SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DALAM MATA PELAJARAN PKN

Eric Abdurrohman

Abstrak


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DALAM MATA PELAJARAN PKN

Eric Abdurrohman (150711603284) Pendidikan Pancasila dan  Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.

Abdurrahman.eric@gmail.com

 

ABSTRAK

Penulisan artikel dengan judul model pembelajaran cooperative learning ini merupakan suatu model pembelajaran yang saling membantu, saling bekerja satu sama yang lain. Yang dibagi dalam suatu kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda beda. Cooperative learning merupakan teknik pembelajaran yang sangat efisisen dikarenakan dibentuknya kelompok kelompok kecil yang berbeda kemampuan yang nantinya bisa mampu saling membantu satu sama lain. Dalam mata pelajaran PKn dibutuhkan juga teknik ini karena sangat membantu siswa untuk memahami teknik yang disampaikan karena dengan kelompok kelompok kecil ini membuat beban guru untuk mejelaskan ke siswa sedikit berkurang karena apabila dalam suatu kelompok ada yang kurang atau belum paham akan dibantu atau diberi pemahaman dari anggota kelompok lainnya yang sudah paham dengan materi tersebut, lebih khususnya dalam mata pelajaran PKn. Oleh karena itu satu kelompok kecil tersebut saling bergotong royong untuk saling memahamkan dan memberi pemahaman kepada anggota kelompok. Dari cooperative learning tersebut dapat membuat kemampuan dan hasil belajar siswa meningkat karena adanya saling membantu atau saling bekerja sama untuk memahami suatu materi khususnya PKn.

 

Kata Kunci : model pembelajaran, cooperative learning, kelompok, saling membantu, hasil

 

PENDAHULUAN

Dalam proses pembelajaran kita sebagai pendidik dituntuk untuk selalu kreatif dan selalu meningkatkan proses pembelajaran. Selain itu juga diperlukan faktor keaktifan dari peserta didik yang sering kita ajar tersebut dalam proses pembelajaran. Kita sebagai pendidik harus bisa merencanakan dan harus bisa mengatur suasana atau kondisi diajar dalam kelas. Sehingga, pendidik dan peserta didik dapat berinteraksi dengan baik. Dan peserta didik dengan peserta didik dapat berkomunikasi dengan baik. Dengan begini dapat membuat kondisi belajar lebih kondusif, karena bukan tidak mungkin terjadi persaingan dalam kelas yang lebih mengedepankan ego membuat sebagian siswa dengan kemampuan yang belum bisa akan tersisih di dalam kelas. Oleh karena itu diperlukannya model pembelajaran cooperative learning yang dimana peserta didik didalam satu kelas dibagi dalam kelompok kelompok kecil yang diisi dengan peserta didik dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Dengan begitu suasana belajar lebih baik karena akan timbul kerja sama antar peserta didik dan juga gotong royong.

Pendidik juga perlu mengembangkan potensi dan kemampuan siswa yang bisa terlihat pada saat pembentukan kelompok kecil, yang diisi berbagai tingkat kemampuan yang secara tidak langsung akan membuat yang belum bisa akan bertanya ke anggota kelompok yang sudah bisa. Dan pendidik juga harus menekankan bahwa proses pembelajaran yang dilalukan ini bukan semata mata kepada hasil tetapi lebih ke proses atau kerja dama dan saling membantunya. Karena sejatinya tujuan pendidikan adalah meningkatkan kemampuan peserta didik sampai ketahap tertinggi dari peserta didik tersebut, dan tiap peserta didik mempunyai tahap tertinggi yang berbeda beda dan kita tidak boleh memukul rata.

