SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar

Mery Rahayu

Abstrak


Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar

Mery Rahayu Universitas Negeri Malang

Email: rahayumeri@gmail.com

Abstrak: Pada dasarnya, seorang anak merupakan generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa, seorang anak harus memiliki SDM yang baik. SDM yang baik akan menentukan kualitas dari seorang anak yang bisa membawa kemajuan suatu bangsa. Di era modernisasi ini, IPTEK mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan IPTEK ini juga mempengaruhi gaya hidup serta pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Sehingga peran dari orang tua masyarakat maupun lingkungan sangat diperlukan dalam melakukan pengawasan terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari seorang anak. Apabila seorang anak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif, akibatnya bisa berupa tindakan pidana yang menyebabkan seorang anak menjalani masa hukuman di Lembaga Pembinaan Khusus Anak seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar.

Di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar, anak didik mendapatkan pembinaan nilai-nilai budi pekerti yang meliputi kegiatan apel, upacara pada Hari Nasional, sholat dhuhur berjamaah dan sholat Jum’at, kegiatan keagamaan pada bulan Ramadhan, kebersihan lingkungan dan sosialisasi dari instansi terkait. Dalam melakukan pembinaan nilai-nilai budi pekerti terdapat faktor pendukung yang meliputi petugas LPKA Kelas I Blitar, lingkungan LPKA Kelas I Blitar, dan adanya kerja sama dengan instansi terkait dalam kegiatan pembinaan di LPKA Kelas I Blitar. Selain itu, muncul hambatan dalam pelaksanaan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di LPKA Kelas I Blitar yaitu kurangnya minat anak didik LPKA Kelas I Blitar, tidak adanya psikolog, dan kurangnya sarana prasarana Sekolah Istimewa. Sehingga upaya yang dapat dilakukan oleh LPKA Kelas I Blitar adalah memberikan teguran secara langsung, pendekatan kepada anak didik dilakukan oleh BK, dan pemberian pre-test post-test kepada anak didik.

Kata Kunci: Pembinaan, Nilai, Nilai Budi Pekerti, Lembaga Pembinaan Khusus Anak

 

PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna. Manusia diciptakan dengan diberi akal dan pikiran. Manusia disebut juga sebagai makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Ketika suatu manusia hidup dengan manusia lainnya maka mereka akan memiliki keturunan atau yang disebut dengan anak. Anak menjadi generasi penerus bagi para leluhurnya. Dengan adanya anak tersebut diharapkan mampu untuk mengembangkan suatu peradaban atau kemajuan yang ada. Sehingga anak berhak untuk mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari orang tua maupun orang-orang yang ada disekitarnya.

Bangsa Indonesia juga berusaha untuk melindungi anak sebagai generasi penerus bangsa. Hal ini sesuai dengan Pasal 28 B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Apabila anak tidak dilindungi, dijaga, diawasi maupun dikontrol maka masa depan bangsa Indonesia yang dicita-citakan sesuai yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak akan terwujud. Demi mewujudkan tujuan negara tersebut maka para anak atau pemuda generasi penerus bangsa harus memiliki SDM yang baik, berkualitas, serta bertanggung jawab agar kehidupan bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi. Orang tua serta masyarakat sangat berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak karena orang tua merupakan orang yang paling dekat dan selalu berhubungan dengan anak sedangkan masyarakat merupakan tempat atau orang sekitar dimana anak itu tumbuh. Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak harus selalu diamati agar anak tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang bersifat negatif.

Pada zaman modernisasi seperti yang terjadi saat ini, perkembangan IPTEK maupun gaya hidup berubah dengan sangat cepat. Hal ini juga terjadi dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak berubah sangat signifikan seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman. Selain itu pada era modernisasi ini sangatlah mudah dalam mengakses informasi. Oleh karena itu apabila kurang memperhatikan atau mengawasi perkembangan anak, sikap dan perilaku anak dapat berkembang ke arah yang salah bahkan perilaku mereka dapat dikategorikan dalam perilaku yang melanggar hukum.

Anak-anak yang dengan terpaksa berada di Lembaga Pemasyarakatan mengalami degradasi moral. Seorang anak dalam lingkungan keluarganya pasti telah ditanamkan tentang nilai-nilai budi pekerti. Nilai-nilai budi pekerti ini merupakan acuan dalam hidup bermasyarakat. Jika seorang anak harus masuk ke Lembaga Pemasyarakatan, nilai-nilai budi pekerti yang telah ditanamkan oleh orang tuanya pasti mengalami penurunan. Mereka tidak lagi mengindahkan nilai-nilai budi pekerti tersebut. Sehingga mereka tanpa takut melakukan perbuatan yang dapat melanggar hukum yang berlaku.

