Skripsi Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Hubungan Pola Makan dan Pengetahuan Gizi dengan Kadar Hb Ibu Hamil Trimester II dan III di Wilayah Kerja Puskesmas Kanigoro

umi sholichah

Abstrak


 

ABSTRAK

 

HUBUNGAN POLA MAKAN DAN PENGETAHUAN GIZI DENGAN KADAR Hb IBU HAMIL TRIMESTER II DAN III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KANIGORO

 

Umi Sholichah 1, Mazarina Devi 2 , Rini Sudjarwati 2

 

1 S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, E-mail: che_umee@yahoo.com

 

2 Dosen Pembimbing

 

Abstract: Pregnant women are one of the groups affected by anemia. In connection with that, a discussion about the relationship between food pattern and nutritional knowledge with the Hb level of trimester II and III pregnant women is needed. The research design adjusted in this research was cross sectional which was done in the work field of Puskesmas Kanigoro Blitar Regency with 38 pregnant women as the samples which was selected by purposive sampling. The food pattern data collection was conducted  by using food recall 2x24 hours and food frequency questioner, while the data of nutritional knowledge of the pregnant women was tested using closed-questioner, and the Hb level of the pregnant women was tested by using the experts’ method. The data analysis was done by using chi square test. Based on the chi square test between food pattern and haemoglobin level there is a relationship between diet and the Hb level of pregnant women, however there is no relationship between knowledge of nutrition with the Hb level of trimester II and III pregnant women.

 

Keywords: food pattren, knowledge of nutrition, Haemoglobin of Pregnan women

 

Abstrak: Ibu hamil merupakan salah satu kelompok rentan terkena anemia. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pola makan dan pengetahuan gizi dengan kadar Hb ibu hamil. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro Kabupaten Blitar dengan sampel 38 ibu hamil dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data pola makan dilakukan dengan menggunakan food recall 2x24 jam dan food frequency questioner, sedangkan data pengetahuan gizi menggunakan questioner tertutup dan kadar Hb dites menggunakan metode sahli. Analisis data menggunakan uji chi square. Berdasarkan analisis diperoleh terdapat hubungan pola makan dan kadar Hb ibu hamil, namun tidak terdapat hubungan antara pola makan dengan pengetahuan gizi serta tidak terdapat pula hubungan pengetahuan gizi dengan kadar Hb ibu hamil trimester II dan III.

 

Salah satu masalah gizi ibu hamil adalah terkena anemia gizi besi. Anemia atau kekurangan darah merupakan suatu keadaan kronis, ketika kadar hemoglobin atau jumlah eritrosit berkurang (Fairus, 2010:94).  Anemia pada ibu hamil memiliki dampak pada ibu dan bayi. Berdasarkan penelitian di Yogjakarta, anemia ibu hamil mengakibatkan berat bayi lahir rendah.

Menurunnya kadar hemoglobin pada ibu hamil disebabkan kurangnya asupan zat besi. Pada ibu hamil terjadi peningkatan kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin dan terjadinya perubahan pada darah selama kehamilan mengakibatkan volume darah meningkat sebanyak 50% dan sel darah merah bertambah 20-30% (Nasoetion, 1988:24). Peningkatan kebutuhan gizi pada ibu hamil terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada tubuhnya. Perubahan-perubahan tersebut terutama berhubungan dengan darah, sistem kardiovaskuler, sistem pencernaan, jaringan lemak, dan saluran uro-ganitalis (Nasoetion, 1988:23).

Kebutuhan zat gizi yang meningkat, mengakibatkan perbedaan kebutuhan jumlah makanan yang dikonsumsi selama hamil. Tiap trimester kehamilan memiliki perlakuan dalam mengkonsumsi makan yang berbeda. Pada trimester pertama ibu hamil akan merasa tidak enak dan lemah karena makanan yang dikonsumsi selalu ingin dimuntahkan (Proverawati, 2010:48). Rasa mual akan berkurang memasuki trimester kedua masa kehamilan, Sehingga ibu memiliki perlakuan dalam mengkonsumsi makanan yang berbeda ketika hamil.

