SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERAN GURU PPKn DALAM MENINGKATKAN KEPEDULIAN SISWA TERHADAP BUDAYA LOKAL DI SMA NEGERI 9 MALANG

Prasetyo Aldi Dwi

Abstrak


PERAN GURU PPKn DALAM MENINGKATKAN KEPEDULIAN SISWA TERHADAP BUDAYA LOKAL DI SMA NEGERI 9 MALANG

Dwi Aldi Prasetyo

Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan

Progam Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang

Jl. Semarang No.5 Malang

Email: dwialdiprasetyo@gmail.com 

Abstrak: Peran Indonesia memiliki kemajemukan kebudayaan yang beragam. Kebudayaan tersebut ditandai dengan etnik, suku, ras, bahasa, kesenian, agama dan kepercayaan, cara berpakaian, pola hidup suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya, dan lain-lain. Keberagaman tersebut merupakan suatu ciri khas yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, keberagaman tersebut perlu untuk dilestarikan. Salah satu cara untuk melestarikannya adalah melalui pendidikan dan pembelajaran di Sekolah guna meningkatkan kepedulian siswa terhadap kebudayaan tersebut.

Tujuan penelitian untuk mengetahui

(1) Mengetahui peran guru PPKn dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap budaya lokal SMAN 9 Malang

(2) Mengetahui  hambatan guru PPKn dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap budaya lokal SMAN 9 Malang

(3) Mengetahui dalam kepedulian siswa terhadap budaya lokal SMAN 9 Malang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sedangkan jenis penelitiannya deskriptif. Sumber data peneliti yaitu informan, peristiwa, dokumentasi. Informan tersebut yaitu ibu Bella (guru PPKn), bapak Rudy (guru seni), Aryo, Nina (siswa), Teguh (kepala sekolah). Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan  wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, serta diakhiri dengan memberikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan dan menggunakan teknik trianggulasi.

Temuan penelitian ini adalah:

(1) Peran Guru PPKn dalam Meningkatkan Kepedulian Siswa terhadap Budaya Lokal SMAN 9 Malang:

(a) guru PPKn sebagai teladan; (

(b) guru PPKn sebagai pengelola kelas;

(c) menjelaskan pentingnya budaya kepada siswa.

(2) Hambatan Guru PPKn dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap budaya lokal di SMAN 9 Malang:

(a) hambatan dari guru;

(b) hambatan dari peserta didik.

(3) Kepedulian siswa SMAN 9 Malang terhadap budaya lokal:

(a) minat siswa terhadap budaya lokal;

(b) bersemangat dalam mengikuti kegiatan budaya lokal;

(c) mengikuti kegiatan budaya lokal;

(d) sopan santun jawa.

Berdasarkan penelitian, disarankan:

(1) Kepada generasi muda sebagai penerus bangsa diharapkan:

(a) Agar dapat ikut serta dalam melestarikan kebudayaan lokal. Karena hal ini merupakan akar dari lahirnya budaya Nasional sebagai kekayaan dari Bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya;

(b) Selalu menjaga keasrian lingkungan alam dan kebudayaan lokal. Marilah kita selalu melestarikan kebudayaan dan kita wariskan kebudayaan ini hingga ke anak cucu kita, apalagi mengingat Negara Indonesia adalah Negara yang sangat luas yang terdiri dari beberapa pulau yang besar dan ribuan pulau yang kecil dengan penduduk yang beraneka ragam mulai dari suku, ras, agama dan lain sebagainya.

(2) Kepada SMA Negeri 9 Malang:

(a) Meningkatkan pembelajaran dengan menggunakan kebudayaan lokal sebagai media pembelajaran, sebagai salah satu proses pelestarian kebudayaan lokal;

(b) Selalu memberikan arahan, pemahaman, dan pembinaan kepada seluruh siswa dan siswi SMA Negeri 9 Malang agar selalu menjaga sumber daya alam yang ada disekitar kita.

(3) Kepada guru/ pendidik berkaitan dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di persekolahan, diharapkan:

(a) Ikut berpartisipasi dalam pelestarian budaya yang ada yang sesuai dengan kearifan budaya lokal;

(b) Dengan adanya berbagai tradisi yang ada di SMAN 9 Malang, dijadikan sebagai bahan untuk etnopedagogig. Sehingga pengetahuan siswa yang akan selalu bertambah dan tidak akan mengalami kejenuhan untuk melakukan pembelajaran diluar kelas saja, namun dapat melihat, memahami, dan menganalisis berbagai kejadian yang ada di wilayah kita. Sehingga siswa bisa memberikan pengamatan dan hasil yang diharapkan.

