Tugas Akhir Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Partisipasi Industri dalam Meningkatkan Mutu Lulusan Siswa Kelas Honda Studi Kasus di SMK Turen Program Keahliah Teknik Sepeda Motor

EKO YUSUP EDI WIJAYA

Abstrak


ABSTRAK

 

Wijaya, Eko Yusup Edi. 2017. Partisipasi Industri dalam Meningkatkan Mutu Lulusan Siswa Kelas Honda Studi Kasus di SMK Turen Program Keahliah Teknik Sepeda Motor. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Partono, M.Pd. (2) Drs. Ir. Eko Edi Poerwanto, S.E., M.Pd., M.M.

 

Kata Kunci: Partisipasi industri, mutu lulusan, kelas honda, SMK

 

Kelas honda adalah realisasi dari program kelas industri yang merupakan program pengadaan kelas khusus dalam lingkungan sekolah dengan budaya industri. Kelas ini dikelola secara bersama antara sekolah dengan Industri. Dari model/sistem pengelolaan bersama tersebut akan tercipta iklim belajar yang baru yang menjamin mutu pendidikan siswa. Program ini disinyalir menjadi program yang paling optimal dalam meningkatkan mutu lulusan di sekolah, karena industri juga ikut dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di dalam kelas. Dari pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa jika sekolah menginginkan adanya peningkatan pada mutu pendidikannya, maka harus melakukan salah program kerjasama dengan industri melalui kelas industri. Namun, dewasa ini tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh sekolah untuk membangun kerjasama dengan industri mulai dari pra kerjasama sampai evaluasi kerjasama belum terpublikasikan secara jelas dan otentik. Pemilihan SMK Turen sebagai tempat penelitian karena SMK Turen telah memiliki standar ISO, siswa kelas honda yang memiliki prestasi cukup baik dalam berbagai kompetisi siswa SMK, dan telah mendapatkan kepercayaan dari pihak MPM sebagai sekolah rujukan dalam kelas industri honda. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk mengetahui (1) menjelaskan persiapan pelaksanaan membentuk kerja sama kelas industri honda yang disepakati di SMK Turen, (2) menjelaskan penyusunan kurikulum kelas industri honda yang digunakan di SMK Turen (3) menjelaskan penyiapan instruktur atau guru yang ada di kelas industri honda SMK Turen, (4) menjelaskan sistem pembelajaran yang dilaksanakan pada kelas industri honda di SMK Turen, (5) menjelaskan pelaksanaan uji kompetensi pada kelas industri honda di SMK Turen, dan (6) menjelaskan penyaluran dan penyerapan lulusan siswa kelas industri honda di SMK Turen.

Partisipasi masyarakat di dalam pendidikan merupakan bentuk kepedulian terhadap baik tidaknya mutu pendidikan. Sekolah dan industri harus memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Pengertian mutu dalam konteks pendidikan mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Mutu lulusan SMK dapat dilihat dari kualitas siswa setelah lulus untuk siap menjadi tenaga kerja sesuai kebutuhan industri atau berwirausaha. Salah satu upaya meningkatkan mutu pendidikan kejuruan adalah peningkatan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) dalam pelaksanaannya diwujudkan dalam suatu model penyelenggaraan kelas industri. Kelas industri menjadi sangat penting karena yang memakai lulusan SMK adalah industri.

Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Subjek  penelitian dipilih berdasarkan purposif sampling, yaitu (1) kepala SMK Turen, (2) wakil kepala SMK Turen bidang kurikulum, (3) kepala program teknik sepeda motor, (4) wakil kepala SMK Turen bidang humas, dan (5) instruktur kelas honda SMK Turen. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi (triangulation) dari segi sumber, metode, dan teori.

