SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X AKUNTANSI PADA MATA PELAJARAN PPKnDI SMK MUHAMMADIYAH 2 MALANG

khafido. Nur

Abstrak


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X AKUNTANSI PADA MATA PELAJARAN PPKn DI SMK MUHAMMADIYAH 2 MALANG

Nur Khafido, Sri Untari, Petir Pudjantoro

Universitas Negeri Malang

Email: n.khafido@yahoo.com 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

(1) Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang

(2) Apakah dapat meningkatkan keaktifan belajar  kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang

(3) Apakah dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun ajaran 2018/2019 yang berjumlah 18 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, tes dan dokumentasi sedangkan instrumen yang digunakan  adalah lembar observasi tindakan peneliti, lembar observasi keaktifan siswa , pedoman wawancara, serta soal pretest dan posttest.

Berdasarkan hasil observasi  menunjukkan pada siklus I peneliti kurang memberikan motivasi dan peneliti hanya fokus terhadap siswa yang aktif sehingga kegiatan pembelajaran belum berjalan secara kondusif. Keaktifan siswa pada siklus I belum nampak seperti aktivitas berbicara, berfikir maupun menulis. Pada siklus I, hanya di dominasi oleh siswa yang aktif yaitu siswa yang aktif menjawab pertanyaan, bertanya maupun mengungkapkan pendapat. Sedangkan pada siklus II, peneliti memberikan perhatian kepada seluruh siswa dan peneliti memberikan motivasi dengan menyampaikan kepada siswa, siswa memperoleh penghargaan berupa jajan coklat apabila siswa aktif selama kegiatan pembelajaran. Hal tersebut cukup membangkitkan semangat siswa dalam kegiatan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran PPKn.

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa presentase keberhasilan tindakan peneliti pada siklus I menujukkan 79,66 % dengan taraf keberhasilan “Baik”. Pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 15,17 %, yaitu dari 79,66 % pada siklus I menjadi 94,83 % pada siklus II. Sedangkan dari lembar observasi dapat diketahui bahwa presentase keberhasilan keaktifan siswa pada siklus I menujukkan 51 % dengan taraf keberhasilan “Cukup”. Pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 11,75 %, yaitu dari 51 % pada siklus I menjadi 62,75 % pada siklus II. Dan hasil belajar siswa dapat diketahui Pada siklus I nilai rata-rata 78,88 dengan presentase siswa yang tuntas sebesar 11 siswa (61 %). Pada siklus II nilai rata-rata 84,16, yaitu dari 61 % pada siklus I menjadi 88 % pada siklus II dengan presentase siswa yang tuntas sebesar 16 siswa (88 %) terjadi peningkatan  27 %. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif  tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang.

Kata kunci : model pembelajaran STAD, keaktifan, hasil belajar, PPKn.

PENDAHULUAN

Kegiatan pembelajaran antara guru dan siswa harus seimbang agar tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Sebagai tenaga pendidik diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi siswa sehingga siswa mampu menerima apa yang disampaikan oleh guru. Selain itu, guru merupakan center of learning segala aktivitas belajar mengajar berpusat pada guru sehingga faktor penentu utama keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran adalah guru. Guru selaku tenaga pendidik mempunyai tugas selain mengajar juga mempunyai tugas mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya.

Kegiatan pembelajaran akan berjalan secara dinamis apabila antara guru dan siswa sama-sama terlibat dalam proses pembelajaran. Namun, dalam dunia pendidikan masih banyak terdapat permasalahan salah satunya yaitu masalah dalam proses pembelajaran. Ada beberapa masalah yang teridentifikasi, diantaranya:

(1) Pembelajaran PPKn di kelas X Akuntansi berjalan monoton dan berpusat pada keaktifan guru bukan siswa. selama kegiatan pembelajaran, guru menggunakan metode ceramah dan guru tidak menggunakan media pembelajaran seperti power point,

(2) Rendahnya keaktifan belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini ditunjukkan terdapat beberapa siswa selama kegiatan pembelajaran mengantuk di dalam kelas dan terlihat hanya mendengarkan penjelasan guru namun ketika guru memberikan pertanyaan tidak bisa menjawab,

(3) Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn. Dari 18 siswa hanya 4 siswa yang mendapatkan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75 sedangkan sisanya yaitu 14 siswa masih mendapat nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dapat diartikan lebih dari separuh kelas mendapatkan nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dengan melihat data hasil belajar siswa tersebut perlu adanya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan terutama di kelas yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Menuurut Isjoni (2010 : 74) mengemukakan bahwa Model pembelajaran STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD  menjadikan siswa lebih berpartisipasi dalam pembelajaran, aktivitasnya meningkat, berani menyampaikan pendapat, mampu menjelaskan persoalan pelajaran lewat diskusi dan kerja kelompok.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat di rumuskan masalahnya adalah

(1) Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD  kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang?  

