SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

UPAYA SEKOLAH DALAM MENCEGAH RADIKALISME BAGI SISWADI SMA MA’ARIF NU PANDAAN KABUPATEN PASURUAN

Vidia Maghfiroh Fadlilah

Abstrak


UPAYA SEKOLAH DALAM MENCEGAH RADIKALISME BAGI SISWA DI SMA MA’ARIF NU PANDAAN KABUPATEN PASURUAN

VIDIA MAGHFIROH FADLILAH Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang No 5

Surel : vidiamagh@gmail.com

 

Abstrak

Pada artikel ini disajikan informasi mengenai upaya sekolah dalam mencegah radikalisme bagi siswa di SMA Ma’arif NU Pandaan kabupaten Pasuruan.  Upaya tersebut melalui program, strategi, pelaksanaan, kendala dan solusi dalam mencegah radikalisme. Melalui program deradikalisasi yang terintegrasi dengan program sekolah harus disusun dengan baik supaya program tersebut terarah dan dapat secara optimal diterapkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia.

 

Kata Kunci: Upaya Sekolah, Radikalisme,  Siswa, Program, Sosialisasi Anti Radikalisme

Indonesia kini tak lepas dari ancaman-ancaman disintegrasi dengan munculnya paham-paham radikal. Semakin maraknya gerakan-gerakan radikal di Indonesia membuat kekhawatiran tersendiri dikalangan masyarakat Indonesia karena radikalisme berhubungan erat dengan aksi terorisme. Menurut Jainuri (2016: 5) “radikalisme tindakan dan gerakan ditandai oleh aksi ekstrem yang harus dilakukan untuk mengubah suatu keadaan seperti yang diinginkan. Radikalisme mulai menjadi ancaman bagi generasi muda saat ini”. Kalangan anak muda Indonesia makin mengalami radikalisasi secara ideologis dan makin tak toleran. Pemahaman ini jika dibiarkan bisa menyebabkan disintegrasi bangsa karena mereka menganggap ideologi Pancasila tidak lagi penting. Temuan BNPT mengenai tingkatan pendidikan pelaku terorisme berasal dari kalangan terdidik yaitu sebanyak 63,6 persen lulus sekolah menengah atas dan 16,4 persen lulus dari universitas (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, 2016, http://belmawa.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2016/12/Strategi-Menghadapi-Paham-Radikalisme-Terorisme.pdf, 25 November 2017).

Radikalisme menjadi salah satu perhatian penting di tiap-tiap daerah di Indonesia. Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu daerah yang ingin mencegah masuknya paham-paham radikal yang dapat merusak toleransi dan kerukunan dalam kehidupan umat beragama. Mayoritas masyarakat Kabupaten Pasuruan yang beragama Islam yang kuat dan terlebih lagi Pasuruan popular dikenal sebagai gudangnya para santri menjadikan Kabupaten Pasuruan dapat menjadi sasaran dalam penanaman paham-paham radikal. Perihal tersebut maka seperti dilansir dari pasuruankab.go.id, walaupun di Kabupaten Pasuruan belum terdeteksi gerakan dari simpatisan maupun pengikut ISIS secara pasti, Bupati Pasuruan segera menerbitkan peraturan  perihal Larangan Keberadaan Gerakan ISIS di semua wilayah Kabupaten Pasuruan. Penerbitan Perbup adalah sebagai follow up (kelanjutan) dari Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 450/380/sj tertanggal 7 Agustus 2014, tentang Peran Aktif Kepala Daerah dalam Penanganan Penyebaran Paham dan Ideologi ISIS di Indonesia, maupun Peraturan Pergub Jawa Timur Nomor 51 Tahun 2014 tertanggal 12 Agustus 2014, perihal Pelarangan dan Gerakan ISIS di Jawa Timur (Pemerintah Kabupaten Pasuruan, 2016, https://www.pasuruankab.go.id/berita-1759-terbitkan-perbup-larang-isis-masuk-kabupaten-pasuruan.html, 25 November 2017).