Tinggi rendahnya pendidikan dan pengetahuan tentang gizi erat kaitannya dengan keadaan gizi masyarakat, termasuk gizi ibu hamil (Depkes, 2000). Menurut Susilawati (2011) pengetahuan berhubungan dengan kepatuhan karena pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku. Susilawati (2011) dalam penelitiannya juga menyatakan pengetahuan yang diperoleh melalui pengindraan ibu hamil terhadap info kesehatan selama kehamilan berpengaruh terhadap perilaku ibu hamil dalam menjaga kesehatan.

Berdasarkan data Dinkes kota Blitar (2012), daerah kabupaten Blitar masih terdapat berat bayi lahir rendah cukup banyak. Pada bulan Juli terdapat 49 bayi dengan berat badan lahir rendah, mengalami peningkatan 16% pada bulan Agustus dan semakin meningkat pada bulan September dan Oktober yaitu 22% dan 24 %. Kecamatan Kanigoro merupakan salah satu daerah yang memiliki peningkatan BBLR yang tersebar diwilayah kerja Puskesmas Kanigoro

 

METODE

 

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian survey analitik. Rancangan penelitian yang disesuaikan dalam penelitian ini adalah cross sectional.

Populasi meliputi seluruh ibu hamil yang memeriksakan kandungan di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro sebanyak 192. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling dengan kriteria usia kehamilan trimester II dan III, bukan kehamilan pertama, merupakan kehamilan yang sehat, ibu hamil tidak mempunyai penyakit kronis dan bersedia dijadikan sampel. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria Kebanyak 38 ibu haamil.

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data tentang pola makan, pengetahuan gizi dan kadar Hb. Data pola makan  ibu hamil diperoleh langsung dari ibu hamil menggunakan FFQ dan Food Recall 2x 24 jam. Data pengetahuan gizi ibu hamil menggunakan questioner tertutup. Data kadar Hb diperoleh dari petugas yang memeriksa kadar Hb dengan metode sahli. Sedangkan data sekunder meliputi usia ibu hamil, berat badan ibu hamil dan penyakit ibu hamil.

Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data ordinal sehingga analisis yang dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan pola makan ibu hamil dan pengetahuan gizi dengan kadar hemoglobin menggunakan uji chi square. Pengolahan data menggunakan microsoft excel dan SPSS 15,0 for windows. 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pola Makan Ibu Hamil

 

Frekuensi makan ibu hamil

 

Frekuensi makan ibu hamil yang anemia (24,24%) ibu hamil makan 2x sehari dan (75,76%) ibu hamil makan 3x sehari. Ibu hamil yang tidak anemia 100% makan 3x sehari. Anjuran makan pada ibu hamil menurut Rusilanti (2006:7) agar makan 3 sampai 5 porsi sehari dengan menu sehat dan seimbang.

 

Berdasarkan penelitian, frekuensi makan ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro masih terdapat ibu hamil yang mengkonsumsi makan kurang dari 3x sehari.

 

Distribusi Makan Berdasarkan Kelengkapan Menu

 

Ibu hamil yang tidak anemia sebanyak (40%) ibu hamil dalam sehari mengkonsumsi 1x makan dengan menu makanan lengkap dan (60%) ibu hamil dalam sehari mengkonsumsi 2x menu makanan lengkap. Ibu hamil yang anemia sebanyak (90,9%) ibu hamil tidak mengkonsumsi makanan dengan menu lengkap tetapi hanya mengkonsumsi nasi, lauk pauk nabati dan sayuran. Almatsier (2005) menyatakan pola konsumsi makanan adalah susunan makanan yang dikonsumsi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan tubuh dalam satu hidangan lengkap. Bahan pangan yang dikonsumsi ibu hamil harus meliputi enam kelompok, yaitu makanan yang mengandung protein hewani dan nabati, susu dan olahannya, roti dan bebijian, buah dan sayur yang kaya vitamin C, sayuran berwarna hijau, serta buah dan sayuran lain (Arisman, 2010:13).