(2)  Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang?

(3) Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang?

Manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan pengetahuan dan referensi khususnya mengenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn. Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah model-model pembelajaran kooperatif yang lain dan bervariasi agar dapat mengatasi permasalahan-permasalahan dalam proses pembelajaran yang ada di dalam kelas sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran kedepannya.

KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran Pengertian

Menurut Sanjaya (2008 : 103) mendefinisikan pembelajaran sebagai mengajar dalam konteks standar proses pendidikan tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi juga dimaknai sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar. Makna lain mengajar yang demikian sering diistilahkan dengan pembelajaran. Selain pendapat diatas menurut Dimyati dan Mudjiono (dalam Syaiful, 2011 : 62) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.

Konsep pembelajaran menurut Corey (dalam Syaiful, 2011 : 61) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.

Model Pembelajaran Kooperatif

Kegiatan pembelajaran dalam lingkungan sekolah akan menjadi inovatif apabila dalam penyajian  materi  yang diberikan guru memanfaatkan segala fasilitas yang berhubungan dengan proses belajar mengajar yaitu dengan model pembelajaran. Model pembelajaran yang bervariasi menjadi salah satu alternatif guru untuk membantu menyampaikan materi kepada siswa dan memudahkan siswa untuk memahami dan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Jenis-jenis model pembelajaran sangat banyak dan beranekaragam salah satunya model pembelajaran kooperatif. Menurut Rusman, (2011 : 202) menyatakan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.  Sedangkan menurut Sunal dan Hans (dalam Isjoni, 2010 : 15) menyatakan pembelajaran kooperatif merupakan sebuah pendekatan atau serangkaian strategi yang dirancang secara khusus untuk memberi dorongan kepada para siswa agar mereka saling bekerja sama selama proses pembelajaran.

Model Pembelajaran Tipe STAD

Jenis-jenis model pembelajaran kooperatif sangat beragam salah satunya yaitu model pembelajaran koopertaif tipe STAD. Menurut Pratiwi dkk (2012 : 107) menyatakan STAD adalah suatu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan terdiri atas lima komponen utama yang meliputi: presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim.

Adapun langkah-langkah pembelajaran model STAD menurut Zainal (2016 : 20) sebagai berikut:

(1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll);

(2) Guru menyajikan pelajaran;

(3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti;

(4) Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh murid; pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu,

 (5) Memberi evaluasi.

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan diatas mengenai langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD adapun kelebihan dan kekurangan dari model STAD. Menurut Kurniasih dan Sani (2016 : 22) mengatakan bahwa kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Berikut ini  kelebihan STAD:

(1) Karena dalam kelompok siswa dituntut untuk aktif sehingga dengan model ini siswa dengan sendirinya akan percaya diri dan meningkat kecakapan individunya,

(2) Interaksi sosial yang terbangun dalam kelompok, dengan sendirinya siswa belajar dalam bersosialisasi dengan lingkungannya (kelompok)

(3) Dengan kelompok yang ada, siswa diajarkan untuk membangun komitmen dalam mengembangkan kelompoknya,

(4)Mengajarkan menghargai orang lain dan saling percaya,

(5) Dalam kelompok siswa diajarkan untuk saling mengerti dengan materi yang ada, sehingga siswa saling memberitahu dan mengurangi sifat kompetitif.  Selain kelebihan yang dimiliki STAD, adapun kekurangan dari STAD sebagai berikut:

 (1) Karena tidak adanya kompetisi diantara anggota masing-masing kelompok, anak yang berprestasi bisa saja menurun semangatnya,

 (2) Jika guru tidak bisa mengarahkan anak, maka anak yang berprestasi bisa jadi lebih dominan dan tidak terkendali.   

