SKRIPSI Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

survei kondisi fisik kekuatan otot dan daya ledak otot atlet gulat kanupaten malang

sugiono

Abstrak


SURVEI KONDISI FISIK KEKUATAN OTOT DAN DAYA LEDAK OTOT

ATLET GULAT KABUPATEN MALANG

 

Sugiono

Siti Nurrochmah

Fakultas Ilmu Keolahragaan, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Universitas Negeri Malang

Jalan Semarang no. 5 Malang

E-mail: sugiono1603@gmail.com

 

Summary: The purpose of this study was to find out and learn information about the strength and power of explosive body wrestling athletes in Malang Regency. The results of the study on muscle strength and explosive power were as a guide in the preparation of an exercise program. This study uses descriptive research methods. The collection of research data uses the technique of measuring the ability and muscle explosive power. Data analysis used quantitative descriptive statistical techniques to produce calculated averages, variants and standard deviations. 

Key words: research, survey, muscle endurance, speed of movement, athletes wrestling.

Ringkasan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan memperoleh informasi tentang tingkat kekuatan otot dan daya ledak otot atlet gulat Kabupaten Malang. Hasil penelitian tentang kekuatan otot dan daya ledak otot digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan program latihan. Penelitian ini menggunakan metode survei jenis penelitian deskriptif.Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik pengukuran bentuk tes pengukuran pada tes kekuatan otot dan daya ledak otot. Analisis data menggunakan teknik statistika deskriptif kuantitatif berupa rata-rata hitung, varian dan standar deviasi.

Kata kunci: penelitian, survei, kekuatan otot, daya ledak otot, atlit gulat.

 


Olahraga dalam kehidupan bangsa Indonesia merupakan bagian dari prestasi bangsa yang tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, olahraga mempunyai andil yang besar dan merupakan salah satu media bagi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Keseimbangan kondisi fisik dan psikologi dapat dicapai dengan usaha manusia melalui aktivitas olahraga. Adapun pengertian dan tujuan olahraga berdasar Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 tahun 2005 tentang keolahragaan nasional pasal 1 yaitu: 

“Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendororng, membina, mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan social. Keolah-ragaan Nasional bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan badan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan ahklak mulia, sportivitas dan disiplin, mempererat, membina serta mengangkat harkat dan martabat serta menghormati bangsa”. (UU RI Sistem Keolahragaan Nasional No. 3 2005).

Olahraga dikenal dengan beberapa cabang olahraga, salah satunya adalah gulat. Menurut Hadi (2005:4) “Cabang olahraga gulat merupakan olahraga yang cukup tua didunia. Hal ini bukan kabar burung lagi, karena ditunjang oleh fakta dalam sejarah olahraga khususnya”. Menurut Hadi (2005:1) “Didalam cabang olahraga gulat mengandung pengertian suatu perkelahian, pertarungan yang sengit, menjatuhkan lawan dengan saling memukul, menendang, mencekik, dan bahkan mengigit”.

Namun pada selanjutnya pengertian ini berubah menjadi salah satu cabang olahraga yang dilengkapi dengan peraturan dan dipatuhi oleh pesertanya.

Menurut Hadi (2005:1) “Suatu olahraga yang dilakukan oleh dua orang yang saling menjatuhkan atau membanting, menguasai dan mengunci lawannya dalam keadaan terlentang dengan menggunakan teknik yang benar sehingga tidak membahayakan keselamatan lawannya”.

Gulat merupakan olahraga kontak individu yang paling menantang dan penting dalam sejarah dan hortikultura yang berasal dari Babel, Orang Yunani, dan Orang Romawi. Pada cabang olahraga gulat, terdapat dua gaya yang dipertandingkan, yaitu Gaya Bebas dan Gaya Grego Romawi.

Gaya bebas adalah tata cara pemainan gulat yang memperkenankan pegulat menyerang kedua kaki lawan yaitu mengait, menarik kaki sesuai dengan aturan yang ditentukan. Sedangkan gaya grego Romawi adalah tata cara permainan gulat yang melarang pegulat menyerang bagian tubuh bawah panggul seperti menjegal, menarik kaki, melipat lawan Juhanis (2012:61). Untuk menjadi atlet gulat dibutuhkan kondisi fisik yang baik untuk mendukung atlit meraih prestasi yang diingikan.

