SKRIPSI Prodi Pendidikan IPS - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Konstruksi Sosial Kesenian Reyog di Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo

lailatul munasaroh

Abstrak


ABSTRAK

 

Perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat telah memberikan banyak manfaat disemua aspek kehidupan. Selain itu, perkembangan teknologi juga memberikan dampak negatif salah satunya yaitu masuknya kebudayaan asing yang bisa menggeser keberadaan budaya lokal. Budaya lokal adalah identitas bangsa yang harus dijaga agar bisa menjadi warisan untuk generasi mendatang. Hal ini tentu menjadi tanggungjawab para generasi muda dan juga perlu dukungan dari berbagai pihak untuk tetap mempertahankannya. Seperti kesenian Reyog Ponorogo yang merupakan kebudayaan lokal dan harus dijaga keberadaannya. Masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarahkesenian Reyog Ponorogo?. (2) Bagaimana karakter tokoh dalam kesenian Reyog Ponorogo?. (3) Bagaimana konstruksi sosial pelestarian kesenian Reyog di Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo?. (4) Bagaimana fungsi kesenian Reyog bagi Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo?.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya deskriptif. Teknik pengambilan data menggunakan purposive. Informan pendukung yaitu perangkat kecamatan dan perangkat dinas pariwisata. Informan kunci yaitu seniman, pengrajin, pemilik sanggar tari, dan pemuda di Kecamatan Ponorogo. Prosedur pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sejarah kesenian Reyog Ponorogo memiliki tiga versi cerita yang berbeda yaitu cerita versi Bantarangin, cerita versi Ki Ageng Kutu, dan cerita versi Batara Katong. Akan tetapi, cerita versi Bantarangin adalah cerita yang pertama kali muncul sehingga lebih dipercaya kebenarannya. (2) Karakter tokoh dalam kesenian Reyog yaitu Pengrawit, Senggak, Singo Barong, Klono Sewandono, Bujangganong, Warok, dan Jathil. (3) Pelestarian kesenian Reyog tidak terlepas dari konstruksi sosial yang dibentuk oleh masyarakat dengan pemerintah. Masyarakat meliputi pengrajin, seniman, dan pemilik sanggar tari Reyog menuntut pemerintah menyediakan wadah untuk pementasan Reyog. (4) Fungsi kesenian Reyog yaitu sebagai identitas wilayah, meningkatkan perekonomian, media hiburan, dan pembentuk karakter bangsa.

 

Kesimpulan dari penelitian ini yaitu masyarakat sudah memiliki rasa bangga terhadap kesenian Reyog. Rasa bangga tersebut dapat dilihat dari pengetahuan masyarakat mengenai kesenian Reyog dan perilaku masyarakat dalam mempertahankan keberadaan kesenian Reyog. Akan tetapi, masyarakat perlu untuk mempertahankan kesenian Reyog Obyog yang merupakan bentuk penyajian awal Reyog dan mengetahui kepribadian pemainnya. Dengan demikian perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai eksistensi kesenian Reyog Obyog beserta kepribadian pemainnya dengan perspektif yang berbeda.