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki kemajemukan kebudayaan yang beragam. Kebudayaan tersebut ditandai dengan etnik, suku, ras, bahasa, kesenian, agama dan kepercayaan, cara berpakaian, pola hidup suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya, dan lain-lain. Keberagaman tersebut merupakan suatu ciri khas yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, keberagaman tersebut perlu untuk dilestarikan. Salah satu cara untuk melestarikannya adalah melalui pendidikan dan pembelajaran di Sekolah guna meningkatkan kepedulian siswa terhadap kebudayaan tersebut.

Pendidikan merupakan hal penting yang harus dikembangkan dalam meningkatkan kualitas individu. Peningkatan kualitas individu tersebut dapat dilakukan mulai dari sekolah dasar, hingga ke perguruan tinggi. Sementara itu, pembelajaran merupakan sebuah esensi dari pendidikan, yang mana pembelajaran terjadi karena adanya interaksi antara guru dengan siswanya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan kunci keberhasilan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan dikatakan berhasil apabila diperoleh siswa yang berkualitas. Acuan dari pembelajaran yang berkualitas adalah mengintregasikan komponen-komponen pembelajaran secara utuh dan terpadu, antara materi pembelajaran, model pembelajaran, media pembelajaran, sumber pembelajaran dan evaluasi.

Materi pembelajaran merupakan salah satu komponen dalam proses pembelajaran. Materi pembelajaran berisi tentang ide, gagasan dan pokok-pokok sebuah konsep untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru dituntut untuk mampu memahami dan menguasai materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Hal ini dikarenakan hanya guru yang menguasai materi pembelajaran dengan baik, berkualitas, dan berwawasan luas, yang dapat membangun kemampuan berpikir siswa.

Seorang guru dalam mentransfer ilmunya, semestinya berupaya untuk memperhatikan latar belakang budaya yang dimiliki oleh setiap siswanya. Akan tetapi, pada kenyataannya seorang guru hanya mentransfer ilmu tanpa memperhatikan setiap detail dari karakteristik dasar siswa tersebut. Suatu kekeliruan terjadi saat guru tidak memperkenalkan budaya dan mempertimbangkan latar belakang budaya yang dimiliki oleh setiap siswa dalam mengenal proses pembelajaran. Hal tersebut justru dapat membentuk budaya kekerasan yang dikalangan siswa. Akibatnya, siswa akan menjadik individu yang kehilangan jati dirinya karena seolah-olah telah kehilangan akar budayanya sendiri. Contoh lainnya adalah pada penggunaan bahasa Jawa. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa semakin banyak penggunaan bahasa jawa,  maka semakin kuat unsur budaya yang dimiliki siswa. Hal ini dikarenakan sebuah bahasa adalah cerminan dari aktivitas kebudayaan serta jati diri sebuah budaya. Apabila tidak ada lagi penggunaan bahasa Jawa di Tanah Jawa, maka dapat dikatakan bahwa kebudayaan Jawa telah mati karena tidak adanya bahasa yang merupakan wujud representasi aktivitas kebudayaan.

Globalisasi merupakan suatu komunikasi antar individu dengan individu, kelompok dengan kelompok yang melintasi batas negara. Dampak dari globalisasi telah banyak dirasakan, baik dampak positif ataupun dampak negatif. Dampak positif globalisasi yaitu adanya proses modernisasi, di mana masyarakat yang awalnya irrasional menjadi rasional. Selain itu, perkembangan pengetahuan dan teknologi telah mendorong manusia untuk menjadi lebih mudah dalam beraktivitas. Di sisi lain, globalisasi mempunyai dampak negatif yang menjadi masalah tersendiri bagi bangsa ini.

