SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PEMANFAATAN DANA DESA UNTUK PROGRAM UNGGULAN PENGEMBANGAN PARIWISATA DI DESA CONDRO KECAMATAN PASIRIAN KABUPATEN LUMAJANG

Setyo Hadi Wicaksono

Abstrak


PEMANFAATAN DANA DESA UNTUK PROGRAM UNGGULAN PENGEMBANGAN PARIWISATA DI DESA CONDRO KECAMATAN PASIRIAN KABUPATEN LUMAJANG

Setyo Hadi WicaksonoUniversitas Negeri Malang, Jalan Semarang No 5

Surel : setyocruze7@gmail.com

 

Abstrak

Pada artikel ini disajikan informasi mengenai pemanfaatan dana desa untuk program unggulan dalam pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui

(1) program unggulan dalam pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang,

(2) strategi pemerintah desa dalam mengembangkan program unggulan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang,

(3) bentuk pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang,

(4) hambatan pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang,

(5) solusi pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Memanfaatkan dana desa untuk pengembangan pariwisata yang berguna untuk mensejahterahkan masyarakat Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang.

Kata Kunci: Pemanfaatan, Dana Desa, Program Unggulan, Pariwisata

Dewasa ini industri pariwisata menjadi sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah. Hal ini menjadi pilihan karena industri pariwisata tidak bertujuan mengurangi atau merusak sumber daya alam tetapi melestarikan dan memperindah objek wisata. Selain itu bisa meningkatkan devisa negara dari industri pariwisata. Maka program pengembangan dan pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi dapat diutamakan sebagai bagian penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Pendek, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP).

Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPADA) merupakan kewajiban dari pemerintah daerah yang telah diatur dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. RIPPADA menjadi pendoman yang dapat menjadi acuan dan arahan dalam pembangunan kepariwisataan, bagi para pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta dan masyarakat. Di samping itu pembangunan pariwisata diharapkan mampu mendorong peningkatan kesejateraan masyarakat serta pengembangan pariwisata Indonesia. Wisata di Indonesia sangat menarik dengan alam dan budaya di Indonesia yang sangat variatif. Keindahan alam terbentuk secara alami serta budayanya masih khas dan unik. Seperti halnya yang dipaparkan oleh Pendit (2006:79) yaitu mengingat daya tarik utama wisatawan yang berkunjung ke Indonesia adalah karena keindahan alam dan kekayaaan seni budaya, maka tidak heran jika potensi ini menarik untuk dikembangkan.

Kota Lumajang adalah salah satu kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Kota Lumajang memiliki beberapa kabupaten, salah satunya adalah Kabupaten Lumajang. Kabupaten Lumajang memiliki potensi wisata pantai seperti Pantai Watu Pecak, Pantai Bambang, Pantai Watu Godeg, Pantai Tlepuk, Pantai Wot Galih. Kemudian obyek wisata pemandian Tambo Raya Idaman, Pemandian Kawasan Wonorejo Terpadu, Pemandian Joyokarto, Pemandian Tirtowono, Pemandian Hutan Bambu. Namun belum banyak program-program daerah yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dari segi pengelolaan pariwisata. Berdasarkan Peraturan Bupati Lumajang Nomor 79 Tahun 2014 tentang Destinasi Wisata Satu Kecamatan Satu Desa Wisata sudah ditetapkan 21 desa.

Berkaitan lokasi desa wisata Selok Awar-Awar dengan Pantai Watu Pecak mengalami kerusakan akibat penambangan pasir ilegal maka peneliti menggunakan Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang karena berstatus sebagai Desa Penyangga. Menurut observasi awal peneliti kepada Kepala Desa wisata salah satunya yaitu Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang dengan objek wisata Tambo Raya Idaman adalah wisata alam yang didirikan dan dikelolah oleh pemerintah Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang terdiri atas pemandian, pemandangan Gunung Tambo, dan gedung serba guna. Pasal 1 ayat 8  Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa pembangunan desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa. Pembangunan desa dalam kajian wisata sebagai salah satu cara mengenalkan potensi desa kepada wisatawan dalam negeri maupun mancanegara.

