SKRIPSI Prodi Pendidikan IPS - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Potret Pengemis di Kota Malang (Studi Kasus: Pelaksanaan Peraturan Daerah No. 9 Tahun 2013)

Wahyu Rio Defandiari

Abstrak


ABSTRAK

 

Industrialisasi menyebabkan banyak penduduk desa ingin merubah nasib dengan mencari pekerjaan di Kota Malang. Ketersediaan lapangan pekerjaan dengan jumlah pencari kerja di Kota Malang tidak seimbang, sehingga banyak yang memilih bekerja di sektor informal salah satunya sebagai pengemis. Upaya pemerintah Kota Malang untuk mengatasi menjamurnya pengemis, dengan menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2013. Namun kenyataanya pengemis di Kota Malang hingga saat ini masih banyak. Berdasarkan hal tersebut. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1). bagaimana karakteristik pengemis di Kota Malang?, 2). apa alasan mengemis bagi pengemis di Kota Malang?, 3). bagaimana peran masyarakat dalam pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 9 Tahun 2013?, 4). bagaimana efektivitas Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 9 Tahun 2013?.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian ini terdiridari informan pendukung dan informan kunci dengan teknik snowball. Tahap-tahap penelitian meliputi studi pendahuluan, pembuatan pradesain penelitian, seminar proposal, memasuki lapangan, pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan penulisan laporan.

Hasil penelitian menunjukkan karakteristik pengemis di Kota Malang antara lain: 1). mayoritas berjenis kelamin perempuan; 2). usia antara 30 hingga 90 tahun dan sebagian besar merupakan penduduk usia produktif; 3). pendidikan rendah; 4). beragama Islam; 5). lokasi mengemis dibedakan menjadi dua yaitu menetap dan berpindah-pindah. Pengemis bertahan bekerja pada sektor informal dengan cara meminta-minta dikarenakan etos kerja yang rendah atau malas. Mereka memilih bertahan sebagai pengemis karena masih ada masyarakat yang memberikan uang sehingga penghasilan mereka besar. Adapun kemiskinan, pendidikan rendah, kondisi fisik yang cacat, dan tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah hanyalah sebagai alasan mereka untuk dapat mengemis. Peran masyarakat dalam pelaksanaan Perda No. 9 Tahun 2013 masih kurang. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak mengetahui adanya Perda tersebut.

 

Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa pelaksanaan Perda No. 9 Tahun 2013 belum efektif. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya peran masyarakat dalam pelaksanaannya. Selain itu, dalam Perda No. 9 Tahun 2013 belum terdapat sanksi yang mengatur secara tegas hukuman bagi yang melanggar Perda. Saran hasil penelitian ini adalah agar pelaksanaan Perda efektif, perlu sosialisasi kepada masyarakat dan penambahan sanksi dalam Perda No. 9 Tahun 2013.