Pendidikan merupakan aspek yang erat dan menyatu dengan kebudayaan yang menjadi identitas bangsa. Identitas bangsa tersebut ditunjang oleh identitas individu berupa jati diri bangsa. Dengan adanya globalisasi, dikhawatirkan budaya bangsa, khususnya budaya lokal akan terkikis. Budaya asing yang masuk sedikit demi sedikit akan mengikis eksistensi budaya lokal yang sarat makna. Globalisasi disebut-sebut sebagai faktor utama yang berpengaruh besar terhadap kehidupan budaya masyarakat. Akan tetapi, masyarakat mulai meninggalkan kebudayaan lokal yang dipakainya dan mulai menggunakan kebudayaan nasional, bahkan mulai membiasakan diri menggunakan kebudayaan asing dalam kehidupan sehari-hari. Kebudayaan lokal dinilai sudah ketinggalan jaman dan dianggap “kampungan”. Padahal, kebudayaan lokal menunjukkan identitas masyarakat yang utama. Dengan berdasar pada cerminan remaja yang terancam terserabut dari akar budayanya sendiri tersebut, maka pembelajaran yang mendekatkan siswa pada karakteristik kebudayaan sendiri diharapkan mampu menangkal degradasi moral remaja.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam bentuk karya tulis dengan judul : “PERAN GURU PPKn DALAM MENINGKATKAN KEPEDULIAN SISWA TERHADAP BUDAYA LOKAL DI SMA NEGERI 9 MALANG”.

A.Kajian Teori

1.Peran Guru PPKn

A.Peran Guru

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya (Danim, 2011:5). Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa peranan guru sangat penting dalam dunia pendidikan karena selain berperan mentransfer ilmu pengetahuan ke peserta didik, guru juga dituntut memberikan pendidikan karakter dan menjadi contoh karakter yang baik bagi anak didiknya. Dari beberapa kutipan di atas, maka  penulis menyimpulkan bahwa guru adalah sebagai agen pembaharuan di mana guru dapat menjadi panutan bagi peserta didik dan lingkungan sekitarnya di manapun berada, guru juga dapat mengajarkan banyak hal kepada peserta didik dari tidak tahu menjadi tahu sehingga berguna bagi bangsa dan Negara.

B.Teladan

Keteladanan hendaknya diartikan dalam arti luas, yaitu menghargai ucapan, sikap dan perilaku yang melekat pada pendidik (Aqib, 2011:86). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian keteladanan berasal dari kata “teladan” yang artinya hal yang dapat ditiru atau dicontoh. Sedangkan menurut Ishlahunnissa (2010:42) pengertian keteladanan berarti penanaman akhlak, adab, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang seharusnya diajarkan dan dibiasakan dengan memberikan contoh nyata. Keteladanan dalam pendidikan adalah pendekatan atau metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk serta mengembangkan potensi peserta didik.

C.Pengelola Kelas

Sudirman (dalam Djamarah 2013:178) Pengelola kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar siswa yang berlangsung pada lingkungan sosial, emosional, dan intelektual anak dalam kelas menjadi sebuah lingkungan belajar yang membelajarkan”. Fasilitas disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, tercapainya suasana kelas yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, nyaman dan penuh semangat sehingga terjadi perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.

D.Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn)

PPKn adalah Pendidikan Kewargaan Negara Soemantri (dalam Ruminiati, 2007:125) menyatakan Pendidikan Kewargaan Negara merupakan mata pelajaran sosial yang bertujuan untuk membentuk atau membina warga negara yang baik, yaitu warganegara yang tahu, mau dan mampu berbuat baik. Warga negara yang baik adalah warga negara yang mengetahui dan menyadari serta melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Sedangkan PPKn menurut Winataputra (dalam Ruminiati, 2007:125) adalah Pendidikan Kewarganegaraan, yaitu pendidikan yang menyangkut status formal warga negara yang pada awalnya diatur Undang-Undang Nomor. 2 tahun. 1958. Undang-undang ini berisi tentang diri kewarganegaraan, peraturan tentang naturalisasi atau pemerolehan status sebagai warga negara Indonesia.

2.Kepedulian siswa terhadap Budaya Lokal

A.Kepedulian

Kata peduli memiliki makna yang beragam. Banyak literatur yang menggolongkannya berdasarkan orang yang peduli, orang yang dipedulikan dan sebagainya. Oleh karena itu kepedulian menyangkut tugas, peran, dan hubungan. Kata peduli juga berhubungan dengan pribadi, emosi dan kebutuhan (Phillips dalam Sihombing, 2015:24). Menurut Bender (dalam Sihombing, 2015:24-25) kepedulian adalah menjadikan diri kita terkait dengan orang lain dan apapun yang terjadi terhadap orang tersebut. Orang yang mengutamakan kebutuhan dan perasaan orang lain daripada kepentingannya sendiri adalah orang yang peduli. Orang yang peduli tidak akan menyakiti perasaan orang lain. Mereka selalu berusaha untuk menghargai, berbuat baik, dan membuat yang lain senang. Banyak nilai yang merupakan bagian dari kepedulian, seperti kebaikan, dermawan, perhatian, membantu, dan rasa kasihan. Kepedulian juga bukan merupakan hal yang dilakukan karena mengharapkan sesuatu sebagai imbalan.