Pembangunan desa seharusnya mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui pengembangan potensi desa. Satu kecamatan satu desa wisata merupakan salah satu program pemerintah Kabupaten Lumajang untuk mewujudkan masyarakat Lumajang yang sejahtera dan bermartabat. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan Desa. Tanah Bengkok adalah bagian dari tanah desa yang merupakan tanah kas desa, jadi tanah tersebut diperuntukkan untuk gaji pamong desa, yaitu kepala desa dan perangkat desa. Mereka mempunyai hak untuk memperoleh penghasilan atas tanah yang diberikan oleh desa. Jika di lain waktu yang bersangkutan tidak lagi menjabat sebagai pamong desa, maka tanah bengkok tersebut menjadi tanah kas desa. Sehingga penghasilan tersebut masuk ke kas desa.

Pendapatan penghasilan yang diperoleh dari tanah bengkok yang di kelola oleh pemerintah Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang tidak mengalami peningkatan penghasilan. Oleh karena itu, Kepala Desa dan Perangkat Desa berinovasi untuk mengubah alih fungsi pengelolaan tanah bengkok dari sistem pertanian (penanaman padi, jagung, kelapa, dan lain-lain) menjadi wisata alam Tambo Raya Idaman, sehingga mampu untuk dikelola obyek wisata alam yang mampu mempromosikan destinasi wisata agar dapat mensejahterahkan masyarakat dan menambah anggaran Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Sebenarnya Pemerintah Daerah mempunyai peran dalam memberdayakan masyarakat desa (Sumber Daya Manusia) dan pengembangan potensi desa (Sumber Daya Alam) untuk menyelenggarakan kebijakan otonomi daerah.

Konsep otonomi daerah salah satu komponen yang harus dikembangkan adalah wilayah pedesaan di dalam Pasal 90 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa menjelaskan bahwa memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan mematuhi prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, peran keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Desa wisata tersebut mampu menarik perhatian dan minat wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Pembangunan Pariwisata bisa menjadi acuan pengembangan tanah bengkok desa di seluruh Indonesia secara luas dan khususnya Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Oleh karena itu wisata Tambo Raya Idaman menjadi alternatif menyelesaikan permasalahan tanah bengkok sekaligus mengembangkan potensi tanah bengkok menjadi destinasi wisata.

Pengembangan obyek wisata Tambo Raya Idaman merupakan program inovasi dari pemerintah Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang yang sebelumnya dana tersebut dialokasikan sebagai tanah kas desa yang mengelolah sektor pertanian.

Dana yang digunakan untuk Tambo Raya Idaman tidak secara langsung diserahkan untuk proses pembangunan karena setiap dana kas desa masih digunakan keperluan yang lainya seperti kesehatan, pendidikan dan tanpa menggunakan kontraktor. Maka dari itu pembangunan proyek obyek wisata Tambo Raya Idaman jadi terhambat. Berangkat dari anggapan yang negatif terkait pengelolahan tanah bengkok desa sekaligus untuk mengetahui sejauh mana keseriusan pemerintah desa dalam mengembangkan wisata Tambo Raya Idaman. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pemanfaaatan Dana Desa untuk Program Unggulan Pengembangan Pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang”.

 

BAHASAN

A.Program Unggulan Pengembangan Pariwisata di Desa Condro

Desa wisata Condro merupakan program desa wisata berbasis obyek wisata alam dan suasana pedesaan. Sehingga akan menyatu dengan struktur kehidupan manapun masyarakat lokal dan menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Temuan tersebut sesuai dengan temuan pendapat Fandeli (1995:3) bahwa obyek wisata Tambo Raya Idaman di Desa Condro merupakan jenis desa wisata berdasarkan daya tarik alam dan obyek wisata di Desa Wisata Condro adalah tipe terbuka menurut pendapat Hadiwijoyo (2012:70) program yang di buat dan di kelola BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) melalui kelompok sadar wisata (POKDARWIS) dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro antara lain paket wisata, kebersihan lingkungan, pengolahan sampah organik dari sampah obyek wisata. Temuan tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan Desa. Tanah Bengkok adalah bagian dari tanah desa yang merupakan tanah kas desa, jadi tanah tersebut diperuntukkan untuk gaji pamong desa, yaitu kepala desa dan perangkat desa. Mereka mempunyai hak untuk memperoleh penghasilan atas tanah yang diberikan oleh desa. Jika lain waktu yang bersangkutan tidak lagi menjabat sebagai pamong desa, maka tanah bengkok tersebut menjadi tanah kas desa, sehingga penghasilan tersebut masuk ke kas desa. Sehingga meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) Desa Condro yang nantinya akan mensejahterahkan masyarakat Desa Condro.