Di Kota Blitar terdapat satu Lembaga Pembinaan Khusus Anak yaitu Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar. Lembaga Pembinaan Khusus Anak tersebut merupakan satu-satunya lembaga khusus anak yang berhadapan dengan hukum yang berada di wilayah Jawa Timur. Oleh karena itu penelitian ini mengambil judul “Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar”.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Sugiyono (2014: 15) mengemukakan bahwa metode penelitian kualitatif berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Penelitian tentang “Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar” menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Nawawi dan Hadi sebagaimana dikutip oleh Ni’mah (2016: 28) menyatakan bahwa penelitian deskriptif pada umumnya berbentuk uraian atau kalimat-kalimat, merupakan informasi mengenai keadaan sebagaimana adanya sumber data, dalam hubungannya dengan masalah yang diselidiki.

Kehadiran peneliti dalam penelitian sangat penting karena peneliti sebagai alat pengumpul data pada proses penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan peneliti terjun secara langsung ke lapangan untuk proses pengambilan data.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Sugiyono (2014: 308) mengemukakan bahwa “sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data sedangkan sumber data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data”. Prosedur pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sugiyono (2014: 310) menyatakan bahwa “observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi”. Sugiyono (2014: 317) mengemukakan bahwa “wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu”. Sugiyono (2014: 329) mengatakan bahwa “dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang”.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model interaktif seperti yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman sebagaimana dikutip oleh Sugiyono (2017: 246) mengemukakan bahwa “aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh”. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), dan conclusion drawing/verification.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

1. Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar

Pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar terdiri dari beberapa kegiatan. Kegiatan pembinaan nilai-nilai budi pekerti yang dilakukan oleh LPKA Kelas I Blitar diantaranya adalah kegiatan apel yang bertujuan untuk melatih kedisiplinan anak didik. Dalam pelaksanaan apel terkadang akan dibacakan mengenai tata tertib di LPKA Kelas I Blitar. Kegiatan apel dilakukan sebanyak tiga kali yaitu apel pagi, apel siang, dan apel sore. Kegiatan pembinaan lainnya adalah upacara pada peringatan Hari Nasional dan Hari Anak. Dengan melakukan upacara ini diharapkan dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme pada anak. Pada bulan Agustus juga akan dilakukan lomba antar petugas LPKA dengan anak didik untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang bertujuan untuk menjalin hubungan berdasarkan kekeluargaan. Kegiatan pembinaan tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M. 02-PK.04.10 Tahun 1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan Menteri Kehakiman Republik Indonesia, dalam Bab VII dijelaskan bahwa pembinaan kepribadian meliputi:

1. Pembinaan kesadaran beragama. Usaha ini bertujuan untuk meneguhkan iman dari warga binaan pemasyarakatan agar menyadari akibat dari perbuatan yang dilakukan.

2. Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara. Usaha ini dilakukan melalui pelajaran PPKn agar warga binaan pemasyarakatan berbakti pada Negara dan bangsa.

3. Pembinaan kemampuan intelektual (kecerdasan). Usaha ini dilakukan melalui pendidikan formal maupun pendidikan non-formal.

4. Pembinaan kesadaran hukum. Usaha ini berupa penyuluhan hukum.

5. Pembinaan menginetgrasikan diri dengan masyarakat. Usaha yang dilakukan berupa dibina untuk patuh beribadah dan melakukan usaha sosial secara gotong royong.

Selain kegiatan apel dan upacara sebagai bentuk pembinaan nilai-nilai budi pekerti di LPKA Kelas I Blitar, kegiatan pembinaan nilai-nilai budi pekerti terkait dengan nilai-nilai religious adalah sholat berjamaah di mushola LPKA Kelas I Blitar. Pelaksanaan sholat berjamaah, khususnya pada waktu sholat dhuhur dan sholat Jum’at. Selain sholat berjamaah, kegiatan keagamaan lainnya adalah Madrasah Diniyah yang bekerja sama dengan Lembaga Aisyiyah Kota Blitar yang dilakukan setiap hari dan bisa diikuti oleh semua anak didik di LPKA Kelas I Blitar. Kegiatan Madrasah Diniyah meliputi mengaji dan juga pengarahan tentang akhlak. Selain kegiatan keagamaan sehari-hari, pada waktu Bulan Ramadhan kegiatan yang dilakukan oleh anak didik di LPKA Kelas I Blitar yaitu Pondok Ramadhan, tausiyah, dan juga buka bersama. Selain itu, juga ada tarawih dan tadarus. Pelaksanaan kegiatan keagamaan di LPKA Kelas I Blitar sesuai dengan pendapat Soegito sebagaimana dikutip oleh Yusup (2011: 33) yang mengemukakan bahwa pengakuan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa harus mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam sikap dan perilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain itu, temuan penelitian di atas juga sesuai dengan sila pertama Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa yang dikemukakan oleh Soegito sebagaimana dikutip oleh Yusup (2011: 33) bahwa:

