SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PEMBENTUKAN SIKAP KEPEMIMPINAN MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA DI SMP NEGERI 1 SUTOJAYAN KABUPATEN BLITAR

Apriliawati

Abstrak


PEMBENTUKAN SIKAP KEPEMIMPINAN MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA DI SMP NEGERI 1 SUTOJAYAN KABUPATEN BLITAR

Apriliawati Universitas Negeri Malang apriliawati4@gmail.com

 

ABSTRAK

Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar,  Kegiatan Ektrakurikuler yang ada di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar yaitu terdapat 14 macam kegiatan ekstrakurikuler meliputi sepak bola, bola voli, bola basket, jurnalistik, palang merah remaja (PMR), seni musik, seni lukis, karawitan dan tari, PIK-R, pramuka, teater, pencak silat, karate, dan paskibra. Program Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka dalam Membentuk Sikap Kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar terbagi atas program kegiatan mingguan, program kegiatan bulanan dan program kegiatan tahunan. Pelaksanaan Program Kegiatan Ektrakurikuler Pramuka dalam Membentuk Sikap Kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar terdapat dalam program mingguan yaitu kegiatan upacara apel pramuka dan peraturan baris-berbaris. Kemudian pada program tahuan yaitu pada kegiatan gladian pimpinan regu. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghambat Pembentukan Sikap Kepemimpinan melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar, faktor Pendukung adalah Siswa aktif hadir, Pembina aktif hadir, Cuaca cerah, faktor Penghambat adalah Siswa tidak aktif hadir, Pembina tidak aktif hadir, Cuaca buruk. Solusi Mengatasi Hambatan Pembentukan Sikap Kepemimpinan melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar yaitu bagi siswa yang tidak aktif hadir solusinya adalah pemberian sanksi kepada siswa, kemudian untuk Pembina yang tidak aktif hadir solusinya adalah pemberian sanksi kepada Pembina, terakhir untuk cuaca butuk solusinya adalah diberikan himbauan kepada siswa agar tidak pulang seusai kegiatan pembelajaran hingga masuk waktu pramuka.

Kata Kunci : Pembentukan, Sikap Kepemimpinan, Kegiatan Ekstrakurikuler  Pramuka  

 

PENDAHULUAN

Pendidikan di Indonesia dijadikan sebagai salah satu sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia dan mewujudkan pembangunan nasional. Pendidikan dan pembangunan adalah dua elemen yang tak terpisahkan. Pendidikan mencetak sumber daya manusia yang tangguh, pembangunan bisa berjalan, berkembang dan maju. Pembangunan yang maju mendorong praktik pendidikan yang baik untuk menciptakan sumber daya manusia yang baik. Bertambahnya sarana pendidikan seperti gedung sekolah merupakan bukti bahwa pendidikan merupakan hal yang penting dalam proses pembangunan (Saidah, 2016:241).

Menurut Ki Hajar Dewantara yang merupakan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan diyakini sebagai jalan untuk membebaskan individu-individu terjajah untuk menjadi manusia merdeka, utuh, bahagia baik secara batin, intelektualitas, maupun karakter (Rohman, 2009:8).

Pendidikan dalam UU No.20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan: “bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga 

negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Untuk mempunyai kualitas sumber daya manusia (SDM) yang bagus sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pendidikan mempunyai peran yang penting dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas demi keberlangsungan nasib suatu bangsa.

Fattah (dalam Asmani, 2012:93), memberikan gambaran bahwa sekolah merupakan suatu wadah berlangsungnya proses pendidikan, memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat proses transfer ilmu pengetahuan, penanaman nilai-nilai sosial yang merupakan salah satu wadah pembentuk kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa Indonesia. Selain nilai akademis yang dibangun, penanaman nilai moral dan akhlak serta kepribadian kepemimpinan juga perlu dibentuk. Adanya orang intelektual harus didukung dengan moral dan akhlak serta kepemimpinan yang baik, sehingga akan menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Hal tersebut sangat diperlukan untuk era global, melihat berita yang sudah ada banyak pemimpin lapisan pemerintah dari atas hingga lapiasan bawah tersangkut berbagai skandal suap menyuap dan korupsi. Ini membuktikan bahwa kaum intelektual yang tidak di ikuti dengan akhlak, moral serta kepemimpinan yang baik.

