SKRIPSI Jurusan Pendidikan Luar Sekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penyelenggaraan Diklat Inseminasi Buatan Bagi Non Aparatur (Studi Kasus di Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu)

HARIANI MUSLIMATUL HASANAH, Hariani Muslimatul Hasanah

Abstrak


ABSTRAK

Hariani Muslimatul Hasanah.Penyelenggaraan Diklat Inseminasi Buatan Bagi Non Aparatur (Studi Kasus di Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu).Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (1) Dr. Ach.Rasyad, M.Pd, (2) Drs. H.Nurhadi, M.Pd

Kata Kunci:  Pendidikan dan Pelatihan, Inseminasi Buatan

 

Suatu kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) tidak terlepas dari proses penyelenggaraan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Setiap lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan (diklat) pasti memiliki cara khusus untuk mendesain kegiatan diklat agar menarik lembaga lain untuk bekerjasama menyelenggarakan diklat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai sasaran program. Fokus penelitian ini adalah penyelenggaraan diklat Inseminasi Buatan bagi Non Aparatur di Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu khususnya untuk mengetahui peminat terhadap diklat Inseminasi Buatan yang selalu mengalami peningkatan, penggunaan model pembelajaran pada pelaksanaan diklat Inseminasi Buatan, dan penggunaan metode praktik yang lebih banyak daripada metode ceramah pada pelaksanaan diklat Inseminasi Buatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Penggalian data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisia yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini pada tahap perencanaan adalah : (1) alasan banyaknya permintaan atau peminat terhadap penyelenggaraan diklat Inseminasi Buatan di BBPP Batu, pada pelaksanaan diklat yaitu (2) alasan penggunaan model pembelajaran yang mengalami perubahan pada setiap tahunnya dan (3) penggunaan kegiatan praktik yang lebih dominan daripada teori yang disampaikan dalam kelas.

Dari penelitian diatas disarankan (1) penyelenggara hendaknya melakukan identifikasi kebutuhan peserta walaupun diklat yang diselenggarakan merupakan diklat kerjasama, (2) penyelenggara diklat dapat membuat modifikasi terkait desain pembelajaran dengan tetap memperhatihan karakter dan kebutuhan belajar peserta diklat.

Dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu dalam merencanakan penyelenggaraan diklat tidak sejalan dengan pendapat para ahli yang menyatakan bahwa setiap proses penyelenggaraan diklat harus diawali dengan proses atau kegiatan identifikasi kebutuhan belajar terlebih dahulu. Hal tersebut disebabkan karena penyelenggaraan diklat adalah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh peserta maupun lembaga sebagai sasaran diklat, bukan hanya karena kepentingan penyelenggara saja. Pada keseluruhan proses penyelenggaraan diklat Inseminasi Buatan, Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu berperan sebagai pelaku (desaigner) atau pihak yang mempunyai wewenang sebagai pelaku dalam proses penyelenggaraan diklat.

 

 

 ABSTRACT

Hariani Muslimatul Hasanah. The Implementation of the Artifial Insemination Training Program for Noa Apparatus (A Case Study in Animal Husbandry Training Centre Batu). Essay, Non Formal Education Program, Faculty of Education, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Ach.Rasyad, M.Pd., (2) Drs. H.Nurhadi, M.Pd.

Keywords:  Education and Training, Artificial Insemination

 

          An educational and training activity is inseparable from the implementation process which includes planning, implementation, and evaluation. Each education and training institution must have specific ways to design training activities so that other institutions are interested in working together to organize such training which meets the needs of the community as the target program. The focus of this research is the implementation of artificial insemination training program for non apparatus in the Animal Husbandry Training Centre Batu, particularly to know the public interest of artificial insemination training program which always increases, the use of learning model on the implementation of artificial insemination training program, and the use of more practice method than the lecture method at implementation of artificial insemination training program.          This study used qualitative research approach with case study design. The data was collected through interview, observation, and documentation. Then, the data was analyzed by using data reduction, display data, and withdrawal conclusion.          The results obtained in this study, at the planning stage, (1) the reason why there were a large number of requests or interests on the implementation of artificial insemination training program in Training Centre Batu, at the implementation stage, (2) the reason of using learning models which changes every year and (3) the use of more dominant practical activities than the theories conveyed in class.

From this study, it is suggested that (1) the training organizers should identify the needs of the participants even though the training is organized as a collaborative training, (2) the training organizers could make some modifications related to the instructional design while still paying attention to the character and the learning needs of the training participants.

In this research, it could be concluded that in planning the implementation of the training program organized by the Animal Husbandry Training Centre Batu is not in line with the experts’ opinion stating which states that every process of organizing the education and training program should start with the process or activity of learning needs identification. It is because the implementation of the training program must be fulfilled by the participants and institutions as the requirement of the training goals, not only because of the interests of the training organizer. In the whole process of organizing artificial insemination training program, Animal Husbandry Training Centre Batu acts as the designer or the party who has the authority as the promotor in the process of organizing the training program.