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti keyakinan dan pengakuan yang diekspresikan dalam bentuk perbuatan terhadap Zat Yang Maha Tunggal tiada duanya. Ekspresi dari nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menuntut manusia Indonesia untuk bersikap hidup, berpandangan hidup “taat’ dan “taklim” kepada Tuhan dengan dibimbing oleh ajaran-ajaran-Nya.

Kegiatan pembinaan nilai-nilai budi pekerti lainnya di LPKA Kelas I Blitar yaitu menanamkan nilai kebersihan. Nilai kebersihan ditanamkan melalui kegiatan berupa kerja bakti. Selain itu, melalui kegiatan kerja bakti ini anak didik LPKA Kelas I Blitar juga belajar tentang nilai gotong royong. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan komponen budi pekerti menurut Pusbangkurandik, Balitbang Dikbud sebagaimana dikutip oleh Su’dadah (2014: 137) yaitu:

1. Keberagaman, terdiri dari nilai-nilai pertama kekhusukan hubungan dengan Tuhan, kedua kepatuhan kepada Agama, ketiga niat baik dan keikhlasan, keempat perbuatan baik, kelima pembalasan atas perbuatan baik dan buruk.

2. Kemandirian, terdiri dari nilai-nilai pertama harga diri, kedua disiplin, ketiga etos kerja (kemauan untuk berubah, hasrat mengejar kemajuan, cinta ilmu, teknologi, dan seni), keempat rasa tanggung jawab, kelima keberanian dan semangat, keenam keterbukaan, ketujuh pengendalian diri.

3. Kesusilaan, terdiri dari nilai-nilai pertama cinta dan kasih sayang, kedua kebersamaan, ketiga kesetiakawanan, keempat gotong royong, kelima tenggang rasa, keenam hormat menghormati, ketujuh kelayakan kepatuhan, kedelapan rasa malu, kesembilan kejujuran dan kesepuluh pernyataan terima kasih, permintaan maaf (rasa tahu diri).

Selain nilai kebersihan, petugas LPKA Kelas I Blitar juga menanamkan nilai-nilai tanggung jawab. Anak didik di LPKA Kelas I Blitar diajarkan untuk memiliki rasa tanggung jawab terhadap barang-barang milik anak didik. Anak didik di LPKA Kelas I Blitar harus bertanggung jawab dengan barang-barang yang digunakan untuk keperluan sehari-hari mereka. Untuk nilai kesopanan, LPKA Kelas I Blitar mengajari anak didik melalui beberapa hal yaitu anak didik dilarang untuk memakai topi di lingkungan kantor dan model rambut anak didik harus pendek rapi dan tidak neko-neko. Hal tersebut sesuai dngan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan bahwa:

Pembinaan dan pembimbingan kepribadian meliputi hal-hal yang berkaitan dengan:

1. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;

2. Kesadaran berbangsa dan bernegara;

3. Intelektual;

4. Sikap dan perilaku;

5. Kesehatan jasmani dan rohani;

6. Kesadaran hukum;

7. Reintegrasi sehat dengan masyarakat;

8. Keterampilan kerja; dan

9. Latihan kerja produksi.

Selain pembiasaan nilai-nilai budi pekerti, pembinaan nilai-nilai budi pekerti di LPKA Kelas I Blitar bekerja sama dengan instansi terkait dari luar. Kerja sama ini berupa pelaksanaan sosialisasi, penyuluhan atau sharing yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Lembaga yang bekerja sama dengan LPKA Kelas I Blitar diantaranya adalah TNI, Aisyiyah Kota Blitar, Pengusaha Ayam Dinasti, Kementerian Agama, Dinas Kesehatan Kota Blitar, dan organisasi perempuan. Kerja sama antara LPKA Kelas I Blitar dengan instansi terkait sesuai dengan Pedoman Perlakuan Anak dalam Proses Pemasyarakatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) (2015: 50) yang menjelaskan bahwa dalam hal pelaksanaan program pembinaan dengan mitra kerja sama, maka petugas LPKA harus membuat daftar mitra kerja sama baik dengan lembaga pemerintah maupun swasta yang bersedia bekerja sama menyelenggarakan program pembinaan bagi anak di LPKA dan kerja sama yang dilaksanakan tetap mempertimbangkan kepentingan yang baik bagi anak.

