SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi

Devi Nawang Sari

Abstrak


PERAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN OBJEK WISATA RELIGI PURA AGUNG BLAMBANGAN DI KABUPATEN BANYUWANGI

Devi Nawang Sari, : NIM: 150711608094, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5,  Surel: devinawangsari20@gmail.com

 

ABSTRAK

Wisata religi memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dengan nilai nilai kerohanian dan toleransi antar umat beragama yang dapat menjadi pedoman bagi kehidupan. Pariwisata sebagai suatu industri dapat diasumsikan sebagai salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, terutama dalam penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan penghasilan,dan merangsang munculnya sektor informal seperti aneka makanan khas, cenderamata, kerajinanan tangan, jasa pemandu wisata dan transportasi. Pura Agung Blambangan merupakan salah satu objek wisata religi di Kabupaten Banyuwnagi mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar Pura Agung Blambangan.

 

I. Pendahuluan

Pariwisata pada saat ini merupakan suatu kebutuhan manusia, baik yang melakukan perjalanan wisata maupun masyarakat sekitar daerah tujuan wisata. Berdasarkan Undang-UndangNomor 10 Tahun 2009 wisatawan merupakan orang yang melakukan kegiatan wisata. Wisatawan membutuhkan fasilitas yang bagus dalam berwisata, sementara masyarakat sekitar lokasi berharap akan mendapatkan implikasi positif berupa peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Menurut Yoeti (2003:56) berpendapat bahwa fasilitas wisata adalah semua fasilitas yang fungsingya memenuhi kebutuhan wisatawan yang tinggal untuk sementara waktu didaerah tujuan wisata yang dikunjunginya, dimana pengunjung dapat santai menikmati dan berpartisipasi dalam kegiatan yang tersedia didaerah tujuan wisata rersebut. Pariwisata sebagai suatu industri dapat diasumsikan sebagai salah  satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, terutama dalam penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan penghasilan, dan merangsang munculnya sektor informal seperti aneka makanan khas, cenderamata, kerajinanan tangan, jasa pemandu wisata dan transportasi.

Wisata religi memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dengan nilai nilai kerohanian dan toleransi antar umat beragama yang dapat menjadi pedoman bagi kehidupan. Perkembangan objek wisata religius memiliki kekuatan penggerak perekonomian yang luas, tidak semata-mata terkait dengan peningkatan kunjungan wisatawan, namun lebih pentingnya lagi adalah perkembangan pariwisata yang mampu membangun semangat kebangsaaan, apresiasi terhadap kekayaan seni budaya bangsa dan toleransi antar umat beragama yang terjalin dengan baik hingga saat ini.

Pura Agung Blambangan yang merupakan salah satu objek wisata religi Kabupaten Banyuwangi mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar Pura Agung Blambangan. Tumpuan pariwisata sebagai kekuatan daya saing terletak pada sumber daya yang terolah dengan baik. Pembangunan pariwisata perlu terus di tingkatkan dan dikembangkan sehingga memiliki manfaat:

1) memperbesar penerimaan devisa;

2) memperluas dan meratakan kesempatan usaha dan lapangan kerja;

3) mendorong pembangunan daerah;

4) meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

5) memperkaya kebudayaan nasional, tanpa menghilangkan ciri kebribadian bangsa, terpeliharanya nilai-nilai agama;

6) memupuk persaudaraan antar bangsa;

7) dapat memupuk kecintaan tanah air dan melestarikan lingkungan. (Djafar, 2015:42)

 

II. Pembahasan

Pembahasan yang akan dibahas kali ini adalah

(1) perkembangan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi,

(2) peran masyarakat dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi,

(3) kendala yang dihadapi dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi,

(4) solusi dari kendala yang dihadapi dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi.

