SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI PANCASILA

Tyas Mutiara Wahyuni

Abstrak


PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI PANCASILA

Tyas Mutiara Wahyuni Universitas Negeri Malang

Email: tyasmutiaraw01@gmail.com

 

Abstrak

Pada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis penanganan masalah degradasi Pancasila di dalam masyarakat. Solusi tersebut adalah pendidikan karakter. Pendidikan  karakter ini merupakan sebuah solusi yang dapat diaplikasikan ke masyarakat dengan cara sosialisasi. Hasil akhir dari pendidikan karakter ini adalah pola pikir serta moral masyarakat menjadi lebih baik yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Kata Kunci: degradasi Pancasila, pendidikan karakter, masyarakat.

Saat ini baik masyarakat maupun para pelajar banyak yang melakukan tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila. Hal ini terjadi karena kurangnya memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Degradasi Pancasila merupakan proses kemorosotan pemahaman masyarakat umum terhadap Pancasila sehingga memicu terjadinya konflik seperti kekerasan, munculnya kelompok garis keras dan prostitusi. Aksi kekerasan terlihat seperti sesuatu yang lazim terjadi di masyarakat. Integrasi bangsa bergerak menuju arah negatif yang melahirkan keretakan dan ketegangan dalam hubungan antar komunitas, personal atau kelompok. Contohnya seperti tawuran antar pelajar, membakar mobil milik caleg, merusak properti umum, dll. Sehingga dengan timbulnya konflik seperti itulah yang bisa menimbulkan ketegangan sosial di masyarakat maupun pelajar. Kekerasan atau anarkisme memang cukup menggelisahkan masyarakat. Keragaman bangsa yang niscaya menjadi potensi konflik yang sangat besar. Masyarakat mulai kehilangan nilai-nilai pancasila yang menekankan multikulturalitas, kebhinnekaan dan nilai keadilan. Pancasila hanya menjadi hafalan masyarakat tanpa aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, munculnya kelompok garis keras sepeti ISIS yang kemudian bermunculan banyaknya kelompok/aliran garis keras di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan tujuan kelompok garis keras yaitu terjadi kerusuhan dengan menggunakan agama sebagai kedok. Kelompok ini membajak kepentingan-kepentingan agama agar bisa meraih kekuasaan. Justru, perilaku mereka yang mencoreng nilai-nilai agama menjadi buruk di mata masyarakat, apalagi mereka menggunakan cara-cara kekerasan.

Prostitusi di Indonesia juga menjadi penyebab degradasi moral. Prostitusi di zaman sekarang ini tidak hanya sebagai suatu transaksi perdagangan melainkan prostitusi di perpolitikan Indonesia. Yang dimaksud dengan prostitusi perpolitikan adalah praktik jual beli jabatan dan otoritas. Masalah prostitusi yang seringkali terjadi di negara ini harus ditindak lanjuti oleh pihak berwajib dikarenakan prostitusi seksual sendiri mempunyai banyak dampak negatif, diantara lainnya adalah tersebarnya penyakit menular seperti HIV dan AIDS, rendahnya martabat pihak bersangkutan, dan degradasi moral. Namun, praktik prostitusi politik seperti korupsi dan suap-menyuap mempunyai dampak negatif dalam cakupan yang lebih besar. Banyak kasus pejabat negara berompi oranye yang membuktikan bahwa praktik kotor tersebut merugikan tidak hanya beberapa oknum, namun merugikan negara secara keseluruhan. Terlebih lagi, politik menjadi isu yang sangat sensitif untuk dibicarakan, seakan-akan masyarakat acuh oleh apa yang terjadi dalam birokrasi Indonesia sebenarnya.

Kompas (4 Januari 2013) melansir informasi bahwa sepanjang 2012 setidaknya ada 104 peristiwa konflik sosial, bentrokan antarwarga merupakan pemicu konflik yang paling besar mencapai 33,6 persen. Hal ini di ungkapkan oleh  Kasubdit Penanganan Konflik Sosial, Ditjen Kesbangpol, Kementerian Dalam Negeri Tri Jaladara. Dari informasi tersebut dapat dilihat bahwa degradasi Pancasila dalam masyarakat semakin banyak. Sebab masyarakat sendiri banyak yang bergerak menuju gerakan separatis dan mereka menganggap Pancasila hanya sebagai hafalan saja tapi tidak diaplikasikan secara nyata.

Permasalahan ini jika tidak ditanggapi dengan serius maka dampaknya akan memperburuk moral bangsa Indonesia. Karena ideologi bangsa Indonesia sendiri adalah Pancasila. Ir. Soekarno mengatakan bahwa Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia secara turun-temurun yang sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan Barat, yakni Pancasila itu falsafah bangsa Indonesia. Pancasila menjadi landasan fundamental dalam kehidupan berbangsa. Pancasila juga sebagai alat pemersatu dalam hidup kerukunan bangsa, serta sebagai pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-hari. Dengan demikian, Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia.

