SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI KARAKTER REMAJA INDONESIA

Nur Khafido

Abstrak


PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI KARAKTER REMAJA INDONESIA

Nur Khafido Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5

Surel: n.khafido@yahoo.com

 

Abstrak

Pada artikel ilmiah ini berlandasakan masalah megenai degradasi karakter yang dimiliki remaja di Indonesia. Hal tersebut memerlukan alternatif solusi, salah satunya melalui proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah yaitu melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter mampu membentuk dan meningkatkan sikap setiap individu sehingga dapat tercipta perilaku yang berkualitas dan memiliki budi pekerti yang luhur.

 

Kata Kunci : pendidikan karakter, degradasi karakter.

 

PENDAHULUAN

Pada era globalisasi saat ini, perilaku bangsa Indonesia sangat memprihatinkan. Terutama perilaku remaja yang menyimpang nilai-nilai sosial di masyarakat. Hal-hal yang negatif tersebut dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar, baik lingkungan sekolah maupun pada saat di rumah. Misalnya, tawuran antar pelajar, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain. Secara psikologis, kenakalan remaja adalah wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa anak-anak maupun remaja.

Moral remaja dari tahun ketahun terus mengalami penurunan kualitas atau degradasi. Degradasi moral ini seakan luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang. Dimana remaja adalah calon generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat membangun dan memajukan karakter bangsa. Pada kenyataannya, arus globalisasi yang masuk ke Indonesia berdampak pada pola fikir dan gaya hidup remaja.

Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba (2014), jumlah penyalahgunaan narkoba diperkirakan ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai narkoba dalam setahun terakhir pada kelompok usia 10-59 tahun. Angka tersebut terus meningkat dengan menunjuk hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional dengan Puslitkes UI diperkirakan pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa (2015).

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang berfikir, bersikap, dan bertindak (Prastyo, 2012 : 13).  Seseorang memiliki karakter yang berbeda, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Perilaku yang di lakukan seseorang setiap hari menjadi suatu landasan cara pandang orang lain. Cara pandang orang lain bisa menghasilkan cara pandang positif maupun negatif. Pandangan positif berupa perilaku sopan santun terhadap sesama manusia, pandangan negatif seperti tingkah laku seseorang yang melanggar niali-nilai sosial.

Mudarnya moralitas di kalangan remaja menjadi dampak dari lingkungan masyarakat  yang tidak mendukung, seperti lingkungan pernuh kejahatan, kesenjangan sosial, dan lain-lain. Pendidikan karakter diharapkan mampu membentuk dan membekali para remaja di Indonesia dalam bertingkah laku. Dalam konteks Indonesia, penerapan pendidikan karakter adalah kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi sehingga dengan implementasi pendidikan karakter akan tercapai tujuan pendidikan bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia remaja secara utuh, terpadu dan seimbang. Sesuai standar kompetensi lulusan melalui pendidikan karkater diharapkan remaja mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50 % variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30 % berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20 % sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua (Suyanto, 2010). Pendidikan karakter di mulai sedini mungkin, baik di bangku sekolah maupun keluarga yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

 

BAHASAN

Pada bagian ini dijabarkan secara spesifik mengenai (1) Konsep dasar pendidikan karakter (2) Tahap implementasi dan (3) Kekurangan dan kelebihan

 

Konsep Dasar Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter merupakan upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis (Lickona, 1991). Sedangkan menurut Yudi (2009), pendidikan karakter adalah suatu payung istilah yang menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal. Berdasarkan definisi tersebut, pendidikan karakter bertujuan untuk memberikan arah kepada seseorang mengenai landasan-landasan bertingkah laku yang sesuai dengan norma sosial di masyarakat. Tujuan umum dari pendidikan karakter yaitu menciptakan perilaku yang baik pada setiap individu. Oleh Karena itu, pendidikan karakter yang diselenggarakan dalam lingkup pendiidkan formal maupun non formal sebagai pembentukan karakter yang berkualitas.

 

Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter

Prinsip-prinsip yang dapat diadaptasikan sebagai cara mengukur efektifitas pendidikan karakter sebagai berikut:

(1) Menggunakan pendekatan yang komprehensif, bertujuan dan proaktif untuk perkembangan karakter. Pendekatan yang komprehensif dalam pendidikan karakter meliputi semua mata pelajaran sehingga pendidikan karakter tidak otonom (berdiri sendiri) yang hanya focus pada dua mata pelajaran saja, seperti PKn dan Agama. Apabila pendidikan karakter hanya fokus pada dua mata pelajaran saja, maka pendidikan karakter tersebut tidak efektif.

