SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Aktualisasi Nilai Keadilan Sosial dalam Kegiatan Jual-Beli di Pasar Tradisional Lawang Kabupaten Malang

ATIQA DYAH AYU

Abstrak


ABSTRAK

Atiqa, Dyah Ayu. 2019. Aktualisasi Nilai Keadilan Sosial dalam Kegiatan Jual-Beli di Pasar Tradisional Lawang Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.Pd, M.Si, (II) Dr. Sri Untari, M.Si.

Kata kunci: Pancasila, keadilan sosial, pasar tradisional, penjual, dan pembeli

Pancasila dalam sila kelima yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, memuat segi-segi yang penting bagi kehidupan negara. “keadilan sebagai kesetaraan” yang artinya tak seorangpun diperbolehkan mendominasi pilihan atau memanfaatkan kesempatan yang tidak adil seperti kelebihan dari anugerah alamiah atau posisi sosialnya.

Posisi Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa dapat menjadi pijakan dalam pembangunan relasi ekonomi yang memungkinkan terciptanya masyarakat adil dan makmur. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi yang berpedoman pada Pancasila atau berlandaskan Pancasila mengutamakan kepentingan masyarakat yaitu menciptakan masyarakat yang sejahtera. 

Aktivitas jual-beli antara produsen dan konsumen haruslah ada peran dari pemerintah guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat, yang dimana pengelolaan pasar harus dijalankan oleh kedua belah pihak antara pemerintah dan pedagang. Pasar tradisional merupakan roh mayoritas masyarakat Indonesia karena di dalamnya terdapat Interaksi sosial yang merupakan ciri umum orang Indonesia. Bukan hanya kegiatan jual-beli atau kegiatan tawar menawar saja namun pasar juga dijadikan tempat bertukar informasi. Dari kegiatan tersebut  akan diketahui aktivitas yang terjadi serta nilai keadilan sosial dalam kegiatan jual-beli di pasar tradisional kecamatan Lawang kabupaten Malang.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai

(1) keberagaman pedagang yang berada  di pasar tradisional Lawang Kabupaten Malang,

(2) karakteristik pedagang dan pembeli yang berada di pasar tradisional Lawang Kabupaten Malang,

(3) upaya pengelolaan pasar dalam mewujudkan nilai keadilan sosial di pasar tradisional Lawang Kabupaten Malang,

(4) peran pedagang dan pembeli dalam mewujudkan nilai keadilan sosial di pasar tradisional Lawang Kabupaten Malang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Prosedur pengumpulan data pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti menggunakan:

(1) wawancara mendalam;

(2) dokumentasi;

(3) observasi. Analisis data yang digunakan mencari tentang kegiatan jual-beli di pasar tradisional Lawang Kabupaten Malang dengan menggunakan teori Miles dan Huberman:

(1) tahap reduksi data;

(2) tahap pemaparan, dan

(3) tahap penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa

(1) keberagaman pedagang yang berada di pasar tradisional Lawang Kabupaten Malang dari hasil penelitian menunjukkan pedagang di pasar tradisional Lawang memiliki dua tipe pedagang yaitu pedagang grosir dan pedagang eceran;

(2) karakteristik pedagang dan pembeli yang berada di pasar tradisional Lawang Kabupaten Malang yaitu Pedagang pasar tradisional Lawang memiliki karakteristik berjualan hingga 24 jam penuh. Pembeli pasar tradisional Lawang memiliki alasan-alasan tertentu berbelanja di pasar tradisional lawang yakni alasan jarak, alasan kelengkapan dagangan yang dijual, dan alasan harga dan kualitas dagangan;

(3) upaya pengelolaan pasar dalam mewujudkan nilai keadilan sosial di pasar tradisional Lawang Kabupaten Malang dengan menciptaka suasana kekeluargaan serta menyeimbangkan antara hak dan

(4) peran pedagang dan pembeli dalam mewujudkan nilai keadilan sosial di pasar tradisional Lawang Kabupaten Malang diwujudkan dalam aktualisasi nilai keadilan sosial yang terlihat antara pedagang dan pembeli yakni pedagang membantu membereskan tempat berdagang pedagang lain, bercengkrama dan saling tukar pendapat dikala tidak sedang melayani pembeli, saling membantu menjaga dagangan pedagang lain saat sedang sholat atau ke kamar mandi, serta berbagi tempat berdagang, dan berbagi makanan dengan pedagang lain. Adapun nilai lain yang terlihat yaitu, pedagang bersenda gurau dengan pembeli, memberikan pengertian kepada pembeli saat melakukan tawar-menawar, serta pedagang menjaga barang pembeli yang dititipkan kepadanya, serta tidak membedakan-bedakan pembeli. Nilai keadilan sosial juga terlihat pada aktivitas pembeli dengan pedagang. Adapun nilai yang terlihat adalah

(1) pembeli bercengkrama dengan pedagang, aktivitas ini dilakukan oleh pembeli dengan duduk-duduk dengan pedagang sembari beristirahat dari aktivitas belanjanya;

(2) menunggu dengan sabar gilirannya untuk dilayani pedagang, pembeli melakukan hal tersebut untuk menghargai hak pembeli lain.

 

Saran yang dapat disampaikan seyogyanya pengelola tidak memungut retribusi atau pajak langsung ke pedagang tanpa menggunakan karcis. Karena karcis merupakan hak dari pedagang. Pedagang supaya lebih memperhatikan kebersihan sampah karena di pasar ini masih terlihat pedagang yang meninggalkan sampahnya usai berdagang/berjualan. Serta Pembeli seyogyanya dapat menawar harga dengan tidak memaksa kepada pedagang atau tidak menawar dengan harga yang tidak masuk akal.