a. Paket Wisata

Program paket wisata merupakan bentuk dari strategi pemasaran suatu perjalanan wisata dengan satu atau lebih tujuan kunjungan yang disusun dari berbagai fasilitas perjalanan tertentu mencangkup biaya pengangkutan, biaya akomodasi, biaya transportasi dalam suatu acara perjalanan yang tetap serta dijual dengan harga tunggal yang menyangkut seluruh komponen dari perjalanan wisata. Temuan tersebut sesuai dengan pendapat Desky (1999:23) bahwa paket wisata di Desa Condro merupakan perpaduan beberapa produk wisata yang dikemas menjadi satu kesatuan harga yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tujuan dari paket wisata itu sendiri memberikan kemudahan bagi wisatawan dalam pelaksanaan aktivitas wisatanya. Dalam satu paket wisata biasanya wisatawan mengetahui terlebih dahulu apa yang akan dilakukan, apa saja yang akan didapatkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan dan hal-hal yang berkaitan dalam paket wisata yang didapatkan.

b. Kebersihan Lingkungan

Program kebersihan lingkungan di desa wisata Condro mempunyai beberapa kegiatan yaitu pengolahan kompos, pelatihan pengolahan biogas, dan pelatihan jumantik. Desa Wisata Condro juga mendapat bantuan berupa sapiteng yang dikerjakan langsung oleh masyarakat desa secara gotong royong. Kebersihan lingkungan juga didukung melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) program ini merupakan program yang dilakukan pemerintah pusat untuk air bersih di rumah-rumah sebagai pengganti air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang biayanya lebih mahal daripada program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), air bersih ini berasal dari sumber air tanah buatan yang di simpan di bak yang berukuran besar kemudian dialirkan ke rumah warga melalui pipa-pipa. Selain itu kebersihan lingkungan juga didukung oleh kegiatan masyarakat diantaranya ibu rumah tangga yang membersihkan pekarangan rumahnya setiap hari dan kegiatan kerja bakti masyarakat pada hari-hari tertentu. Temuan tersebut sesuai dengan pendapat Sangian (2011:3-4) bahwa kebersihan lingkungan dimulai dengan menjaga kebersihan halaman dan membersihkan jalan depan rumah dari sampah.

c. Pengolahan Sampah Organik dari Sampah Obyek Wisata

Pupuk organik merupakan jenis pupuk yang berasala dari sampah organik hijau (sampah daun-daun pepohonan, rumput liar) dan organik hewan (sisa makan wisatawan misalnya ikan, daging, telur, dan sejenisnya) yang telah melalui proses rekayasa yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pembuatan pupuk organik menggunakan bahan baku yang ada disekitar, sehingga sangat mudah didapat dan murah. Selain itu juga sebagai sarana mendaur ulang sampah yang sudah yang tidak terpakai agar dapat bernilai dan bermanfaat untuk masyarakat. Kegiatan merupakan pelatihan bagi masyarakat dan kelompok sadar wisata Tambo Raya Idaman di Desa Condro untuk memanfaatkan sampah obyek wisata menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi aktivitas masyarakat khususnya dibidang pertanian.  Temuan tersebut sesuai dengan pendapat Damanhuri dan Padmi (2006:23) bahwa pupuk organik dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian, karena dengan meningkatnya kadar kandungan bahan organik dan unsur hara yang ada dalam tanah, maka dengan sendirinya akan memperbaiki sifat, unsur kimia, dan unsur biologi tanah atau lahan pertanian.  