Keaktifan Dalam Belajar

Menurut Mulyono (dalam Kurniati, 2009 : 12) keaktifan adalah kegiatan atau aktivitas atau segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non fisik. Keaktifan dalam pembelajaran dapat meningkatkan potensi yang dimiliki oleh siswa. Menurut Hartono (2008:20) keaktifan siswa merupakan suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif.  Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa menurut Ahmadi (2009 : 78)  yaitu: 1) faktor intern (faktor dari dalam diri manusia itu sendiri) yang meliputi faktor fisiologis dan psikologis; serta 2) faktor extern (faktor dari luar manusia) yang meliputi faktor sosial dan non sosial. Sedangkan menurut Muhibbin (2008 : 146) mengemukakan bahwa: faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu: faktor internal (faktor dari dalam siswa), faktor eksternal (faktor dari luar siswa), dan faktor pendekatan belajar (approach to learning).  

Indikator dari keaktifan dalam belajar menurut Sardiman (2009 : 100–101) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

(1) Visual activities membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, dan mengamati orang lain bekerja,

(2) Oral activities mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi,

(3) Listening activities mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan musik, pidato,

(4) Writing activities  menulis cerita, menulis laporan, karangan, angket, menyalin, (5) Drawing activities menggambar, membuat grafik, diagram, peta,

(5) Motor activities melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun,

(6) Mental activities merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan,

(8) Emotional activities minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain.

Hasil Belajar

Kegiatan pembelajaran meliputi pembukaan, inti, dan penutup. Dalam bagian penutup terdapat evaluasi pembelajaran. Evaluasi pembelajaran dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah melakukan proses pembelajaran. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2010 : 43) menyatakan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Sedangkan menurut Sudjana (2001 : 22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. cara yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui hasil belajar siswa dengan melalui tes baik secara tertulis maupun non tulis. Menurut Sudjana (2008:35) bentuk tes hasil belajar dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut: (1) Tes lisan, (2) Tes tertulis. Tes tertulis dapat dibedakan menjadi tes esai atau uraian dan tes objektif. dan (3) Tes tindakan.  

METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Peneitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif sehingga peneliti tidak melakukan penelitian sendiri. Peneliti berkolaborasi dengan guru PPKn kelas X Akuntansi dan teman sejawat. Penelitian ini  dilaksanakan di kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang yang terletak di Jl. Baiduri Sepah No.27, Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Jumlah siswa di kelas X Akuntansi yaitu 18 yang terdiri dari 2 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Dipilihnya SMK Muhammadiyah 2 Malang karena sekolah ini memerlukan peningkatan mutu pembelajaran. Melalui peningkatan keaktifan dan hasil belajar pada mata pelajaran PPKn

Melalui PTK yang dapat menyesuaikan dengan kurikulum 2013.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua siklus yaitu siklus I dilaksanakan pada tanggal 8 dan 15 Januari 2019 dan siklus II dilaksanakan pada tanggal 22 dan 29 Januari 2019 di SMK Muhammadiyah 2 Malang pada kelas X Akuntansi. Peneliti dalam hal ini melakukan penelitian untuk mengetahui tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn.

Tahap Penelitian

Siklus I

Siklus pertama dalam penelitian tindakan kelas ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Perencanaan

a.Peneliti melakukan observasi awal di lokasi penelitian yaitu di SMK Muhammadiyah 2 Malang,

b.Peneliti menyelesaikan surat perijinan penelitian untuk disampaikan kepada kepala Dinas Pendidikan Kota Malang dan kepala SMK Muhammadiyah 2 Malang;

c.Peneliti menyusun perangkat pembelajaran seperti: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan KD 3.6 Menganalisis fungsi dan kewenangan lembaga-lembaga Negara menurut Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, lembar kerja siswa, media pembelajaran seperti power point (PPT), dan instrumen penelitian yaitu berupa lembar observasi tindakan peneliti, lembar observasi keaktifan siswa dan pedoman wawancara untuk guru dan siswa serta soal-soal untuk evaluasi.

Pelaksanaan

a.Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

b.Fase 2 Menyajikan atau menyampaikan informasi

c.Fase 3 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar

d.Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar

e.Fase 5 Evaluasi

f.Fase 6 Memberikan penghargaan

Observasi

Kegiatan observasi dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pada tahap ini, guru PPKn kelas X Akuntansi dan teman sejawat sebagai observer. Guru PPKn kelas X Akuntansi bertindak sebagai pengamat tindakan peneliti dan keaktifan siswa sedangkan teman sejawat bertindak sebagai pengamat tindakan peneliti dan dokumentasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi tindakan peneliti dan keaktifan siswa. Instrumen lembar observasi tindakan peneliti terdiri dari deskriptor-deskriptor  sesuai dengan tahapan-tahapan yang ada pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Refleksi

Tahap ini peneliti meganalisis dan merefleksi proses kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Refleksi dilakukan untuk mengkaji ulang kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung dan digunakan sebagai pertimbangan apabila tujuan masih belum tercapai maka dapat diperbaiki dengan siklus selanjutnya.