 

1. Perkembangan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi

Perpindahan persembahyangan, upacara keagamaan Umat Hindu dari Situs Umpak Songo ke Pura Agung Blambangan dengan alasan bahwa Situs Umpk Songo merupakan tinggalan dari Kerajan Blambangan, namun apabila untuk pengambilan tirta masih diperbolehkan. Dalam pembangunan Pura Agung Blambangan petugas yang bekerja menemukan sumur kuno, kemudian melaporkan hasil temuan tersebut ke Dinas Purbakala Kabupaten Banyuwangi sejalan dengan pendapat dari (Sedyawati, 2007:189) berpendapat bahwa pelestarian cagar budaya dengan cara menerapkan suatu kebijakan publik dapat menyangkut dua cara, yakni secara umum dan khusus. Secara umum, yaitu mewujudkan pelestarian cagar budaya dilakukan dengan berbagai aspek pemanfaatan secara luas. Sementara secara khusus, dapat dilakukan dengan cara: a) Mewujudkan aset budaya secara menyeluruh dalam bentuk data untuk dijadikan landasan kebijakan pembangunan lebih lanjut dengan cara pendataan cagar budaya; b) Mewujudkan pengamanan cagar budaya dengan cara mengarahkan pada pemanfaatan untuk kepentingan pendidikan, sosial, dan lain-lain yang sesuai dengan Undang-Undang mengenai cagar budaya; c) Menggugah kepedulian dan partisipasi masyarakat luas dalam mendukung pengelolaan dan pelestarian cagar budaya.

Perpindahan persembahyangan dan upacara keagamaan Umat Hindu dari Situs Umpak Songo ke Pura Agung Blambangan dengan alasan bahwa Situs Umpk Songo merupakan tinggalan dari Kerajan Blambangan, namun apabila untuk pengambilan tirta masih diperbolehkan. Temuan tersebut juga sejalan pendapat dari (Soekanto, 2003:432) berpendapat bahwa pelestarian hanya dapat dilakukan secara efektif manakala benda yang dilestarikan tersebut tetap digunakan dan tetap dijalankan. Untuk tetap terjaga kelestarian dari Situs Umpak Songo, pihak Situs Umpak Songo masih membolehkan Umat dalam pengambilan tirta yang ada di Situs Umpak Songo.

Pembangunan Pura Agung Blambangan terus berlanjut dalam pelayanan Umat Hindu dalam pemenuhan fasilitas yakni adanya 10 toilet untuk Umat dan juga terdpat 2 ruang ganti untuk umat dan 1 ruang untuk fasilitas bagi petugas kebersihan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat dari (Sammeng, 2001:39) berpendapat bahwa salah satu hal penting untuk mengembangkan pariwisata adalah melalui fasilitas (kemudahan).

Pembangunan Pura Agung Blambangan membutuhkan banyak dana. Dana merupakan tonggak utama dalam pembangunan sebuah bangunan termasuk dengan tempat suci. Namun pembangunan Pura Agung Blambangan ini hanya mengandalkan dana dari Punia atau diasa disebut dengan sumbangan. Dalam pengembangan pariwisata pasti yang menjadi masalah utamanya terdapat pada dana. Hal tersebut sejalan dengan pendapat dari (Marpaung, 2002:15) berpendapat bahwa permasalahan yang banyak dihadapi dalam upaya mengembangkan obyek wisata di daerah adalah :

(1) masalah dana;

(2) masalah sarana prasarana pariwisata;

(3) kualitas sumber daya manusia;

(4) promosi dan pemasaran.

 

2. Peran Masyarakat Dalam Pengelolan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi

Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan lebih pada penyediaan tempat ibadah bagi Umat Hindu yang berada di Wilayah Banyuwangi. Persembahyangan awal yang dilakukan di Situs Umpak Songo kemudian Tokoh Umat Hindu menyarankan untuk melakukan pembangunan pura dengan tujuan semakin banyaknya Umat namun tempatnya tidak memadahi. Semakin bertambahnya tahun, Umat Hindu yang ada di Wilayah Banyuwangi. pernyataan tersebut selaras dengan yang dikatakan (Chotib, 2015:412) bahwa wisata religi adalah salah satu jenis produk wisata yang berkaitan erat dengan sisi religius atau keagamaan yang dianut oleh manusia. 