Usia sekolah menjadi momen yang tepat untuk mengenal, mengasah dan membentuk sikap kepemimpinan pada diri siswa. Pada usia ini bertepatan dengan pencarian jati diri. Siswa perlu mengetahui bahwa kepemimpinan bukan hanya mengenai kekuasaan, melainkan juga membutuhkan keteladanan, kerja keras, tanggung jawab dan juga strategi. Banyak siswa yang mendambakan  menjadi seorang pemimpin. Bagi siswa menjadi pemimpin bagaikan seorang selebriti atau artis terkenal, yang setiap saat muncul diberbagai kesempatan dan dielu-elukan oleh penggemar. Sebagian pula siswa menganggap seorang pemimpin tak ubahnya adalah raja yang dapat memerintah siapapun dan bebas melakukan apapun yang ia sukai.

Sangat disayangkan, ketika kembali melihat dunia nyata tidak banyak pemimpin yang dapat ditiru oleh para siswa. Dalam kehidupan sehari-hari, konsep kepemimpinan dilaksanakan sama dengan konsep kekuasaan. Dimana kepemimpinan adalah untuk menyejahterakan orang lain, sedangkan kekuasaan adalah untuk menindas orang lain. Pemahaman konsep yang salah inilah yang menyebabkan banyak penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Kepemimpinan digunakan sebagai alat untuk memperkaya diri sendiri atau untuk memuaskan hasrat pribadi.

Siswa membutuhkan pelatihan kepemimpinan untuk dijadikan sebagai tempat belajar tentang pengetahuan, keterampilan dan sebuah sikap dalam kepemimpinan. Adapun pentingnya siswa mengikuti pelatihan kepemimpinan menurut Setiawan (2015:20) adalah sebagai berikut:

(1) pentingnya mengetahui apa itu kepemimpinan dan relevansinya bagi kehidupan saat ini dan dimasa yang akan datang;

(2) untuk mengetahui potensi kepemimpinan yang dimilikinya;

(3) untuk mencoba berperan menjadi pemimpin agar ia belajar memimpin dan dipimpin;

(4) untuk terus mengembangkan kemampuan kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari.

Siswa-siswi merupakan calon generasi penerus bangsa yang kelak akan menggantikan para pemimpin tanah air untuk membangun Indonesia. Siswa perlu belajar banyak untuk membentuk dirinya menjadi seorang pemimpin yang berkualitas. Sikap tersebut tidak serta merta ada pada diri siswa, tetapi juga perlu dibentuk dan dilatih. Di Indonesia sendiri memiliki kriteria tersendiri dalam kepemimpinan yang berkualitas yaitu kepemimpinan Pancasila yang berdasarkan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan yang berlaku.

Setiawan (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2012) mengungkapkan bahwa ‘kualitas’ memiliki pengertian sebagai taraf/ukuran baik buruknya (keadaan) sesuatu hal atau barang, atau yang menentukan nilai atau harganya, disebut juga sebagai mutu atau kadar. Kualitas kepemimpinan berarti ialah suatu taraf/ukuran baik buruknya ihwal kepemimpinan. Kepemimpinan itu sendiri dapat diartikan sebagai proses memengaruhi sebuah kelompok oleh seseorang atau individu yang memiliki kemampuan dan keahlian tertentu dalam suatu situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Wahjosumidjo (2005:17), kepemimpinan diterjemahkan ke dalam istilah sifat-sifat, perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola-pola, interaksi, hubungan kerja sama antar peran, kedudukan dari satu jabatan administratif, persuasif, dan persepsi dari lain-lain tentang legitimasi pengaruh. Kepemimpinan juga dikatakan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan anggota kelompok. Tiga implikasi penting yang terkandung dalam hal ini yaitu:

(1) kepemimpinan melibatkan orang lain baik itu bawahan, pengikut maupun rakyat;

(2) kepemimpinan melibatkan pendistribusian kekuasaan antara pemimpin dan anggota kelompok secara seimbang;

(3) adanya kemampuan untuk menggunakan bentuk kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi tingkah laku pengikutnya melalui berbagai cara (Rivai, 2003:4).

