SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN EKONOMI MASYARAKAT DI KELURAHAN REJOMULYO KOTA KEDIRI

Fifi Tiara Miftachul Janah

Abstrak


PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN EKONOMI MASYARAKAT DI KELURAHAN REJOMULYO KOTA KEDIRI

Fifi Tiara Miftachul Janah Universitas Negeri Malang

Email: tiarafifi@gmail.com

 

ABSTRAK

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah

(a) mendiskripsikan sejarah program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri;

(b) mendiskripsikan pelaksanaan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri;

(c) mendiskripsikan manfaat program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) bagi perekonomian masyarakat di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri;

(d) mendiskripsikan kendala dalam pelaksanaan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri;

(e) mendiskripsikan solusi dari kendala dalam pelaksanaan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa:

Pertama, sejarah program Kawasan Rumah KRPL di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri adalah konsep KRPL dibuat oleh Kementerian Pertanian yang dilaksanakan oleh Badan Litbang Pertanian. Salah satu yang mengadakan Program KRPL yaitu Kelurahan Rejomulo Kota Kediri. Pendanaan KRPL berasal dari APBN, APBD, swadaya masyarakat, dan Corporate Social Responsibility (CSR).

Kedua, pelaksanaan program KRPL di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri yaitu ada 10 langkah yang terdiri dari

(a) penetapan lokasi dan penerima manfaat,

(b) pendamping,

(c) penyusunan rencana kegiatan,

(d) pendampingan dan pelatihan,

(e) pembuatan dan pengelolaan kebun bibit,

(f) pengembangan demplot,

(g) pengembangan pekarangan anggota,

(h) pengembangan kebun sekolah,

(i) pengolahan hasil pekarangan dengan konsep B2SA, dan

(j) penataan dan pengelolaan KRPL.

Selain itu, berdasarkan lomba-lomba yang di ikuti, KRPL Melati sudah beberapa kali mendapatkan juara. Pada tahun 2013 mendapatkan juara 1 lomba KRPL se-Provinsi Jawa Timur, tahun 2016 dan 2017 mendapatkan juara 2 lomba KRPL se-Kota Kediri.

Ketiga, manfaat program KRPL)bagi perekonomian masyarakat di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri adalah dapat mengurangi pengeluaran biaya kebutuhan pangan sehari-hari, meningkatkan pendapatan rumah tangga dengan penjualan tanaman pangan mentah maupun olahan, masyarakat guyup rukun dalam kegiatan yang dilaksanakan di KRPL, mendapatkan wawasan lebih tentang KRPL, menjadikan kawasan yang asri, tenang, damai, dan tentram dengan adanya KRPL tersebut, dan gizi pangan yang terkandung dalam tanaman yang di tanam KRPL juga dirasakan manfaatnya bagi anggota KRPL dan masyarakat.

Keempat, kendala dalam pelaksanaan program KRPL di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri yaitu

(a) kurang memadahi sarana,

(b) adanya serangan hama,

(c) adanya keterbatasan waktu oleh anggota kelompok KRPL Melati, dan

(d) adanya kontra masyarakat.

Kelima, solusi dari kendala dalam pelaksanaan program KRPL di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri adalah

(a) Solusi untuk kendala selang yang kurang memadai bisa menggunakan bak dan gayung untuk penyiraman tanaman yang jaraknya jauh dari jangkauan selang.

(b) dilakukan dengan memberantas menggunakan tanaman toga yang diolah menjadi pestisida organik.

(c) waktu luang anggota kelompok KRPL Melati di luar jam kerja pokok.

(d) memberi arahan dan pengertian tentang manfaat adanya KRPL. Tetap berperilaku baik dengan yang menentang KRPL di Kelurahan Rejomulyo.

