SKRIPSI Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN TROUBLESHOOTING TERHADAP HASIL BELAJAR KOMPETENSI MEMPERBAIKI KOMPONEN SISTEM BAHAN BAKAR BENSIN SISWA KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK KENDARAAN RINGAN SMKN 1 KADEMANGAN

Rheza Paleva Andika Febrisono

Abstrak


ABSTRAK

 

Febrisono, Rheza Paleva Andika. 2011. Pengaruh Strategi Pembelajaran     Troubleshooting Terhadap Hasil Belajar Kompetensi Memperbaiki Komponen Sistem Bahan Bakar Bensin Siswa Kelas XI Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan SMKN 1 Kademangan, Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif  Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Partono, M.Pd., (2) Dra. Anny Martiningsih, M.Kes.,

 

Kata kunci: strategi pembelajaran, troubleshooting, hasil belajar memperbaiki komponen sistem bahan bakar bensin.

 

Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan penggunan model pembelajaran troubleshooting dengan pembelajaran konvensional pada mata diklat Servis Sistem Bahan Bakar Bensin kompetensi dasar Memperbaiki Komponen Sistem Bahan Bakar Bensin.

Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental Design yang bertujuan untuk mengetahui metode pembelajaran yang lebih unggul dalam mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Data hasil belajar diperoleh melalui tes akhir berupa tes objektif pilahan ganda dan tes unjuk kerja yang diberikan kepada subjek penelitian. Uji beda akan digunakan untuk menjawab hipotesis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pengaruh dalam pencapaian hasil belajar atas penggunaan pembelajaran troubleshooting dengan pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukan dengan  nilai rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen setelah diberi perlakuan yaitu 79,7, sedangkan rata-rata prestasi belajar kelompok kontrol setelah diberi perlakuan yaitu 73,08.  Prosentase kelompok eksperimen siswa yang mendapat nilai dalam kategori baik sekali adalah 3,3 %. Siswa mendapat nilai kategori baik 50 %. Siswa mendapat nilai kategori cukup 33,3 % dan siswa mendapat nilai kategori kurang adalah 13,3 %. Prosentase kelompok kontrol siswa yang mendapat nilai dalam kategori baik sekali adalah 0 %. Siswa mendapat nilai kategori baik 10%. Siswa mendapat nilai kategori cukup 60 % dan siswa mendapat nilai kategori kurang 30%. Dari tes hasil belajar tersebut dapat dilihat bahwa nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kelompok kontrol.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran troubleshooting lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional karena adanya perbedaan perlakuan pembelajaran antara siswa kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.

Saran yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: 1) guru dapat menerapkan metode pembelajaran troubleshooting dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar, 2) siswa hendaknya memiliki kebiasaan-kebiasaan berpikir secara kritis dan analitis sehingga hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan, 3) Bagi sekolah disarankan untuk mensosialisasikan pembelajaran troubleshooting pada mata diklat produktif yang lain untuk meningkatkan hasil belajar.