Wilayah di Kabupaten Pasuruan yaitu di Kecamatan Pandaan juga menjadi salah satu wilayah yang disinyalir terdapat tempat tinggal terduga teroris. Dilansir dari wartabromo.com pada Senin, 14 Mei 2018 Tim Densus 88 Anti Teror, menggeledah sebuah rumah di Dusun Kalitengah Baru, Desa Karangjati, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Penggeledahan diduga terkait kasus teror bom di Surabaya dan di Sidoarjo pada hari sebelumnya. Hanya saja orang terduga teroris dalam penggerebekan oleh tim Densus itu tidak ada di rumah. Beberapa waktu usai menggeledah, polisi mengamankan sejumlah barang, salah satunya berupa buku yang dikumpulkan dalam beberapa kardus (Suwono, 2018, http://www.wartabromo.co/2018/05/14/densus-88-geledah-rumah-terduga-teroris-di-Pandaan, 3 Oktober 2018).

Radikalisme kini mulai menyebar di tengah-tengah masyarakat melalui sarana-sarana umum kegiatan masyarakat. Sekolah adalah salah satu tempat yang bisa menjadi sarana dalam penyebaran paham radikal karena setiap peserta didik yang memperoleh pendidikan akan mudah terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran baru. Apabila setiap hari peserta didik diberi pemahaman radikalisme yang buruk, maka akan mempengaruhi pola pikir peserta didik tersebut dan akan diterapkan dalam suatu perilaku menyimpang dan akan merugikan orang lain. SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan menjadi lokasi penelitian karena sekolah ini menjadi salah-satu sekolah yang berbasis agama Islam di kecamatan Pandaan dibawah naungan Nahdatul Ulama yang menjadi salah satu organisasi masyarakat di Indonesia yang adaptif yaitu sesuai dengan tuntutan lingkungan, norma-norma dan adat istiadat yang berlaku di lingkungan dan masyarakat Indonesia sehingga menolak paham radikal yang dianggap menyimpang. Seperti pemaparan Sarmidi Husna selaku Sekretaris LBM PBNU, di laman nu.or.id bahwasanya NU tidak suka radikalisme, padahal di pesantren mereka juga mempelajari tentang jihad. Pelajaran soal jihad didapatkan santri dan Nahdliyin di antaranya melalui kitab Fathul Mu’in. Dalam kitab tersebut, disebutkan bahwa jihad ada empat tingkatan. Pertama, adalah menetapkan eksistensi Allah. Kedua, menegakkan syariat Allah, dan ketiga perang di jalan Allah maksudnya yaitu kita baru menyerang kalau lebih dulu diserang untuk membela diri dan kehormatan serta pada tahap keempat adalah jihad dengan memberikan perlindungan kepada setiap warga masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. NU menyadari bahwa dalam beragama ada pihak-pihak yang moderat, namun ada juga yang tidak. Ketika ada yang tidak moderat, maka perlu dibina melalui pendidikan. (Sarmidi Husna, 2018, http://www.nu.or.id/post/read/93560/benarkah-nu-menolak-radikalisme-karena-tidak-belajar-jihad, 3 Oktober 2018)

Berdasarkan urgensi yang dipaparkan pada latar belakang maka diperlukan penelitian mengenai sikap radikalisme di masyarakat khususnya pada para pelajar, sehingga peneliti menganggap sekolah adalah salah satu tempat yang bisa menjadi sarana penyebaran paham radikal. Oleh karena itu peneliti akan membuat suatu penelitian yang berjudul “Upaya Sekolah Dalam Mencegah Radikalisme bagi Siswa di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan”.  Peneliti ingin melakukan penelitian ke Sekolah Menengah Atas yang berbasis agama Islam untuk mengetahui upaya yang telah dilakukan untuk mencegah radikalisme dengan objek penelitian yaitu di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan.

 

BAHASAN

Pada bagian ini digambarkan secara spesifik mengenai program dalam mencegah radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan kabupaten Pasuruan, strategi, pelaksanaan, kendala, dan solusinya.

 

Program Sekolah dalam Mencegah Radikalisme Di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan

Program-program Anti Radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan dapat dikategorikan dalam dua bentuk yaitu

(1) program terintegrasi di dalam mata pelajaran dan

(2) program kegiatan rutin sekolah.