PKn merupakan mata pelajaran atau bidang studi yang mempelajari atau menelaah kejadian, gejala, dan masalah sosisal didalam masyarakat sebagai warga negara, dari berbagai aspek kehidupan secara terpadu (Ishack, 2005:17). Melalui pembelajaran ini diharapkan peserta didik mendapat pelajaran bagaimana menjadi warga negara yang baik, demokratis, bertanggung jawab dan menjadi warga dunia yang cinta damai. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran PKn ini sangat diperlukan penerapan cooperative learning dikarenakan dalam cooperative learning dapat lebih memahami apa yang diajarkan karena bukan hanya dari guru nanti akan juga dibantu oleh teman temannya dalam satu kelompok untuk memahami suatu materi dalam mata pelajaran PKn.

Cara penerapan yang dilakukan pendidik dalam proses belajar juga akan berpengaruh pada proses pembelajaran yang memiliki makna dan pengalaman siswa satu sama lain untuk saling membantu dan saling bekerja sama. Dari pengalaman disini bisa menunjukkan kaitan unsur unsur konseptual yang lebih efektif, relevan yang membentuk skema atau konsep. Yang berguna untuk memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan (Williams, 2006:116).

 

PEMBAHASAN

Metode Cooperative Learning adalah metode yang membagi murid kedalam kelompok kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 orang, yang diisi oleh murid murid dengan tingkat kemampuan berbeda atau tingkat akademis yang berbeda. Menurut Slavin (1995:5) ada tiga konsep utama dalam pembelajaran cooperative yaitu penghargaan kelompok (team award), pertanggungjawaban individu (individual accountability) dan kesempatan yang sama untuk berhasil (equal opportunity for success). Sehingga didalam kelompok menjadi lebih seimbang karena di isi anak yang berkemampuan akademis tinggi, sedang, biasa,  asal suku agama ras yang berbeda. Sehingga, terjadi nya saling bantu satu sama lain dan bekerja sama untuk menjadikan kelompok yang kompak dan terbaik karena pada umumnya jika salah menggunakan metode pelajaran PKn akan terasa sangan membosankan bagi peserta didik. Seorang pendidik memberikan sebuah materi yang nantinya akan diberikan ke masing masing kelompok. Dan akhirnya para peserta didikpun bisa bekerja dalam tim dan bahu membahu membantu memahamkan semua anggota kelompok untuk dapat meguasai materi yang diberikan. Selanjutnya, kelompok kelompok tersebut akan memberikan presentasi untuk sebuah materi dan akan diberikan kuis dari pendidik. Tentunya dalam kuis tersebut ada yang berhasil menjawab ada juga yang belum berhasil menjawab, bukan berarti yang belum bisa dalam metode Cooperative Learning itu disebut gagal  karena hakikatnya belajar itu mengetahui lebih banyak daripada yang sebelumnya. Jadi apabila didalam proses tersebut sudah ada progres walaupun sedikit sudah bisa disebut berhasil.