 

Berdasarkan penelitian, mayoritas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro tidak mengkonsumsi menu makanan lengkap untuk ibu hamil.

 

Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Pokok

 

Ibu hamil yang mengkonsumsi nasi putih >1x/hari (100%). Ibu hamil yang mengkonsumsi nasi jagung 1-3x/minggu (5,26%). Ibu hamil yang mengkonsumsi nasi tiwul 1-3x/minggu (2,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi mie 1-3x/minggu (26,31%).

 

Berdasarkan penelitian, ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro mengkonsumsi nasi putih sebagai makanan pokok.

 

Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Lauk Pauk Hewani

 

Lauk pauk hewani yang dikonsumsi ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro adalah telur, olahan hati ayam, ikan tongkol, daging ayam dan daging sapi. Ibu hamil yang mengkonsumsi telur 4-6x/minggu (13,15%), dan 1-3x/minggu (60,53%). Ibu hamil yang mengkonsumsi daging ayam 4-6x/minggu (2,63%) dan 1-3x/minggu (36,84%). Ibu hamil yang mengkonsumsi hati 1-3/minggu (2,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi daging sapi 1-3x/minggu (2,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi ikan 4-6x/minggu (7,89%) dan 1-3x/minggu (52,63%).

 

Berdasarkan penelitian, lauk pauk hewani jarang dikonsumsi oleh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro. Sebagian ibu hamil mengaku bahwa tidak menyukai makan ikan ketika hamil. Selain itu terdapat ibu hamil yang tidak mempu membelinya. Hal ini mengakibatkan ibu hamil kurang mengkonsumsi lauk pauk hewani sehinga kekurangan protein hewani. Protein digunakan untuk menambah unsur-unsur dalam cairan darah, terutama hemoglobin dan plasma darah (Nadesul, 2011:6).

 

Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Lauk Pauk Nabati

 

Bahan makanan nabati yang biasa dikonsumsi ibu hamil yaitu olahan tahu, olahan tempe, sari kedelai, dan olahan kacang hijau. Ibu hamil yang mengkonsumsi tahu 1x/hari (13,15%), 4-6x/minggu (26,32%) dan 1-3x/minggu (60,52%). Ibu hamil yang mengkonsumsi tempe 1x/hari (47,37%), 4-6x/minggu (39,47%) dan 1-3x/minggu (13,16%). Ibu hamil yang mengkonsumsi sari kedelai 1x/hari (18,42%), 4-6x/minggu (5,26%), 1-3/minggu (23,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi kacang hijau 1x/hari (13,16%), 4-6x/mingu (10,53%), 1-3x/minggu (42,1%).

 

Sebagian besar ibu ketika hamil menambah mengkonsumsi sari kedelai dan kacang hijau karena diyakini baik untuk bayi. Sari kedelai dipercaya menjadikan bayi yang lahir mempunyai kulit yang putih dan kacang hijau dianggap menjadikan bayi yang lahir mempunyai rambut yang lebat.

 

Berdasarkan penelitian, sebagian besar ibu hamil mengkonsumsi bahan makanan nabati walaupun dengan tujuan bukan untuk kesehatan. Hal ini menunjukan ibu hamil percaya tabu dalam mengkonsumsi makanan.

 

Frekuensi dan Jenis Bahan Makana Sayuran

 

Ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro baik yang tidak anemia maupun anemia rata-rata setiap hari mengkonsumsi sayuran >1x/hari. Walaupun mengkonsumsi sayuran >1x/hari, namun tidak semua sayuran yang dikonsumsi adalah sayuran hijau. Sayuran hijau merupakan salah satu sumber zat besi, namun serapan zat besi dari sumber bahan ini masih rendah dibandingkan dari protein hewani (Arisman, 2010).

 

Berdasarkan penelitian, ibu hamil kurang mengkonsumsi sayuran yang mengandung zat besi. Ibu hamil mengkonsumsi sayuran yang berasal dari kebunnya dan mengkonsumsi sayuran sesuai musim. Sehingga ibu hamil kekurangn zat besi yang membantu pembentukan sel darah merah.

 

Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Buah

 

Buah-buahan yang banyak terdapat pada wilayah Kanigoro dan selalu ada adalah pepaya, pisang, serta jambu biji. ibu hamil yang mengkonsumsi jambu biji 4-6x/minggu (18,42%), dan 1-3x/minggu (26,32%). Ibu hamil yang mengkonsumsi pepaya 4-6x/minggu (7,89%), dan 1-3x/minggu (31,53%). Ibu hamil yang mengkonsumsi pisang 1x/hari (10,52%), 4-6x/minggu (26,32%), 1-3/minggu (13,16%). Ibu hamil yang mengkonsumsi jeruk 4-6x/minggu (5,26%), dan 1-3x/minggu (7,89%). Ibu hamil yang mengkonsumsi melon 4-6x/minggu (2,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi apel 4-6x/minggu (5,26%).

 

Dalam penelitian ini, sumber vitamin C diperoleh dari buah jambu biji, jeruk dan pepaya yang dikonsumsi 1-3x/minggu oleh beberapa ibu hamil baik yang tidak anemia maupun anemia. Jambu biji serta buah lain dikonsumsi hanya ketika ingin memakannya (ngidam) dan ketika berbuah, karena kebanyakan buah diambil dari hasil kebunnya. Sehingga ibu hamil masih kurang mengkonsumsi vitamin C. Mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C baik dibutuhkan ibu hamil untuk membantu penyerapan zat besi (Arisman, 2010: 17).

 

Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Susu dan Tablet Zat Besi

 

Ibu hamil yang mengkonsumsi susu ibu hamil >1x/hari (7,89%), 1x/hari (26,36%), 4-6x/minggu (18,42%), dan 1-3x/minggu (15,79%). Ibu hamil yang mengkonsumsi suplemen zat besi 1x/hari (7,89%), 4-6x/minggu (52,63%), dan 1-3x/minggu (39,47%).

 

Sebagian ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro mengkonsumsi tablet Fe dari bidan serta susu ibu hamil. Selain tablet Fe dan susu terdapat ibu hamil yang mengkonsumsi tablet kalsium. Konsumsi tablet Fe pada ibu hamil baik yang tidak anemia maupun anemia rata-rata sudah cukup baik, ibu hamil mengkonsumsi tablet Fe dalam waktu 4-6x/minggu. Menurut Arisman (2010:16) setiap ibu hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen zat besi sebesar 30-60 mg setiap hari dimulai pada minggu ke-12 kehamilan.

 

 

 

Berdasarkan penelitian ibu hamil yang anemia memiliki kebiasaan mengkonsumsi teh, susu, serta tablet kalsium yang hampir bersamaan dengan mengkonsumsi tablet Fe. Kopi, teh, garam kalsium, magnesium dan fitat dapat mengikat Fe sehingga mengurangi jumlah serapan (Arisman 2010:17). Tablet Fe sebaiknya dikonsumsi tidak dalam waktu bersama dengan zat yang dapat mengikat Fe (Arisman, 2010:17).

Sebaran Ibu Hamil Berdasarkan Jumlah Penghasilan Keluarga

Ibu hamil yang tidak anemia memiliki jumlah penghasilan keluarga ≥Rp.245.743,00. Ibu hamil yang anemia 45,46%  memiliki jumlah penghasilan ≥Rp.245.743,00 dan 54,54% memiliki jumlah penghasilan BPS (2012), menetapkan bahwa batas garis kemiskinan wilayah Jawa Timur adalah Rp.245.743,00.

Hasil penenelitian, rata-rata pendapatan perkapita ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro dibawah batas kemiskinan wilayah Jawa Timur, dan termasuk keluarga pra sejahtera. Suhardjo (2003:25) menyatakan semakin banyak mempunyai uang semakin baik makanan yang diperoleh dengan kata lain semakin tinggi penghasilan semakin besar pula persentase dari penghasilan tersebut untuk membeli bahan makanan.