B. Strategi Pemerintah Desa dalam Mengembangkan Program Unggulan Pariwisata di Desa Condro

Kegiatan untuk pemanfaatan dana desa untuk program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro, tentunya memiliki strategi dalam pelaksanaannya dan dibawah ini adalah strategi pemerintah desa dalam mengembangkan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro sebagai berikut.

a. Sosialisasi

Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat yang dilakukan pemerintah desa memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya desa wisata dengan cara mengundang secara langsung masyarakat untuk menghadiri rapat desa yang diselenggarakan oleh pemerintah desa. Ketika pemerintah desa memberikan sambutan pada acara di dusun tertentu, pemerintah desa juga selalu menyempatkan untuk membahas pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro. Temuan tersebut sesuai dengan pendapat Suyono, (1985:379) Sosialisasi adalah proses seorang individu belajar berintegrasi dengan sesamanya dalam suatu masyarakat menurut sistem nilai, norma, dan adat istiadat yang mengatur masyarakat yang bersangkutan Suyono, (1985:379). Sedangkan menurut Suharto (1991:112), sosialisasi atau proses memasyarakat adalah proses orang orang yang menyesuaikan diri terhadap norma norma sosial yang berlaku, dengan tujuan supaya orang yang bersangkutan dapat diterima menjadi anggota suatu masyarakat. Jadi sosialisasi dengan masyarakat perlu dilakukan untuk mengatur sistem nilai,  norma, dan adat istiadat guna untuk mempermudah dalam pengembangan obyek wisata di Desa Condro.

b. Promosi

Pemerintah Desa Condro dalam mengembangkan obyek wisata di Desa Condro juga berperan dalam hal promosi yaitu memperkenalkan obyek wisata di desa wisata Desa Condro kepada banyak pihak, dalam berbagai kesempatan pemerintah desa memperkenalkan keberadaan Desa Condro dan obyek wisata Tambo Raya Idaman kepada banyak pihak, diantranya tingkat desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Pemerintah desa menjelaskan tentang potensi yang ada di Desa Wisata Condro dan berbagai program yang ditawarkan untuk menarik wisatawan dari luar daerah untuk berkunjung ke lokasi desa wisata di Desa Condro. Hal ini merupakan strategi pemerintah desa dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro juga ditujukan untuk memajukan kegiatan perekonomian. Berjalannya kegiatan perekonomian ini merupakan perwujudan dari pelaksanaan pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan.  

c. Mengontrol

Pemerintah Desa Condro sudah memberikan mandat kepada masyarakat untuk pengembangan obyek wisata di desa wisata Condro. Tugas pemerintah desa dalam pengembangan obyek wisata adalah mengontrol dan ikut bertanggung jawab atas keberlangsungan pengembangan obyek wisata di desa wisata Condro. Supaya proses pengembangan obyek wisata ini berjalan sesuai dengan rencana yang telah disepakati bersama. Temuan tersebut sesuai dengan pendapat HAW Widjaja (2003:3), bahwa desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya, dengan mengikuti kegiatan masyarakat dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro. Pemerintah desa dapat mengontrol dan mengawasi sejauh mana tujuan desa wisata di Desa Condro dilakukan oleh masyarakat khususnya kelompok sadar wisata (POKDARWIS). Temuan ini sesuai dengan pendapat Dale (Winardi, 2000:224) pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskan sehingga mencapai tujuan yang sesuai apa yang direncnakan.