Selain itu, pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Sekolah Istimewa LPKA Kelas I Blitar terintegrasi dalam mata pelajaran PPKn dan Pendidikan Agama serta proses KBM yang berlangsung sehari-hari. Untuk materi pelajaran PPKn diantaranya adalah nilai juang para tokoh-tokoh bangsa. Dalam melakukan KBM, guru mencoba mengkaitkan materi pembelajaran PPKn dengan kehidupan sehari-hari anak didik. selain itu, metode yang digunakan dalam pembelajaran PPKn menggunakan metode bercerita. Untuk materi pelajaran Pendidikan Agama diantaranya adalah sholat, baca Al-Qur’an, taharah, muamalah dan adab sehari-hari. Kemudian pembinaan nilai-nilai budi pekerti juga ditanamkan dalam anak didik ketika akan memulai proses KBM yaitu dengan berdoa sebelum memulai kegiatan pembelajaran. Pendidikan di Sekolah Istimewa LPKA Kelas I Blitar sesuai dengan isi Piagam Arcamanik Nomor 7 bahwa pendidikan merupakan salah satu hal penting dalam proses pembinaan dan pembimbingan bagi anak dalam rangka meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual serta untuk pengembangan potensi diri dan pelatihan keterampilan pengembangan bakat minat seorang anak.

 

2. Faktor Pendukung dalam Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar

Salah satu faktor pendukung dalam pembinaan nilai-nilai budi pekerti yaitu dari petugas LPKA Kelas I Blitar. Petugas LPKA Kelas I Blitar masih melakukan pengarahan dan teguran kepada anak didik. Faktor pendukung tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M. 02-PK.04.10 Tahun 1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan Menteri Kehakiman Republik Indonesia, dalam Bab IV dijelaskan bahwa salah satu metode pembinaan yaitu “pembinaan bersifat persuasif edukatif yang berusaha merubah tingkah lakunya melalui keteladanan dan memperlakukan adil di antara sesama mereka sehingga menggugah hatinya untuk melakukan hal-hal yang terpuji, menempatkan warga binaan pemasyarakatan sebagai manusia yang memiliki potensi dan memiliki harga diri dengan hak-hak dan kewajibannya yang sama dengan manusia yang lainnya”.

Faktor pendukung lainnya adalah lingkungan. LPKA Kelas I Blitar merupakan sebuah lembaga pembinaan maka dilengkapi dengan peraturan tata tertib yang harus dipatuhi oleh semua warga LPKA Kelas I Blitar. Sehingga kondisi di LPKA Kelas I Blitar tetap kondusif. Di LPKA Kelas I Blitar juga terdapat Tamping (Tahanan Pendamping). Lingkungan LPKA Kelas I Blitar selalu mendapat pengawasan dari petugas LPKA Kelas I Blitar sehingga anak-anak berkelakuan baik. Hal tersebut sesuai dengan implementasi strategi pendidikan budi pekerti dalam kegiatan sehari-hari menurut Muhtadi (2010: 9) bahwa implementasi strategi pendidikan budi pekerti dapat dilakukan melalui:

1. Keteladanan. Dalam kegiatan sehari-hari guru, kepala sekolah, staf administrasi, bahkan juga pengawas harus dapat menjadi teladan atau model yang baik bagi murid-murid di sekolah.

2. Kegiatan spontan. Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilaksanakan secara spontan pada saat itu juga.

3. Teguran. Guru perlu menegur peserta didik yang melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai yang baik sehingga guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka.

4. Pengkondisian lingkungan. Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa melalui penyediaan sarana fisik yang dapat menunjang tercapainya pendidikan budi pekerti.

5. Kegiatan rutin. Kegiatan rutinitas merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat.

Selain itu, adanya kerja sama dengan instansi luar dalam memberikan motivasi dan sosialisasi dapat membantu anak untuk memperbaiki sikap dan perilakunya serta mengenal kembali kondisi di lingkungan masyarakat. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M. 02-PK.04.10 Tahun 1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan Menteri Kehakiman Republik Indonesia, dalam Bab VII dijelaskan bahwa hubungan dengan instansi “dalam rangka pembinaan, maka para petugas pemasyarakatan harus mampu melibatkan instansi-instansi yang terkait, baik yang sudah terlibat melalui surat Keputusan Bersama, maupun yang belum”.