Kondisi fisik adalah satu kesatuan yang utuh dari komponen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kondisi fisik memegang peranan yang penting dalam menjalankan latihan. Seseorang memegang peranan yang sangat penting untuk mempertahankan atau meningkatan derajat kesegaran jasmani (Giriwijoyo, dkk 2005:63). Beberapa komponen kondisi fisik yang perlu dilatih, antarlain meliputi: daya tahan, kelentukan, kekuatan, stamina, kelincahan, daya ledak, daya tahan, dan kecepatan (Harsono, 2015:57).

Kekuatan otot merupakan komponen kondisi fisik yang mendukung dalam kekuatan atlet gulat dengan tidak mengesampingkan komponen-komponen latihan yang lainnya. Kekuatan otot adalah komponen kondisi fisik yang dapat ditingkatkan sampai batas sub maksimal, sesuai dengan kebutuhan setiap cabang olahraga yang memerlukan (Hasibuan, 2010:43). Sukadiyanto (2011:91), menya-takan bahwa “kekuatan adalah kemampuan otot atau sekelompok  otot untuk mengatasi beban atau tahanan”.

Selain kekuatan otot, seorang atlet gulat harus mempunyai daya ledak otot atau power yang baik karena akan mempermudah mendapatkan poin dari lawan. Daya ledak otot atau power ada dua bagian yaitu kekuatan daya ledak dan kekuatan gerak cepat. Daya ledak otot digunakan untuk mengatasi resistensi yang lebih rendah, tetapi dengan percepatan daya ledak maksimum. Menurut Juliantine, dkk. (2007: 3.21) adalah kemampuan otot untuk mengarahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat. Jadi dapat disimpulkan bahwa daya ledak otot merupakan kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang sesingkat mungkin. Teknik dalam gulat akan sangat didukung bila seorang atlet gulat memiliki komponen kondisi fisik yang baik seperti kekuatan otot dan daya ledak otot. Komponen kondisi fisik sangat penting dalam latihan gulat. Apabila seorang atlit sudah memiliki kekuatan otot dan daya ledak otot yang baik maka dalam pertandingan akan mudah mengalahkan lawan.

Di Kabupaten Malang sendiri terdapat pusat latihan. Latihan tersebut untuk mempersiapkan atlet mencetak prestasi dalam mengikuti berbagai kejuaraan yang dipertandingkan. Jumlah atlet gulat di Kabupaten Malang berjumlah 30 atlet untuk putra dan 10 atlet untuk putri, serta memiliki 3 orang pelatih gulat Kabupaten Malang banyak mencetak atlet yang berprestasi tingkat nasional maupun internasional.

Berdasarkan hasil observasi awal gulat Kabupaten Malang dan wawancara dengan pelatih gulat Kabupaten Malang, bahwa rata-rata atlet gulat Kabupaten Malang memiliki kondisi fisik yang kurang seperti kekuatan otot dan daya ledak otot yang masih jauh dari standar, untuk mengetahui kondisi fisik unsur kekuatan otot dan daya ledak otot perlu dilakukan penelitian survey terhadap atlet gulat Kabupaten Malang. Hal ini dipertegas dengan pengamatan awal dan pada pra-tes kekuatan otot dan daya ledak otot yang diadakan oleh peneliti pada atlet gulat Kabupaten Malang menunjukkan bahwa 55% atlet memiliki tingkat kekuatan otot dan daya ledak otot yang sama45% atlet lainnya sudah mencukupi.

Dari hasil pengamatan observasi awal yang dilakukan peneliti, dapat disimpulkan bahwan pada atlet gulat Kabupaten Malang masih kurang dalam kondisi fisik terutama kekuatan otot dan daya ledak otot. Dengan demikian perlu dilakukan tes dan pengukuran untuk kekuatan otot dan daya ledak otot pada semua atlet gulat, karena dalam olahraga gulat sangat dibutuhkan kekuatan otot dan daya ledak otot agar dapat mendukung kondisi fisik atlet ketika bertanding. Data tentang kekuatan otot dan daya ledak otot nantinya akan dijadikan pedoman untuk latihan.

Dari penelitian yang akan diambil mengenai olahraga gulat, maka penelitian akan memaparkan penelitian terdahulu yang terkait dengan pelatihan atlet olahraga gulat di Kabupaten Malang, pernah dilakukan penelitian oleh Eka Nur Fitriana Sari pada tahun 2016 yang mengkaji tentang masalah “Survei Tingkat Kelentukan dan Kelincahan Atlet Gulat PPLPD Kabupaten Malang tahun 2016. Dewi Khumairoh pada tahun 2017 yang mengkaji tentang masalah “Survei Tingkat Daya Tahan Otot dan Kecepatan Gerak pada Atlet Gulat PPLPD Kabupaten Malang”.

Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan diatas, maka penting diadakan penelitian yang mengkaji tes kondisi fisik atlet gulat Kabupaten Malang melalui penelitian berjudul “Survei Kondisi Fisik Kekuatan Otot dan Daya Ledak Otot Atlet Gulat Kabupaten Malang”

Berdasarkan masalah tersebut diatas, maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengkaji dan memperoleh informasi tingkat kekuatan otot atlet gulat Kabupaten Malang. (2) Untuk mengkaji dan memperoleh informasi tingkat daya ledak otot atlet gulat Kabupaten Malang

 

METODE

Ditinjau dari masalah yang diteliti, maka rancangan penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survei. Deskriptif adalah jenis penelitian yang memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejernih mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti. Berdasarkan tujuan dan sifat penelitian yang dilakukan oleh penulis, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian survei. Penelitian survei adalah jenis yang paling umum dari penelitian deskriptif ini melibatkan pandangan atau praktik kelompok melalui wawancara atau dengan mengisi kuisioner. Kuisioner data diberikan ke kelompok oleh peniliti atau dikirim ke anggota kelompok bagi mereka untuk menyelesaikan dan mengirim kembali kepada peneliti Baumgartner dan Hansley (2006:180).

Subjek dari penelitaian ini adalah atlet gulat Kabupaten Malang 40 orang atlet yang terdiri dari 30 atlet putra dan 10 atlet putri.Instrumen pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur kondisi fisik atlet gulat Kabupaten Malang meliputi instrument tes dan non tes . Instrumen tes untuk memperoleh data dari unsur kekuatan otot dan daya ledak otot. Jenis tes yang diteliti pada variabel kekuatan otot menggunakan alat tes berupa leg dynamometer, back dynamometer dan push and pull dynamometer. Sedangkan variabel daya ledak otot adalah seated medicine ball throw, dan vertical jump. Pengumpulan data merupakan teknik yang digunakan untuk memperoleh data melalui tes yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan pengukuran bentuk tes kekuatan otot berupa tes leg dynamometer, back dynamometer dan push and pull dynamometer (Nurrochmah, 2016). Tes daya ledak otot mencakup seated medicine ball trowh dan vertical jump. Langkah-langkah yang digunakan dalam tahap pengumpulan data meliputi (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap pelaporan.

Ditinjau dari tujuan penelitian dan jenis data yang terkumpul dari variabel kekuatan otot dan daya ledak otot pada atlet gulat berupa data rasio, maka analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif meliputi mean, varian, standar deviasi, dan koevisien variasi (Siregar, 2012:20).

HASIL

Penelitian ini data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistika deskriptif dengan jenis ukuran yang digunakan berupa rata-rata hitung (mean), varian dan standar devisian. Data dari hasil tes kondisi fisik dilakukan secara manual pengolahan meng-gunakan bantuan calculator casio FX 3900 PV.

.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tes kekuatan otot leg dynamometer putra yaitu 50% di atas rata-rata dan putri yaitu 100% diatas rata-rata. Tes back dynamometer putra yaitu 46,67% di atas rata-rata dan  putri yaitu 100% diatas rata-rata. Tes pull dynamometer putra yaitu 53,33% di atas rata-rata dan putri yaitu 100% diatas rata-rata. Tes push dynamometer putra yaitu 40% di atas rata-rata dan putri yaitu 100% diatas rata-rata. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa tes pada tes daya ledak otot vertical jump putra yaitu 53,33% diatas rata-rata dan putri yaitu 100% diatas rata-rata. Tes seated medicine ball throw putra yaitu 50% diatas rata-rata dan putri yaitu 100% diatas rata-rata.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tes kekuatan otot berupa tes leg dynamometer putra dengan standar deviasi 166,3 dan putri dengan standar devisian 66,89. Tes back dynamometer putra dengan standar devisian 150,09 dan putri dengan standar devisian 46,81. Tes pull dynamometer putra dengan standar devisian 21,21 dan putri dengan standar devisian 11,69. Tes push dynamometer putra dengan standar devisian 18,32 dan putri dengan standar devisian 15,65. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tes daya ledak otot berupa tes vertical jump putra dengan standar devisian 55,92 dan putri dengan standar devisian 24,11. Tes seated medicine ball throw putra dengan standar devisian 4,411 dan putri dengan standar devisian 2,291.