Gambaran di atas mengenai kepemimpinan menunjukkan bahwa seorang pemimpin sangat penting dalam sebuah negara, hal ini dapat dilihat dari Negara Indonesia yang memiliki kriteria kepemimpinan yang baik dalam memimpin bangsa dan Negara Indonesia yaitu kepemimpinan Pancasila, kepemimpinan Pancasila adalah kepemimpinan yang dijiwai Pancasila, disemangati azas kekeluargaan, memancarkan wibawa serta menumbuhkan daya mampu untuk membawa serat masyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Menumbuhkan kepribadian kepemimpinan pada peserta didik bisa dilakukan dengan berbagai cara. Terdapat dua macam kegiatan elementer dalam dunia pendidikan yaitu kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler disebut juga kegiatan pembelajaran di dalam kelas bisa dilakukan dengan cara menanaman nilai-nilai yang baik dan benar serta dengan cara memberikan contoh mengenai kepemimpinan yang baik dimulai dari dalam diri pendidik.  Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar jam pelajaran dengan tujuan membantu menanamkan nilai-nilai kepribadian pada anak didik (Asmani, 2012:152).

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu komponen untuk menanamkan kepribadian bagi peserta didik. Dapat diartikan juga kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di luar jam pelajaran adalah salah satu alternatif untuk mendukung keberhasilan peserta didik dalam belajar. Kegiatan ekstrakurikuler yang banyak dijumpai di sekolah-sekolah di antaranya adalah gerakan pramuka, baik di tingkat dasar, menengah, atas maupun perguruan tinggi yang memiliki kegiatan, salah satunya membentuk sikap kepemimpinan atau yang biasa disebut latihan dasar kepemimpinan (LDK).

Kegiatan kepramukaan menuntut setiap anggota pramuka yang dihadapkan pada persoalan yang ada di sekolah bahkan persoalan yang ada di masyarakat. Hal tersebut dapat melatih peserta didik apabila mereka sudah benar-benar terjun dalam masyarakat. Berdasarkan berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pramuka adalah kegiatan di luar jam pelajaran disekolah yang bertujuan untuk memperdalam, memperluas pengetahuan dan menjadikan pribadi yang baik bagi peserta didik.

Nilai-nilai kepramukaan bersumber dari satya pramuka, darma pramuka, serta kecakapan dan keterampilan yang dikuasai anggota pramuka. Satya Pramuka merupakan kode kehormatan bagi setiap anggota pramuka yang menunjukkan nilai ketuhanan, sikap nasionalisme dan solidaritas. Darma pramuka merupakan kode moral, janji dan komitmen diri yang wajib dihafal dan diamalkan oleh setiap anggota pramuka agar memiliki kepribadian baik. Sementara itu kecakapan dan keterampilan diajarkan dalam kegiatan kepramukaan agar nantinya dapat berguna ketika hidup di masyarakat dan di alam. Melalui pendidikan kepramukaan, siswa sejak dini dilatih untuk menumbuhkan kedisiplinan yang baik guna menciptakan SDM yang baik pula. Rangkaian kegiatan kepramukaan, misalnya kegiatan upacara, Peraturan Baris-Berbaris (PBB) sarat dengan penanaman disiplin. Setiap kegiatan yang dijalani melatih siswa untuk senantiasa mentaati aturan dan tata tertib yang ada.

Manfaat yang diperoleh dari kegiatan kepramukaan diantaranya pembentukan moral, mental dan spiritual. Penanaman kepribadian kepemimpinan sangat diperlukan karena kepribadian seorang pemimpin yang baik sangat diperlukan untuk bangsa Indonesia saat ini agar menjadi lebih maju dan tidak terjadi lagi sebuah ketidak percayaan masyarakat terhadap pemimpin negeri. Tujuan penanaman kepribadian kepemimpinan melalui pramuka adalah untuk membentuk kepribadian kepemimpinan terhadap peserta didik agar mereka ketika terjun dalam masyarakat dan menjadi seorang pemimpin sudah tahu bagaimana kepribadian yang seharusnya dimiliki oleh pemimpin agar kepemimpinannya berjalan dengan baik dan mencapai tujuan organisasi.

