SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong Royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek

Tahes Ike Nurjanah

Abstrak


ABSTRAK

 

Nurjanah, Tahes Ike. 2013. Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong Royong     Para Petani Di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten     Trenggalek. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan     Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.     Pembimbing: (I) Drs. Suwarno Winarno, (II)  Ibu Yuniastuti, S.H M.Pd.

 

Kata kunci: Tradisi Nyadran, pelestarian, gotong royong

 

Upacara tradisi nyadran merupakan salah satu bagian dari adat istiadat yang ada di masyarakat Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, yang di dalamnya terdapat nilai budaya yang tinggi dan banyak memberikan inspirasi bagi kekayaan budaya daerah yang dapat menambah keanekaragaman kebudayaan nasional. Upacara tersebut mengajarkan kepada manusia sebagai manusia berbudaya untuk ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian alam seisinya serta ikut meningkatkan harkat dan martabat manusia. Dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran diperlukan kerjasama atau gotong royong warga masyarakat sekitar Kelurahan Ngantru, khususnya para petani yang mengairi sawahnya dari Dam Bagong.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan cara melestarikan nilai gotong royong masyarakat khususnya petani di Kelurahan Ngantru yang meliputi (1) latar belakang tradisi nyadran di Dam Bagong; (2) bentuk ritual atau tata cara tradisi nyadran di Dam Bagong; (3) hakikat gotong royong dalam tradisi nyadran; (4) persepsi masyarakat tentang tradisi nyadran; (5) prospektif tradisi nyadran bagi masyarakat di masa depan.

Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data dari informan. Adapun informan dari penelitian ini terdiri dari kepala desa, juru kunci Makam Bagong dan 5 (lima) tokoh masyarakat Kelurahan Ngantru. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan 3 (tiga) metode yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara: Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data sebagai berikut: kredibilitas bahwa hasil penelitian ini dapat diterima atau dipercaya; transferabilitas bahwa hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang lain; dependability bahwa hasil penelitian mengacu pada tingkat konsistensi peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan; dan konfirmabilitas bahwa hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan.

Hasil dari penelitian ini menyatakan: (1) latar belakang dari upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru berawal dari perjuangan Adipati Menak Sopal untuk menyebarkan Agama Islam di wilayah Trenggalek dengan membangun Dam Bagong karena mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani; (2) dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran ada beberapa ritual yang harus dilakukan dan beberapa perlengkapan yang harus dipersiapkan; (3) hakikat gotong royong dalam pelaksanaan tradisi nyadran ini yaitu mempererat tali silaturahmi antar warga masyarakat khususnya masyarakat Kecamatan Trenggalek dan Kecamatan Pogalan; (4) persepsi masyarakat Kelurahan Ngantru, Kabupaten Trenggalek terhadap upacara tradisi nyadran di Dam Bagong yaitu mayoritas masyarakat setuju dengan adanya upacara tradisi nyadran di Dam Bagong; (5) prospektif tradisi nyadran bagi masyarakat di masa depan yaitu masyarakat akan tetap memperingati upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas perjuangan Adipati Menak Sopal.

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, dapat disarankan bahwa upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru harus dijaga kelestariannya karena sudah menjadi kebudayaan dan icon pariwisata Kebupaten Trenggalek. Dalam pelaksanakan upacara tradisi nyadran ini harus sesuai dengan tata cara yang sudah ditetapkan dan tidak merubah inti dari upacara tersebut. Karena upacara tradisi nyadran di Dam Bagong ini merupakan kebudayaan lama dan asli dari Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek. Sehingga dapat digunakan sebagai pendukung kebudayaan daerah.