 

PEMBAHASAN

Tingkat Kekuatan Otot Atlet Gulat Putra dan Putri Kabupaten Malang

Tes kekuatan otot ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kekuatan otot tungkai, otot punggung dan otot bahu pada atlet gulat putra dan putri Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil tes kekuatan otot yang terdiri dari  leg dynamometer, back dynamometer, pull dynamometer dan push dynamometeryang dilaksanakan  pada tanggal 05 Oktober 2018 di Gedung Olahraga Gulat Kabupaten Malang yang berjumlah 40 atlet menunjukkan bahwa pada tes leg dynamometer pada kelompok putra yang terdiri dari 30 atlet terdapat 15 orang (50%) berada di bawah rata-rata dan 15 orang (50%) yang di atas rata-rata, pada kelompok putri yang terdiri dari 10 atlet keseluruhan memiliki nilai diatas rata-rata (100%).  Pada tes back dynamometer pada kelompok putra yang terdiri dari 30 atlet terdapat 16 orang (53,33%) berada di bawah rata-rata dan 14 orang (46,67%) di atas rata-rata, pada kelompok putri yang terdiri dari 10 atlet keseluruhan memiliki nilai diatas rata-rata (100%).  Pada tes pull dynamometer pada kelompok putra yang terdiri dari 30 atlet terdapat 14 orang (46,67%) berada di bawah rata-rata dan 16 orang (53,33%) di atas rata-rata, pada kelompok  putri yang terdiri dari 10 atlet keseluruhan memiliki nilai diatas rata-rata (100%). Pada tes push dynamometer  kelompok putra yang terdiri dari 30 atlet terdapat 18 orang (60%) di bawah rata-rata dan 12 orang (40%) di atas rata-rata, pada kelompok  putri yang terdiri dari 10 atlet keseluruhan memiliki nilai diatas rata-rata (100%).

Berdasarkan hasil macam-macam tes kekuatan otot tersebut dapat disimpulkan bahwa atlet gulat putra memiliki kekuat otot dengan klasifikasi sedang, hal ini dibuktikan pada hasil tes leg dynamometer kelompok putra yang berjumlah 30 orang terdapat 15 orang (50%) memiliki daya tahan otot di atas rata-rata. Pada atlet gulat putri memiliki kekuatan otot dengan klasifikasi baik, hal ini dibuktikan pada hasil semua tes kelompok putri yang berjumlah 10 orang keseluruha memiliki nilai diatas rata-rata (100%).

Berdasarkan pengamatan peneliti selama latihan di Camp Gulat Kabupaten Malang, atlet yang memiliki kekuatan otot di atas rata-rata adalah atlet yang frekuensi latihannya lebih banyak daripada atlet yang memiliki kekuatan otot di bawah rata-rata. Hal ini dibuktikan dengan 10 atlet yang memiliki tingkat kekuatan otot di atas rata-rata termasuk atlet yang aktif dalam latihan gulat di Camp Gulat Kabupaten Malang dan di Camp gulat Rahman bersama atlet-atlet PUSLATDA (pusat latihan daerah).

Dalam cabang olahraga gulat komponen kondisi fisik kekuatan otot yang baik sangat di prioritaskan dan sangat dibutuhkan, hal ini sesuai dengan pendapat Sukadianto (2005:81) berpendapat bahwa kekuatan otot merupakan kemampuan otot atau sekelompok otot untuk mengatasi beban atau tahanan. Sedangkan menurut Harsono (2015:56) strengh adalah kemampuan untuk membangkitkan tegangan (force) terhadap suatu tahanan. Jadi jika para pegulat memiliki kekuatan otot yang baik maka dalam pertandingan akan mudah mengambil teknik pada lawan.

Bompa (2009:30) menjelaskan bahwa “tujuan utama pelatihan yaitu meningkatan kapasitas kerja atlet, keefektifan keterampilan, dan kualitas psikologi untuk meningkatkan performa dalam kompetisi”. Menurut Pate,McClenaghan dan Rotella (1984:317) mendefinisikan “latihan sebagai peran serta yang sistematis dalam latihan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas fungsional fisik dan daya tahan latihan”. Karena itu dalam penyusunan program latihan pelatih harus memperhatikan dan menambah latihan kekuatan otot untuk meningkatkan kekuatan otot atlet gulat Kabupaten Malang. Selain itu waktu latihan yang telah dilakukan harus ditambah. Apabila selama ini waktu yang dipergunakan untuk latihan kekuatn otot hanya 2 kali seminggu yaitu pada hari Senin dan Rabu, maka harus ditambah menjadi setiap hari pada saat latihan didalam program latihan harus ditambahkan program latihan kekuatan otot.