 

Kata kunci: Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat

Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak pertambahan penduduk dan alih fungsi lahan pertanian, maka berbagai upaya untuk ketercapaian kemandirian pangan harus tetap dilakukan, dievaluasi, diperbaiki, dan diapresiasi. Kemandirian pangan yang dicirikan dengan tersedianya pangan yang bergizi dan aman untuk kesehatan masyarakat dalam jangka waktu yang lama merupakan kemutlakan yang tidak terbantahkan sehingga pemerintah dan masyarakat harus terus bekerjasama secara kreatif dan kritis dalam mewujudkan serta mempertahankannya. Sementara itu dari sisi penawaran dan kapasitas produksi, penyediaan pangan menghadapi masalah berupa terus terjadinya alih fungsi lahan pertanian produktif untuk keperluan non pertanian, terjadinya degradasi sumber daya pertanian, serta terjadinya perubahan iklim global. Berkurangnya lahan pertanian produktif untuk tanaman pangan dan perubahan iklim menunjukkan perlunya lahan alternatif. Salah satu alternatif lahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk produksi pangan adalah lahan pekarangan. Pada masa lampau peran lahan pekarangan sebagai lumbung pangan sangat besar, khususnya pada masa paceklik (Badan Litbang Pertanian, 2014:7). Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian mengadakan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) untuk mendukung kegiatan diversifikasi pangan. Pada prinsipnya program KRPL merupakan program pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat (Kementerian Pertanian (2011) dalam Badan Litbang Pertanian, 2014:15). Program KRPL diharapkan dapat menjadi alternatif untuk mewujudkan kemandirian pangan. Salah satu contoh adanya pengadaan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kota Kediri adalah di Kelurahan Rejomulyo. Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) untuk Mewujudkan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri”.

 

LANDASAN TEORI

Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Kementerian Pertanian menginisiasi optimalisasi pemanfaatan pekarangan melalui konsep Rumah Pangan Lestari (RPL). Menurut Kementerian Pertanian (2012:1), RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Adapun menurut Keputusan Menteri Pertanian Nomor 62/Kpts/RC.110/J/12/2017 Tentang Petunjuk Teknis Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui Kawasan Rumah Pangan Lestari Tahun 2018, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) adalah sebuah konsep lingkungan perumahan penduduk atau suatu lingkungan aktivitas/tempat tinggal kelompok masyarakat yang secara bersama-sama mengusahakan pekarangan atau lahan sekitarnya untuk kegiatan budidaya secara intensif sehingga dapat dimanfaatkan menjadi sumber pangan secara berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan gizi warga setempat. Prinsip dasar KRPL adalah:

(1) pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan;

(2) diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal;

(3) konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan); dan

(4) menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat (Kementerian Pertanian, 2012:1).

Dampak yang diharapkan dari pengembangan KRPL antara lain:

(a) terpenuhinya kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat melaluioptimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari;

(b) meningkatnya kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan di perkotaan maupun perdesaan untuk budidaya tanaman pangan,buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), ternak dan ikan, serta pengolahan hasil dan limbah rumah tangga menjadi kompos;

(c) terjaganya kelestarian dan keberagaman sumber pangan lokal;

(d) berkembangnya usaha ekonomi produktif keluarga untuk menopang kesejahteraankeluarga dan menciptakan lingkungan lestari dan sehat (Kementerian Pertanian, 2012:2).

Kesejahteraan Ekonomi Kesejahteraan ekonomi merupakan cabang ilmu ekonomi yang menggunakan teknik ekonomi mikro untuk menentukan secara serempak efisiensi alokasi dari ekonomi makro dan akibat distribusi pendapatan yang saling berhubungan (Arsyad, 1999:23). Menurut Pareto dalam (Sunaryo, 2001:32), teori kesejahteraan ekonomi yang pertama adalah struktur pasar bersaing sempurna membentuk harga yang mampu mengalokasikan sumberdaya secara optimal. Pada teori tersebut terdapat makna bahwa pasar membentuk harga. Harga tersebut membimbing pelaku ekonomi untuk mengalokasikan sumberdayanya. Teori kesejahteraan pertama menyatakan bahwa hanya harga yang terbentuk dalam struktur pasar bersaing sempurnalah yang mampu mengalokasikan sumberdaya secara optimal. Sugiharto (2007:33) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa menurut Badan Pusat Statistik, indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan ada delapan yaitu pendapatan, konsumsi atau pengeluaran keluarga, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempa tinggal, kesehatan anggota keluarga, kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan, kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan, dan kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi. Selain itu, Kakisina (2011:65) juga menjelaskan bahwa upaya untuk meningkatkan kesejahteraan bisa dilakukan denganmeningkatkan pendapatan dan mengurangi kemiskinan, dia menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempunyai korelasi positif dengan tingkat pendapatan adalah tingkat pendidikan, jumlah beban tanggungan, biaya produksi, luas lahan yang dimiliki, luas lahan yang diusahakan, pendapatan dari tanaman sayur-sayuran, tanaman buah-buahan, dan pendapatan PNS. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan rumah tangga antara lain pendapatan dari tanaman pangan, tanaman sayuran, tanaman buah-buahan, peternakan, perikanan, pendapatan industry, pendapatan dagang, pendapatan PNS dan pendapatan dari karyawan swasta.