Objek wisata religi Pura Agung Blambanagan menjadi potensi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar wisata, sebab dengan adanya potensi yang ada disekitar lokasi bisa berdampak terhadap penghasilan masyarakat sekitar tempat wisata religi tersebut. Masyarakat dapat memperoleh pekerjaan sehingga mendapatkan penghasilan dan masyarakat mendapatkan kesejahteraan akibat adanya lokasi objek wisata religi Pura Agung Blambangan. Pernyataan tersebut sesuai dengan faktor penyebab tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia menurut Yoeti (2001: 23) yaitu :

1)meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan negara serta masyarakat pada umumnya, perluasan kesempatan serta lapangan kerja dan mendorong kegiatan-kegiatan industri-industri penunjang dan industri-industri sampingan lainnya;

2) memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia;

3) meningkatkan persaudaraan/persahabatan nasional dan internasional.

Keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar objek wisata religi Pura Agung Blambangan. Masyarakat sekitar lokasi objek wisata religi mendapatkan penghasilan melalui kegiatan berdagang (berupa makanan ringan khas Banyuwangi, souvenir khas Banyuwangi), jasa dari parkir, toilet, penginapan sementara ketika hari besar Umat Hindu, bahkan jasa untuk membuatkan bantenan (digunakan untuk prosesi persembahyangan). Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat dari (Pendit,2002:33) mengemukakan pendapatnya bahwa definisi pariwisata yang merupakan salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor sektor produktif lainnya. Selanjutnya, sebagai sektor yang komplek, pariwisata juga merealisasi industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan cindera mata, penginapan dan transportasi.

 

3. Kendala Yang Dihadapi Dalam Pengelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi

Kendala yang dihadapi dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan yakni yakni kesadaran masyarakat di sekitar Pura Agung Blambangan. Masyarakat, terutama pedagang yang ada di dalam area Pura Agung Blambangan kurang memperhatikan ketertiban, kebersihan, keindahan berdagang di dalam area Pura Agung Blambangan yang merupakan tempat suci sekaligus objek wisata religi bagi Umat Hindu. Dalam pengelolaan pariwisata termasuk pengelolaan pariwisata religi yang menjadi subjek penting adalah masyarakat yang ada di sekitar pariwisata tersebut. Apabila masyarakat kurang memahami pelayanan wisata yang baik, maka pengelolaan yang dilakukan kurang dapat memberikan dampak yang maksimal bagi pengunjung (Umat Hindu) yang berkunjung apabila kurang memperhatikan yang dinamakan kebersihan dan keindahan. Pernyataan tersebut sesuai dengan pengertian kendala dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu faktor atau keadaan yang membatasi, menghalangi atau mencegah pencapaian sasaran, kekuatan yang memaksa pembatalan pelaksanaan. Temuan diatas memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat yang kurang akan pentingnya wisata dapat menjadi salah satu faktor yang menghambat dari pengembangan wisata.

 

4. Solusi dari Kendala yang dialami Masyarakat Dalam Pengelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi

Solusi yang diberikan oleh pihak penelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan atas permasalahan yang terjadi tersebut, sampai saat ini solusi yang ditawarkan adalah melalui pendekatan secara kekeluargaan dan pembinaan secara informal dengan masyarakat terutama masyarakat pelaku pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan. Pendekatan secara kekeluargaan-kekeluargaan dinilai efektif dan juga mampu memberikan dampak yang positif bagi kesadaran masyarakat akan kesadaran di kawasan wisata. Pernyataan tersebut sesuai dengan pengertian solusi yang terdapat didalam kamus besar bahasa Indonesia yakni penyelesaian, pemecahan (masalah dan sebagainya), jalan keluar, pendekatan secara kekeluargaan dan pembinaan secara informal ini merupakan pemecahan dari masalah yang ada yaitu dalam menyelesaikan kendala di dalam pengengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi.

 

III. Penutup

Berdasarkan pembahasan yang sudah dijelaskan secara spesifik, pada bagian ini akan dijelaskan dengan singkat mengenai

(1) simpulan dan

(2) saran dari artikel ini tentang peran masyarakat dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi.

 

3.1. Kesimpulan

Perpindahan persembahyangan, upacara keagamaan Umat Hindu dari Situs Umpak Songo ke Pura Agung Blambangan dengan alasan bahwa Situs Umpk Songo merupakan tinggalan dari Kerajan Blambangan, namun apabila untuk pengambilan tirta masih diperbolehkan. Pembangunan Pura Agung Blambangan terus berlanjut dalam pelayanan Umat Hindu dalam pemenuhan fasilitas yakni adanya 10 toilet untuk Umat dan juga terdpat 2 ruang ganti untuk umat dan 1 ruang untuk fasilitas bagi petugas kebersihan. Dalam pembangunannya, Pura Agung Blambangan membutuhkan banyak dana, namun dana yang digunakan hanya dari dana punia (sumbangan). Objek wisata religi Pura Agung Blambanagan menjadi potensi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar wisata, sebab dengan adanya potensi yang ada disekitar lokasi bisa berdampak terhadap penghasilan masyarakat sekitar tempat wisata religi tersebut. Masyarakat dapat memperoleh pekerjaan sehingga mendapatkan penghasilan dan masyarakat mendapatkan kesejahteraan akibat adanya lokasi objek wisata religi Pura Agung Blambangan.

Kendala yang dihadapi dalam pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan yakni yakni kesadaran masyarakat di sekitar Pura Agung Blambangan. Masyarakat, terutama pedagang yang ada di dalam area Pura Agung Blambangan kurang memperhatikan ketertiban, kebersihan, keindahan berdagang di dalam area Pura Agung Blambangan yang merupakan tempat suci sekaligus objek wisata religi bagi Umat Hindu. Solusi yang diberikan oleh pihak penelolaan Objek Wisata Religi Pura Agung Blambangan atas permasalahan yang terjadi tersebut, sampai saat ini solusi yang ditawarkan adalah melalui pendekatan secara kekeluargaan dan pembinaan secara informal dengan masyarakat terutama masyarakat pelaku pengelolaan objek wisata religi Pura Agung Blambangan.

 

3.2. Saran

Disarankan kepada masyarakat sekitar Pura Agung Blambangan terutama para pelaku pengelola objek wisata religi Pura Agung Blambangan lebih memperhatikan kembali ketertiban, kebersihan dan keindahan berdagang. Dengan memperhatikan kekurangan tersebut diharapkan Umat yang berkunjung akan merasa lebih nyaman dan memberikan kesan yang baik setelah melakukan kunjungan di Pura Agung Blambangan.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi diharapkan ikut mempromosikan salah satu objek wisata religi yang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi yakni Pura Agung Blambangan dengan menerjunkan langsung Jebeng-Thulik yang merupakan duta wisata daerah Kabupaten Banyuwangi. Dikarenakan wisata religi merupakan wisata peminatan, maka yang mengunjungi wisata tersebut hanya yang memiliki tujuan tertentu. Maka Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberikan pelatihan secara khusus kepada Jebeng-Thulik untuk mempromosikan objek wisata religi Pura Agung Blambangan.

 

DAFTAR RUJUKAN

Balai Pustaka. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta.

Marpaung, H. 2002. Pengetahuan Kepariwisataan Edisi Revisi. Bandung : Alfa Beta.

Nyoman.S. Pendit. 2002. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta : Pradya Paramita

Sammeng, Andi Mappi. 2001. Cakrawala Pariwisata. Jakarta : Balai Pustaka.

Sedyawati, Edi. 2007. Budaya Indonesia: kajian arkeologi, seni dan sejarah. Jakarta: Divisi Buku Perguruan Tinggi, Raja Grafindo Persada.

Soekanto, S. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Yoeti, Oka A, 2001. Pemasaran Pariwisata, Angkasa, Bandung

Yoeti, Oka A. 2003. Tours and Travel Marketing. Jakarta: Pradnya Paramitha.