 

Tingkat Daya Ledak Otot Atlet Gulat Putra dan Putri Kabupaten Malang

 

Tes daya ledak otot ini dilakukan untuk mengetahui tingkat daya ledak otot pada atlet gulat Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil tes daya ledak otot yang terdiri dari tesvertical jump dan seated medicine ball throw  yang dilakukan pada tanggal 05 Oktober 2018 di gedung olahraga Gulat Kabupaten Malang yang berjumlah 40 atlet menunjukkan bahwa pada tes vertical jump kelompok putra yang terdiri dari 30 atlet terdapat 14 orang (46,67%) berada di bawah rata-rata dan 16 orang (53,33%) di atas rata-rata, pada kelompok  putri yang terdiri dari 10 atlet keseluruhan memiliki nilai diatas rata-rata (100%). Pada tes seated medicine ball throw kelompok putra yang terdiri dari 30 atlet terdapat 15 orang (50%) berada di bawah rata-rata dan 15 orang (50%) di atas rata-rata, pada kelompok  putri yang terdiri dari 10 atlet keseluruhan memiliki nilai diatas rata-rata (100%).

Berdasarkan hasil macam-macam tes daya ledak otot tersebut dapat disimpulkan bahwa atlet gulat Kabupaten Malang memiliki daya ledak otot dengan klasifikasi baik, hal ini dibuktikan pada tes vertical jump pada kelompok putra yang berjumlah 30 orang terdapat 16 orang (53,33%) memiliki daya ledak otot di atas rata-rata. Pada atlet gulat putri memiliki daya ledak otot dengan klasifikasi baik, hal ini dibuktikan pada hasil semua tes kelompok putri yang berjumlah 10 orang keseluruha memiliki nilai diatas rata-rata (100%).

Berdasarkan pengamatan peneliti selama latihan diCamp Gulat Kabupaten Malang, atlet yang memiliki daya ledak otot di atas rata-rata adalah atlet yang frekuensi latihannya lebih banyak daripada atlet yang memiliki daya ledak otot di bawah rata-rata. Hal ini dibuktikan dengan 10 atlet yang memiliki tingkat daya ledak otot di atas rata-rata termasuk atlet yang aktif dalam latihan gulat di Camp Gulat Kabupaten Malang dan di Camp gulat Rahman bersama atlet-atlet Puslatda (pusat latihan daerah).

Daya ledak otot merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang  sangat diperlukan untuk mendukung kecepatan, kekuatan serta ketepatan dalam mengambil teknik pada cabang olahraga gulat. Disamping itu daya ledak otot merupakan syarat utama untuk mempelajari dan memperbaiki keteram-pilan gerak dan teknik olahraga.

Harsono (2015:59), daya ledak (power) adalah kemampuan untuk mengarahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat. Menurut Juliantine, dkk (2007:3.21) menyatakan kemampuan otot untuk mengarahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat. Wujud gerak dari daya ledak adalah selalu bersifat eksplosif. Berdasarkan penjelasan tersebut sebagai kekuatan dan kecepatan yang dilakukan secara bersama-sama dalam melakukan suatu gerak.

Berdasarkan pengamatan peneliti, program latihan kekuatan otot dan daya ledak otot  yang diberikan oleh pelatih harus ditambah dan ditingkatkan lagi. Menurut Harsono (2015:50), “latihan adalah semua upaya yang mengakibatkan terjadinya penigkatan kemampuan dalam pertandingan olahraga”. Latihan adalah proses melakukan kegiatan olahraga yang dilakukan berdasarkan program latihan yang disusun secara sistematis, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan atlet dalam upaya mencapai prestasi yang semaksimal mungkin (Budiwanto, 2012:16). Dalam memberikan program latihan pelatih harus memperhatikan aspek-aspek yang penting yang akan digunakan dalam pertandingan olahraga gulat. Program latihan kekuatan otot dan daya ledak otot perlu ditambah porsinya. Secara garis besar atlet gulat Kabupaten Malang yang berada di bawah rata-rata diduga karena kurangnya frekuensi latihan kekuatan otot dan daya ledak otot yang diberikan oleh pelatih. Untuk memperoleh kekuatan otot dan daya ledak otot yang baik diperlukan latihan yang teratur, sistematis, dengan memenuhi persyaratan fisiologis. Bentuk-bentuk latihan untuk mengembangkan daya ledak otot, tentunya adalah bentuk-bentuk latihan yang mengharuskan orang untuk bergerak dangan tepat. Dalam melakukan aktivitas tersebut, dia juga tidak boleh kehilangan keseimbangan dan harus pula sadar akan posisi tubuhnya.