B.Budaya Lokal

Ranjanbar (2006:150) mengemukakan bahwa “budaya lokal dapat dilihat dari sifat majemuk masyarakat Indonesia, maka harus diterima bahwa adanya tiga golongan kebudayaan yang masing – masing mempunyai coraknya sendiri”. Judistira (2008:141) mengemukakan pula bahwa kebudayaan lokal adalah melengkapi kebudayaan regional, dan kebudayaan regional adalah bagian-bagian yang hakiki dalam bentukan kebudayaan nasional. Disamping itu, Judistira berpendapat juga bahwa Budaya lokal adalah nilai-nilai lokal hasil budidaya masyarakat suatu daerah yang terbentuk secara alami dan diperoleh melalui proses belajar dari waktu-waktu. Budaya lokal tersebut bisa berupa hasil seni, tradisi, pola pikir, atau hukum adat.

Selain itu, Soekamto (2006:76) mengemukakan bahwa kebudayaan adalah komplek yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Penulis juga dapat mengemukakan bahwa kebudayaan lokal merupakan suatu kebudayaan yang berada di dalam daerah, yang mempunyai suatu ciri khas tertentu, yang layak untuk dilestarikan dan dilindungi. Kebudayaan lokal pun merupakan suatu kebiasaan yang sering dilakukan secara berulang-ulang oleh masyarakat, selain itu kebudayaan merupakan suatu tempat dalam membudidayakan ciri khas dari suatu objek di tengah-tengah masyarakat umum.

C.Sopan santun

Menurut pendapat Zuriah (2007:84) dalam Wahyudi dan I made Arsana (2014:295) sopan santun adalah sikap dan perilaku yang tertib sesuai dengan adat istiadat atau norma–norma yang berlaku didalam masyarakat. Norma sopan santun merupakan suatu peraturan hidup yang timbul dari pergaulan sekelompok orang. Norma kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda – beda di berbagai tempat, lingkungan, dan waktu.

Berikut beberapa contoh-contoh dari norma kesopanan atau yang sering disebut dengan indikator karakter sopan santun menurut Wahyudi dan I made Arsana (2014:295), diantaranya yaitu: (a) Menghormati orang yang lebih tua; (b) Menerima segala sesuatu selalu dengan menggunakan tangan kanan; (c) Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan sombong; (d) Tidak meludah disembarang tempat; (e) Memberi salam setiap berjumpa dengan guru; (f) Menghargai pendapat orang lain.

D.Globalisasi

Menurut pendapat Ahmed dan Doman (Azizy, 2004:19) bahwa globalisasi pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat di dalam teknologi komunikasi, transfortasi, yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh (menjadi hal-hal) yang bisa dijangkau dengan mudah. Istilah yang saat ini dikenal yaitu electronic proximity, artinya kedekatan elektronik, dimana jarak tidak lagi menjadi hambatan yang berarti untuk menjalin komuniasi antarwarga di belahan penjuru dunia ini.

3.Kepedulian siswa terhadap budaya lokal

a.Definisi Siswa

Pengertian siswa/murid/peserta didik. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian murid berarti anak (orang yang sedang berguru/belajar, bersekolah). Sedangkan menurut Sinolungan (Riska, 2013:30) peserta didik dalam arti luas adalah setiap orang yang terkait dengan proses pendidikan sepanjang hayat, sedangkan dalam arti sempit adalah setiap siswa yang belajar di sekolah.