d. Alih Fungsi Lahan

Pemerintah Desa Condro melakukan alih fungsi lahan yaitu tanah kas desa yang berada di Dusun Gentengan. Hal ini dilakukan karena tanah kas desa yang mengelola pertanian. Tanaman yang ditanam di tanah kas desa diantaranya padi, jagung, kelapa, kacang, lombok. Setiap masa panen dari hasil pertanian tersebut tidak meningkat bahkan mengalami kerugian. Hal ini disebabkan oleh masalah teknis dan non teknis. Masalah tersebut menjadikan alasan pemerintah desa berinisiatif mengubah alih fungsi lahan pertanian menjadi obyek wisata supaya hasilnya dirasakan masyarakat secara merata. Pembangunan desa seharusnya mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui pengembangan potensi desa. Satu kecamatan satu desa wisata merupakan salah satu program pemerintah Kabupaten Lumajang untuk mewujudkan masyarakat Lumajang yang sejahtera dan bermartabat. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan Desa. Tanah Bengkok adalah bagian dari tanah desa yang merupakan tanah kas desa, jadi tanah tersebut diperuntukkan untuk gaji pamong desa, yaitu kepala desa dan perangkat desa. Mereka mempunyai hak untuk memperoleh penghasilan atas tanah yang diberikan oleh desa. Jika di lain waktu yang bersangkutan tidak lagi menjabat sebagai pamong desa, maka tanah bengkok tersebut menjadi tanah kas desa. Sehingga penghasilan tersebut masuk ke kas desa.

Sebenarnya Pemerintah Daerah mempunyai peran dalam memberdayakan masyarakat desa (Sumber Daya Manusia) dan pengembangan potensi desa (Sumber Daya Alam) untuk menyelenggarakan kebijakan otonomi daerah. Dalam konsep otonomi daerah salah satu komponen yang harus dikembangkan adalah wilayah pedesaan didalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan mematuhi prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, peran keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Desa wisata tersebut mampu menarik perhatian dan minat wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.

C. Bentuk Pelaksanaan Program Unggulan Pengembangan Pariwisata di Desa Condro

Kegiatan untuk pemanfaatan dana desa untuk program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro, tentunya melaksanakan bentuk pelaksanaannya dan dibawah ini adalah bentuk pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro sebagai berikut.

a. Perencanaan Program Unggulan

Perencanaan program unggulan di Desa Wisata Condro dilakukan oleh BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) dengan masyarakat. Tanah kas desa yang mengelola sektor pertanian beralih fungsi menjadi obyek wisata. Hal ini dilakukan lantaran hasil panen yang tidak mengalami kenaikan dalam waktu ke waktu. Pemerintah Desa Condro kemudian berinisiatif untuk mensejahterakan masyarakat desa dan menambah pendapatan desa melalui alih fungsi lahan tanah kas desa. Temuan ini sesuai dengan pendapat Abe (2005:47) perencanaan partisipatif yang melibatkan masyarakat akan mempunyai dampak yang sangat penting dalam pembangunan, yaitu terhindar dari peluang terjadinya manipulasi, memberikan nilai tambah pada legitimasi rumusan perencanaan, serta meningkatkan kesadaran dan ketrampilan politik masyarakat. Kegiatan perencanaan desa wisata di Desa Condro menghasilkan 3 (tiga) program yaitu program paket wisata, kebersihan lingkungan, dan pengolahan sampah obyek wisata menjadi pupuk organik.

b. Pelaksanaan Program Unggulan

Pemerintah Desa Condro dalam menjalankan program unggulan ini melibatkan berbagai pihak diantaranya adalah masyarakat khususnya kelompok sadar wisata (POKDARWIS) sebagai menerima mandat yang diberikan oleh pemerintah desa kemudian pihak lembaga terkait. Sehingga melaksanakan program unggulan ini sesuai prosedurnya selain itu program unggulan yang berbasis pariwisata ini sangat berpotensi berkembang pesat karena letak obyek wisata yang berada di area kaki Gunung Tambo, suasana desa yang masih asri, maka proses pengembangan obyek wisata ini dilakukan. Program unggulan ini menggunakan dana desa melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Program tersebut diantaranya program paket wisata, kebersihan lingkungan, dan pengolahan sampah obyek wisata menjadi pupuk organik. Selanjutnya program pengembangan desa wisata lainnya, masyarakat khususnya Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) berperan sebagai pelaku atau seseorang yang menjalankan program tersebut. Temuan tersebut sesuai dengan pasal 68 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, bahwa masyarakat desa mempunyai kewajiban salah satunya yaitu berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di desa.