 

3. Hambatan-Hambatan yang Muncul dalam Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar

Kurangnya minat anak didik di LPKA Kelas I Blitar dalam memperbaiki sikapnya menjadi salah satu faktor penghambat dalam proses pembinaan di LPKA Kelas I Blitar. Anak didik di LPKA Kelas I Blitar tetap mengikuti semua kegiatan pembinaan akan tetapi ada anak didik yang mengikutinya dengan semangat dan ingin memperbaiki diri, akan tetapi ada juga anak didik yang mengikuti kegiatan pembinaan sekenanya saja. Menurut Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M. 02-PK.04.10 Tahun 1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan Menteri Kehakiman Republik Indonesia, unsur pendukung sistem pemasyarakatan dan hubungan dengan instansi dan masyarakat terdiri dari: “(1) Unsur Pendukung Sistem Pemasyarakatan (yang terdiri dari warga binaan pemasyarakatan itu sendiri, petugas pemasyarakatan, masyarakat); (2) Hubungan dengan instansi; dan (3) Hubungan dengan masyarakat”. Anak didik di LPKA Kelas I Blitar menjadi salah satu faktor pendukung pembinaan, akan tetapi anak didik LPKA Kelas I Blitar juga menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan pembinaan salah satunya pembinaan nilai-nilai budi pekerti.

Hambatan lainnya yang muncul dalam pelaksanaan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di LPKA Kelas I Blitar adalah tidak adanya psikolog di LPKA Kelas I Blitar. Selain itu, sarana dan prasarana Sekolah Istimewa yang kurang memadai. Hai ini dikarenakan Sekolah Istimewa berada dalam sebuah LPKA sehingga kondisinya tidak bisa disamakan dengan sekolah-sekolah pada umumnya. Menurut Bab V Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M. 02-PK.04.10 Tahun 1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan Menteri Kehakiman Republik Indonesia faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaan pembinaan meliputi:

1. Pola dan tata letak bangunan. Pola dan tata letak bangunan merupakan faktor yang penting guna mendukung pembinaan, sesuai dengan tujuan pemasyarakatan.

2. Struktur Organisasi. Mekanisme kerja, khususnya hubungan dan jalur-jalur perintah/komando dan staf hendaknya mampu dilaksanakan secara berdaya guna agar pelaksanaan tugas di setiap unit kerja berjalan dengan lancar.

3. Kepemimpinan Kalapas, Karutan/Kacabrutan dan Kabispa. Kepemimpinan Kalapas, Karutan/Kacabrutan dan Kabispa akan mampu menjadi faktor pendukung apabila kepemimpinannya mampu mendorong motivasi kerja bawahan, membina dan memantapkan disiplin, tanggung jawab dan kerja sama serta kegairahan bekerja.

4. Kualitas dan kuantitas Petugas. Haruslah selalu diusahakan agar kualitas petugas dapat mampu menjawab tantangan-tantangan dan masalah-masalah yang selalu ada dan muncul di lingkungan Lapas, Rutan/Cabrutan dan Balai Bispa disamping penguasaan terhadap tugas-tugas rutin.

5. Manajemen. Hal ini berkaitan erat dengan mutu kepemimpinan, struktur organisasi dan kemampuan/keterampilan pengelolaan (managerial skill) dari pucuk pimpinan maupun staf sehingga pengelolaan administrasi di lingkungan Lapas, Rutan/Cabrutan dan Balai Bispa dapat berjalan tertib dan lancar.

6. Kesejahteraan Petugas. Disadari sepenuhnya bahwa faktor kesejahteraan petugas pemasyarakatan memang masih memprihatinkan, namun faktor kesejahteraan ini tidak boleh menjadi faktor yang menyebabkan lemahnya pembinaan dan keamanan/ketertiban.

7. Sarana/Fasilitas Pembinaan. Kekurangan sarana dan fasilitas baik dalam jumlah maupun mutu telah menjadi penghambat pembinaan bahkan telah menjadi salah satu penyebab rawannya keamanan/ketertiban.

8. Anggaran. Sekalipun dirasakan kurang mencukupi untuk kebutuhan seluruh program pembinaan, namun hendaklah diusahakan memanfaatkan anggaran yang tersedia secara berhasil guna dan berdaya guna.

9. Sumber daya alam. Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan konsep pemasyarakatan terbuka dan produktif, maka sumber daya alam merupakan salah satu faktor pendukung.

10. Kualitas dan Ragam Program Pembinaan. Kualitas bentuk-bentuk program pembinaan tidak semata-mata ditentukan oleh anggaran ataupun sarana dan fasilitas yang tersedia.

11. Masalah-masalah lain yang berkaitan dengan warga binaan pemasyarakatan. Dalam hal ini para petugas dituntut untuk mampu mengenal masalah-masalah lain yang berkaitan dengan warga binaan pemasyarakatan agar dapat mengatasinya dengan tepat.

 

4. Upaya yang Dilakukan oleh Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar dalam Mengatasi Hambatan-Hambatan yang Muncul dalam Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti

Salah satu upaya yang dilakukan oleh petugas LPKA Kelas I Blitar yaitu memberikan teguran secara langsung kepada anak didik. Apabila ada anak didik yang memiliki sikap dan perilaku yang kurang sesuai maka petugas akan langsung menegurnya. Selain itu, petugas juga selalu memberikan pengarahan kepada anak didik dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Setelah diberi teguran beberapa kali, apabila anak didik tetap melakukan kesalahan yang sama maka anak didik akan diberi hukuman berupa sit-up, push-up atau jalan jongkok yang tidak memberatkan fisik anak didik. Di LPKA Kelas I Blitar jarang terjadi perkelahian dalam skala besar, akan tetapi apabila terjadi anak didik akan dimasukkan ke dalam Ruang Introspeksi. Strategi upaya tersebut sesuai dengan strategi pembinaan nilai budi pekerti menurut Tantya (2013) bahwa secara umum strategi pembinaan meliputi tindakan preventif dan tindakan represif. Tindakan preventif adalah tindakan yang bertujuan untuk melakukan pencegahan sedangkan tindakan represif adalah tindakan yang bermaksud untuk menindak. Tindakan preventif diperlukan dalam pembinaan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Tindakan preventif bisa juga dilakukan terhadap anak yang mengalami degradasi nilai-nilai budi pekerti agar tidak terjerumus ke hal-hal yang lebih negatif lagi. Sedangkan untuk tindakan represif diberikan kepada anak untuk memberikan efek jera agar tidak melakukan kembali hal-hal yang dilarang.

Kemudian upaya dalam mengatasi hambatan yang muncul di Sekolah Istimewa yaitu diadakannya pre-test dan post-test untuk mengetahui tingkat pemahaman anak didik terhadap materi pelajaran pada pertemuan sebelumnya. Selain itu, salah satu hambatan yang ada yaitu tidak adanya psikolog sehingga yang melakukan pendekatan kepada anak didik adalah seorang Guru BK. Tidak adanya psikolog di LPKA Kelas I Blitar yang kemudian pelaksanaan konseling terhadap anak didik dilakukan oleh Ibu Vindi Novitasari yang merupakan sarjana Bimbingan Konseling. Hal tersebut sesuai dengan Pedoman Perlakuan Anak dalam Proses Pemasyarakatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) (2015: 90) dijelaskan mengenai Tugas Konseling bahwa:

1. Dibutuhkan kompetensi umum petugas yang memahami teknik wawancara dan entertainer sedangkan untuk kompetensi khusus Konseling adalah memahami materi dasar-dasar Pemasyarakatan, mampu secara teknis menangani Anak di LPKA, memahami teknik konseling.

2. Untuk peningkatan kompetensi sumber daya petugas LPKA di bidang konseling maka harus dilakukan diklat kompetensi umum maupun kompetensi khusus yang meliputi diklat :

a) Teknik wawancara

b) Teknik entertainer

c) Diklat Dasar Pemasyarakatan

d) Bimtek Penanganan Anak di LPKA

e) Pelatihan konseling

3. Kualifikasi akademis yang dibutuhkan untuk tugas konseling ini adalah jenjang D3, S1 dan S2 dengan kemampuan dibidang Psikologi.