Menurut Hamalik (2001:45) siswa atau murid adalah salah satu komponen dalam pengajaran, disamping faktor guru, tujuan dan metode pengajaran. Sebagai salah satu komponen maka dapat dikatakan bahwa murid adalah komponen yang terpenting diantara komponen lainnya.

b.Minat Siswa

Minat merupakan salah satu faktor internal yang memengaruhi hasil belajar. Melalui minat yang timbul maka akan mengakibatkan seseorang memilikirasa tertarik dan suka pada hal tersebut. Pengertian minat menurut Slameto (2013:180) adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atauaktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Orang yang memiliki minat terhadap subyektertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subyek tersebut.

c.Semangat Siswa

Menurut pendapat Sastrohadiwiryo (2003:282) mengatakan semangat dapat diartikan sebagai suatu kondisi mental, atau perilaku individu dan kelompok-kelompok yang menimbulkan kesenangan yang mendalam pada diri sendiri untuk bekerja dengan giat dan konsekuen dalam mencapai tujuan.

Sedangkan menurut Tohardi (2002:429) semangat adalah melakukan pekerjaan secara lebih giat, sehingga dengan demikian pekerjaan akan dapat diharapkan lebih cepat dan lebih baik.

d.Kegiatan extrakulikuler

Menurut Novan Ardy Wiyani (2013:108) kegiatan ekstrakurikuler diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang di lakukan diluar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilakukan di dalam maupun luar lingkungan sekolah untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan menginternalisasi nilai-nilai, aturan agama dan norma-norma sosial.

Selanjutnya Abdul Rachmad (dalam Jati, 2015:20) kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan di luar jam pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pengetahuan, pengembangan, bimbingan dan pembiasaan siswa agar memiliki pengetahuan dasar penunjang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sedangkan jenis penelitiannya deskriptif. Sumber data peneliti yaitu informan, peristiwa, dokumentasi. Informan tersebut yaitu ibu Bella (guru PPKn), bapak Rudy (guru seni), Aryo, Nina (siswa), Teguh (kepala sekolah). Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan  wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, serta diakhiri dengan memberikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan dan menggunakan teknik trianggulasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.Peran Guru PPKn dalam Meningkatkan Kepedulian Siswa terhadap Budaya Lokal SMAN 9 Malang

a.Guru PPKn sebagai Teladan

Guru PPKn memberi contoh ke siswa pada waktu berbicara di dalam kelas, seperti harus bertutur kata dengan baik karena kita juga hidup dijawa jadi lebih di utamakan sopan santunnya, ini juga termasuk budaya agar siswa lebih tahu tentang budaya sopan santun jawa dan agar siswa bisa menjadi orang yg lebih baik dalam lingkungan sekolah maupun dilingkungan masyarakat. Setiap masuk jam pelajaran PPKn guru juga menyuruh siswa untuk menyanyikan lagu pahlawan dan lagu daerah guna siswa mengingat perjuangan pejuang bangsa Indonesia dan tidak melupakan lagu daerah yg ada di Indonesia.

b.Guru PPKn  sebagai Pengelola Kelas

Di dalam kelas guru mengelola kelas dengan baik seperti memberikan contoh kepada siswa tentang sopan santun jawa agar siswa mengerti tentang kesopanan yang ada di jawa dan siswa bisa menghargai guru, orang tua dan di lingkungan masyarakat. Sebaliknya, kelas yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi tidak baik. Apabila kelas tidak dikelola dengan baik dan tidak diberikan pengarahan tentang sopan santun akan menimbulkan ke tidak sopanan pada siswa, jadi sangat penting pengelolaan kelas agar peserta didik lebih sopan pada guru, orang tua dan di lingkungan masyarakat.

c.Menjelaskan pentingnya Budaya Kepada Siswa

Guru PPKn harus menjelaskan arti pentingnya budaya kepada siswa agar siswa mengerti pentingnya budaya, karena dengan menjelaskan budaya siswa dapat mengetahui lebih luas tentang budaya lokal dan siswa dapat melestarikan budaya lokal yang ada di Indonesia. Sedangkan dipelajaran PPKn ada hubungannya tentang cinta tanah air dan wujud cinta tanah air, disinilah guru menjelaskan pentingnya melestarikan budaya lokal karena melestarikan budaya lokal termasuk wujud cinta tanah air dan yang melestarikan adalah siswa atau generasi muda, selain itu guru memperkenalkan budaya lokal yg ada di sekolah seperti karawitan, seni tari tradisional agar siswa banyak yang minat mengikuti kegiatan yang berbudaya biar dengan seiring berjalan waktu budaya tidak akan luntur dan siswa bisa melestarikan budaya lokal yang ada di Indonesia.