Masyarakat desa wisata Condro apabila ada komando dari pihak pemerintah desa untuk membantu kegiatan desa demi menunjang pengembangan desa wisata di Desa Condro, masyarakat akan secara bersama-sama akan membantu kegiatan tersebut. Hal ini terlihat ketika pemerintah desa membangun jalan sebagai akses menuju lokasi wisata di Desa Condro. Temuan tersebut sesuai bila dihubungkan dengan pendapat Islamy (1998:45) bahwa masyarakat kini telah kritis dan telah memenuhi kewajiban-kewajibannya sebagai masyarakat yang aktif yaitu berpartisipasi dalam kegiatan desa atas komando dari pemerintah desa.

D. Hambatan Pelaksanaan Program Unggulan Pengembangan Pariwisata di Desa Condro

Kegiatan untuk pemanfaatan dana desa untuk program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro, tentunya memiliki beberapa faktor penghambat yang terjadi dan dibawah ini adalah hambatan pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro sebagai berikut.

a. Dana

Berdasarkan temuan penelitian dapat dijelaskan bahwa permasalahan dana menjadi suatu hambatan dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro. Suatu kegiatan pengembangan itu selalu memerlukan dana, terlebih untuk mengembangkan sebuah desa wisata. Tentunya memerlukan biaya yang besar agar segala kegiatan untuk menunjang keberlangsungan dan kemajuan desa wisata tersebut dijalankan, walaupun sudah banyak masyarakat yang terjun dalam kegiatan, namun jika biaya tidak memenuhi kegiatan tersebut tidak ada tentunya menjadi masalah. Minimnya dan proses bertahap dalam pencairan dana desa tersebut menjadi masalah yang tidak terselesaikan apabila pengurus tidak bergerak atau tergugah kembali untuk berpikir untuk bagaimana akan mendapatkan dana untuk dapat menjalankan kegiatan pengembangan untuk kemajuan desa wisata sendiri.

Pendanaan untuk pengembangan desa wisata di Desa Condro sebenarnya bisa dan cukup bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Swadaya masyarakat, dan sumber lain yang sah dan tidak mengikat. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang pengembangan desa wisata. Pemerintah Desa Condro hanya perlu melakukan pengalokasian anggaran untuk pengembangan wisata di desa wisata Condro.

Permasalahan dana dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro berpengaruh pada kurangnya penyediaan sarana dan prasarana. Fasilitas seperti jalan, gazebo, kolam anak, kolam dewasa, gedung serba guna, kolam pemancingan ikan, dan lain-lain sebagai wahana dan fasilitas belum lengkap tersedia. Padahal beberapa fasilitas tersebut dapat menunjang pengembangan desa wisata di Desa Condro. Kemampuan pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana masih terbatas, sedangkan partisipasi masyarakat harus terus didorong salah satunya dengan pemenuhan sarana dan prasarana tersebut, namun penyediaan fasilitas sarana dan prasarana oleh pemerintah secara langsung semakin lama semakin dikurangi dan digantikan perannya, sehingga dapat merangsang dan mengarahkan peran masyarakat dalam partisipasi pengembangan desa wisata di Desa Condro. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan pendapat Slamet (1994:6) bahwa dalam hal ini penekanan dalam hal kemandirian selfhelp maksudnya masyarakat itu mengelola dan mengorganisasikan sumber-sumber lokal baik yang bersifat materiil, pikiran maupun tenaga.  

b. Partisipasi Masyarakat

Berdasarkan temuan penelitian dapat dijelaskan bahwa partisipasi masyarakat Desa Condro belum menyeluruh. Partisipasi masyarakat sebagian besar dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata (POKDAWIS), mulai dari kegiatan perencanaan dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan keputusan, dan kegiatan evaluasi. Sedangkan masyarakat yang tidak tergabung dalam kelompok sadar wisata (POKDAWIS) jika ikut berpartisipasi namun hanya dalam beberapa kegiatan dan tidak menyeluruh.