Siklus II

Setelah merefleksi siklus I, maka peneliti pada siklus II akan melengkapi kekurangan dan hal-hal yang perlu diperbaiki pada siklus I. Adapun tahapan siklus II sebagai berikut:

Perencanaan

a.Menyusun rencana pembelajaran, lembar keaktifan belajar siswa untuk kegiatan pembelajaran dengan sub materi tentang sikap positif tehadap fungsi dan kewenangan lembaga-lembaga negara menurut UUD NRI Tahun 1945 yang dibuat oleh peneliti dengan bimbingan dari dosen pembimbing dan guru mata pelajaran PPKn.

b.Menyiapkan instrumen berupa lembar observasi tindakan peneliti, lembar observasi keaktifan belajar siswa, pedoman observasi, dan soal-soal untuk evaluasi kegiatan pembelajaran;

c.Menyiapkan media pembelajaran seperti power point (PPT);

d.Mengorganisasikan siswa menjadi 4 kelompok dengan anggotanya terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen.

Pelaksanaan

a.Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

b.Fase 2 Menyajikan atau menyampaikan informasi

c.Fase 3 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar

d.Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar

e.Fase 5 Evaluasi

f.Fase 6 Memberikan penghargaan

Observasi

Kegiatan observasi dilakukan oleh observer yaitu guru mata pelajaran PPKn dan teman sejawat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Observer memberikan penilaian sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditentukan sebelumnya melalui lembar observasi tindakan peneliti dan keaktifan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Refleksi

Kegiatan refleksi dalam penelitian ini digunakan untuk memahami dan memaknai segala sesuatu yang berkaitan dengan proses dan hasil yang diperoleh dari setelah dilakukannya tindakan pada siklus II. Pada tahap ini, dilakukan analisis terhadap temuan-temuan yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan yang terdapat selama pemberian tindakan pada siklus II. Selain itu, dibandingkan pula tentang keaktifan siswa dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran siklus I dan siklus II.

BAHASAN

Pada bagian ini dijabarkan secara spesifik mengenai (1) Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang?, (2) Apakah dapat meningkatkan keaktifan belajar kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang? (3) Apakah dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Akuntansi pada mata pelajaran PPKn di SMK Muhammadiyah 2 Malang?

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Mata Pelajaran PPKn Siswa Kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang

Siklus I

Pembelajaran tipe STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai lima siswa yang heterogen berdasarkan jenis kelamin dan kemampuan masing-masing individu. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima komponen yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh observer pada siklus I, penerapan pembelajaran koopertaif tipe STAD pada mata pelajaran PPKn kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang masih belum berjalan dengan baik.

Pada pembelajaran tersebut peneliti belum mengkondisikan seluruh siswa  dalam proses pembelajaran sehingga masih ada siswa yang tidak memperhatikan bahkan melakukan kegiatan di luar pembelajaran, peneliti dalam memotivasi siswa masih kurang, siswa belum terbiasa dengan kegiatan pembelajaran diskusi sehingga membutuhkan adaptasi untuk bergabung dengan kelompok belajar masing-masing, dan perhatian peneliti hanya terfokus pada siswa yang aktif  sedangkan siswa yang pasif  kurang diperhatikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Haroan Siregar (2013) yaitu guru dalam memotivasi siswa masih kurang dan siswa belum terbiasa mengalami model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang digunakan guru sehingga suasana kelas kurang tertib Jadi, penerapan pembelajaran koopertaif tipe STAD pada siklus I belum berjalan dengan baik. Dengan demikian perlu dilakukan siklus ke II untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I.  