Masyarakat Peran masyarakat sangat penting untuk mewujudkan norma dan nilai sosial untuk mengadakan tata tertib dalam pergaulan kemasyarakatan.kekuatan yang tersembunyi di dalam masyarakat tidak selamnya baik, ada juga yang buruk.  Adanya keadaan buruk tersebut, maka masyarakat melindungi diri dengan menciptakan kaidah-kaidah atau aturan-aturan yang pada hakikatnya merupakan petunjuk bagaimana masyarakat tersebut bertindak di dalam pergaulan hidup. Komponen-komponen dari masyarakat terdiri dari (Kolip dan Elly, 2011:36):

(a) terdapat sejumlah orang yang jumlahnya relative besar, saling berinteraksi antara satu dan lainnya baik antar-individu, individu dan kelompok, maupun antarkelompok dalam satu kesatuan sosial yang menghasilkan produk kehidupan, yaitu kebudayaan,

(b) menjadi stuktur dan sistem sosial budaya, baik dalam skala kecil (mikro) maupun dalam skala luas/besar (makro) antarkelompok, dan

(c) menempati kawasan tertentu dan hidup dalam kawasan tersebut dalam waktu yang relative lama hingga antargenerasi. Marion Levy (dalam Setiadi dan Kolip, 2011:36) membuat kriteria masyarakat untuk kehidupan kelompok manusia, yaitu: kemampuan bertahan yang melebihi masa hidup seorang anggota, perekrutan seluruh atau sebagian anggotanya melalui reproduksi atau kelahiran, adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada, dan kesetiaan pada sistem tindakan untama secara bersamasama.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian menggunakan deskriptif. Lokasi penelitian berada di RT VI RW VI Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri. Sumber data penelitian yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis data Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penerikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan penelitian meningkatkan ketekunan dan triangulasi sumber.

 

HASIS DAN PEMBAHASAN

Hasil peneltian menunjukkan bahwa:

 

Pertama, Sejarah Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Berawal dari adanya fluktuatif harga pangan yaitu cabe, bawang merah dan bawang putih, maka pemerintah membentuk  Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) untuk menstabilkan harga pangan. Adanya Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) kebutuhan pangan dari keluarga jadi seimbang. Pemanfaatan pekarangan rumah yang dapat membatu pengeluaran sehari-hari menjadi pilihan masyarakat. Awal mula adanya KRPL yaitu diselenggarakan di Kabupaten Pacitan yang disahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menindaklanjuti dari penyelenggaraan tersebut, maka terjadi kesepakatan antara pemerintah dengan kementerian pertanian membuat Program KRPL yang dinaungi oleh badan litbang pertanian. Jadi, Kementerian Pertanian sebagai pembuat konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang dijalankan oleh Badan Litbang Pertanian untuk mendukung kegiatan diversifikasi pangan (Kementerian Pertanian (2011) dalam Badan Litbang Pertanian, 2014:15). Pemerintah mengadakan Program Kawasana Rumah Pangan Lestari (KRPL) mendanai dengan APBD dan APBN. Tetapi tidak semua mendapatkan dana APBD dan APBN. Kalau sudah mendapatkan dana APBD tidak mendapatkan dana APBN, begitupun sebaliknya. Ada juga dana swadaya, yaitu dana yang dikeluarlan oleh masyarakat sendiri. Selain itu, terdapat dana dana Corporate Social Responsibility (CSR), yaitu dana dari bantuan perusahaan.