(2) Mendorong pengembangan motivasi diri siswa. setiap individu memiliki potensi diri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dengan memberikan motivasi lebih mudah mengantar siswa untuk mengenali bakat, kemampuan mengaktualisasi diri dan meyakinkan keunikan dalam dirinya.

(3) memberikan para siswa peluang untuk melakukan tindakan moral. Misalnya, menjadi relawan terhadap bencana alam yang terjadi di suatu daerah dengan menjadi pengelola donasi (Barnawi dan Arifin, 2012 : 37-39).

Proses dan tujuan pendidikan karakter melalui pembelajaran di sekolah adalah terwujudnya insan yang berilmu dan berkarakter. Karakter yang diharapkan tidak menyimpang dari budaya asli Indonesia sebagai perwujudan nasionalisme dan sarat muatan agama (Barnawi dan Arifin, 2012 : 28-29). Berdasarkan teori tersebut, pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk karakter pada setiap individu yang berdasarkan dengan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, pendangat pendidikan karakter sangat penting dalam pembentukan karakter untuk menghasilkan insan yang berkualitas, tidak hanya berkualitas melainkan insan yang memiliki akhlak yang baik.

 

Model-model Realisasi Pendidikan Karakter

Model Integrasi sebagai Realisasi Pendidikan Karakter

Model yang ditawarkan untuk mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah. Pertama, menggunakan model integrasi dengan menyatukan nilai-nilai dan karakter-karakter yang akan dibentuk dalam setiap mata pelajaran (Barnawi dan Arifin, 2012 : 68). Dalam model ini, pendidikan kewarganegaraan mengajarkan nilai moral pada siswa. Misalnya, guru mengajarkan tentang bersikap sopan santun dalam masyarakat. Bersikap sopan santun kepada sesama manusia terutama kepada orang yang lebih tua. Dalam pendidikan kewarganegaraan terkandung nilai kebangsaan, nilai sosial, nilai agama, dan nilai persatuan. Implementasi dari nilai-nilai tersebut, seperti

(1) nilai kebangsaan bisa terlihat ketika guru mengajarkan pada siswa sikap terhadap negara yaitu bangga terhadap negara, cinta tanah air dan rela membela negara,

(2) nilai sosial, guru mengajarkan kepada siswanya untuk memiliki jiwa sosial, gotong royong, dan saling membantu,

(3) nilai agama bisa di lihat ketika guru mengajarkan tentang kewajiban manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,

(4) nilai persatuan ditanamkan pada siswa dengan cara bagaimana menghargai perbedaan yang ada di ruang lingkup masyarakat. Jadi, dengan model ini semua pihak bertanggungjawab secara kolektif dalam lingkup sekolah.

 

Model Ekstrakulikuler sebagai Realisasi Pendidikan Karakter

Model selanjutnya yang dianggap mampu untuk mengimplementasikan pendidikan karakter yaitu model ekstrakulikuler melalui sebuah kegiatan tambahan yang berorientasi pembinaan karakter siswa (Barnawi dan Arifin, 2012 : 68). Kegiatan ekstrakulikuler mempunyai tujuan yang akan dicapai, dengan kegiatan yang beragam tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan kreatifitas menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman yang di dapat dari kegiatan tersebut. Misalnya, kegiatan ekstrakulikuler teater yang dapat membentuk kepribadian seperti disiplin, mandiri, bertanggungjawab, rasa ingin tahu, kreatif, kebersamaan, dan kerja keras. Prinsip-prinsip dari kegiatan ekstrakulikuler sebagai berikut:

(1) individual, yaitu prinsip kegiatan yang sesuai dengan potensi, bakat, minat siswa masing-masing,

(2) pilihan, yaitu kegitan yang sesuai dengan keinginan,

(3) keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan yang menuntut keikutsertaan siswa secara penuh,

(4) etos kerja, yaitu prinsip kegiatan yang membangun semangat siswa untuk bekerja dengan baik dan berhasil,

(5) menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan dalam suasana yang disukai dan menggembirakan siswa.