2.Hambatan Guru PPKn dalam Meningkatkan Kepedulian Siswa terhadap Budaya Lokal di SMAN 9 Malang

Dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap budaya tidak selalu berjalan mulus. Selalu ada siswa yang tidak peduli terhadap budaya. Adapun kendala-kendala yang menghambat pelaksanaan dalam meningkatkan kepedulian siswa yaitu : (a) Hambatan dari guru, (b) Hambatan dari peserta didik.

a.Hambatan dari Guru

Guru hanya bisa membimbing siswa dalam lingkungan sekolah saja dan selebihnya itu orang tua. Sedangkan yang di takutkan guru, diluar sekolah siswa lebih mudah terpengaruh budaya asing di karenakan siswa disaat diluar sekolah  siswa lebih sering memainkan hp dan melihat internet, dia lebih tahu budaya asing itu seperti apa dan rata-rata siswa atau anak muda jaman sekarang lebih suka terhadap budaya asing, contohnya seperti K-pop, drama korea dan band-band luar negeri karena siswa menganggapnya lebih modern dan lebih gaul, bila rata-rata siswa menyukai terhadap budaya asing yg di takutkan peminat budaya lokal semakin berkurang dikarenakan lebih memilih budaya asing.

b.Hambatan dari Peserta Didik

Guru PPKn menjelaskan pentingnya melestarikan budaya di setiap jam pelajaran PPKn tetapi setelah di terangkan tidak semua siswa mempedulikan hal seperti itu seperti contoh: pernah tidak sengaja guru melihat siswa di saat jam istirahat melihat siswa menonton video tarian korea seperti K-pop dan drama korea, hal seperti itu siswa sudah mulai terpengaruh dengan budaya asing. Dari hal ini siswa masih sulit untuk menyukai budaya sendiri dikarenakan faktor globalisasi atau penggunaan internet menjadi siswa lebih tahu dengan budaya asing selain itu siswa menganggap bahwa budaya asing lebih menarik dan lebih modern.

3.Kepedulian Siswa SMAN 9 Malang terhadap Budaya Lokal

Dalam kepedulian siswa adapun macam-macam pelaksanaan dalam meningkatkan kepedulian siswa yaitu :

(a) Minat siswa terhadap budaya lokal,

(b) Bersemangat dalam mengikuti kegiatan budaya lokal,

(c) Mengikuti kegiatan budaya lokal,

(d) Sopan santun jawa.

a.Minat Siswa terhadap Budaya Lokal

Minat siswa terhadap budaya lokal masih ada di sekolah ini seperti contohnya siswa disekolah ini juga lumayan banyak yang ikut dengan extrakulikuler karawitan, seni tari budaya dan bila di bandingkan extrakulikuler modern pasti lebih banyak yang mengikuti kegiatan budaya yang modern ini, tetapi di sisi lain termasuk lumayan baik untuk kepedulian siswa terhadap budaya lokal di sekolah ini karena siswa juga masih lumayan banyak yg peduli terhadap budaya lokal seperti mengikuti kegiatan extrakulikuler karawitan dan seni tari tradisional.

b. Bersemangat dalam Mengikuti Kegiatan Budaya Lokal

Siswa SMAN 9 Malang terhadap kepedulian budaya lokal juga masih ada karena siswa di sekolah ini masih ada yang mau mengikuti kegiatan extrakulikuler karawitan, seni tari tradisional dan siswa yang mengikuti kegiatan seni tari tradisional tidak mau kalah dengan modern dance dan dia berlomba-lomba berpenampilan yang baik saat mengikuti lomba antar tari di sekolahan. Menurut saya beberapa siswa disini juga masih ada yang mempedulikan budaya lokal dan siswa mempunyai semangat sangat tinggi untuk mengikuti kegiatan berbudaya lokal ini.

c.Mengikuti Kegiatan Budaya Lokal

Siswa di SMAN 9 Malang yang mengikuti extrakulikuler budaya tradisional juga cukup lumayan seperti yang mengikuti extrakulikuler seni tari tradisional ada 22 peserta didik dan karawitan ada 14 peserta didik,  bila di bandingkan dengan kegiatan extrakulikuler modern pasti lebih banyak yang mengikuti kegiatan modern seperti dance ada 29 peserta didik. Walaupun siswa lebih banyak memilih budaya modern tetapi ada juga yang masih suka terhadap extrakulikuler budaya tradisional dan juga ada yang masih peduli terhadap budaya tradisional. Kegiatan extrakulikuler tradisional ini juga saling berlomba berpenampilan yang baik waktu di acara pensi dan lomba, guna siswa lainnya tertarik didalam bidang budaya tradisional ini agar siswa semakin banyak yang mengikuti atau meneruskan kegiatan berbudaya tradisional ini.