 

Kedua, Pelaksanaan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri. Penetapan lokasi program KRPL di Kelurahan Rejomulyo terdapat di RT 4 RW 4 yang memeiliki lebih dari 63 KK. Awalnya kelompok yang membangun KRPL di Kelurahan Rejomulyo adalam kelompok KRPL Barokah. Kemudian setelah mendapatkan juara 1 kelompok tersebut tidak berkegiatan lagi lalu digantikan dan membentuk kelompok baru yaitu kelompok KRPL Melati. KRPL Melati kelurahan Rejomulyo memiliki pendamping lapangan yaitu Bapak Yilanto. Beliau berperan untuk mengamati dan membantu dalam kegiatan KRPL di Kelurahan Rejomulyo. Adapun pertemuan rutin yang diadakan yaitu setiap Hari Minggu. Adapun penyusunan rencana kegitan yang dibantu oleh pendamping lapangan. Apabila ada lomba penyususnan rencana kerja dibuat seperti proposal untuk pengajuan barang yang dibutuhkan. Selain itu ada pendampingan dan pelatihan dalam mengelola dan mengolah hasil panen. Pelatihan diadakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Di KRPL Melati  Rejomulyo sudah memproduksi bahan olahan yaitu es cincau, pudding sawi dan tomat, es serut mangga, roti sawi, klepon waluh, sayur kangkung, sambel tomat, dan sayur tewel. Pembuatan kebun bibit di KRPL Melati Kelurahan Rejomulyo dilakukan dengan kerja bakti bersama-sama. Kebun bibit dibuat seperti green house yang terbuat dari bahan yang tahan lama minimal 5 tahun. Pengelolaan kebun bibit dilakukan dengan sistem piket. Ada jadwal piket per hari yaitu bertugas untuk siram tanaman, pemberian pupuk, mengganti media, dan membersihkan kebun bibit. Selain itu ada juga pengembangan demplot di KRPL. Demplot adalah area yang terdapat dalam KRPL yang berfungsi sebagai lokasi percontohan atau tempat praktek pemanfaatan pekarangan bagi anggota kelompok. Luas demplot di KRPL Melati Kelurahan Rejomulyo menyesuaikan lahan yang ada karena sudah padat dengan bangunan. Demplot yang dibangun akan dibentuk seindah dan serapi mungkin. Ada juga pengembangan pekarangan anggota. Pengembangan pekarangan di KRPL Kelurahan Rejomulyo sudah semakin menyempit. Dulunya ada banyak pekarangan yang dapat digunakan tetapi sekarang sudah beralih fungsi menjadi rumah dan kos-kosan. Jadi penanaman tanaman hanya di halaman rumah. Tetapi satu atau dua rumah masih ada yang mempuntai pekarangan luas. Seperti contohnya yang dipakai sebagai demplot yaitu pekarangan salah satu anggota yang masih luas dan belum dialih fungsikan. Hasil dari panen tanaman akan dijual ke anggota dan tukang sayur keliling. Pengembangan kebun sekolah sudah dilaksanakan di SDN Rejomulyo. Di kebun sekolah tersebut dibuat taman edukasi untuk siswa dan agar sekolah terlihat asri serta indah. Selain itu juga ada mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup (PLH). Dari situ KRPL sangat mendukung untuk pembelajaran di sekolah. Penataan dan pengelolaan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yaitu dengan membersihkan area tanaman, di desain dengan indah agar enak dipandang, adanya pergantian tanaman yang sudah panen. Contohnya apabila tanaman sawi sudah panen maka harus ada pengganti tanaman yang akan ditanam agar bisa berkelanjutan. Tidak hanya kalau sudah panen dibiarkan tidak ada tanamannya. Kegiatan lain dari KRPL Melati Kelurahan Rejomulyo yaitu membuat kegiatan bank sampah, koperasi dan jimpitan. Kegiatan tersebut untuk menunjang  pemasukan kas untuk pembelian bibit dan pengelolaan KRPL. Dari pemasukan tersebut maka KRPL tidak akan mati ataupun tidak lestari lagi. Adapun prestasi yang di dapat oleh kelompok KRPL Kelurahan Rejomulyo, yaitu mendapatkan juara 1 dalam lomba KRPL se-Provinsi Jawa Timur pada tahun 2013 yang pada saat itu masih dengan kelompok KRPL Barokah. Kemudian mendapatkan juara 2 pada perlombaan KRPL se-Kota Kediri pada tahun 2016 dan 2017. Adanya prestasi yang didapat maka akan lebih menumbuhkan semangat untuk melestarikan rumah pangan.

 

Ketiga,  manfaat Program KawasanRumahPangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri. Manfaat yang di dapat adalah dapat mengurangi pengeluaran kebutuhan pangan sehari-hari, membuat menu makanan yang berbasis B2SA, tahu makanan yang dimakan adalah makanan sehat karena tidak mengandung bahan kimia, masyarakat bisa rukun dan guyup dengan adanya KRPL, dan bisa sharing tentang tanaman pangan dengan pendamping ataupun masyarakat lain.

