SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENYELENGGARAAN KANTIN KEJUJURAN SEBAGAI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN ANTIKORUPSI DI SMPN 10 MALANG

BAMBANG ARY WIBOWO

Abstrak


ABSTRAK

 

Wibowo, Bambang Ary. 2011. Penyelenggaraan Kantin Kejujuran Sebagai Implementasi Pendidikan Antikorupsi Di SMPN 10 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Suparlan, M.Si, (2) Drs. Ketut Diara Astawa, S.H., M.Si

 

Kata Kunci: Kantin Kejujuran, Pendidikan Antikorupsi

Untuk menciptakan sebuah tatanan kehidupan yang bersih, diperlukan sebuah sistem pendidikan anti korupsi yang berisi tentang sosialisasi bentuk-bentuk korupsi, cara pencegahan dan pelaporan serta pengawasan terhadap tindak pidana korupsi. Pendidikan Antikorupsi harus ditanamkan dalam pendidikan sekolah mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi sehingga terbentuk generasi yang jujur dan antikorupsi. Kejujuran adalah salah satu sikap utama yang mempunyai sumbangan besar terhadap perilaku anti korupsi. Pembiasaan perilaku anti korupsi berarti juga pembiasaan terhadap sikap kejujuran. Pembiasaan sikap kejujuran ini salah satunya dapat dilakukan melalui kantin kejujuran.

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan latar belakang penyelenggaraan kantin kejujuran sebagai implementasi pendidikan antikorupsi di SMPN 10 Malang; (2) mendeskripsikan program penyelenggaraan kantin kejujuran sebagai implementasi pendidikan anti korupsi di SMPN 10 Malang; (3) mendeskripsikan pelaksanaan program penyelenggaraan kantin kejujuran sebagai implementasi pendidikan anti korupsi di SMPN 10 Malang; (4) mendeskripsikan hambatan dalam melaksanakan program penyelenggaraan kantin kejujuran sebagai implementasi pendidikan anti korupsi di SMPN 10 Malang; (5) mendeskripsikan upaya mengatasi hambatan dalam melaksanakan program penyelenggaraan kantin kejujuran sebagai implementasi pendidikan antikorupsi di SMPN 10 Malang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di SMPN 10 Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia, peristiwa, dan dokumen. Prosedur pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah model interaktif Miles dan Huberman yang melalui tiga tahap yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) latar belakang penyelenggaraan kantin kejujuran adalah karena produk pendidikan masih belum menyentuh akar yang esensial dalam arti belum bisa merubah akhlak dan budi pekerti manusia menjadi manusia yang jujur sehingga kantin kejujuran muncul sebagai wadah pembelajaran kepada pelajar untuk menanamkan sikap antikorupsi sejak masih duduk di bangku sekolah; (2) program yang dicanangkan sebagai upaya pengembangan kantin kejujuran adalah: Menyelenggarakan kantin kejujuran dengan prinsip jujur, mandiri, sehat, murah, dan bertanggungjawab; Mengadakan kerjasama dengan dunia usaha sebagai upaya pengembangan kantin kejujuran; Pengadaan poster kejujuran pada dinding dalam kantin kejujuran; Pengadaan buku kejadian di kantin kejujuran; mengadakan pergantian organisasi pengurus kantin kejujuran setiap 2 tahun sekali; (3) Kantin kejujuran memiliki sistem tersendiri sebagai upaya antisipatif dalam mengurangi peluang pembeli untuk melakukan kecurangan. Kantin kejujuran memiliki buku kejadian dan banner-banner yang terpasang di dinding dalam kantin kejujuran sebagai upaya untuk mengingatkan pembeli agar berperilaku jujur.peran guru PKn dalam pelaksanaan kantin kejujuran adalah sebagai fasilitator yang mengajarkan pendidikan antikorupsi di kelas. Evaluasi pelaksanaan kantin kejujuran adalah dengan menganalisis laporan keuangan dan melakukan pengawasan dalam kantin kejujuran; (4) Hambatan dalam pelaksanaan program kantin kejujuran adalah masih ada pembeli yang melakukan kecurangan dalam kantin kejujuran, mengalami kesulitan dalam mencari sponsor pada awal berdirinya kantin kejujuran, dalam pelaksanaan buku kejadian di kantin kejujuran SMPN 10 Malang masih ada pembeli yang lupa mencatat sendiri kejadian yang dialaminya, dalam pengelolaan kantin kejujuran pengelola sebagai guru harus mengajar di kelas; (5) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan kantin kejujuran adalah memberikan penyuluhan pendidikan akhlak dan budi pekerti melalui kegiatan imtaq dan memberikan pembinaan melalui teguran langsung dan dibawa ke guru BK  pada anak yang melakukan kecurangan dalam melakukan transaksi di kantin kejujuran, melakukan pemantauan dan mengingatkan pembeli untuk mengisi buku kejadian ketika mengalami peristiwa dalam melakukan transaksi di kantin kejujuran, bekerjasama dengan siswa yang ikut kegiatan ekstra kurikuler tata boga dalam pengelolaan di kantin kejujuran.

Berdasakan hasil penelitian saran yang diajukan adalah: (1) Sebaiknya peserta didik SMPN 10 Malang lebih mendalami Pendidikan Antikorupsi yang diajarkan oleh guru di kelas agar perilaku antikorupsi lebih mantap sehingga kantin kejujuran dapat berhasil dan berkembang; (2) SMPN 10 Malang lebih giat mensosialisasikan kantin kejujuran agar menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk mendirikan kantin kejujuran; (3) Dinas Pendidikan Kota Malang diharapkan memberikan kesempatan dan dukungan kepada sekolah-sekolah lain di Malang agar penyelenggaraan kantin kejujuran lebih meluas.