d.Sopan Santun Jawa

Sikap siswa SMAN 9 Malang terhadap guru sudah cukup baik menurut saya karena rata-rata siswa disini kalau bertemu dengan guru selalu menyapa dengan bahasa Indonesia biasanya juga pake bahasa Jawa dan selama ini guru di SMAN 9 Malang tidak pernah mengalami seperti tindakan atau perlakuan negative terhadap siswa, selain itu siswa disini rata-rata juga sudah mengenal unggah-ungguh jawa menjadi siswa lebih sopan ke orang yang lebih tua seperti guru dan orangtua.

SARAN

 Berdasarkan paparan data, penemuan penelitian, pembahasan dan kesimpulan diatas, maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut:

1.Kepada generasi muda sebagai penerus bangsa diharapkan:

a.Agar dapat ikut serta dalam melestarikan kebudayaan lokal. Karena hal ini merupakan akar dari lahirnya budaya Nasional sebagai kekayaan dari Bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya. Namun bukan berarti kita tidak boleh mengenal kebudayaan luar. Ketika kita ikut dalam arus modernisasi, harus bisa menyaring mana yang sesuai/member efek negatif dan mana yang tidak.

b.Selalu menjaga keasrian lingkungan alam dan kebudayaan lokal. Marilah kita selalu melestarikan kebudayaan dan kita wariskan kebudayaan ini hingga ke anak cucu kita, apalagi mengingat Negara Indonesia adalah Negara yang sangat luas yang terdiri dari beberapa pulau yang besar dan ribuan pulau yang kecil dengan penduduk yang beraneka ragam mulai dari suku, ras, agama dan lain sebagainya. Semua itu secara tidak langsung telah memperkaya bangsa kita ini akan kebudayaan yang mungkin selama ini mulai pudar terkikis dan tertutupi oleh kebudayaan-kebudayaan asing yang selama ini kita anggap lebih maju dan lebih tren, sekali lagi penulis mengajak marilah kita lestarikan dan kita tanamkan sendi-sendi kebudayaan di dalam diri kita sehingga kita masih tetap bisa dibedakan dengan hewan atau binatang secara fundamental.

2.Kepada SMA Negeri 9 Malang

a.Meningkatkan pembelajaran dengan menggunakan kebudayaan lokal sebagai media pembelajaran, sebagai salah satu proses pelestarian kebudayaan lokal.

b.Selalu memberikan arahan, pemahaman, dan pembinaan kepada seluruh siswa dan siswi SMA Negeri 9 Malang agar selalu menjaga sumber daya alam yang ada disekitar kita.

3.Kepada guru/ pendidik berkaitan dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di persekolahan, diharapkan:

a.Ikut berpartisipasi dalam pelestarian budaya yang ada yang sesuai dengan kearifan budaya lokal.

b.Dengan adanya berbagai tradisi yang ada di SMAN 9 Malang, dijadikan sebagai bahan untuk etnopedagogig. Sehingga pengetahuan siswa yang akan selalu bertambah dan tidak akan mengalami kejenuhan untuk melakukan pembelajaran diluar kelas saja, namun dapat melihat, memahami, dan menganalisis berbagai kejadian yang ada di wilayah kita. Sehingga siswa bisa memberikan pengamatan dan hasil yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Azizy, 2004. Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam (Persiapan Sdm Dan Terciptanya Masyarakat Madani). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, S.B dan Aswan, Z, 2013. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Endraswara, S. 2006. Ngeng: Karawitan Jawa. Bantul: Cluntang Press.

Gama, J.K. 2008. Budaya Jawa: Melintasi Waktu Menantang Masa Depan. Bandung: Lemlit Unpad.

Hidayat, R. 2008. Wawasan Seni Tari “Pengetahuan Praktis Bagi Guru Seni Tari. Malang: Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang bekerjasama dengan Unit Pengembangan Profesi Tari.

Moleong, L.J. 2016. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasution, S. 2006. Metode Reasearch (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara.

Pawito. 2008. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara.

Zainal, A. 2012. Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosda.