SKRIPSI Prodi Pendidikan IPS - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Konstruksi Sosial Kesenian Reyog sebagai Ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Ponorogo

Sely Karisma Putri

Abstrak


ABSTRAK

 

Kesenian yang dimilki bangsa Indonesia sangat beranekaragam. Keanekaragaman ini menunjukkan kekayaan budaya yang unik dan tidak ternilai harganya. Hal ini menyebabkan pentingnya usaha untuk melestarikan kesenian daerah. Usaha pelestarian kesenian daerah dapat dilakukan oleh berbagai golongan, antara lain seperti seniman, masyarakat, dan juga pemerintah. Usaha yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam melestarikan kesenian daerah adalah dengan memasukkan kesenian daerah ke dalam muatan lokal dan ekstrakurikuler.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana karakteristik kesenian Reyog sebagai ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Ponorogo?; (2) Bagaimana konstruksi sosial tentang kesenian Reyog sebagai ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Ponorogo?; (3) Bagaimana makna kesenian Reyog sebagai ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Ponorogo?.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif perspektif konstruksi sosial. Kehadiran peneliti yaitu sebagai instrumen kunci dalam penelitian. Lokasi penelitian berada di SMA Negeri 2 Ponorogo. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Prosedur pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan dan keajegan pengamatan. Tahap penelitian yang dilakukan adalah tahap pra-lapangan, tahap lapangan, tahap analisis data, dan tahap penulisan laporan.

 

Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) penyajian kesenian Reyog menggunakan cerita bantarangin, ragam gerak dhadhak merak tidak disertakan dalam materi ekstrakurikuler kesenian Reyog, dan peserta didik yang ingin mengikuti ekstrakurikuler kesenian Reyog tidak diwajibkan memiliki kemampuan menari; (2) momen eksternalisasi pada penelitian ini menjelaskan bahwa pengetahuan awal peserta didik mengenai kesenian Reyog berasal dari lingkungan keluarga dan sekolah. Momen objektivasi berupa interaksi dan sosialisasi peserta didik dalam ekstrakurikuler kesenian Reyog. Momen internalisasi berupa aktualisasi makna kesenian Reyog dalam kehidupan peserta didik sehari-hari; (3) makna dari kesenian Reyog dapat dilihat secara keseluruhan, berdasarkan setiap komponen Reyog, dan berdasarkan pola tarian. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah dapat mengkaji kesenian Reyog menggunakan perspektif yang berbeda, misalnya fenomenologi, studi kasus, serta menghubungkannya dengan nilai-nilai karakter maupun nilai-nilai pendidikan.