Partisipasi masyarakat yang masih kurang dan belum menyeluruh tersebut berdampak pada kesejahteraan masyarakat itu sendiri, karena pengembangan desa wisata di Desa Condro bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan desa mempunyai peranan yang sangat penting. Temuan penelitian ini sesuai dengan teori Soewignjo (1985:24) bahwa pembangunan desa yaitu perencanaan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Dalam prosesnya pengembangan desa wisata dilakukan tahap awal yaitu perencanaan sabagai desain pembangunan ke depan. Proses perencanaan pembangunan desa wisata di Desa Condro melibatkan masyarakat sebagai subjek sekaligus sebagai informan dalam proses perencanaan pembangunan desa wisata.

Kurangnya partisipasi beberapa masyarakat dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro karena masih minimnya kesadaran masyarakat tersebut terkait pentingnya desa wisata. Dalam beberapa kasus masyarakat hanya berpartisipasi ketika ada komando dari pemerintah desa seperti pembangunan jalan sebagai akses menuju lokasi wisata. Beberapa masyarakat menanggapi adanya pengembangan obyek wisata di desa wisata Condro secara apatis dan masa bodo. Sifat tersebut menjadi ancaman terhadap partisipasi masyarakat dalam pengembangan obyek wisata di desa wisata Condro. Temuan penelitian ini sesuai dengan pendapat Siti Irene Astuti Dwi Ningrum (2011:57) bahwa faktor yang dapat menghambat atau menjadi ancaman terhadap partisipasi masyarakat salah satunya sifat malas, masa bodo, dan tidak mau melakukan perubahan di tingkat masyarakat.  

E .Solusi Pelaksanaan Program Unggulan Pengembangan Pariwisata di Desa Condro

Kegiatan untuk pemanfaatan dana desa untuk program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro, selain mempunyai beberapa hambatan tentunya memiliki solusi yang terjadi dan dibawah ini adalah solusi dari hambatan pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro sebagai berikut.

a. Dana

Dana desa merupakan suatu alat untuk memperlancar kegiatan yang dijalankan dalam desa. Berdasarkan temuan penelitian dapat dijelaskan bahwa pengembangan desa wisata di desa wisata Condro mengalami kendala dalam hal pendanaan. Untuk mengatasi kendala keuangan tersebut pemerintah desa dan masyarakat Desa Condro khususnya Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) mengajukan proposal kepada Pemerintah Kabupaten Lumajang, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bahkan Pemerintah Pusat melaui dinas terkait. Pengajuan proposal inipun sudah berdasarkan atas persetujuan pemerintah desa, karena peran pemerintah dan masyarakat dalam pengembangan desa wisata di Desa Condro adalah mendukung, mengontrol, dan bertanggung jawab atas keberlangsungan pengembangan pariwisata. Temuan penelitian ini sesuai dengan pendapat Taliziduhu Ndraha (1981:81) bahwa desa melalui pemerintah desa mempunyai urusan dekonsentratif dan partisipatif.

Desa wisata Condro mempunyai program yang masih menjadi agenda yaitu ditunjuk oleh provinsi bahwa Dana Desa (DD) tahun 2019 dapat mengatasi masalah pembangunan desa di Desa Wisata Condro. Hal ini pemerintah desa perlu menyusun anggaran sebagai rencana ke depan menayangkut dana yang akan digunakan dan dinyatakan dalam bentuk kuantitatif berupa satuan uang. Temuan penelitian ini sesuai bila dihubungkan dengan pendapat Nafarin (2009:9) bahwa pelaksanaan penyusunan anggaran juga harus melibatkan masyarakat atau paling tidak masyarakat mengetahui rencana susunan anggaran tersebut melalui sosialisasi yang disampaikan oleh pemerintah desa.

b. Partisipasi Masyarakat

Berdasarkan temuan penelitian dapat dijelaskan bahwa partisipasi masyarakat Desa Condro dalam pengembangan obyek wisata masih kurang. Pertisipasi masyarakat sebagian besar hanya dilakukan oleh kelompok sadar wisata (POKDAWIS), mulai dari kegiatan perencanaan, kegiatan pelaksanaan, dan kegiatan evaluasi. Masyarakat yang tidak tergabung dalam kelompok sadar wisata (POKDAWIS) juga ikut berpartisipasi namun hanya dalam beberapa kegiatan dan tidak menyeluruh.