Hal ini sesuai dengan pendapat dari Muhaimin, Suti’ah, dan Sugeng Listyo Prabowo (2009: 349) program merupakan pernyataan yang berisi kesimpulan dari beberapa harapan atau tujuan yang saling bergantung dan saling terkait, untuk mencapai suatu sasaran yang sama. Sementara itu terkait dengan program pembelajaran Mudasir (2012: 1) mengatakan program sering dikaitkan dengan perencanaan, persiapan, dan desain atau rancangan. Desain dalam perspektif pembelajaran adalah rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran disebut juga dengan program pembelajaran.

Pertama, program yang terintegrasi dalam mata pelajaran merupakan kegiatan dalam mencegah radikalisme melalui materi-materi yang sudah dimasukkan dalam beberapa mata pelajaran. Mata pelajaran yang dimaksud adalah mata pelajaran yang didalamnya memuat tentang penguatan pendidikan karakter, antara lain:

(1) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan;

(2) Pendidikan Agama Islam;

(3) Ilmu Pengetahuan Sosial;

(4) Bimbingan Konseling; dan

(5) Aswaja

Kedua, program kegiatan rutin sekolah merupakan kegiatan yang telah diagendakan sekolah yang dilaksanakan secara berulang-ulang atau telah menjadi kebiasaan yang dijalankan di SMA MA’arif NU Pandaan. Kegiatan rutin sekolah terdapat pada beberapa kegiatan berdasarkan waktu pelaksanaannya, yaitu secara harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Kegiatan harian berisi kegiatan-kegiatan antara lain berdoa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan piket kelas; kegiatan mingguan dilakukan upacara bendera setiap hari Senin; kegiatan bulanan yaitu Istighosah; dan kegiatan tahunan berisi kegiatan-kegiatan antara lain Peringatan Hari Besar Nasional (Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia dan Peringatan Hari Kartini),  Peringatan Hari Besar Islam (Kegiatan OSIS berbagi Ta’jil dan Buka Bersama), dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Sosialisasi Anti Radikalisme).

 

Strategi Sekolah dalam Mencegah Radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan

SMA Ma’arif NU Pandaan telah menyusun strategi dalam mencegah radikalisme  berdasarkan rencana rancangan program untuk mencapai tujuan dan manfaat. Sebagai lembaga pendidikan SMA Ma’arif NU Pandaan telah menjadi salah satu institusi sosial yang berperan dalam melindungi generasi muda, hal ini sesuai dengan yang disampaikan BNPT (2016:6) melalui peran lembaga pendidikan, guru dan kurikulum dalam memperkuat wawasan kebangsaan, sikap moderat dan toleran pada generasi muda.

Berdasarkan temuan penelitian, SMA Ma’arif NU Pandaan memiliki pendekatan dan rancangan program yang diharapkan sekolah dalam mencegah radikalisme melalui pembiasaan sikap anti radikalisme, pemahaman materi anti radikalisme, dan literasi spiritual. Hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2014: 185-187) yang mengatakan deradikalisasi dapat dilakukan dengan sejumlah pendekatan, baik agama, psikologi, sosial budaya, pendidikan, politik, hukum, ekonomi, teknologi, dan sebagainya. Pendidikan karakter yang terintegrasi dalam mata pelajaran diberikan dalam mata pelajaran antara lain mata pelajaran PPKn, Pendidikan Agama Islam, Bimbingan Konseling, Pendidikan Ilmu Sosial dan Aswaja. Sedangkan strategi sekolah dalam mencegah radikalisme melalui pembiasaan atau program rutin dibagi menjadi 4 bentuk yaitu sifatnya harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Kegiatan harian melalui menyanyikan lagu Indonesia Raya, berdoa bersama, dan piket kelas; kegiatan mingguan melalui upacara bendera; kegiatan bulanan melalui istighosah; dan kegiatan tahunan melalui PHBN, PHBI, dan MPLS. Hal ini sesuai dengan pendapat Effendy (2007: 32) strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan taktik operasionalnya.

