SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

RUMAH PANCASILA SEBAGAI PENUMBUH RASA NASIONALISME DI ERA KAPITALISME

Melawati

Abstrak


RUMAH PANCASILA SEBAGAI PENUMBUH RASA NASIONALISME DI ERA KAPITALISME

Melawati Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No 5

Surel: melawati493@gmail.com

 

Abstrak

Nasionalisme adalah paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air (Jacobus,2014:244). Rasa nasionalisme juga identik dengan memiliki rasa solidaritas. Nasionalisme juga mengandung makna persatuan dan kesatuan. Lunturnya rasa nasionalisme berarti lunturnya pula kesadaran dan semangat cinta tanah air. Dewasa ini rasa nasionalisme masyarakat Indonesia pun mulai luntur, terutama dikalanagan remaja. Hal itu terbukti dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang sudah tidak menyukai budaya dan produk lokal. Masyarakat lebih menyukai produk luar negeri yang dianggap lebih bagus kualitasnya, padahal produk-produk lokal pun kualitasnya tidak kalah bagusnya dengan produk luar negeri. Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukan bahwa impor nonmigas Januari 2014 sebesar US$ 11, 36 Milyar, naik 1,13 persen disbanding Desember 2013.

Nasionalisme Indonesia juga dilihat dari sejarahnya muncul karena rasa senasib dan sepenanggungan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan, sehingga memunculkan semangat memiliki bersama dan mempertahankan identitas kelompok. Hal ini sesuai dengan Plano dan Olton (dalam Profil Indonesia, 2014) “ nasionalisme adalah semangat memiliki bersama, atau sifat dari keinginan untuk berusaha mempertahakan identitas kelompok dengan melembagakan dalam bentuk sebuah Negara”. Nasionalisme dapat diperkuat oleh ikatan persamaan ras, bahasa, sejarah, agama, dan nasionalisme selalu terpaut dengan wilayah tertentu.

Rasa nasionalisme pada masa lampau dan masa kini sangatlah berbeda. Pada masa lampau rakyat Indonesia mampu melawan kolonialisme Belanda dan imperalisma Jepang berkat semangat nasionalisme masyarakat Indonesia yang mengutamakan loyalitas dan kecintaan tulus pada Negara. Masyarakat Indonesia sangat bangga pada budaya lokal Indonesia. Tetapi, dewasa ini semuanya seakan berbanding terbalik. Masyarakat Indonesia kini lebih menyukai dan memilih produk-produk luar negeri, didukung dengan globalisasiyang memudahkan produk-produk dan budaya luar negeri masuk ke Indonesia. Disokong pula dengan kapitalisme yang mulai menguasai segala lini kehidupan. Ideologi kapitalis ini meletakkan kekeuasaannya ditangan orang-orang yang mempunyai modal, sehingga lebih menguntungkan orang-orang pemilik modal. Adanya globalisasi dan kapitalisme ini di Indonesia terbukti dengan banyaknya produk dan perusahaan asing yang ada di Indonesia, misalnya KFC yang merupakan perusahaan milik asing.  KFC di Indonesia ekarang ini semakin ramai karena masyarakat Indonesia yang mulai meninggalkan makanan tradisional dan lebih memilih makanan cepat saji, agar dikatakan tidak ketinggalan zaman. Padahal hal itu merupakan salah satu bentuk panjajahan kembali Indonesia melalui sektor ekonomi.

Keadaan tersebut tentu tidak dapat dibiarkan, karena jika sampai rasa nasionalisme Indonesia semakin luntur, maka akan luntur pula budaya lokal bangsa. Masyarakat pun akan meremehkan arti kemerdekaan dan kebangsaan, sehingga kecintaan terhadap tanah air pun berkurang. Akibatnya Negara lain pun ikut meremehkan Indonesia, bahkan Indonesia bisa kembali terjajah.

Dengan demikian, pemahaman tentang nasionalisme perlu diberikan kepada segenap rakyat Indonesia di era pemabngunan sekarang ini, sehingga bisa mempertahankan kemerdekaan yang telah susah payah diperjuangkan oleh para pahlawan. Meningkatkan rasa nasionalisema bangsa Indonesia dapat dilakukan dengan cara menanamkan jiwa Pancasila bagi setiap warga Negara melalui rumah Pancasila, agar ideologi bangsa Indonesia tidak terganti menjadi kapitalisme. Karena Pancasila merupakan ideologi yang digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, merupakan jati diri bangsa Indonesia (Wiyono, 2012:5). Sebagai dasar Negara Indonesia, Pancasila merupakan ideologi  bangsa yang terbuka, yang dapat menerima kririk dan saran untuk berlangsungya kehidupan bernegara, Suatu ideologi terbuka memiliki tiga dimensi, yaitu:

