SKRIPSI Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PASSING DAN SHOOTING BOLABASKET MENGGUNAKAN GAYA MENGAJAR INKLUSI DI KELAS XI IPS 2 SMA NEGERI 8 MALANG

A'an Bagos Budianto

Abstrak


ABSTRAK

 

Budianto, A'an B. 2013. Pengembangan Pembelajaran Passing dan Shooting Bolabasket Mengggunakan Gaya Mangejar Inklusi di Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mulyani Surendra, M.S, (II) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes.

 

Kata Kunci: pengembangan, gaya mengajar inklusi, passing, dan shooting bolabasket

Gaya mengajar inklusi merupakan gaya mengajar yang digagas oleh Muska Mosston dan Sarah Ashworth yang mempunyai karakteristik memberikan tugas yang sama namun dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Gaya mengajar inklusi memberikan kesempatan kepada siswa belajar berdasarkan tingkat kemampuan masing-masing siswa. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan kepada seorang guru pendidikan jasmani dan 35 siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 8 Malang diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan kemampuan antar masing-masing siswa. Guru sepenuhnya menyadari bahwa terdapat perbedaan kemampuan pada setiap siswa di kelas XI IPS 2. Dengan demikian gaya mengajar inklusi perlu dikembangkan di SMA Negeri 8 Malang.

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model pembelajaran bolabasket menggunakan gaya mengajar inklusi pada siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 8 Malang. Diharapkan dalam penelitian, peserta didik dapat munguasai beberapa teknik dasar bolabasket sebagaimana yang sudah ditentukan dalam SK dan KD kelas XI SMA berdasarkan tingkat kemampuannya.

Penelitian yang dilaksanakan di SMA Negeri 8 Malang ini termasuk penelitian dan pengembangan (research and development). Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket.

Pada tahap justifikasi ahli terhadap produk yang dikembangkan secara keseluruhan (100%) mudah dilakukan, aman, menarik, dan dapat memfasilitasi siswa dalam melakukan tugas berdasarkan kemampuannya. Hasil uji coba kelompok kecil diperoleh persentase sebesar 91,7% siswa memilih level awal untuk memulai pembelajaran berdasarkan kemampuannya, terdapat perpindahan level secara keseluruhan, secara keseluruhan (100%) pembelajaran menyenangkan, dan 86,7% mudah dilakukan. Sedangkan hasil uji coba kelompok besar diperoleh hasil 85% siswa memilih level awal untuk memulai pembelajaran berdasarkan kemampuannya, terdapat perpindahan level dari keseluruhan siswa, serta pembelajaran 94,1% menyenangkan dan 88,1% mudah untuk dilakukan.

Penelitian ini menghasilkan model pembelajaran dengan pengelompokan tugas siswa menjadi 4 level yang berbeda. Namun apabila model pembelajaran ini akan dipakai dalam pembelajaran di kelas lain, sebaiknya dicek ulang tentang kesesuaian tingkat kesulitan setiap level terhadap kelas bersangkutan.