Tujuan sekolah dalam mencegah radikalisme melalui program-program Anti Radikalisme bagi peserta didik yaitu untuk meningkatkan antara lain:

(1) religius;

(2) nasionalisme;

(3) gotong royong;

(4) kebersamaan;

(5) demokratis; dan

(6) kekeluargaan.

Sebagai sekolah yang berbasis Islam, SMA Ma’arif juga ingin menguatkan mental keagamaan atau sikap spiritual melalui kegiatan keagamaan.  Temuan ini sesuai dengan yang disampaikan oleh BNPT (2016:6) generasi muda diharapkan mampu menangkal dengan kuat pengaruh radikalisme dari dalam diri dengan menanamkan jiwa nasionalisme, memperkaya wawasan keagamaan, membentengi diri terhadap provokasi, membangun komunikasi yang baik antar individu dan masyarakat.

Berdasarkan temuan yang diperoleh dari manfaat yang bisa diambil dari program Anti Radikalism adalah ada perubahan sikap dari peserta didik yang awalnya terpaksa menjadi terbiasa. Perubahan akan terjadi pada tata cara berfikir, tata cara bicara, dan tata cara bersikap ada perbedaan. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Agus (2014: 112) bahwa perubahan orientasi ideologi radikal dan kekerasan kepada orientasi yang damai dan toleran harus melalui proses pembelajaran dan dialog.

 

Pelaksanaan Program  Sekolah dalam Mencegah Radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan

Program sekolah dalam mencegah radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik yang pelaksanaannya dibagi dalam 2 bentuk yaitu terintegrasi dengan mata pelajaran dan kegiatan rutin sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2010 : 136 ) pelaksanaan pembelajaran adalah proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah–langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan. Beberapa program telah dilaksanakan oleh SMA Ma’arif NU Pandaan, pelaksanaan program tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

 

Program Terintegrasi dalam Mata Pelajaran

Berdasarkan temuan penelitian, materi Anti Radikalisme di berikan sesuai dengan Kompetensi Dasar dari mata pelajaran yang menanamkan pendidikan karakter. Pemahaman Anti Radikalisme yang diberikan guru berupa penanaman Anti Radikalisme dari kejadian-kejadian di berita mengenai ciri-ciri radikalisme, sumber radikalisme, bahaya radikalisme, dan cara mencegah radikalisme. Selain itu, pengetahuan Anti Radikalisme dapat diselipkan pada materi ideologi Pancasila. Temuan ini sesuai dengan yang dipaparkan oleh Agus (2014: 243) yang mengatakan lembaga pendidikan di semua level memiliki peran penting mencegah radikalisme dan terorisme dikalangan generasi muda. Pelajar dan mahasiswa perlu diberi kesadaran bahwa Indonesia didirikan oleh founding fathers sekaligus mereka tokoh agama yang mempunyai pandangan nasionalis, humanis, dan toleran. Pelajar dan mahasiswa perlu mendapatkan pelajaran civic education yang mengajarkan cinta negara.

Berdasarkan temuan penelitian, SMA Ma’arif NU Pandaan memiliki mata pelajaran khusus ke NU-an yang disebut Ahlussunnah Waljamaah atau yang disingkat sebagai Aswaja. Sebagai contoh terdapat materi bahwa peranan Nahdatul Ulama sebagai organisasi yang tidak radikal, materi konsep-konsep ukhuwah NU yaitu tentang individu yang bersikap kepada individu lain, dan materi tentang NU dalam perkembangan zaman dalam menanggapi jihad, radikalisme, terorisme, khilafiah islamiyah, demokrasi, kesetaraan jender, HAM, dan pluralisme di Indonesia. Temuan ini sesuai dengan yang dipaparkan oleh Agus (2014: 183) dalam mewujudkan program deradikalisasi harus selalu berpijak pada prinsip-prinsip hukum dan kemanusiaan. Agus (2014: 247- 249) juga menambahkan diperlukan langkah-langkah dalam mencegah radikalisme dan terorisme pada peserta didik di lembaga pendidikan berbasis agama Islam, sebagai berikut:

(1) memberikan pemahaman kepada santri tentang nilai-nilai perdamaian, persaudaraan, penyelamatan, dan cinta kasih, selain itu pula perlu ditingkatkan akan kesadaran hukum, penegakkan keadilan, toleransi terhadap perbedaan dan modernisasi dalam memandang berbagai masalah,

(2) perlu dikembangkan pengajaran agama yang humanis bagi kaum non pesantren dan masyarakat luas,

(3) meluruskan kurikulum yang ada di pondok pesantren tentang makna jihad dan terorisme.