 

Keempat, kendala yang dihadapi dalam Program KawasanRumahPangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri. Adapun kendala yang dihadapi dalam program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), yaitu kurang panjangnya selang yang digunakan untuk menyirami tanaman yang jangkauannya jauh. Hama tanaman yang menyerang mengakibatkan tanaman menjadi rusak. Adanya keterbatasan waktu masyarakat untuk melakuakan kegiatan KRPL. Ada juga yang menentang adanya program KRPL di Kelurahan Rejomulyo.

 

Kelima, solusi mengatasi kendala yang dihadapi dalam Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri. Adapun solusi dari kendala yang dihadapi dalam Program Kawasan Rumah Pangan Lestari, yaitu pemilihan lokasi untuk pelaksanaan program KRPL harus tepat dan sesuai dengan kondisi lingkungan. Apabila musim kemarau, penyiraman tanaman juga harus sangat intens. Penanganan hama menggukan seperti tanaman toga seperti kunyit, lengkuas, jahe, akar tubah, cabe, daun sirih, dan tembakau. Masalah waktu bisa diatasi dengan adanya waktu luang setelah pekerjaan yang dikerjakan selesai. Seperti di KRPL Kelurahan Rejomulyo, masyarakat bekerja bakti pada malam hari dan tidak mengeluh karena bagi kelompok tersebut  menyalurkan hobi ataupun hanya sekedar untuk refreshing merupakan hal yang menyenangkan. Masyarakat yang menentang atau tidak menyetujuai adanya KRPL di Kelurahan Rejomulyo tetap diberi arahan dan pengertian.

 

PENUTUP

Kesimpulam

Berdasarkan temuan peneltian dan pembahasan, hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sejarah Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo adalah tingkat konsumsi pangan di Indonesia masih dibawah anjuran pemenuhan gizi dalam tubuh. Oleh karena itu pemerintah mengadakan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) untuk pemenuhan gizi masyarakat. Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) mengusung pemanfaatan lahan pekarangan sekitar rumah untuk dimanfaatkan sebagai media tanam tanamanan yang bersumberdaya lokal. Konsep KRPL dibuat oleh Kementerian Pertanian yang dilaksanakan oleh Badan Litbang Pertanian yang kemudian disampaikan ke provinsi lalu provinsi menyampaikan ke kota/kabupaten setempat. Pada kota/kabupaten ditangani oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Selanjutnya dinas tersebut menyampaiakan kepada kelurahan yang ada di kota/kabupaten. Salah satu yang mengadakan Program KRPL yaitu Kelurahan Rejomulo Kota Kediri yang bernama KRPL Melati. Pendanaan KRPL berasal dari APBN, APBD, swadaya masyarakat, dan Corporate Social Responsibility (CSR). Pelaksanaan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo yaitu ada 10 langkah yang terdiri dari

(a) penetapan lokasi dan penerima manfaat,

(b) pendamping,

(c) penyusunan rencana kegiatan,

(d) pendampingan dan pelatihan,

(e) pembuatan dan pengelolaan kebun bibit,

(f) pengembangan demplot,

(g) pengembangan pekarangan anggota,

(h) pengembangan kebun sekolah,

(i) pengolahan hasil pekarangan dengan konsep B2SA, dan

(j) penataan dan pengelolaan

Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Selain itu, berdasarkan lomba-lomba yang di ikuti, KRPL Melati sudah beberapa kali mendapatkan juara. Pada tahun 2013 mendapatkan juara 1 lomba KRPL se-Provinsi Jawa Timur, tahun 2016 dan 2017 mendapatkan juara 2 lomba KRPL se-Kota Kediri. Manfaat program Kawasan  Rumah Pangan Lestari (KRPL) bagi perekonomian masyarakat di Kelurahan Rejomulyo yaitu

(a) dapat mengurangi pengeluaran biaya kebutuhan pangan sehari-hari,

(b) adanya KRPL di Kelurahan Rejomulyo dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga dengan penjualan tanaman pangan mentah maupun olahan.