 

Kelebihan dan Kekurangan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter baik di rumah maupun di masyarakat dinilai belum menggembirakan. Berikut ini kekurangan dari pendidikan karakter:

(1) pemahaman orang tua dalam memberikan pendidikan karakter bagi putra-putrinya masih minim. Padahal, hamper 86 % waktu anak dihabiskan bersama orang tua di rumah. Hanya 16 % waktu anak di sekolah sisanya sebagian besar di luar sekolah. Misalnya, orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjannya sehingga anak tersebut kurang kasih sayang dan akan berpotensi mengganggu psikologi anak,

(2) ketika menginjak remaja, siswa dihadapkan pada lingkungan yang tidak kondusif. Lingkungan tidak kondusif mempengaruhi pertumbuhan karakter yang mengakibatkan ketiadaan role model insan berkarakter dalam kehidupan masyarakat (Barnawi dan Arifin, 2012 : 31-32).

Pendidikan karakter tidak hanya memiliki kekurangan, akan tetapi pendidikan karakter juga memiliki kelebihan. Kelebihan tersebut meliputi:

(1) membantu meningkatkan perilaku prososial dan menurunkan sikap dan perilaku negatif siswa,

(2) siswa mencapai sukses baik di sekolah maupun dalam kehidupan,

(3) menjadikan pengajaran berlangsung lebih mudah dan belajar berlangsung lebih efisien,

(4) membantu siswa siap merespon berbagai tantangan kehidupan,

(5) lebih peduli terhadap nilai-nilai yang ada di masyarakat (Schwartz, 2008).

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Penjelasan yang telah dipaparkan dalam pembahasan dapat diambil kesimpulan yaitu pendidikan karakter merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk membantu membentuk dan meningkatkan perilaku yang baik. Dalam hal ini, pendidikan karakter bertujuan meningkatkan kualitas pribadi dari masing-masing individu. Selain itu, untuk mengukur efektivitas pendidikan karakter terdapat prinsip-prinsip yang dapat diadaptasikan yaitu dengan menggunakan pendekatan komprehensif, yaitu pendekatan yang diterapkan dalam pendidikan karakter melalui seluruh mata pelajaran. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak otonom (berdiri sendiri) sehingga proses pendidikan tersebut berjalan secara efektif.

Model yang dapat digunakan untuk merealisasikan pendidikan karakter sebagai berikut: model integrasi dengan menyatukan nilai-nilai serta karakter yang akan dibentuk dalam setiap mata pelajaran. Dalam hal ini, model integrasi lebih menenkankan pada nilai-nilai untuk menyatukan karakter dari masing-masing individu dalam setiap mata pelajaran. Model selanjutnya yaitu model ekstrakulikuler, model ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas, menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman yang di dapat dari kegiatan tersebut.

Pembelajaran pendidikan karakter dalam lingkup formal maupun non formal memiliki kelebihan, yaitu menurunkan sikap dan perilaku negatif yang ada pada setiap individu. Dalam hal ini, perilaku individu dilandasi dengan  nilai-nilai yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan karakter membentuk dan meningkatkan kualitas pribadi dari masing-masing individu. Pendidikan karakter tidak hanya memiliki kelebihan saja, akan tetapi pendidikan karakter juga memiliki kekurangan, yaitu lingkungan yang tidak kondusif menyebabkan pendidikan karakter tidak berjalan secara efektif.

 

Saran

Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan, pendidikan karakter merupakan solusi yang diberikan pemerintah untuk mengatasi degradasi karakter yang ada di Indonesia. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan informasi kepada masyarakat bahwasannya dengan pendidikan karakter dapat membentuk kepribadian yang baik. Sebagai seorang pendidik maupun calon pendidik, pendidikan karakter menjadi suatu hal yang sudah sepatutnya dikuasai oleh pelaku pendidik dalam menciptakan peserta didik yang berkarakter. Lingkungan yang tidak kondusif salah satu kekurangan dari pendidikan karakter.

 

DAFTAR RUJUKAN

Asman, Prasetyo. 2012. Desain Pembelajaran Pendidikan Karakter. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Barnawi & Arifin, M. 2012. Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

https://bnn.go.id/blog/siaranpers/laporan-akhir-survei-nasional-perkembangan-penyalahgunaan -narkoba-ahun-anggaran-2014 online diakses pada tanggal 24 April 2016

Latif, Yudi. 2009. Pendidikan Karakter Menuju Keunggulan Bangsa, Makalah, Disampaikan Pada Seminar Nasional Pendidikan Karakter Sebagai Paradigm Baru Dalam Pembentukan Manusia Berkualitas Di Unimed

Lickona, T. 1991. Educating For Character: How Our Schools Can Teach Respect And Responsibility, USA: A. Bantam Book.