Hasil penelitian diketahui bahwa (1) langkah awal yang dilakukan SMK Turen untuk membentuk kerjasama kelas industri adalah dengan melakukan pendekatan melalui kunjungan ke industri. Setelah ada respon baik dari industri langkah selanjutnya adalah mengirim proposal kerjasama kelas industri, (2) model kurikulum yang digunakan di kelas honda dan telah disepakati oleh industri maupun sekolah adalah model kurikulum sinkronisasi atau yang umum disebut dengan kurikulum implementatif. Urutan pembentukan kuriukulum ini yang pertama adalah dengan melakukan persiapan bersama antara industri dan sekolah dengan berkoordinasi kepada dinas pendidikan untuk merumuskan kurikulum implementatif. Hal-hal yang dilakukan dalam persiapan itu adalah mendiskusikan bersama pertimbangan-pertimbangan dari sekolah maupun industri untuk pembentukan kurikulum implementatif sesuai dengan kebbutuhan industri, (3) guru yang ditekankan dapat mengajar di kelas honda adalah guru yang sudah pernah mengikuti pelatihan di industri dan lulus pelatihan tersebut. Proses pelatihan guru dilakukan secara berkala oleh industri seiring dengan berjalannya kelas industri honda di SMK Turen, (4) kelas industri dan kelas reguler memiliki perbedaan dalam muatan kurikulumnya. Hal itu juga menyebabkan sistem pembelajaran antara kedua kelas memiliki perbedaan. Perbedaan sistem pembelajaran terletak di waktu dan model pembelajarannya. Kelas industri memiliki waktu jam belajar tambahan yang dilaksanakan diluar jam pembelajaran umum dengan instruktur instruktur dari honda. Model pembelajaran di kelas industri dominan pelaksanaan praktik karena siswa dalam kelas industri juga dituntut untuk mengusai kompetensi khusus yang dibutuhkan industri terkait, (5) model uji kompetensi yang diterapkan di kelas honda SMK Turen dilaksanakan dua kali. Uji komtenensi pertama dilaksanakan oleh pihak sekolah dengan partisipasi dari industri sebagai penanggung jawab melalui Ahass terdekat. Uji kompetensi kedua dilaksanakan di MPM Sidoarjo. Sertifikat uji kompetensi pertama dikeluarkan oleh sekolah bersama Ahass Panji Putra Hanjaya Turen dan uji kompetensi kedua dikeluarkan oleh MPM, dan (6) penyerapan lulusan kelas honda dilakukan oleh industri melalui recruitment tenaga kerja. Proses recruitment dilakukan di industri langsung dan pihak industri datang di sekolah.

Hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan SMK dan industri untuk memulai kerjasama kelas industri. Saran yang diberikan oleh penulis yaitu (1) SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang belum melaksanakan kebijakan link and match disarankan untuk segera melaksanakannya dengan melakukan kerjasama dengan industri khususnya dalam kerjasama kelas industri, (2) industri-industri disarankan untuk lebih kooperatif dengan membuka peluang yang lebih lebar untuk SMK yang akan memulai kerjasama kelas industri. Karena melalui kerjasama industri juga mendapat keuntungan dengan adanya lulusan SMK yang bermutu sesuai kebutuhan, (3) pemerintah disarankan untuk lebih giat lagi dalam melakukan sosialisasi pada SMK untuk membentuk kerjasama dengan industri terutama kerjasama kelas industri, (4) Universitas Negeri Malang juga disarankan tetap istiqomah dalam melakukan penelitian yang sejenis untuk menciptakan iklim pembelajaran kelas yang terpadu dan terintegrasi. Universitas Negeri Malang juga disarankan untuk tetap memonitor perkembangan pendidikan di Indonesia khusunya teknik mesin pada pendidikan di SMK, (5) mahasiswa disarankan untuk lebih memperdalam pembahasan sub fokus penelitian dalam penelitian ini untuk dengan menjadikannya penelitian tunggal. Hal itu dimaksudkan untuk lebih mendapatkan informasi yang lengkap dan konkrit terkait model pelaksanaan kerjasama sekolah dan industri khususnya dalam kerjasama kelas industri.