Kegiatan kepramukaan mempunyai peran yang penting dalam menata perilaku membentuk karakter siswa melalui pembiasaan yang dilakukan pada setiap kesempatan. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa kepramukaan merupakan salah satu pendidikan ekstrakurikuler wajib yang sangat tepat untuk siswa sekolah SMP/SMA. Maka tidaklah mengherankan apabila dalam Permendikbud  No. 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler menempatkan pendidikan kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib di sekolah.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut :

(1) Apa saja kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar?;

(2) Apa saja program kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam membentuk sikap kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar?;

(3) Bagaimana pelaksanaan program kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam membentuk sikap kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar?;

(4) Faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam pembentukan sikap kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar?;

(5) Bagaimana solusi mengatasi hambatan kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam pembentukan sikap kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar?

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif , pendekatan ini digunakan untuk mengungkapkan suatu gejala atau fenomena sosial dengan melibatkan peneliti sebagai pencari informasi dan merupakan fokus utama dari peneltian.  Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif, jenis ini dipilih karena peneliti ingin mengkaji masalah-masalah yang terjadi pada saat ini dengan mendeskripsikan suatu gejala atau peristiwa yang sebenarnya.

Pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan wawancara dan juga dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan

(a) Bapak Suraji selaku Kepala Sekolah;

(b) Bapak Sunarso selaku Waka Kesiswaan;

(c) Bapak Mulyono selaku Pembina Pramuka;

(d) Bapak Slamet selaku Pembina Pramuka;

(e) Ibu Yayuk selaku Pembina Pramuka;

(f) Ibu Siti selaku Pembina Pramuka;

(g) Bapak Suparman selaku Pelatih Pramuka;

(h) Pramada selaku Pelatih Pramuka;

(i) Nizar selaku ketua pinru Banteng;

(j) Kaila selaku ketua pinru Anggrek;

(k) Cahya selaku anggota pramuka;

(l) Vetty selaku anggota pramuka.Kemudian dokumentasi merupakan informasi yang berasal dari catatan penting baik dari lembaga atau organisasi maupun dari perorangan, peneliti dalam teknik dokumentasi ini mengumpulkan informasi  melalui gambar atau foto, dan hasil rekaman dari sesi tanya jawab dengan informan. Dokumentasi sosialisasi pencegahan dan pemberdayaan masyarakat.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peneliti mengungkapkan hasil temuan penelitian berdasarkan fokus penelitian mengenai:

1. Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar,

Kegiatan Ektrakurikuler yang ada di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar yaitu terdapat 14 macam kegiatan ekstrakurikuler meliputi sepak bola, bola voli, bola basket, jurnalistik, palang merah remaja (PMR), seni musik, seni lukis, karawitan dan tari, PIK-R, pramuka, teater, pencak silat, karate, dan paskibra

2. Program kegiatan ektrakurikuler pramuka dalam membentuk sikap kepemimpinan siswa di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar

Program Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka dalam Membentuk Sikap Kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar terbagi atas program kegiatan mingguan, program kegiatan bulanan dan program kegiatan tahunan. a. Program Mingguan: Pada program mingguan dilaksanakan seminggu 1x yaitu setiap hari Kamis pukul 14.30-16.30. Dalam kegiatan mingguan terdapat upacara apel pramuka, peraturan baris-berbaris, tali temali , morse, dan yel-yel pramuka. b. Program Bulanan: Pada program bulanan dilaksanakan  pada akhir bulan dan terdapat dua kegiatan yaitu penempuhan syarat-syarat kecakapan umum (SKU) dan penempuhan tanda kecakapan khusus (TKK). c. Program Tahunan: Pada program tahunan dilaksanakan setiap tahun dan juga terdapat dua kegiatan yaitu pimpinan regu dan kemah dewan ambalan.

3. Pelaksanaan program kegiatan ektrakurikuler pramuka dalam membentuk sikap kepemimpinan siswa di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar

Pelaksanaan Program Kegiatan Ektrakurikuler Pramuka dalam Membentuk Sikap Kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar terdapat dalam program mingguan yaitu kegiatan upacara apel pramuka dan peraturan baris-berbaris. Kemudian pada program tahuan yaitu pada kegiatan gladian pimpinan regu.

4. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kegiatan ektrakurikuler pramuka dalam membentuk sikap kepemimpinan siswa di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar

Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghambat Pembentukan Sikap Kepemimpinan melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar: a. faktor pendukung adalah Siswa aktif hadir, Pembina aktif hadir, Cuaca cerah; b. faktor penghambat adalah Siswa tidak aktif hadir, Pembina tidak aktif hadir, Cuaca buruk

5. Solusi mengatasi hambatan kegiatan ektrakurikuler pramuka dalam membentuk sikap kepemimpinan siswa di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar

Solusi Mengatasi Hambatan Pembentukan Sikap Kepemimpinan melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar yaitu bagi siswa yang tidak aktif hadir solusinya adalah pemberian sanksi kepada siswa, kemudian untuk Pembina yang tidak aktif hadir solusinya adalah pemberian sanksi kepada Pembina, terakhir untuk cuaca butuk solusinya adalah diberikan himbauan kepada siswa agar tidak pulang seusai kegiatan pembelajaran hingga masuk waktu pramuka.

Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan maka dilakukan kajian secara teoritis oleh peneliti dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar terdapat 14 macam yaitu paskibra, palang merah ramaja (PMR), sepak bola, bola voli, bola basket, teater, karate, pencak silat, tenis meja, seni musik, seni tari dan karawitan, pramuka, jurnalistik dan PIK-R.

2. Program kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam membentuk sikap kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar terdapat tiga macam program yaitu program mingguan, bulanan dan tahunan. Program mingguan meliputi kegiatan upacara apel pramuka, peraturan baris-berbaris (PBB), tali temali, morse dan yel-yel pramuka. Program bulanan terdapat kegiatan penempuhan syarat-syarat kecakapan umum (SKU) dan penempuhan tanda kecakapan khusus (TKK). Program tahunan terdapat kegiatan gladian pimpinan regu dan kemah dewan ambalan.

3. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam membentuk sikap kepemimpinan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar. Pada program mingguan pelaksanaannya rutin dilaksanakan satu pertemuan dalam seminggu yaitu pada hari Kamis pukul 14.30-16.30 di lapangan sekolah. Program bulanan dalam pelaksanaannya rutin pada tiga bulan sekali atau bisa 

dilaksanakan pada akhir semester. Program tahunan dilaksanakan setahun sekali yaitu ketika tahun ajaran baru.

4. Faktor-faktor yang mendukung pembentukan sikap kepemimpinan melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar adalah:

(a) siswa aktif hadir;

(b) pembina aktif hadir; dan

(c) cuaca cerah. Sedangkan faktor yang menghambat pembentukan sikap kepemimpinan melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMP Negeri 1 Sutojayan adalah:

(a) siswa tidak aktif hadir;

(b) pembina tidak aktif hadir; dan

(c) cuaca buruk.

5. Solusi dari faktor penghambat pembentukan sikap kepemimpinan siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar, antara lain:

(a) pemberian sanksi kepada siswa;

(b) pemberian sanksi kepada pembina; dan

(c) himbauan kepada siswa.

 

A. Saran

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian pembentukan sikap kepemimpinan melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka terdapat saran yang ingin diberikan oleh peneliti. Beberapa saran yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Bagi Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat member tambahan pengetahuan, informasi dan referensi tetang penelitian dibidang pendidikan karakter kepada warga prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

2. Bagi Sekolah

Dapat memaksimalkan kegiatan ekstrakurikuler pramuka yang diselenggarakan di SMP Negeri 1 Sutojayan Kabupaten Blitar untuk lebih sering mengikutsertakan anggota pramuka dalam perlombaan agar dapat lebih tertarik dan merasa tertantang untuk terus mengikuti perlombaan sehingga dapat meningkatkan kemampuan yang sudah dipelajari.

3. Bagi Pembina

Pembina pramuka hendaknya tetap aktif dan meningkatkan kreatifitas  dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka dengan media yang lebih menarik agar dapat lebih merangsang pada siswa untuk aktif hadir dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka.

4. Bagi Siswa Anggota Pramuka

Hendaknya siswa senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada dalam sila-sila pancasila dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari serta dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka diharapkan lebih serius dan bersungguh-sungguh agar dapat menghasilkan prestasi yang lebih membanggakan dibidang non akademik.

5. Bagi Peneliti Selanjutnya

Untuk peneliti selanjutnya hendaknya dapat berpartisipasi secara aktif pada seluruh rangkaian kegiatan dalam ekstrakurikuler pramuka agar dapat mengetahui lebih jelas mengenai pembentukan sikap kepemimpinan melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka.