SKRIPSI Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Variasi Model Latihan Kecepatan, Kelincahan, dan Kekuatan Dalam Bentuk Circuit Training Pada Atlet Pencak Silat Persinas ASAD Kab. Banyuwangi

Aris Joko Setiawan

Abstrak


ABSTRAK

 

Setiawan, Aris, Joko. 2015. Pengembangan Variasi Model Latihan Kecepatan, Kelincahan, dan Kekuatan Dalam Bentuk Circuit Training Pada Atlet Pencak Silat Persinas ASAD Kab. Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Gatot S, M.Kes, (II) Dra. Sri Purnami, M.Pd.

Kata Kunci : pengembangan, variasi model latihan, kecepatan, kelincahan, kekuatan, circuit training, pencak silat, Persinas ASAD.

Kecepatan diartikan sebagai kemampuan organisme dalam melakukan gerakan-gerakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Kecepatan dalam program latihan pencak silat adalah salah satu teknik utama untuk mempercepat suatu teknik dalam bermain silat diantaranya yaitu, teknik pukulan, teknik tendangan, teknik bantingan, dan teknik kuncian. Model latihan kecepatan tentunya lebih terprogram dengan variasi model latihan dalam bentuk circuit training. Program latihan kecepatan tentunya menjadi faktor utama untuk meningkatkan sebuah teknik. Kelincahan atau agility adalah suatu kemampuan seseorang untuk bergerak cepat dan dapat merubah posisi tubuh berulang-ulang. Program latihan yang tujuannya memberikan suatu bentuk yang berbeda dengan acuan circuit training. Kekuatan adalah suatu latihan tubuh yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan fisik. Program latihan yang dikembangkan melalui bentuk variasi model latihan circuit training ini guna meningkatkan kemampuan dalam berlatih secara maksimal.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan variasi model latihan kecepatan, kelincahan, dan kekuatan dalam bentuk circuit training pada atlet pencak silat Persinas ASAD Kab. Banyuwangi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan program latihan yang lebih optimal. Mengacu pada metode penelitian yang diterapkan oleh Borg dan Gall (1983:775) tentang pengembangan (research and  development) dan peneliti sedikit memodifikasi  dari Borg and Gall sehingga model pengembangan yang digunakan di rangkum menjadi tujuh langkah diantaranya yaitu, (1) analisis produk awal dengan mengumpulkan informasi dan kajian pustaka, (2) perencanaan dan pengembangan produk awal, (3) revisi produk awal berdasarkan evaluasi para ahli, (4) uji coba kelompok kecil, (5) revisi produk berdasarkan kelompok kecil, (6) uji coba kelompok besar, (7) produk akhir pengembangan variasi model latihan.

Prosedur pengembangan variasi model latihan kecepatan, kelincahan, dan kekuatan dalam bentuk circuit training ini melalui beberapa tahap yaitu sebagai berikut. (1) melakukan penelitian, pengumpulan data, atau informasi dengan observasi secara langsung di lapangan dan kajian pustaka serta analisis kebutuhan, (2) pembuatan rancangan produk (berupa buku panduan yaitu variasi model latihan kecepatan, kelincahan, dan kekuatan dalam bentuk circuit training) rancangan produk yang telah disusun dan kemudian dievaluasi, (3) produk awal yang berupa (buku panduan yaitu variasi model latihan kecepatan, kelincahan, dan kekuatan dalam bentuk circuit training) kemudian dievaluasi oleh para ahli yaitu ahli media dan ahli pencak silat, (4) revisi produk awal, berdasarkan hasil dari evaluasi para ahli dan hasil uji coba kelompok kecil yang diadakan dengan menggunakan 10 subjek, (5) uji lapangan (kelompok besar) yang menggunakan 25 subjek uji coba, (6) revisi produk akhir ini berdasarkan hasil uji lapangan (kelompok besar), (7) hasil akhir produk pengembangan variasi model latihan kecepatan, kelincahan, dan kekuatan dalam bentuk circuit training pada atlet pencak silat Persinas ASAD Kab. Banyuwangi yang dihasilkan oleh uji coba lapangan (kelompok besar).

Hasil penelitian ini dilakukan di perguruan pencak silat Persinas ASAD Kab. Banyuwangi yang berupa pengembangan variasi latihan kecepatan, kelincahan, dan kekuatan dalam bentuk circuit training pada atlet pencak silat Persinas ASAD Kab. Banyuwangi dan hasil dari pengembangan tersebut berupa latihan kecepatan yaitu lari speed di tempat, lari sprint 10 meter teknik tendangan speed samping 10 kali, lari shuttle run, teknik pukulan speed 15 kali, lari sprint 10 meter, melakukan teknik tendangan speed depan 10 kali, lari shuttle run berjangka, teknik tendangan T speed 10 kali. Variasi model latihan kelincahan yaitu loncat dengan ke dua kaki melintasi papan pipa, teknik kocakan kanan dan kemuian melanjutkan tendang depan kanan sebanyaak 6 kali, lari zig-zag melintasi cone, teknik kocakan kemudian melakukan tendang samping kanan sebanyak 6 kali, loncat zig-zag dengan tumpuan satu kaki, teknik kocakan kemudaian melakukan tendangan T kanan sebanyak 6 kali, loncat zig-zag dengan tumpuan dua kaki kearah depan, kanan, dan kiri. Variasi model latihan kekuatan yaitu latihan angkat beban 10 kali angkatan, lari dengan beban, push-up 10 kali power, jalan merangkak dengan telapak tangan jarak 6 meter, sit-up & back-up 10 kali, kemudian melakukan jalan jongkok dan setiap 3 melakukan squat jumps, teknik pukulan power kanan & kiri sebanyak10 kali, teknik tendangan bebas power kanan & kiri sebanyak 10 kali.

Adapun subjek ujicoba terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri 1 orang ahli media dan 1 orang ahli pencak silat, (2) uji coba kelompok kecil dan uji lapangan (kelompok besar) adalah menggunakan 10 atlet untuk kelompok kecil dan 25 atlet untuk kelompok besar di perguruan pencak silat Persinas ASAD Kab. Banyuwangi. Dari hasil uji coba kelompok kecil dan kelompok besar diperoleh hasil 85,83% dari kelompok kecil dan 81,16% dari kelompok besar. Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengembangan variasi model latihan kecepatan, kelincahan, dan kekuatan, dalam bentuk circuit training pada atlet pencak silat Persinas ASAD Kab. Banyuwangi. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subjek uji coba yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada perguruan pencak silat yang lainnya. Peneliti sendiri dan peneliti lainnya lebih optimis mengembangkan variasi model latihan yang lain.