SKRIPSI Jurusan Teknologi Pendidikan - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Ragam sumber belajar lingkungan fisik pada kejuruan pertanian di UPT BLK Wonojati Singosari Malang

Karina Evi

Abstrak


RINGKASAN

Karina, Evi. 2019. Ragam Sumber Belajar Lingkungan fisik pada Kejuruan Pertanian di UPT BLK Wonojati Singosari Malang. Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang.

Pembimbing

(1) Dr. M. Ishaq, M.Pd

(2) Edi Widianto, S.Pd, M.Pd

 

Kata kunci: Sumber Belajar, Lingkungan Fisik

Kejuruan pertanian merupakan sebuah tempat untuk memperoleh pelatihan yang diselenggarakan oleh UPT BLK Wonojati Singosari Malang. Pelatihan pada kejuruan pertanian ditunjukkan bagi masyarakat yang ingin meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam budidaya tanaman organik. Pelaksanaan pelatihan pertanian sangat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar bagi peserta pelatihan. Hal itu menarik bagi peneliti untuk mengetahui ragam sumber belajar fisik pada kejuruan pertanian di UPT BLK Wonojati Singosari Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam sumber belajar kelas teori, sumber belajar workshop dan sumber belajar laboratorium pada kejuruan pertanian di UPT BLK Wonojati Singosari Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena peneliti bermaksud untuk mendeskripsikan ragam sumber belajar lingkungan fisik pada kejuruan pertanian di UPT BLK Wonojati Singosari Malang dengan menggunakan metode pengumpulan data yakni observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil temuan penelitian ragam sumber belajar lingkungan fisik pada kejuruan pertanian di UPT BLK Wonojati Singosari Malang terdapat

(1) sumber belajar kelas teori yang berada di Aula sebagai sumber belajar kelas tertutup dengan fasilitas dan media pembelajaran yang memadai, gazebo yang memiliki dua lantai dengan lantai bawah bersifat semi terbuka serta lantai dua ditingkatkan kualitasnya menjadi kelas tertutup, sedangkan pembelajaran kelas teori di kumbung sumber belajarnya dari segi fasilitas ruangan dan media pembelajaran serta kapasitas dalam penggunaan kelas;

(2) Sumber belajar workshop berada di greenhouse yang diperuntukkan untuk budidaya sayuran hidroponik dan tanaman hias dengan pengaturan temperatur ruangan dan kelembapan yang sesuai, kumbung sebagai tempat budidaya jamur tiram, lahan konvensional sebagai tempat praktik penanaman bibit sayuran dengan penggunaan teknik penanam yang baik dan benar, dan kebun sebagai sumber belajar pembelajaran penanaman buah dengan kualitas bibit unggul;

(3) sumber belajar laboratorium memiliki alat dan SDM yang terbatas sehingga hanya dimanfaatkan uji laboratorium oleh instruktur pelatihan. Saran yang diberikan oleh peneliti untuk kepala seksi pengembangan dan pelatihan yaitu perlu adanya penambahan dan pelatihan SDM agar dapat memanfaatkan sumber belajar lingkungan lebih maksimal. Selain itu bagi instruktur kejuruan pertanian disarankan agar instruktur menggunakan media pembelajaran audio visual selain langsung memperagakan cara budidaya pelatihan serta menambah rekruitmen untuk mengelola workshop agar peserta pelatihan lebih banyak mendapatkan sumber belajar lingkungan lebih maksimal.