Mata pelajaran PKn ini membentuk karakter diri dari beragam suku, agama, ras, dan antar golongan, sosial kultural, bahasa dan usia untuk menjadi warga negara yang baik dan cerdas yang terampil dan berkarakter yang dilandasi oleh UUD 1945. Yang sejalan dengan hasil belajar yang diterima sesuai dengan pengalaman belajarnya. Inipun sejalan dengan pernyataan Depdiknas (2005: 34) bahwa mata pelajaran PKn atau kewarganegaraan yang merupakan mata pelajaran yang secara umum bertujuan mengembangkan potensi individu yang memungkinkan berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Kelebihan dari Cooperative learning adalah interaksi yang berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir antar anggota kelompok. Karena  jika kebutuhan tidak terpenuhi maka selamanya induvidu berada dalam situasi tegang. Akhir dari ini adalah setiap induvidu membutuhkan interaksi dengan individu lain yang akan membentuk anggota kelompok. Anggota kelompok inilah yang akan membantu. Wina Sanjaya (2006 : 241). Hal ini berguna untuk pendidikan jangka panjang yang nantinya bisa untuk bersosialisasi dan peka terhadap lingkungan sekitar. Dapat meningkatkan kemampuan peserta didik mengelola informasi dan kemampuan belajar acak (abstrak) menjadi nyata. Mampu mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, serta menerima umpan balik. Sehingga interaksi atau komunikasi bisa berjalan dengan lancar peserta didik dapat memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat bisa memberdayakan tanggung jawab dalam belajar dan juga dan juga dalam kelompok , strategi yang cukup bisa diandalkan untuk meningkatkan prestasi akademik serta kemampuan dalam bersosialisasi sosial, hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain serta harga diri dalam mengembangkan keterampilan dengan sikap positif yang bisa menghargai satu sama lain dan belajar berlapang dada menerima pendapat dari anggota kelompok dan orang lain yang nantinya dapat membandingkan pendapat dari orang lain. Dapat mengungkapkan ide ide atau gagasan dengan lisan secara gamblang, dari Cooperative Learning ini membuat peserta didik tidak bergantung pada guru dan terlebih mampu mengungkapkan pendapat ide saran dan bisa mendapatkan informasi dari media apa saja seperti buku atau teman dalam kelompok yang bertukar pikiran. Kelemahan dari Coperative Learning ini adalah pendidik dituntuk mempersiapkan secara matang dan lebih siap untu ditanyai oleh peserta didik yang bisa menguras tenaga, waktu dan pikiran. Dibutuhkan juga kesabaran dalam memantau setiap kelompok kelompok yang terbentuk karena dikhawatirkan kalau tidak ada pantauan dari pendidik materi yang dibahas akan melebar dan ujung ujungnya berbuah ngobrol tidak jelas atau ramai sendiri. Perlunya pantauan karena jangan sampai ada yang mendominasi dalam grub supaya tidak timbul ke pasif an dari anggota kelompok yang lain

Permasalahan dalam mata pelajaran PKn adalah terlalu banyak materi serta cara guru yang menerangkan materi terkadang makin menambah kejenuhan dan kebosanan. Dengan metode ini sebenarnya siswa bisa belajar dengan aktif tapi tidak menutup kemungkikan kelemahan juga akan ada seperti yang bekerja dalam kelompok adalah itu itu saja. Dan bisa menjadi ajang gosip yang bisa menimbulkan gosip kedepannya. Cooperative Learning ini sendiri sebenarnya bisa mengatasi permasalahan dengan cara yaitu memilih ketua kelompok yang benar benar mengarahkan, mengayomi dan tetapi juga bisa membawa suasana sehingga nantinya kelompok bisa lebih kondusif dan pendidik hanya memantau siapa yang bekerja siapa yang kurang bekerja. Dan orientasi keberhasilan jangan semata mata ditekankan kepada nilai atau hasil tetapi lebih kepada proses itu.

Dalam Cooperative Learning ini mempunyai banyak metode seperti:

• Tipe Jigsaw

yang pada intinya terdiri dari  4-6 anggota kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan materi dalam kelompok dan bisa mengajarkan ke anggota lain dalam satu kelompok.

• Tipe Think Pair Share

Yang memberikan respon pada suatu materi yang diberikan untuk berpikir dan merespon dan saling bantu satu sama lain.

• Tipe STAD (state team achieve division)

Merupakan tipe paling sederhana dengan tahapan presentasi dalam kelas, kerja kelompok, tes, penilaian progres dan penghargaan bagi yang memiliki progres yang bagus.

• Tipe Group Investigation

Yang memiliki tahapan seperti pengelompokan, perencanaan,penyelidikan, pengorganisasian, presentasi, dan evaluasi.

• Tipe Match a Match

Disini peserta didik mencari pasangan dan sambil belajar mengenai suatu konsep dengan suasana yang kondusif.

Dan masih banyak lagi tipe tipe dalam metode belajar dan pembelajaran  dalam Cooperative Learning sehingga kita sebagi pendidik dituntut untuk mengetahui metode mana yang cocok diterapkan dalam kelas yang terdiri dari berbagai level tingkat prestasi akademik, suku, ras dan agama yang berbeda. Sehingga dengan Coperative Learning lebih memudahkan pendidik sekaligus mengajarkan dalam bersosial yang tidak mengukur keberhasilan dengan sebuah nilai melainkan  progres.

 

KESIMPULAN

Jadi Cooperative learning merupakan salah satu strategi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada sikap dalam bekerja sama atau membantu satu sama lain dalam struktur kerjasama yang teratur dalam suatu kelompok kecil, yang terdiri dari minimal dua orang atau lebih. Pembelajaran cooperative learning dibagi dalam beberapa langkah yaitu: menyampaikan tujuan  dari materi, menyajikan informasi, mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok-kelompok belajar, sebagai pendidik membimbing kelompok belajar,  melakukan evaluasi, dan memberikan penghargaan bagi peserta didik yang meningkat signifikan. Pembelajaran menggunakan metode ini  merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi atau berkomunikasi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran menggunakan metode ini, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam anggota kelompok belum paham akan materi yang diberikan. Sehinngga dalam PKn sangat membantu sekali menggunakan metode ini untuk membuatkan kelas lebih hidup untuk bertanya dan keaktifan peserta didik. Dan hasil dari metode ini pun bukan semata mata karena nilai tetapi karena adanya progres belajar tersebut dapat dikatan berhasi. Dalam metode cooperativae learning dalam mata pelajaran pkn ini peserta didik menjadi tidak tergantung pada guru, dapat menuangkan pikiran dan gagasan yang bisa untuk saling mau menerima pendapat orang lain, meningkatkan keaktifan anggota kelompok yang minimal menguasai atau bisa menerangkan dalam kelompok dan meningkatkan semangat belajar. Sehingga dalam belajar pkn lebih interaktif dan tidak akan merasa bosan. Tipe tipe dalam Cooperative Learning terdiri dari jigsaw, Think-Pair-Repair, STAD,Group Investigatin dan match a macth yang tentunya akan bisa diterapkan di berbagai macam tingkat pendidikan yang bisa dapat disesuaikan sesuai jenjang kehidupan. Tetapi bukan tidak mungkin terjadi permusuhan karena adanya percekcokan kecil karena perbedaan pendapat. Dan bisa berpotensi menyebabkan kegaduhan karena ada yang memdominasi sehingga yang agak pasif akhirnya ngobrol sendiri, bergosib dan menyebabkan keramaian. Jadi pendidik harus berperan sebagai fasilitator, mediator, motivator dan juga sebagai evaluator. Dengan begitu, cooperative learning ini dapat meningkatkan hasil belajar. Menerima terhadap perbedaan individu, dan mempunyai keterampilan dalam bersosialisasi di dalam lingkungan dengan baik.

 

SARAN

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam mata kuliah PKn diperlukan seorang ketua grup yang bisa mengayomi, mengajak dan membantu anggota dalam kelompok. Yang nantinya bisa bisa menghargai ide pikiran atau gagasan dari anggota yang lain. Keaktifan dari peserta didik akan sangat diperlukan tapi agak disayangkan apabila disalahgunakan untuk ngobrol bahkan gosip karena kurangnya kontrol atau pantauan dari pendidik. agar tujuan dari cooperative learning ini tercapai.

 

DAFTAR RUJUKAN.

Slavin.2008. Cooperativ Learning. Bandung : NUSA MEDIA

Crain Willian, 2006. Teori perkembangan konsep dan teori. Yogyakarta

Ishack. 2005. Buku sumber tentang metode mertode baru (terjemahan tjetjep rohindi rohidi) beverly ca: sage publications.

Sanjaya wina. 2008. Kurikulum dan pembelajaran. Bandung : Alphabeta

Wikipedia.2017. pembelajaran cooperative. (online)(www.id.wikipedia.org/ wiki/Pembelajaran_kooperatif.html) diakses 28 april 2017

Zaini hisyam.2004. strategi pembelajaran aktif. Yogyakarta : CTSD