Falsafah adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang bersifat menyeluruh. Falsafah Pancasila dalam arti bersifat religius dan falsafah Pancasila dalam arti praktis. Pancasila bersifat religius artinya filsafat Pancasila mengenal adanya kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mengakui keterbatasan kemampuan manusia. Sedangkan falsafah Pancasila dalam arti praktis, digunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari agar hidupnya dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik dunia maupun akhirat.

(1) falsafah Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, digunakan sebagai pegangan, pedoman atau petunjuk oleh bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila juga digunakan sebagai pedoman dalam memecahkan masalah di dalam negeri seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Tanpa memiliki pandangan hidup maka bangsa Indonesia akan terombang-ambing dalam menghadapi persoalan yang pasti akan timbul, baik persoalan di dalam masyarakat sendiri, maupun persoalan dari bangsa-bangsa di dunia.

(2) falsafah Pancasila sebagai dasar negara RI, Pancasila sebagai dasar negara harus kokoh dan kuat agar Indonesia tetap berdiri tegak dan juga harus tahan uji terhadap serangan-serangan baik secara internal maupun eksternal. Oleh karena itu, seluruh peraturan perundang-undangan RI harus sejiwa dan sejawa dengan Pancasila. Dan telah ditegaskan bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum yang ada di negara RI.

(3) falsafah Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, Pancasila memberikan corak yang khas kepada bangsa Indonesia dan tidak dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia, serta merupakan ciri khas yang dapat membedakan bangsa Indonesia dari bangsa yang lain. Walaupun bangsa Indonesia sejak dahulu bergaul dengan peradaban kebudayaan lain dan saat ini dipengaruhi unsur-unsur asing, namun kepribadian Indonesia tetap hidup dalam kepribadiannya sendiri.

Maka berdasarkan urgensi pembahasan, diperlukan alternatif solusi yang efektif untuk meminimalisasi degradasi Pancasila. Beberapa solusi yang relevan antara lain:

(1) diadakan reorientasi kepada masyarakat,

(2) pemulihan kondisi keamanan dan ketertiban serta menindak tegas para pelaku gerakan separatisme,

(3) saling menghormati, bermusyawarah serta melakukan rembug desa sebagai perekat bangsa.

(4) keluhuran nilai pancasila yang mampu menyatukan keragaman etnik dan budaya masyarakat yang heterogen.

(5) penyebaran informasi yang berlebihan serta membesar-besarkan isu terkait prostitusi, alangkah lebih baik jika media massa memberikan informasi yang lebih mendidik. Dari beberapa solusi tersebut, pendidikan karakter menjadi solusi yang diprediksikan paling efektif. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang bertujuan untuk membangun sebuah karakter seseorang untuk menjadi lebih baik dan pendidikan ini penting bagi setiap orang, yang dimana karakter tersebut lah yang akan mendominasi sifat atau identitas dari orang tersebut. Pendidikan karakter ada dua macam yaitu, pendidikan karakter internal dan pendidikan eksternal.

Pendidikan karakter secara internal, didapatkan dari peran keluarga dalam mambentuk kepribadian atau karakter itu sendiri seperti peran ayah dalam keluarga, ibu, abang, dan lain sebagainya yang bisa menjadi contoh yang baik bagi karakter seseorang. Pendidikan karakter ini menjadi sangat penting karena sekitar 70% sifat dari keluarga akan manjadi contoh bagi sifat karakter orang  dalam keluarga tersebut. Orang tua merupakan tameng dari pendidikan karakter tersebut, karena peran orang tua dalam mendidik anak sangat besar jika orang tuanya adalah bersifat religius maka besar kemungkinan karakter tersebut akan diturunkan kepada anaknya. Tentu orang tua akan mengajarkan hal yang identik dengan sifat dari kedua orang tuanya. Berbeda pula jika orang tuanya yang cerai maka akan berdampak pada karakter anak ataupun orang dalam keluarga tersebut, hal ini akan sangat berdampak negatif bagi karakter setiap orang dalam keluarga itu dan harus segera dihindari, jika kurang mendapatkan pendidikan karakter internal maka karakter eksternal yang harus di integritaskan.

Pendidikan karakter ekternal, bisa didapatkan dibanyak tempat seperti pendidikan karakter disekolah, tempat bermain, tempat belajar bimbingan, atau bergaul bersama teman yang baik mengikuti organisasi dilingkungan sekolah dan masyarakat dan lain sebagainya. Pendidikan karakter eksternal juga penting didapatkan oleh setiap orang, karena jika mereka tidak mendapatkan pendidikan karakter secara internal maka pendidikan eksternal ini lah yang akan menjadi wadah dan sebagai tempat untuk meningkatkan kualitas karakter yang baik dari orang tersebut. Maka dari itu sangat penting untuk memilih mentor atau pembimbing  yang akan mengajarkan tentang pendidikan karakter dan mengerti karakter setiap orang yang hal tersebut bisa didapatkan dalam pendidikan karakter di sekolah yang biasanya dilakukan oleh guru BK untuk merubah karakter seseorang menjadi lebih baik. Karakter seseorang yang keras maka perlu mentor atau pembimbing yang bisa meredamnya karena jika sama-sama keras tidak akan terjadi perubahan karakter orang tersebut.