 

Kegiatan Rutin Sekolah

Terdapat temuan penelitian bahwa sikap Anti Radikalisme ditanamkan oleh sekolah kepada peserta didik melalui pembiasaan 4 bentuk yaitu dilakukan secara harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hikam (2016: 160) menjelaskan bahwa program deradikalisasi harus dikembangkan mencakup pendeteksian dan peringatan dini terhadap pengaruh atau ideologi yang dianggap dapat menciptakan ancaman terhadap ideologi nasional Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Hikam (2016: 162) juga menambahkan bahwa program deradikalisasi dilakukan dalam berbagai cara, seperti komunikasi intensif dan berkualitas, pencapaian prestasi di bidang akademik maupun non akademik, penguatan wawasan Kebangsaan, dan aplikasi-aplikasi kearifan lokal yang tumbuh dalam masyarakat. Bentuk-bentuk pembiasaan tersebut diuraikan sebagai berikut:

 

a. Kegiatan Harian

Kegiatan harian merupakan kegiatan rutin di SMA Ma-arif NU Pandaan berkaitan dengan mencegah radikalisme yang dilakukan setiap hari. Kegiatan harian kegiatan doa bersama dilakukan serentak yang dipandu langsung oleh guru dari kantor melalui pengeras suara. Setelah berdoa bersama selesai peserta didik diwajibkan menyanyi lagu Indonesia Raya. Ketika pulang sekolah peserta didik wajib melaksanakan piket kelas. Ketiga kegiatan harian ini dimaksud untuk memupuk sikap religius,  nasionalisme, dan gotong royong.

 

b. Kegiatan Mingguan

Kegiatan harian merupakan kegiatan rutin di SMA Ma-arif NU Pandaan berkaitan dengan mencegah radikalisme yang dilakukan setiap seminggu sekali. Kegiatan upacara bendera dilaksanakan sebagaimana umumnya yaitu pengibaran bendera merah putih didiringi lagu Indonesia Raya setelah itu mengheningkan cipta, pembacaan UUD 1945, pembacaan Pancasila, amanat pembina upacara sampai kepada pembubaran upacara. Kegiatan ini dimaksud untuk memupuk sikap nasionalisme.

 

c. Kegiatan Bulanan

Kegiatan harian merupakan kegiatan rutin di SMA Ma-arif NU Pandaan berkaitan dengan mencegah radikalisme yang dilakukan setiap sebulan sekali. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari bulan pada Minggu ke empat yaitu istighosah yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Kegiatan ini dimaksud tidak hanya untuk memupuk sikap religius tapi juga kebersamaan, hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2014: 185-187) yang mengatakan deradikalisasi dapat dilakukan dengan sejumlah pendekatan salah satunya yaitu pendekatan agama yang menekankan bahwa setiap agama mengajarkan umatnya untuk berperilaku penuh kasih dan sayang terhadap sesamanya.

 

d. Kegiatan Tahunan

Kegiatan harian merupakan kegiatan rutin di SMA Ma-arif NU Pandaan berkaitan dengan mencegah radikalisme yang dilakukan setiap setahun sekali. Beberapa kegiatan tersebut antara lain.

1) Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia

Dalam memeriahkan HUT RI, SMA Ma’arif NU Pandaan melakukan beberapa kegiatan, antara lain:

(1) Lomba gerak jalan;

(2) Upacara bendera

(3) Lomba antar kelas.

Kegiatan ini dimaksud untuk memupuk sikap nasionalisme dan penghormatan terhadap jasa pahlawan  hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2014: 185-187) yang mengatakan deradikalisasi dapat dilakukan dengan sejumlah pendekatan salah satunya yaitu pendekatan sosial budaya berbasis kearifan lokal. Kearifan lokal dapat menjadi pemandu perilaku dalam menentukan keberadaban, seperti kebajikan, kesantunan, kejujuran, tenggang rasa, penghormatan dan penghargaan terhadap orang lain.

2) Peringatan Hari Kartini

Dalam memeriahkan Hari Kartini, SMA Ma’arif NU Pandaan melakukan beberapa kegiatan, antara lain:

(1) Lomba Mading; dan

(2) Lomba fashion.

Sama seperti peringatan HUT RI, peringatan hari Kartini juga untuk memupuk sikap nasionalisme melalui pendekatan sosial budaya.

3) Kegiatan OSIS berbagi Ta’jil, dan Buka Bersama

Dalam memperingati bulan Ramadhan, SMA Ma’arif NU Pandaan melakukan beberapa kegiatan, antara lain:

(1) Berbagi Ta’jil; dan

(2) Buka Bersama.

Kegaiatan ini menjadi salah satu kegiatan keagamaan dan kepedulian terhadap orang lain sehingga  memupuk sikap religius dan sosial melalui pendekatan keagamaan dan sosial budaya

4) Sosialisasi Anti Radikalisme dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)

MPLS merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi siswa baru dengan maksud untuk memperkenalkan siswa baru dengan lingkungan sekolah yang baru juga dengan para guru, kakak kelas dan sesama siswa baru agar terjalin keakraban dalam proses belajar mengajar sehingga tercipta suasana yang harmonis dan kondusif. Berdasarkan jadwal kegiatan diatas setiap hari peserta didik tidak lepas dari pendidikan karakter, antara lain:

(1) materi penguatan pendidikan karakter berisi tentang pengelolahan karakter antara lain religiositas, nasionalisme, dan gotong royong;

(2) materi Anti Radikalisme berisi tentang pengertian, ciri-ciri radikalisme, bentuk-bentuk radikalisme, penyebab radikalisme;

(3) pengenalan ekstrakulikuler sebagai wadah pengembangan bakat minat peserta didik;

(4) kegiatan LBB yang di latih langsung oleh polsek dan koramil Pandaan.

Kegiatan ini dimaksud untuk mengubah sikap, cara pandang, dan edukasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2014: 185-187) yang mengatakan deradikalisasi dapat dilakukan dengan pendekatan psikologis yang digunakan agar mampu menyentuh dan memahami bagian yang terdalam dari setiap orang maupun kelompok. Sehingga melalui pendekatan psikologis bisa memberikan pemahaman mengenai cara pandang yang dianggap keras menjadi lunak, toleran, damai, dan moderat.

 

Kendala dalam Pelaksanaan Program Sekolah untuk Mencegah Radikalisme Di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan

Kendala-kendala yang dirasakan secara umum bagi seluruh peserta didik terdapat pada program terintegrasi dalam mata pelajaran dan dalam program kegiatan rutin sekolah Terkait dengan program terintegrasi dalam mata pelajaran terdapat pada keterbatasan materi Anti Radikalisme yang dianggap belum sangat penting dan mendesak, maka hanya bisa menyelipkan dalam agenda KBM sekolah. Situasi dan kondisi juga mempengaruhi berhubungan dengan fokus belajar peserta didik, dan materi yang dianggap masih awam membuat peserta didik kesulitan dalam memahami materi. Terkait dengan kegiatan rutin sekolah pengkondisian peserta didik dalam setiap kegiatan masih susah karena jumlah peserta didik yang banyak, sasaran sosialisasi Anti Radikalisme yang hanya kepada siswa baru saja yaitu pada saat MPLS, dan waktu yang terbatas dalam pelaksanaan sosialisasi Anti Radikalisme mengakibatkan pemateri terburu-buru kurang mendetail dan suasana di dalam kelas yang kurang kondusif, beberapa ada yang berbicara sendiri dan bercanda sehingga beberapa peserta didik tidak bisa fokus.