Siklus II

Berdasarkan hasil observasi pada siklus II yang dilakukan oleh observer, pelaksanaan pembelajaran koopertaif tipe STAD pada mata pelajaran PPKn kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang berjalan dengan lebih baik dibanding dengan siklus I. Hal tersebut dikarenakan adanya pengkondisian dan pengendalian siswa pada saat kegiatan pembelajaran sehingga siswa fokus dan mampu menerima materi dengan baik, akibatnya siswa lebih mengerti terkait materi yang disampaikan oleh peneliti sehingga pada saat kegiatan diskusi siswa lebih aktif dalam menyelesaikan soal-soal diskusi, siswa lebih percaya diri dengan kemampuannya masing-masing serta saling bertukar pendapat dengan siswa yang lainnya. Hal tersebut sesuai dengan yang dijelaskan oleh Kurniasih dan Sani (2016 : 22). Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus II berjalan lebih baik karena antusias yang ditunjukkan siswa selama kegiatan pembelajaran. Hal tersebut ditunjukkan karena peneliti memberikan penghargaan kepada siswa berupa jajan coklat apabila siswa aktif selama kegiatan pembelajaran baik bertanya maupun mengungkapkan pendapat.

Berdasarkan data temuan penelitian mengenai tindakan peneliti dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus I dan siklus II diketahui bahwa rata-rata pada siklus I sebesar 79,66 % dan pada siklus II diketahui rata-rata 94,83 % sehingga ada peningkatan sebesar 15,17 %. Dengan demikian dapat diambil suatu kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran koopertaif tipe STAD pada siklus II berjalan dengan baik.

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn Kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang

Siklus I

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh observer pada siklus I, keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran koopertaif tipe STAD pada mata pelajaran PPKn kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang masih kurang. Pada saat proses pembelajaran berlangsung aktivitas mengamati siswa masih kurang. Hal tersebut ditunjukkan bahwa masih ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan pada saat peneliti menyajikan materi. Pada aktivitas berbicara, hanya didominasi oleh siswa yang aktif baik bertanya maupun memberikan pendapat sedangkan siswa yang pasif hanya duduk diam dan mendengarkan. Pada aktivitas berfikir, yang terlihat hanya beberapa siswa berpartisipasi dalam mengerjakan soal diskusi sedangkan yang lain hanya duduk dan melihat anggota kelompoknya mengerjakan. Selian itu, aktivitas menulis hanya beberapa siswa menulis materi yang belum ada di buku LKS sedangkan siswa yang lain hanya duduk dan mendengarkan pada saat peneliti menyajikan materi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh  Nuansa Ayu dan Isroah (2012) aktivitas belajar siswa seperti bertanya, diskusi, menanggapi ataupun berpendapat belum optimal. Aktivitas tersebut masih didominasi oleh beberapa siswa saja. Jadi, keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran koopertaif tipe STAD pada mata pelajaran PPKN masih kurang sehingga diperlukan perbaikan pada siklus II untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus.  

Siklus II

Berdasarkan hasil observasi pada siklus II yang dilakukan oleh observer, keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran koopertaif tipe STAD pada mata pelajaran PPKn kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang mengalami peningkatan. Hal tersebut ditunjukkan dengan aktivitas menulis secara keseluruhan siswa baik sehingga dengan cara tersebut membantu siswa untuk memahami materi yang tidak ada pada buku LKS. Pada aktivitas berbicara, secara keseluruhan siswa aktif dalam bertanya maupun menyampaikan pendapat.

Hal tersebut ditunjukkan ketika dikusi, kelompok yang belum faham mengenai soal yang didiskusikan menanyakan kepada peneliti untuk memperoleh penjelasan dan pada saat peneliti memberikan pertanyaan siswa mampu menjawab pertanyaan meskipun masih ada 2 siswa yang belum aktif dalam kegiatan berbicara. Pada aktivitas berfikir, siswa yang awalnya hanya duduk dan melihat anggotanya mengerjakan soal namun siswa tersebut sekarang ikut serta dalam mengerjakan soal-soal yang didiskusikan. Selain itu, aktivitas mengamati mengalami peningkatan, hal tersebut ditunjukkan ketika peneliti menyajikan materi siswa sangat antusias untuk memperhatikan ke layar LCD. Peneliti menyajikan materi melalui power point dengan cara seperti itu mampu memusatkan perhatian siswa terkait materi yang akan disampaikan. Keaktifan siswa mengalami peningkatan pada siklus II, karena peneliti memberikan motivasi dengan menyampaikan pada siswa bahwa siswa akan memperoleh penghargaan berupa jajan coklat apabila siswa aktif selama proses kegiatan pembelajaran baik bertanya maupun menyampaikan pendapat. Cara tersebut cukup berhasil dilakukan untuk meningkatkan semangat siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran PPKn.