Pada saat sekarang ini di zaman modern bahaya globalisasi dan modernisasi sangat mempengaruhi karakter pribadi seseorang. Dimana efek dari globalisasi dapat membuat seseorang dapat cenderung ke hal yang negatif atau pun ke hal yang positif tergantung kita yang memfilternya, bila cenderung ke negatif maka perlu batasan-batasan yang bisa menghindarkan diri kita dari hal tersebut dalam konteks ini dapat dipelajari dengan menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter. Nilai-nilai pendidikan karakter diantaranya yaitu,

(1) religius: Merupakan sikap yang memegang teguh perintah agamanya dan menjauhi larangan agamanya, seraya saling menjaga kerukunan dan kesatuan antar berbeda pemeluk agama dan keyakinan;

(2) Jujur: Merupakan sikap yang selalu berpegang teguh untuk menghindari keburukan dengan menjaga perkataan, perasaan dan perbuatan untuk selalu berkata dengan benar dan dapat dipercaya;

(3) Toleransi: Perilaku yang cenderung menghargai perbedaan dengan mengurangi mempertajam perselisihan karena perbedaan. Perilaku ini diwujudkan dengan penerimaan atas perbedaan, dan keragaman sebagai suatu kekayaan bangsa Indonesia untuk mewujudkan fungsi toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;

(4) Disiplin: Tindakan yang menjaga dan mematuhi anjuran yang baik dan menghindari dan menjauhi segala larangan yang buruk secara konsisten dan berkomitmen;

(5) Kerja keras: Mencurahkan segala kemampuan dan kemauan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai hasil yang diharapkan dengan tepat waktu dan berorientasi lebih pada proses dan perkembangan daripada berorientasi pada hasil;

(6) Kreatif: Selalu mencari alternatif penyelesaian suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang. Ini dilakukan untuk mengembangkan tata cara atau pemahaman terhadap suatu masalah yang sudah ada terlebih dahulu melalui pendekatan sudut pandang yang baru;

(7) Mandiri: Meyakini potensi diri dan melakukan tanggung jawab yang diembannya dengan penuh percaya diri dan berkomitmen;

(8) Demokratis: sikap dan tindakan yang menilai tinggi hak dan kewajiban dirinya dan orang lain dalam kedudukan yang sama. Ini dilakukan untuk memberikan pengakuan secara setara dalam hak berbangsa seraya merawat kemajemukan bangsa indonesia; 

(9) Rasa ingin tahu: suatu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui apa yang dipelajarinya secara lebih mendalam dan meluas dalam berbagai aspek terkait,

(10) Tanggung Jawab : Menyadari bahwa segala hal yang diperbuat oleh dirinya bukan hanya merupakan tugas dan kewajiban bagi dirinya sendiri, namun juga keluarga, lingkungan, masyarakat, negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Perubahan tersebut bisa terjadi dikarenakan faktor-faktor tertentu yang cenderung bisa mempengaruhi karakter dari seseorang. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang kurang baik akan menghasilkan karakter yang kurang baik pula. Dari situ lah kita berfikir bagaimana jika lingkungan disekitar buruk. Maka tentu akan berakibat negatif pula. tentu kita perlu mengatasi hal tersebut. Dengan adanya pendidikan karakter sangat berguna bagi seseorang untuk memilah mana yang baik baginya dan mana yang buruk. Dalam konteks indonesia, pendidikan karakter bangsa Indonesia telah dikembangkan sejak negeri ini berdiri, yang dimana presiden RI pertama yaitu Bapak Ir. Soekarno yang mengemukakan gagasan tentang pentingnya pembentukan karakter bangsa. Ketika itu nilai karakter yang diutamakan adalah penghargaan atas kemerdekaan, kedaulatan, dan kepercayaan pada kekuatan sendiri. Mengingat pembentukan karakter bersifat spiritual dan kontekstual, maka ia bisa berubah berdasarkan maksud dan tujuannya, dengan berbasis pada nilai dan macam-macam norma.

 

Daftar Rujukan

Budiningsih, A. 2004. Pembelajaran Moral (Berpijak pada Karakteristik Siswa dan Budayanya). Jakarta : Rineka Cipta.

Gunawan, H. 2012. Pendidikan Karakter, Konsep dan Implementasi. Bandung:

Alfabeta.

https://nasional.kompas.com/News/Nasional (online), (diunduh pada tanggal 01 Februari 2018)

Kusuma, D. 2007. Pendidikan Karakter; Strategi Mendidik Anak di Zaman. Jakarta: Grasindo.

Zuriah, N. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.