(1) dimensi realita, yakni bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideologi tersebut secara riil berakar dan hidup dalam masyarakat;

(2) dimensi idealisme yaitu bahwa ideologi tersebut memberikan harapan tentang masa depan yang lebih baik; dan

(3) dimensi fleksibilitas atau dimensi pengembangan, yaitu bahwa ideologi tersebut memiliki keluwesan yang memungkinkan pengembangan pamikiran (Wiyono, 2012:5). Sebagai ideologi terbuka, Pancasila juga harus menjadi filter untuk segala bentuk globalisasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Karena apabila globalisasi tidak difiter dapat membawa Indonesia ke dalam dunia kapitalisme. Hal tersebut tentu sangat berbahaya untuk bangsa Indonesia, karena bisa membuat bangsa Indonesia kembali terjajah.

 

BAHASAN

Pada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1) konsep dasar rumah Pancasila, (2) tahap realisasi rumah Pancasila, serta (3) kelebihan dan kekurangan rumah Pancasila.

 

Konsep Dasar Rumah Pancasila

Kelen (2015) “rumah Pancasila adalah rumah yang penuh simbol dan kaya makna, digunakan seluruh lapisan masyarakat, tempat belajar hal-hal positif dan konstruktif, serta wujud konkrit berdaulat secara politik”. Dengan kata lain, rumah Pancasila merupakan sarana untuk memperkenalkan Indonesia dan beragam kebudayaan Indonesia pada masyarakat, agar masyarakat Indonesia lebih mengenal dan mencintai kebudayaan bangsa Indonesia.  Bukan malah mencintai kebudayaan Negara lain yang sudah tentu akan membawa pengaruh buruk bagi Indonesia, misalnya tidak terlestarikannya kebudayaan Indonesia sehingga tidak menutup kemungkinan kebudayaan Indonesia akan diklaim oleh Negara lain.

Rumah Pancasila ini berbentuk layaknya museum, yang di dalamnya terdapat benda-benda yang dapat menggambarkan sejarah lahirnya Pancasila hingga dijadikan dasar Negara Indonesia. Selain itu, rumah Pancasila merupakan sarana untuk belajar nilai-nilai Pancasila yang menjadi nilai luhur bangsa Indonesia, karena Pancasila merupakan nilai yang digali dari kearifan lokal bangsa Indonesia. Untuk itu Pancasila merupakan jati diri dan identitas bangsa Indonesia (Kaelan dan Zubaidi, 2012:51).

Sebagai jati diri bangsa Indonesia, Pancasila menjadi pembeda dari Negara-negara lain. Dengan didirikannya rumah Pancasila bertujuan untuk meningkatkan kembali penerapan nilai-nilai Pancasila sebagai penumbuh rasa nasionalisme di era kapitalisme ini.  Apabila Pancasila tidak dibudayakan dan diamalkan, maka nilai-nilai luhur Pancasila hanya menjadi cita-cita normatif saja dan tidak akan pernah menjelma jadi kenyataan keseharian dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Wiyono, 2012:6). Pada era kapitalis ini, rasa nasionalisme masyarakat Indonesia semakin menurun, termasuk juga dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. Untuk itu, diperlukan suatu upaya untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dan juga rasa nasionalisme Indonesia. Denga n didirikannya rumah Pancasila ini diharapkan dapat menjadi terobosan untuk meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air.

 

Tahap Realisasi Rumah Pancasila

Pada bagian ini digambarkan secara spesifik mengenai (1) tahap persiapan, dan (2) tahap pelaksanaan.

 

Tahap Persiapan

Beberapa langkah yang perlu dilakukan pada tahap persiapan ini yaitu dengan menyiapkan sarana prasarana untuk kelengkapan fasilitas di rumah Pancasila, seperti gedung yang akan menjadi rumah Pancasila, buku-buku bacaan yang bisa digunakan pengunjung untuk membaca, lukisan atau foto dan benda-benda yang bersejarah, kerajinan maupun benda yang menjadi ciri khas dari daerah-daerah yang ada di Indonesia, misalnya pakaian adat daerah Minangkabau. Selain itu, penerangan dan kebersihan di rumah Pancasila juga harus diperhatikan. Setelah melengkapi sarana dan prasarana untuk kelengkapan rumah Pancasila, selanjutnya yaitu melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai rumah Pancasila.