(c) menjadikan masyarakat guyup rukun dalam kegiatan yang dilaksanakan di KRPL,

(d) bisa mendapatkan wawasan lebih tentang KRPL dengan adanya sharing antar anggrota KRPL,

(e) menjadikan kawasan yang asri, tenang, damai, dan tentram dengan adanya KRPL tersebut, dan

(f) gizi pangan yang terkandung dalam tanaman yang di tanam

KRPL juga dirasakan manfaatnya bagi anggota KRPL dan masyarakat. Anggota KRPL dan masyarakat tahu bahwa makanan yang di makan tidak mengandung bahan kimia karena pada saat perawatan tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Kendala dalam pelaksanaan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo adalah sebagai berikut:

(a) cara penyiraman yang masih manual menggunakan selang dan selangnya kurang memadai,

(b) adanya serangan hama,

(c) adanya keterbatasan waktu oleh anggota kelompok KRPL Melati, dan

(d) adanya yang menentang adanya KRPL di Kelurahan Melati.

Solusi dari kendala dalam pelaksanaan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kelurahan Rejomulyo adalah sebagai berikut. Solusi untuk kendala selang yang kurang memadai bisa menggunakan bak dan gayung untuk penyiraman tanaman yang jaraknya jauh dari jangkauan selang. Solusi untuk kendala adanya serangan hama dapat dilakukan dengan memberantas menggunakan tanaman toga yang diolah menjadi pestisida organik yaitu dari kunyit, lengkuas, jahe, akar tubah, cabe, daun sirih, dan tembakau. Selain menggunakan pestisida organik, tanaman yang sudah tidak layak karena terkena serangan hama maka akan dicabut dan digani dengan tanaman yang baru. Solusi untuk adanya keterbatasan waktu anggota KRPL Melati adalah dapat diatasi dengan waktu luang anggota kelompok KRPL Melati di luar jam kerja pokok. Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) sering dilakukan pada malam hari meskipun pertemuan rutin di lakukan pada hari Minggu. Solusi untuk adanya yang menentang adanya KRPL di Kelurahan Rejomulyo adalah dengan memberi arahan dan pengertian tentang  manfaat adanya KRPL. Tetap berperilaku baik dengan yang menentang KRPL di Kelurahan Rejomulyo.

 

Saran

(1)Kepada dinas instansi terkait penyelenggaraan Program KRPL agar terus melanjutkan dukungannya terhadap penyelenggaraan Program KRPL di Kelurahan Rejomulyo terutama dengan menambah variasi sayuran atau umbiumbian yang dapat ditanam petani di halaman rumah mereka agar Program KRPL semakin maju dan berkembang dimasa yang akan datang.

(2) Kepada anggota kelompok Program KRPL agar tetap menjalankan Program KRPL sebagaimana mestinya. Tetap menjaga RPL yang menjadi tanggung jawab masing-masing anggota kolompok sehingga menjadi RPL yang produktif. Kemudian untuk periode yang akan datang diperlukan adanya suatu pembinaan yang lebih intensif agar program KRPL dapat terus berlanjut dan tidak sepenuhnya bergantung pada dana pemberian dinas yang terkait program KRPL.

 

DAFTAR RUJUKAN

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2014. Kawasan Rumah Pangan Lestari: Pekarangan untuk Diversifikasi Pangan. Bogor: IAARD Press. Elly M. Setiadi dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta: Prenadamedia Group. Kakisina, Leunard O. 2011. “Analisis Tingkat Pendapatan Rumah Tangga dan Kemiskinan Di Daerah Transmigrasi (Kasus Di Desa Waihatu, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku)”, Jurnal BudidayaPertanian, Vol. 7, No. 2. Kementerian Pertanian. 2012. Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestarai (KRPL). Jakarta: Kementerian Pertanian. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 62/Kpts/Rc.110/J/12/2017 Tentang Petunjuk Teknis Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui KawasanRumah Pangan Lestari Tahun 2018 (Online) (www.litbang.pertanian.go.id/krpl/isi-panduan.pdf), di akses pada 25 April 2018

Arsyad, Lincoln. 1999. Ekonomi Mikro. Jakarta: Gemapress. Sugiharto Eko. 2007. “Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Nelayan Desa Benua Baru Ilir Berdasarkan Indikator Badan Pusat Statistik”, EPP.4(2):32-36. Sunaryo. 2001. Ekonomi Manajerial: Aplikasi Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Erlangga.