Sebaran Ibu Hamil Berdasarkan Pendidikan Akhir

Ibu hamil yang tidak anemia sebesar 60% memiliki pendidikan akhir SLTA, dan 40% memiliki pendidikan akhir Perguruan Tinggi. Ibu hamil yang anemia sebesar 6,06% berpendidikan akhir SD, sebesar 39,38% berpendidikan akhir SLTP, sebesar 51,51% berpendidikan akhir SLTA dan sebesar 3,04% berpendidikan akhir perguruan tinggi.

Pendidikan akhir ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro baik yang anemia maupun tidak anemia adalah SLTA. Hal ini menunjukan tingkat pendidikan ibu hamil tidak mempengaruhi pola makan.

Sebaran Ibu Hamil Berdasarkan Jumlah Keluarga

Ibu hamil yang tidak anemia sejumlah 100% memiliki jumlah keluarga ≤4 orang atau keluarga kecil. Ibu hamil yang anemia sejumlah 36,36% memiliki jumlah keluarga >4orang atau keluarga besar, sejumlah 63,64% memiliki jumlah keluarga ≤4 orang.

Rata-rata ibu hamil baik yang anemia maupun tidak anemia memiliki jumlah keluarga ≤4 orang atau dalam kategori keluarga kecil. Dalam penelitian ini jumlah keluarga tidak mempengaruhi pola makan. Semakin banyak anggota keluarga, semakin banyak pula jumlah makanan yang dibutuhkan setiap harinya. Jika jumlah makanan tidak sesuai untuk kebutuhan keluarga, maka tiap anggota mengalami kekurangan jumlah makanan (Proverawati, 2010:50).

Pengetahuan  Gizi Ibu Hamil

Ibu hamil yang tidak anemia memiliki tingkat pengetahuan gizi tinggi sebesar 60%, ibu hamil yang memiliki tingkat pengetahuan cukup sebesar 20%, dan ibu hamil yang memiliki tingkat pengetahuan gizi kurang sebasar 20%. Ibu hamil yang anemia memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebesar 30,30%, memiliki tingkat pengetahuan cukup sebesar 21,21% dan memiliki tingkat pengetahuan kurang sebesar 48,48%.

Susilawati (2011) menyatakan pengetahuan yang diperoleh melalui pengindraan ibu hamil terhadap info kesehatan selama kehamilan berpengaruh terhadap perilaku ibu hamil dalam menjaga kesehatan. Pengetahuan ibu hamil tentang bahan makanan yang mengandung zat besi serta zat yang dapat membantu penyerapan rata-rata masih kurang. Menurut Soehardjo (2005:46), salah satu yang harus diperhatikan tentang pentingnya pengetahuan gizi adalah ilmu gizi memberikan fakta yang perlu diterapkan sehingga penduduk dapat belajar menggunakan  pangan dengan baik bagi perbaikan gizi. Berdasarkan hasil penelitian, ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro kurang informasi tentang bahan makanan dan zat gizi yang penting dikonsumsi selama hamil.   

Kadar Hb Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kanigoro

Kadar Hb ibu hamil trimester II dan III di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1 Sebaran Ibu Hamil Menurut Jumlah Kadar Hb

Kategori Kadar Hb

Tidak anemia (≥ 11g%)

 

Anemia ringan (9-10g%)

 

Anemia sedang (7-8g%)

 

Anemia berat (≤ 7g%)

               

 

6

 

0

               

 

13.16

 

71.05

 

15.79

 

0

 

Jumlah

               

 

38

               

 

100

 

 

 

Kadar hemoglobin ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro sebagian besar antara 9-10g% atau dalam kategori anemia ringan. Sebagian besar ibu hamil yang mengalami anemia adalah ibu hamil trimester III. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32-36 minggu atau trimester III (Proverawati, 2010:76).

Zat gizi yang mempengaruhi pembentukan kadar Hb antara lain protein, vitamin A, vitamin C, vitamin B2, vitamin B6, vitamin B9, vitamin B12, zat besi serta zink. Zat besi, protein dan vitamin B9 (asam folat) berfungsi dalam pembentukan hemoglobin. Kecukupan zat besi, protein dan vitamin B9 pada ibu hamil yang anemia rata-rata