SKRIPSI Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Upaya Meningkatkan Pembelajaran Tolak Peluru Gaya O’Brien dengan Pendekatan Bermain Pada Siswa Kelas V SDN 1 Gabel Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo.

DWIALIH YUAN PRAMBUDI

Abstrak


Peningkatan pembelajaran dibidang olahraga atau sasaran yang ingin dicapai oleh pembinaan olahraga di Indonesia membutuhkan waktu yang lama dalam proses pembinaannya. Pembelajaran olahraga memerlukan usaha yang harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh, sebab banyak faktor yang menentukan keberhasilan seorang dalam mencapai pembelajaran.

Berdasarkan observasi awal, diketahui bahwa keterampilan tolak peluru gaya O’Brien V di SDN 1 Gabel Ponorogo masih kurang maksimal. Siswa masih banyak melakukan kesulitan pada saat Sikap badan saat menolak  dan pada saat menolak peluru tidak ditolakkan tetapi dilempar, sehingga membuat tangan siswa sering merasa sakit saat melakukan teknik tolak peluru gaya O’Brien.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran tolak peluru gaya O’Brien siswa kelas V SDN 1 Gabel Ponorogo menggunakan pendekatan bermain. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, lembar observasi, dan catatan lapangan.

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas dilakukan untuk meningkatkan pembelajaran Tolak Peluru Gaya O’Brien siswa kelas V SDN 1 Gabel Ponorogo dengan pendekatan bermain. Melalui bermain ini, siswa melakukan teknik tolak peluru gaya O’Brien sambil diajak bermain dalam pelaksanaannya. Hal ini sangat penting mengingat tidak semua siswa menyenangi olahraga tolak peluru. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung selama 2 siklus.

Hasil penelitian menunjukan bahwa keterampilan melakukan teknik tolak peluru gaya O’Brien siswa kelas V SDN 1 Gabel Ponorogo mengalami banyak peningkatan. Hasil tindakan siklus I dan siklus II, cara memegang peluru sebagai berikut: Peluru diletakkan pada pangkal jari-jari ditelapak tangan, Jari telunjuk, jari tengah dan jari kelingking merupakan titik tolak yang utama dan membantu proses lontaran awalnya pada siklus I sebesar 89,29% menjadi 100% pada siklus II, jari-jari tidak boleh berjauhan, jari kelingking dan ibu jari menjaga kedudukan agar tidak bergeser atau jatuh, kemudian peluru diletakkan di depan bahu (pada tulang selangka dan leher) awalnya pada siklus I sebesar 82,14% menjadi 96,43% pada siklus II,  sikut diangkat setinggi bahu dan peluru bagian atas sedikit menempel pada tulang rahang bawah awalnya pada siklus I sebesar 85,71% menjadi 96,43% pada siklus II. Sikap badan saat menolak sebagai berikut: Posisi badan membelakangi arah tolakan, ini berarti sektor tolakan berada di belakang awalnya pada siklus I sebesar 64,29% menjadi 89,29% pada siklus II, bagi penolak dengan tangan kanan, berat badannya harus berada di atas kaki kanan dengan cara membungkuk ke depan awalnya pada siklus I sebesar 64,29% menjadi 92,86% pada siklus II, kaki kiri diangkat ke belakang dan berpijak pada ujung kaki awalnya pada siklus I sebesar 60,71% menjadi 92,86% pada siklus II, sikut lengan kiri dibengkokkan berada di depan dada, lalu Menjaga keseimbangan badan, badan harus rileks awalnya pada siklus I sebesar 67,86% menjadi 96,43% pada siklus II. Saat menolak sebagai berikut: Gerakan kaki kanan dengan cepat ke belakang ke arah tolakan (tidak melompat) dan Kaki kanan mendarat di tengah-tengah lingkaran awalnya pada siklus I sebesar 53,57% menjadi 89,29% pada siklus II, lutut kanan masih tetap terlipat (setengah jongkok) Telapak kaki kanan menumpu kuat di tanah awalnya pada siklus I sebesar 53,57% menjadi 96,43% pada siklus II, badan masih berputar ke belakang, siap menolak, kemudian lurus lutut dengan tolakan yang kuat, sambil memutar badan ke depan, ke arah tolakan lalu dengan dorongan atau tolakan kuat tangan kanan ke arah atas dengan sudut tolakan lebih kurang 45º awalnya pada siklus I sebesar 57,14% menjadi 92,86% pada siklus II. Gerakan lanjutan dan sikap akhir sebagai berikut: Setelah peluru terlepas, kaki kanan mendarat di depan menggantikan kedudukan kaki kiri lalu Kaki kiri terangkat untuk menjaga keseimbangan badan agar tidak jatuh ke depan awalnya pada siklus I sebesar 85,71% menjadi 100% pada siklus II.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keterampilan Tolak peluru gaya O’Brien dengan pendekatan bermain dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 1 Gabel Ponorogo.