SKRIPSI Prodi Pendidikan IPS - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Konstruksi Sosial Kerukunan Umat Beragama pada Masyarakat Desa Boro Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar

Agnes Aulia Santoso

Abstrak


ABSTRAK

 

Santoso, Agnes Aulia. 2017. Konstruksi Sosial Kerukunan Umat Beragama pada Masyarakat Desa Boro Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar. Skripsi, Prodi Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. GM. Sukamto, M.Pd., M.Si. (II) I Dewa Putu Eskasasnanda, S.Ant., M.A.

 

Kata Kunci : konstruksi sosial, kerukunan umat beragama, Desa Boro

 

Indonesia merupakan negara yang majemuk karena memiliki keragaman dalam berbagai bidang, salah satunya agama. Hal ini menuntut masyarakat untuk memiliki kesadaran dalam menyikapi perbedaan agama. Salah satu masyarakat yang masih menjunjung tinggi kerukunan umat beragama adalah masyarakat Desa Boro. Masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarah keberagaman agama di Desa Boro?. (2) Apa saja faktor-faktor kerukunan umat beragama yang digambarkan oleh konstruksi sosial masyarakat di Desa Boro?. (3) Apa saja bentuk-bentuk kerukunan umat beragama yang digambarkan oleh konstruksi sosial masyarakat di Desa Boro?. (4) Apa fungsi kerukunan umat beragama di Desa Boro?.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Cara menentukan informan dengan teknik purposive. Informan pendukung yaitu Kepala Desa Boro, sedangkan informan kunci yaitu tokoh agama, ketua FKUB, dan masyarakat di Desa Boro. Prosedur pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Agama Buddha adalah agama yang pertama kali muncul di Desa Boro, sedangkan agama Islam adalah agama yang paling banyak dianut masyarakat Desa Boro. Penyebab keberagaman agama karena tokoh agama asli Desa Boro dan pendatang jauh sebelum FKUB terbentuk. (2) Faktor-faktor kerukunan ditunjukkan dengan sikap toleransi, saling menyadari, gotong royong, kesediaan menerima perbedaan, sering berinteraksi, kekerabatan/keturunan, ketetanggaan/kepentingan kebutuhan, FKUB, nilai ajaran agama, serta kekompakan tokoh agama. (3) Bentuk-bentuk kerukunan dapat dilihat melalui intensitas interaksi, anjangsana, kerja bakti, santunan, donor darah, menjenguk orang sakit, pembangunan tempat ibadah, ritual kematian, parkir, lomba dan karnaval, bersih desa dan bersih dusun, serta pemasangan bendera. (4) Fungsi kerukunan yaitu merasa tenang, menghilangkan perasaan curiga, meringankan beban, mempermudah hubungan, desa aman, menghilangkan batasan, menjadi contoh desa lain, serta meningkatkan kegiatan lintas agama.

Kesimpulan dari penelitian ini yaitu masyarakat hidup saling berdampingan, dilihat dari sikap dan keikutsertaan masyarakat melalui kegiatan antar lintas agama. Meskipun demikian, masyarakat perlu untuk meningkatkan kerukunan. Saran bagi peneliti selanjutnya agar membahas mengenai sejarah terbentuknya Desa Boro serta budaya anjangsana yang menjadi ciri khas masyarakat Desa Boro. Vihara yang menjadi tempat pariwisata di Desa Boro juga dapat diteliti sehingga selain kerukunan umat beragama masih terdapat beberapa objek dan peristiwa di Desa Boro yang perlu untuk diteliti.