 

SIMPULAN

Berdasarakan temuan penelitian dan pembahasan maka dilakukan kajian secara teoritis oleh peneliti dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Pelaksanaan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar diantaranya adalah pelaksanaan apel pagi, apel siang, dan apel sore yang dalam pelaksanaannya seringkali dibacakan mengenai tata tertib di LPKA Kelas I Blitar serta bertujuan untuk melatih kedisiplinan anak didik LPKA Kelas I Blitar. Selain itu, ada upacara pada Hari Besar Nasional dan Hari Anak Nasional untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme anak didik LPKA Kelas I Blitar. Untuk kegiatan keagamaan meliputi sholat berjamaah, Madrasah Diniyah serta kegiatan Pondok Ramadhan. Selain itu, kegiatan anak didik di LPKA Kelas I Blitar terkait pembinaan nilai-nilai budi pekerti yaitu kegiatan kerja bakti dan sosialisasi yang bekerja sama dengan pihak luar seperti pengusaha ayam Dinasti, Dinas Kesehatan Kota Blitar, TNI, dan organisasi perempuan. Sedangkan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Sekolah Istimewa LPKA Kelas I Blitar diintegrasikan dalam mata pelajaran PPKn dan Pendidikan Agama.

2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pembinaan nilai-nilai budi pekerti tidak mudah dilakukan, di dalam pembinaan terdapat faktor pendukung diantaranya yaitu : petugas LPKA Kelas I Blitar yang tetap melakukan pengarahan dan teguran kepada anak didik, lingkungan LPKA Kelas I Blitar yang dilengkapi dengan peraturan serta Tamping yang membantu mengkoordinir anak didik, dan yang terakhir adanya kerja sama dengan instansi luar dalam memberikan motivasi dan sosialisasi kepada anak didik di LPKA Kelas I Blitar.

3. Selain terdapat faktor pendukung dalam pembinaan nilai-nilai budi pekerti, juga terdapat faktor penghambat pembinaan nilai-nilai budi pekerti yang meliputi : kurangnya minat anak didik LPKA Kelas I Blitar dalam memperbaiki sikapnya, tidak adanya psikolog di LPKA Kelas I Blitar, serta sarana dan prasarana Sekolah Istimewa yang kurang memadai.

4. Untuk mengatasi hambatan yang muncul dalam pembinaan nilai-nilai budi pekerti di LPKA Kelas I Blitar, maka upaya yang dilakukan oleh LPKA Kelas I Blitar yaitu : memberikan teguran secara langsung kepada anak didik yang bersikap kurang sesuai, Guru BK yang melakukan pendekatan dan konseling kepada anak didik sebagai ganti tidak adanya psikolog di LPKA Kelas I Blitar, dan diadakannya pre-test post-test untuk mengetahui tingkat pemahaman anak didik terhadap materi pelajaran pada pertemuan sebelumnya.

 

SARAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian terkait Pembinaan Nilai-Nilai Budi Pekerti terdapat saran yang ingin diberikan oleh peneliti. Beberapa saran yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Bagi Peneliti Selanjutnya

Adapun beberapa saran yang perlu diperhatikan bagi peneliti selanjutnya yang tertarik meneliti tentang pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar adalah:

a. Penelitian selanjutnya agar lebih memperhitungkan waktu dalam mengajukan surat penelitian ke Kementerian Hukum dan HAM di Surabaya.

b. Peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengkaji lebih banyak sumber maupun referensi yang terkait dengan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar agar hasil penelitiannya dapat lebih baik dan lebih lengkap lagi.

c. Peneliti selanjutnya diharapkan lebih mempersiapkan diri dalam proses pengambilan dan pengumpulan serta segala sesuatunya sehingga penelitian dapat dilaksanakan dengan lebih baik.

d. Peneliti selanjutnya yang tertarik dengan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak dapat memperluas fokus kegiatan pembinaan nilai-nilai budi pekerti selain kegiatan sehari-hari anak didik  akan tetapi juga kegiatan keterampilan yang dilakukan oleh anak didik.

2. Bagi Mahasiswa

Berikut adalah saran yang dapat penulis sampaikan terhadap mahasiswa yang sedang menjalani Tugas Akhir:

a. Mahasiswa dianjurkan untuk selalu mencatat hal-hal penting yang diberikan oleh dosen pembimbing.

b. Mahasiswa dianjurkan untuk melakukan bimbingan sesering mungkin agar dosen pembimbing mengetahui bagaimana perkembangan Tugas Akhir yang sedang dikerjakan oleh mahasiswa.

c. Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan mengenai pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak. Dengan demikian, dapat menjadi gambaran bahwa anak-anak yang berada di sebuah Lembaga Pembinaan Khusus Anak juga mendapatkan pembinaan dan pendidikan.

d. Melalui hasil penelitian ini, diharapkan dapat menjadi gambaran bahwa mahasiswa tidak boleh memandang rendah anak-anak yang keluar dari sebuah Lembaga Pembinaan Khusus Anak melainkan juga ikut memberikan dorongan supaya berkembang ke arah yang lebih baik lagi.