 

 

SIMPULAN

Berdasarkan analisis data dalam penelitian tentang “Survei Kondisi Fisik Kekuatan Otot dan Daya Ledak Otot Atlet Gulat Kabupaten Malang”, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.(1). kondisi fisik atlet gulat putra Kabupaten Malang tes kekuatan otot pada kelompok putra termasuk kategori sedang, sedangkan untuk atlet putri memiliki kategori sedang.(2). Hasil tes daya ledak otot pada kelompok putra memiliki kategori sedang, sedangkan untuk atlet putri memiliki kategori sedang.

 

 

SARAN-SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan sesuai dengan masalah penelitian, maka peneliti mencoba memberikan beberapa saran agar dapat menunjang kondisi fisik atlet, diantaranya :1. Bagi Atlet Gulat Kabu-paten Malang “Penelitian ini dapat memberikan informasi atau pengetahuan tentang daya tahan dan kecepatan yang dimiliki, sehingga atlet dapat mempertahankan dan meningkatkan daya tahan dan kecepatan yang telah dimiliki”. 2. Bagi Pelatih Gulat Kabupaten MalangPenelitian ini dapat dijadikan suatu informasi tentang kekuatan otot dan daya ledak otot para atlet dan dapat dijadikan pedoman dan penyusunan program latihan. 3. Bagi Lembaga Gulat Kabupaten MalangDiharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi atau bahan pustaka bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian selanjutnya dibidang yang sama dan untuk menambahi wawasan bagi mahasiswa Pendidikan Jasmani”.4. Lembaga Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolah-ragaan Universitas Negeri MalangDiharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi atau bahan pustaka bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian selanjutnya dibidang yang sama dan untuk menambahi wawasan bagi mahasiswa Pendidikan Jasmani”.5. Bagi Peneliti“Penelitian ini disarankan agar dapat dijadikan sebagai bahan untuk membantu menerapkan ilmu yang sudah didapat selama menempuh perkuliahan Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang.”

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Baumgartner & Hensley. 2006. Conducting And Reading Research In Health And Human Performance. America: McG-raw-Hill Companies.

 

Bompa, O. Tudor, 2009. Periodization: Theory and Methodology of training. Champaign, IL: Human

Budiwanto, S. 2015. Tes Dan Pengukuran dalam Keolahragaa. Bandung: ITB

 

Giriwijoyo, Santoso Y.S, dkk. 2005. Manusia dan Olahraga. Bandung: ITB

 

Hadi, 2005. Buku Ajar Gulat. Semarang: Jurusan Pendidikan Kepeltihan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.

 

Harsono. 2015. Periodisasi Program Pelatihan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

 

Hasibuan, R. 2010. Perbedaan Pengaruh Latihan Bicep Curl Tempo Cepat dengan Tempo Lamabat Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Lengan Pada Members Putra Tiara Hotel Fitness Center. Jurnal Ilmu Keolahragaan, (Online), 8 (1): 42-48, (http://unimed.ac.id), diakses 3 Januari 2016.

 

Juhanis. 2012. Hubungan Kekuatan Otot Tungkai dan Kekuatan Otot Lengan Dengan Kemampuan Bantingan Pinggang Pada Olahraga Gulat Mahasiswa Fik Unm Makassar. Jurnal Ilara (Onli-ne), 60-69, (http://www.unm.ac.id), diakses 10 Maret 2016.

 

Juliantine, Tite. 2007 Ilmu Kepelatihan Dasar. Alvabeta, Bandung 2015.

Mylsidayu, Apta dan Kurniawan, Febi. 2015. Ilmu Kepelatihan Dasar. Bandung: AlfabetaMysnyk, Mark. 1994.Gerakan Serangan Gulat Peraih Kemenangan. New York: University of North Carolina at Wilmington.

Nurrochmah. 2016. Tes Dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani dan Olahragaan, Universitas Negeri Malang

Pate, R.R, Mc. Clanaghan, B & Rotella, R.1984. Scientific Foundations of Coa-ching. United States of America: West Washington Square.

 

Sukadiyanto. 2011. Pengantar Teori dan Me-todologi Melatih Fisik. Bandung: CV. Lubuk Agung