Berdasarkan data temuan penelitian mengenai keaktifan siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus I dan siklus II diketahui bahwa rata-rata pada siklus I sebesar 51 % dan siklus II  62,75 % sehingga ada peningkatan sebesar 11,75 %. Menurut hasil penelitian yang relevan, Haroan Siregar mengemukakan bahwa aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar pada siklus I mencapai 39,67 % dan pada siklus II 46,84 %. Sedangkan menurut hasil penelitian yang relevan, Nuansa Ayu dan Isroah mengemukakan bahwa aktivitas siswa pada siklus I dengan rata-rata sebesar 73,89 % dan pada siklus II dengan rata-rata sebesar 90,77 %. Meningkatnya aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II dikarenakan siswa dibiasakan untuk kerjasama dalam menyelesaikan suatu permasalahan, siswa lebih aktif bergabung dalam belajar kelompok, saling menghargai pendapat masing-masing anggota dengan tujuan mencapai keberhasilan bersama. Hal tersebut sesuai dengan yang dijelaskan oleh Roestiyah (2001 : 17) bahwa diantara kelebihan STAD yaitu siswa dituntut lebih aktif bergabung dalam pelajaran dan lebih aktif dalam diskusi serta siswa dituntut untuk mengembangkan rasa menghargai, menghormati pribadi temannya, dan menghargai pendapat orang lain.  

Meningkatnya antusias siswa dalam kelompok belajar maka mengarah pada aktivitas dan interaksi belajar siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Isjoni (2010 : 74) bahwa model pembelajaran STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Selain itu, pada siklus II aktivitas siswa meningkat dikarenakan siswa lebih aktif dalam bertanya maupun memberikan pendapat serta lebih partisipatif dalam kelompok belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan, penerapan pembelajaran koopertaif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan siswa pada mata pelajaran PPKn kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang.

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn Kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang

Berdasarkan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II diketahui bahwa nilai rata-rata pada siklus I sebesar 78,88 dengan presentase siswa yang tuntas sebesar 61 % (11 siswa) dan pada siklus II nilai rata-rata sebesar 84,16 dengan presentase siswa yang tuntas sebesar 88 % (16 siswa ) sehingga ada peningkatan sebesar 27 %. Menurut hasil penelitian yang relevan, Haroan Siregar mengemukakan bahwa hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata siswa sebesar 71,75 dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 20 siswa (50 %) dan pada siklus II nilai rata-rata siswa sebesar 79,22 dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 32 siswa (80,00 %). Sedangkan menurut hasil penelitian yang relevan, Yania Risdiawati mengemukakan bahwa hasil belajar pada siklus I sebanyak 85 % siswa yang tuntas dan pada siklus II mengalami peningkatan yang baik sebesar  100 % sehingga mengalami peningkatan rata-rata kelas pada siklus I ke siklus II sebesar 12,9 poin dari 85,9 menjadi 98,75.

Penerapan model pembelajaran koopertaif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II pada mata pelajaran PPKn kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang. Peningkatan tersebut dikarenakan siswa merasa terbantu dengan anggota kelompoknya yang lebih faham dalam memahami materi. Hal tersebut membuat siswa lebih terbuka untuk bertanya mengenai materi yang belum dimengerti kepada anggota kelompoknya sehingga membuat siswa faham terkait materi yang dipelajari. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sunal dan Hans (dalam Isjoni, 2010: 15) bahwa pembelajaran kooperatif merupakan sebuah pendekatan atau serangkaian strategi yang dirancang secara khusus untuk memberi dorongan kepada para siswa agar mereka saling bekerja sama selama proses pembelajaran. Dan diperkuat lagi dengan pendapat Kurniasih dan Sani (2016 : 22) bahwa salah satu kelebihan dari STAD yaitu kelompok siswa diajarkan untuk saling mengerti dengan materi yang ada, sehingga siswa saling memberitahu dan mengurangi sifat kompetitif.

Selain itu, adanya fase penghargaan kelompok yang membuat siswa dalam kelompok lebih giat untuk belajar. Penghargaan diberikan kepada kelompok yang memperoleh nilai kemajuan rata-rata tertinggi sehingga membuat siswa dalam kelompok termotivasi untuk memahami materi dengan tujuan untuk memperoleh penghargaan kelompok. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Slavin (dalam Isjoni, 2010 : 33-34) bahwa penghargaan kelompok diperoleh jika  kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli. Dengan demikian dapat disimpulkan, penerapan pembelajaran koopertaif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian informasi pada bagian bahasan, berikut ini disajikan simpulan dan saran yang linier dengan informasi tersebut.