SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pola kaderisasi bagi kader partai politik (studi kasus di Partai Golongan Karya (GOLKAR) Kota Malang)

Nur Lailatul Fauziah

Abstrak


Praktek kaderisasi Partai Politik di Indonesia masih jauh dari harapan, karena kegagalan kaderisasi tersebut banyak Partai Politik melahirkan kader-kader partai yang instan. Kader partai yang instan inilah membuat wajah hitam parlemen di DPR. Matinya kaderisasi di tubuh Partai Politik ini karena partai tidak mempunyai ideologi dan visi yang jelas. Maka dari itu sangat sulit untuk merekrut anggota. Dalam perekrutan perlu pesan yang dapat menarik perhatian orang dan dapat meyakinkan mereka untuk bergabung dalam partai. Tanpa dasar ideologi yang kuat pesan yang meyakinkan sangat sulit dikembangkan.

Secara histories Partai Golkar lahir pada tanggal 20 Oktober 1964 dengan nama Sekretaris Bersama (Sekber) Golkar, tahun 1971 menjadi peserta pemilu memakai nama Sekber Golkar, pemilu tahun 1977 sudah memaki nama Golkar, pemilu tahun 1999 memakai nama Partai Golkar, perubahan-perubahan semacam ini merupakan sejarah perkembangan dari pada Partai Golkar, latar belakangnya berbeda-beda.

Ada empat masalah yang dikaji dalam skripsi ini yaitu (1). Sistem kaderisasi partai Golkar kota Malang; (2) Implementasi sistem kaderisasi partai Golkar kota Malang; (3) Langkah-langkah partai Golkar dalam mewujudkan kader yang profesional dan (4); Perbedaan sistem kaderisasi Golkar dengan Partai Golkar.

Adapun metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem kaderisasi Partai Golkar kota Malang menggunakan sistem Stelsel Aktif (masyarakat aktif) dan Bottom Up (usulan dari bawah) dengan metode yang digunakan adalah diskusi dan penyajian materi. Implementasinya adalah melalui pola KARAKTERDES yang meliputi yaitu Kader Penggerak Cepat (KPC) sebagai tiem rekrutmen kader. Setelah diadakan rekrutmen kader, maka dibentuklah Kelompok Kader (POKKAR). Saat ini partai Golkar Kota Malang sudah mencetak 3.000 kader partai yang masingmasing kecamatan berjumlah 600 orang. kader-kader ini dicetak untuk meneruskan perjuangan organisasi dengan tetap mengacu pada program kerja dan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Golkar.

Upaya untuk mewujudkan kader yang profesional dilakukan dengan dua cara yaitu melalui Kelompok Diskusi (POKDISTAP) dan Trainig Of Traener (TOT). Perbedaan sistem kaderisasi Golkar dengan partai Golkar; Golkar lebih mengarah kepada Top Down dengan pola kaderisasi KARAKTERDES (model lama), sedangkan partai Golkar melalui Stelsel Aktif dan Bottom Up dengan pola pengkaderan dari masyarakat tingkat RT dan RW sebagaimana yang penulis sebutkan diatas.

Sebagai wujud implikasi dari penelitian ini, peneliti memberikan rekomendasi kepada pertama, pengurus Partai Golkar Kaderisasi sebaiknya lenih bermakna learning proses ketimbang education scholl. Kaderisasi seperti itu lebih terfokus kepada kader ketimbang kepada instrukturnya, bukan jumlah kader yang menjadi target tetapi proses dan kualitas nalarnya, lebih kepada self deflopment ketimbang instruksi. Kedua, Agar Partai Politik di Indonesia tidak dinilai hanya sebagai sebuah jualan politik ketika menjelang pemilu legislatif, sebaiknya harus ada proses kaderisasi bagi kader partai sehingga memahami betul hakekat dan perjuangan partai sesuai dengan aturan dan mekanisme yang jelas dan demokratis.