Mengatasi hambatan partisipasi masyarakat dalam pengembnagan obyek wisata di desa wisata Condro sudah ada kerjasama yang baik antara pemerintah desa dan masyarakat. Untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan obyek wisata, pemerintah desa memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi oleh pemerintah desa dilakukan dengan mengundang secara langsung kepada masyarakat dalam rapat desa dan dalam berbagai kesempatan pemerintah desa selalu menyampaikan pentingnya pengembangan obyek wisata di Desa Wisata Condro. Setiap masyarakat diharapkan dapat ikut serta dan ambil bagian dalam setiap kegiatan pengembangan obyek wisata di desa wisata Condro, sehingga pengembangan obyek wisata di desa wisata Condro dapat memberikan pemasukan kepada masyarakat.

Keinginan masyarakat untuk ikut aktif dalam pengembangan obyek wisata harus muncul dari dalam diri mereka. Selain itu berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan pengembangan obyek wisata harus dapat merasakan manfaat dari adanya pengembangan obyek wisata di desa wisata Condro. Temuan penelitian ini sesuai bila dihubungkan dengan pendapat Putnam (1993) dalam Dhietamustofa (2011) bahwa setiap orang memiliki alasan dalam berpartisipasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan seseorang dalam berpartisipasi adalah berkaitan dengan situasi saling ketergantungan, kepercayaan dan jaringan organisasi sosial yang memfasilitasi kerjasama untuk manfaat bersama.  

 

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian informasi pada bagian bahasan, berikut ini disajikan simpulan dan saran yang linier dengan informasi tersebut.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan mengenai pemanfaatan dana desa untuk program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro pada bagian ini dapat dikemukakan kesimpulan peneliti adalah (1) program unggulan dalam pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, (2) strategi pemerintah desa dalam mengembangkan program unggulan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, (3) bentuk pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, (4) hambatan pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, (5) solusi pelaksanaan program unggulan pengembangan pariwisata di Desa Condro Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang.

Saran

1. Kepada Pemerintah Desa Condro

Agar masyarakat terlibat dalam setiap kegiatan desa wisata di Desa Condro, sebaiknya pemerintah desa Condro mengadakan kegiatan rutin seperti kerja bakti seperti gotong royong untuk membersihkan lingkungan Desa Condro dan khususnya obyek wisata dan sekaligus sebagai sarana diskusi untuk membahas program pengembangan obyek wisata di Desa Wisata Condro anatara pemerintah desa dan masyarakat karena selama ini kesadaran dan semanagat masih perlu ditingkatan.

2. Kepada Masyarakat Desa Condro

Agar potensi desa di Desa Wisata Condro dapat berkembang sebaiknya seluruh golongan masyarakat dari petani, wiraswasta, maupun PNS terlibat dalam kegiatan desa wisata mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi karena mereka memahami potensi yang ada di Desa Condro. Pengembangan pariwisata di Desa Condro ini merupakan dari, oleh, dan untuk masyarakat.

3. Kepada Pemerintah Kabupaten Lumajang

Agar kesejahteraan masyarakat di Desa Wisata Condro terus meningkat dengan adanya program pengembangan obyek wisata Tambo Raya Idaman, sebaiknya peran pemerintah khususnya Pemerintah Kabupaten Lumajang perlu ditingkatkan, khususnya dalam hal pendanaaan karena pendanaan digunakan untuk memperbaiki dan melanjutkan sarana dan prasarana yang ada, sehingga menunjang pengembangan desa wisata.

 

DAFTAR RUJUKAN

Abe, Alexander. 2005. Perencanaan Daerah Partisipatif. Yogyakarta. Pustaka Jogja Mandiri.

Ariyono, Suyono, 1985, Kamus Antropologi, Jakarta : Akademi Persindo.

Badudu J.S dan Zain, Sutan Mohammad. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Damanhuri, Enri dan Padmi, Tri. 2006. Pengolahan Sampah. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Desky, M.A. 1999. Pengantar Bisnis Biro Perjalanan Wisata, Yogyakarta : Adicitra

Fandeli, Chafid. 1995. Dasar-dasar Manajemen Kepariwisataan Alam. Yogyakarta : Penerbit Liberty.