3. Bagi Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat membantu Prodi PPKn dalam mengetahui kegiatan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar dan dapat menjadi tambahan dalam memberikan materi perkuliahan bagi mahasiswa PPKn.

4. Bagi Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar

a. Diharapkan sebisa mungkin anak didik di LPKA Kelas I Blitar mengikuti semua kegiatan pembinaan di LPKA Kelas I Blitar dengan sungguh-sungguh supaya menjadi anak yang lebih baik.

b. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana supaya lebih menunjang kegiatan pembinaan nilai-nilai budi pekerti di LPKA Kelas I Blitar.

c. Menjaga kerja sama dengan instansi-instansi terkait supaya pembinaan nilai-nilai budi pekerti yang diberikan lebih optimal.

d. Bagi petugas LPKA Kelas I Blitar lebih memperlakukan anak didik dengan halus. Memberikan teguran kepada anak didik bukanlah hal yang salah, akan tetapi tidak selamanya memberikan teguran dengan cara yang keras. Alangkah baiknya memberikan teguran yang halus kepada anak didik karena bagaimanapun mereka merupakan anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang yang lebih tua. Pendekatan kepada anak didik akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara yang halus yang bisa mengambil hati anak didik.

e. Alangkah baiknya apabila LPKA Kelas I Blitar juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang memiliki Fakultas Psikologi seperti UM, UMM, dan UNIDA maupun instansi terdekat di Kota Blitar yang berkaitan dengan Ilmu Psikologi dalam melakukan pendekatan kepada anak didik.

5. Bagi Masyarakat Umum

Bagi masyarakat umum hendaknya anak didik yang keluar dari sebuah Lembaga Pembinaan Khusus Anak tetap dipandang sebagai manusia biasa, tidak dipandang sebelah mata apabila mereka kembali ke masyarakat sehingga anak tidak merasa dikucilkan dan rendah diri. Anak-anak tersebut harus diterima apa adanya dan diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukannya.

 

DAFTAR RUJUKAN

Direktorat Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak. 2015. Pedoman Perlakuan Anak dalam Proses Pemasyarakatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar, (Online), (http://lpkajakarta.kemenkumham.go.id/index.php?option=com_attachments&task=download&id=59), diakses pada tanggal 28 November 2018.

Muhtadi, Ali. 2010. Strategi untuk Mengimplementasikan Pendidikan Budi Pekerti Secara Efektif di Sekolah, (Online), (http://staffnew.uny.ac.id/upload/132280878/penelitian/15.+Strategi+untuk+mengimplementasikan+Pendidikan+Budi+Pekerti+secara+efektif+di+sekolah.pdf), diakses pada tanggal 14 Februari 2019.

Ni’mah, Anis Choirun. 2016. Peran Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar dalam Pemberian Bekal Keterampilan Terhadap Anak Didik Pemasyarakatan di LPKA Kelas I Blitar. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FIS UM.

Republik Indonesia. 1990. Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M. 02-PK.04.10 Tahun 1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan Menteri Kehakiman Republik Indonesia. (Online), (https://dokumen.tips/documents/kepmen-th-1990-tentang-pola-pembinaan-narapidana-atau-tahanan.html), diakses pada tanggal 13 Desember 2018.

Republik Indonesia. 1999. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 No. 63. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3842. Universitas Sam Ratulangi. (Online), (http://hukum.unsrat.ac.id/pp/pp_31_1999.pdf), diakses pada tanggal 12 Desember 2018.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Su’dadah. 2014. Pendidikan Budi Pekerti (Integrasi Nilai Moral Agama dengan Pendidikan Budi Pekerti). Jurnal Kependidikan. 2 (1). (Online), (https://media.neliti.com/media/publications/104395-ID-pendidikan-budi-pekerti-integrasi-nilai.pdf), diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

Tantya, Annisa Aris. 2013. Pendekatan dan Strategi Budi Pekerti. (Online), (siapapuninginmenujukesuksesan.blogspot.co.id/2013/09/pendekatan-dan-strategi-budi-pekerti.html?m=1), diakses pada tanggal 11 Mei 2018.

 

Yusup, Firman. 2011. Penanaman Nilai-Nilai Nasionalisme dalam Lingkup Kehidupan Sehari-Hari di Pondok Pesantren Darul Falah Desa Jekulo Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus, (Online), (https://lib.unnes.ac.id/6220/1/7775.pdf), diakses pada tanggal 14 Februari 2019.