berdasarkan kriteria yang ada dalam mata pelajaran mesin frais sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dipakai. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan ini diambil lima langkah awal dari sepuluh langkah yang disarankan Borg dan Gall, yakni (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) uji lapangan, (5) revisi produk.

Subjek uji coba dalam pengembangan instrumen penilaian ini yakni siswa kelas XI Teknik Pemesinan SMK Islam 1 Blitar tahun ajaran 2011-2012 dengan jumlah 48 siswa. Subjek ini diambil karena kelas ini memang sudah menerima pelajaran frais sesuai dengan materi dari instrumen yang dibuat.

Berdasar hasil validasi ahli media, untuk ranah kognitif diperoleh skor 85,71% dengan kriteria baik, ranah afektif penilaian diri diperoleh skor 81,82% dengan kriteria baik, ranah afektif pengamatan diperoleh skor 87,5% dengan kriteria baik, ranah psikomotor 87,5% dengan kriteria baik, dari penilaian ahli media tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen yang dikembangkan dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Selanjutnya validasi ahli materi, untuk ranah kognitif diperoleh 85% dengan kriteria baik, ranah afektif 87,5% dengan kriteria baik, ranah psikomotor 87,5% dengan kriteria baik, dari penilaian ahli materi tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen yang dikembangkan dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Instrumen yang telah divalidasi kemudian diuji cobakan ke peserta didik untuk mengetahui tingkat validitas, reliabilitas, serta taraf kesukaran, daya beda, dan pemilihan butir soal untuk instrumen kognitif. Setelah data diperoleh kemudian dianalisis, untuk instrumen kognitif di dapat data sebagai berikut uji validitas diperoleh hasil 87,5 % (35 butir soal) valid dan 12,5 % (5 butir soal) tidak valid, taraf kesukaran diperoleh hasil 15 % (6 butir soal) sukar dan 85 %   (34 butir soal) sedang, analisis daya beda diperoleh hasil 7,5 % (3 butir soal) memiliki daya beda jelek, 20 % (8 butir soal) memiliki daya beda cukup, dan   72,5 % (29 butir soal) memiliki daya beda baik. Dari data analisis pemilihan butir soal diperoleh hasil bahwa 87,5 % (35 butir soal) diterima tanpa revisi dan 12,5 % (5 butir soal) ditolak, dari hasil analisis reliabilitas di dapat hasil r11 = 0,98 dengan kriteria sangat tinggi. Dari analisis validitas dan reliabilitas instrumen afektif penilaian diri untuk validitas di dapat hasil 93,94 % (31 butir soal) valid dan    6,06 % (2 butir soal) tidak valid, sedangkan dari analisis reliabilitas di peroleh hasil untuk r11 = 0,87 dengan kriteria tinggi. Namun untuk instrumen afektif pengamatan dan instrumen psikomotor hanya sampai pada validasi ahli, sehingga masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kualitas dari instrumen penilaian yang dikembangkan.