Kendala-kendala tersebut merupakan faktor internal dalam pelaksanaan pembelajaran. Sesuai pendapat Dimyati dan Mudjiono (2010: 235-254) problematika pembelajaran berasal dari dua faktor yaitu faktor intern dan ekstern. Terdapat berbagi faktor intern dalam diri siswa, yaitu sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, rasa percaya diri siswa, intelegensi, kebiasaan belajar, dsb. Sedangkan, faktor- faktor eksternal tersebut antara lain: guru sebagai pembina siswa dalam belajar, sarana dan prasarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan sosial siswa di sekolah, dan kurikulum sekolah.

 

Solusi Mengatasi Kendala dalam Pelaksanaan Program Sekolah untuk Mencegah Radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan.

Berdasarkan pemaparan data dan temuan penelitian yang diperoleh peneliti, berbagai kendala dalam pelaksanaan program sekolah untuk mencegah radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten dapat diatasi dengan  ditemukan solusi-solusi, antara lain:

Pertama, kendala terdapat pada program terintegrasi dalam mata pelajaran yaitu dalam pelaksanaan program sekolah dalam mencegah radikalisme terkendala pada pemberian materi sehingga solusinya adalah penyisipan materi anti radikalisme dengan menstimulus peserta didik dengan menghubungkan radikalisme dengan lingkungan sekitar mereka, kendala respons peserta didik yang kurang maka solusi yang diberikan adalah melalui model-model pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik sehingga menjadikan pembelajaran tidak akan membosankan dan kendala untuk materi yang sulit, maka konsultasi dalam pembelajaran antara guru dan peserta didik perlu dilakukan.

Kedua, kendala program kegiatan rutin sekolah, yang menjadi kendala yaitu Guru-guru melalui tatib sekolah melakukan pengawasan pada setiap kegiatan untuk pengkondisian peserta didik di setiap kegiatan, kendala selanjutnya yaitu waktu yang berbentrokan antara jam mengajar guru dengan pendampingan sosialisasi anti radikalisme sehingga solusi yang dilakukan adalah didahulukan untuk mendampingi peserta didik baru kemudian apabila berbentrokan dengan KBM maka akan diganti dengan tugas yang diberikan oleh guru yang bersangkutan yang disampaikan oleh guru piket kemudian guru piket menyampaikan kepada kelas yang bersangkutan. Solusi yang terakhir yaitu apabila sekolah terdapat siswa yang terindikasi gerakan radikalisme maka sekolah menangani dengan pendekatan persuasif yaitu guru melakukan komunikasi kepada peserta didik  bertujuan untuk mengubah pola pikir mereka yang radikal tersebut dan melalui literasi keagamaan menjadikan peserta didik mengetahui Islam dengan baik kemudian juga melibatkan orang tua melalui musyawarah.

Solusi-solusi tersebut merupakan jalan yang diambil ketika kendala-kendala dalam mencegah radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan. Solusi-solusi tersebut sesuai dengan pendapat Djamarah,dkk (2006: 6-8) menyatakan bahwa dilakukan beberapa hal supaya pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar berhasil dan sesuai dengan yang diharapkan maka diperlukan Pertama, tujuan pengajaran yang dirumuskan harus jelas dan konkret, sehingga mudah dipahami peserta didik. Kedua, memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai sasaran. Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif. Metode atau teknik penyajian untuk memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah. Keempat, suatu program baru bisa diketahui keberhasilannya, setelah dilakukan evaluasi. Sistem penilaian dalam kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu strategi yang tidak bisa dipisahkan dengan strategi dasar yang lain.

 

PENUTUP

Simpulan

Program-program Anti Radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan dapat dikategorikan dalam dua bentuk yaitu

(1) program terintegrasi di dalam mata pelajaran dan

(2) program kegiatan rutin sekolah.

Pelaksanaan program yang terintegrasi dalam mata pelajaran yang didalamnya memuat tentang penguatan pendidikan karakter, antara lain:

(1) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan;

(2) Pendidikan Agama Islam;

(3) Ilmu Pengetahuan Sosial;

(4) Bimbingan Konseling; dan

(5) Aswaja.

SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan dalam mencegah radikalisme memiliki strategi mencegah radikalisme melalui pendekatan-pendekatan antara lain:

(1) pembiasaan sikap anti radikalisme;

(2) pemahaman materi anti radikalisme;dan

(3) literasi spiritual.

Tujuan sekolah dalam mencegah radikalisme melalui program-program Anti Radikalisme bagi peserta didik yaitu untuk meningkatkan antara lain:

(1) religius;

(2) nasionalisme;

(3) gotong royong;

(4) kebersamaan;

(5) demokratis; dan

(6) kekeluargaan.

Manfaat yang bisa diambil dari program Anti Radikalisme adalah ada perubahan sikap dari peserta didik yang awalnya terpaksa menjadi terbiasa. Perubahan akan terjadi pada tata cara berfikir, tata cara bicara, dan tata cara bersikap ada perbedaan.

Program kegiatan rutin dilaksanakan berdasarkan waktu pelaksanaannya, yaitu secara

(1) harian;

(2) mingguan;

(3) bulanan, dan

(4) tahunan.

Kegiatan harian berisi kegiatan-kegiatan antara lain berdoa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan piket kelas; kegiatan mingguan dilakukan upacara bendera setiap hari Senin; kegiatan bulanan yaitu Istighosah; dan kegiatan tahunan berisi kegiatan-kegiatan antara lain Peringatan Hari Besar Nasional (Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia dan Peringatan Hari Kartini),  Peringatan Hari Besar Islam (Kegiatan OSIS berbagi Ta’jil dan Buka Bersama), dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Sosialisasi Anti Radikalisme).

Kendala dalam upaya mencegah radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan antara lain:

(1) keterbatasan materi anti radikalisme;

(2) situasi dan kondisi peserta didik ketika pembelajaran;

(3) materi yang dianggap sulit bagi peserta didik;

(4) pengkondisian peserta didik

(5) sasaran sosialisasi anti radikalisme; dan

(6) waktu pelaksanaan sosialisasi anti radikalisme

Kendala-kendala tersebut dapat diatasi dengan solusi-solusi antara lain:

(1) penyisipan materi anti radikalisme;

(2) inovasi dalam pembelajaran;

(3) konsultasi materi kepada guru;

(4) pengawasan dari guru;

(5) pembagian waktu dalam kegiatan sosialisasi anti radikalisme; dan

(6) pendekatan kepada siswa yang terindikasi gerakan radikalisme.

 

Saran

Berdasarkan hasil penelitian “Upaya Sekolah dalam Mencegah Radikalisme di SMA Ma’arif NU Pandaan Kabupaten Pasuruan” peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi SMA Ma’arif NU Pandaan, program-program dalam mencegah radikalisme yang telah ada di SMA Ma’arif NU Pandaan sebaiknya dipertahankan, mengingat program-program tersebut memiliki tujuan dan manfaat yang positif dalam penguatan pendidikan karakter yang religius, nasionalis, toleransi, gotong-royong, dan kekeluargaan.

2. Bagi Orang Tua Peserta Didik, kewaspadaan dan pengawasan terhadap anak perlu dioptimalkan karena peran orang tua sangat penting dalam melindungi anak-anaknya dari pengaruh radikalisme. Informasi tentang anti radikalisme perlu dimiliki orang tua supaya dapat memberikan pendidikan kepada anak-anaknya tentang kebangsaan, toleransi, gotong royong, dan sebagainnya.

3. Bagi Masyarakat Umum, akan menjadi lebih baik jika masyarakat juga mendukung program Anti Radikalisme dan juga memantau lingkungan sekitar supaya tetap waspada adanya orang-orang baru dan segera melaporkan kepada pihak yang berwajib apabila ada warga yang terlihat mencurigakan sesuai dengan ciri-ciri radikalisme.

 

4. Bagi Pemerintah, melalui BNPT sebaiknya memantapkan kembali, menyusun kurikulum pendidikan yang di dalamnya berisi program deradikalisasi supaya program tersebut terarah dan dapat secara optimal diterapkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia.