SKRIPSI Prodi Pendidikan IPS - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pudarnya Tradisi Methik Pari pada Masyarakat Petani Desa Tegalarum Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi

Arin Yunita

Abstrak


ABSTRAK

Yunita, Arin. 2016. Pudarnya Tradisi Methik Pari pada Masyarakat Petani Desa Tegalarum Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sukamto, M.Pd, M.Si, (II) I Dewa Putu Eskasasnanda, S.Ant, M.A.

Kata Kunci: Tradisi Methik Pari, Masyarakat Petani, Perubahan Sosial-Budaya.

Upacara salah satu wujud dari kebudayaan Jawa pada masyarakat petani. Kegiatan tersebut oleh masyarakat petani terus dilakukan sehingga menjadi suatu tradisi. Namun Seiring berkembangan zaman terutama di zaman globalisasi ini, terjadi perubahan dalam tradisi tersebut. Keadaan demikian dapat dilihat dan dirasakan pada masyarakat petani dalam melaksanakan tradisi methik pari di Desa Tegalarum. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengkaji tentang tradisi methik pari yang ada di Desa Tegalarum. Rumusan masalah penelitian ini: (1) bagaimana sejarah tradisi methik pari, (2) apa perubahan yang terjadi pada tradisi methik pari, dan (3) apa makna tradisi methik pari pada masyarakat petani di Desa Tegalarum.

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis data interaktif Miles dan Hubermen  yang terdiri dari  pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan cara ketekunan pengamatan dan triangulasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tradisi methik pari sudah dilakukan oleh masyarakat Petani Desa Tegalarum sejak zaman dahulu. Upacara methik pari terdiri dari tahap persiapan, pelaksanaan dan akhir kegiatan. Tahap persiapan yaitu penentuan hari yang jumlanya 16 dalam penanggalan Jawa, sesaji seperti cok bakal, gagar mayang dan berbagai makanan (tumpeng, ingkung, dan lauk pauk). Tahap pelaksanaan yaitu pembawaan sesaji ke sawah, setelah itu dukun methik pari membaca doa. Tahap akhir yaitu pemotongan beberapa padi sebagai perlambangan pemboyongan Mbok Sri, kemudian  padi tersebut diletakkan di sentong atau lumbung padi. Tradisi ini mengalami perubahan yang disebabkan oleh jumlah lahan yang semakin berkurang, penghasilan ekonomi yang semakin berkurang, produktivitas yang semakin menurun, teknologi dan ilmu agama yang semakin berkembang. Sehingga mengakibatkan perubahan pada penggunaan sesaji yang tidak selengkap seperti dahulu dan selametan atau kenduri yang dulu biasanya dilakukan di sawah kini dilakukan di rumah. Adapun maknanya tradisi methik pari sebagai wujud syukur kepada sesuatu yang dipercaya atau kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari mara bahaya, malapetaka, bencana dan musibah baik bagi tanaman dan bagi para petani itu sendiri.

Saran yang diajukan peneliti berikutnya diharapakan dapat mengkaji lebih lanjut mengenai tradisi methik pari selain menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif seperti yang digunakan peneliti. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut terkait tradisi methik pari sebagai sarana pendidikan karakter pada masyarakat petani Desa Tegalarum.