SKRIPSI Jurusan Pendidikan Luar Biasa - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

IMPLEMENTASI PERGURUAN TINGGI NEGERI INKLUSIF DI KOTA MALANG (Studi Multi Situs di Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya)

Nafisa Nurani Aulia

Abstrak


KEGIATAN PERKULIAHAN MAHASISWA DISABILITAS DALAM PERGURUAN TINGGI NEGERI INKLUSIF

Nafisa Nurani Aulia1 Abdul Huda2 Ahmad Samawi3 Jurusan PLB FIP UM Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang No.5 Malang 65145

E-mail: nafisanuraniaulia13@gmail.com

 

Abstract:

The lecture activities of disability students in inclusive state universities are crucial in implementation inclusiveness in state universities. The purpose of this research is to describe and analyze lecture activities in inclusive state universities. The research approach used was a descriptive qualitative research approach with a type of case study and multi site design. This study produces data that students with disabilities take part in lecture activities with duplicate curriculum but they are given many accommodations including volunteers to help their activities.

 

Key Words:  Disability student lectures, Inclusive State Universities

Abstrak:

Kegiatan perkuliahan mahasiswa disabilitas dalam perguruan tinggi negeri inklusif merupakan hal krusial dalam implementasi inklusivitas di perguruan tinggi negeri. Tujuan peneitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis kegiatan perkuliahan di perguruan tinggi negeri inklusif. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus dan rancangan multi situs. Penelitian ini menghasilkan data bahwa mahasiswa disabilitas mengikuti kegiatan perkuliahan dengan kurikulum duplikasi namun mereka diberikan banyak akomodasi termasuk volunteer untuk membantu kegiatan perkuliahan.

Kata Kunci: Perkuliahan mahasiswa disabilitas, Perguruan Tinggi Negeri Inklusif

Pendidikan memiliki peran penting dalam upaya peningkatan sumber daya manusia kearah yang lebih baik. Pendidikan bertujuan untuk membentuk peserta didik untuk mengembangkan sikap, keterampilan, dan kecerdasan intelektual agar menjadi manusia yang terampil, cerdas, serta berakhlak mulia. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat 1 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan adalah hak Warga Negara tanpa terkecuali baik berupa pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau Education for All (EFA) telah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah Indonesia sejak pertama kali disepakati tahun 2000 melalui Deklarasi Dakkar. PUS menawarkan sebuah konsep pendidikan yang merata untuk semua lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, ras, agama, dan golongan.  PUS juga mendorong seseorang dengan disabilitas untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.

Disabilitas menurut Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas) termasuk mereka yang memiliki keterbatasan mental, fisik, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama. Seseorang disebut disabilitas ketika berhadapan dengan berbagai hambatan, yang dapat menghalangi partisipasi penuh dan keefektifan mereka dalam masyarakat berdasarkan prinsip kesetaraan. Sistem pendidikan tidak terkecuali pada pendidikan di perguruan tinggi perlu berorientasi pada inklusi untuk memerangi sikap diskriminatif, membangun masyarakat inklusif, dan mencapai pendidikan untuk semua. Pendidikan untuk semua adalah sebuah sistem pendidikan yang ‘bisa dikases’ oleh semua kalangan, meliputi orang-orang yang kaya, miskin, tua, muda, disabilitas, non disabilitas, dan dengan segala jenis perbedaan. Tidak ada diskriminasi diantaranya, sehingga terwujudlah masyarakat yang inklusif dimana perbedaan dapat dihargai dalam satu kesatuan kehidupan. Kemenristekdikti (2017) juga menyatakan bahwa data yang masuk ke Direktorat Pembelajaran Kemenristekdikti tercatat ada 401 mahasiswa disabilitas dari 152 perguruan tinggi yang telah melaporkan. Mereka berasal dari berbagai jenis hambatan (tunanetra, tunarungu, tunadaksa dan lain-lain) dan mereka tersebar di berbagai program studi.

Mahasiswa disabilitas wajib mendapatkan akses yang sama terhadap materi seperti mahasiswa pada umumnya dengan mempertimbangkan derajat disabilitas yang dimilikinya. Pengembangan materi untuk mahsiswa disabilitas dapat dilakukan melalui:

1) Duplikasi, yaitu tidak ada perbedaan jenis, kedalaman, dan keluasan materi untuk mahasiswa diasbilitas dengan mahasiswa non disabilitas. Perbedaan bukan terletak pada tingkat kedalaman dan keluasan materi tetapi pada modifikasi proses belajar mengajarnya.

2) Substitusi, yaitu mengganti sebagian materi dengan materi yang setara. Penggnatian dilakukan karena materi tidak mungkin dilakukan oleh mahasiswa disabilitas, tetapi masih bisa diganti dengan materi lain yang sepadan.

Keterbatasan yang dialami oleh mahasiswa disabilitas mengharuskan adanya upaya modifikasi cara dan atau alat sehingga memungkinkan mereka mengikuti perkuliahan dengan baik. Adapun modifikasi pembelajaran untuk disabilitas netra meliputi: a) Perangkat pembelajaran disediakan dalam bentuk braille atau soft copy; b) Memperbanyak informasi secara verbal; c) Pengerjaan soal evaluasi menggunakan braille, laptop, atau rekaman audio; dan d) Pengerjaan tugas seperti makalah dituntut menyerahkan printout seperti mahasiswa lainnya (Kemenristekdikti, 2017).

Selanjutnya adalah modifikasi pembelajaran untuk disabilitas rungu meliputi: a) Memperbanyak bahan ajar yang bersifat visual; b) Tidak memalingkan wajah dari disabilitas rungu kerena mereka mendapat informasi dari gerakan bibir; c) Mahasiswa disabilitas rungu duduk paling depan; d) Hindari ucapan yan terlalu cepat dan kalimat kompleks; e) Dianjurkan menggunakan metode demonstrasi, peragaan, atau praktek langsung; f) Disabilitas rungu diperbolehkan menjelaskan pikirannya dengan menggunakan bahasa isyarat dan/atau tulis; g) Menyediakan interpreter bahasa isyarat (Kemenristekdikti, 2017).

Modifikasi pembelajaran untuk mahasiswa disabilitas daksa, yaitu: a) Memodifikasi atau mensubstitusi pembelajaran yang menuntut aktivitas motorik; b) Memberikan tugas alternatif sesuai kemampuan disabilitas; c) Hendaknya ditempatkan ada posisi yang memudahkan mereka melakukan mobilitas; d) Lingkungan fisik dan peralatan kelas harus ditata sehingga memungkinkan kursi roda melakukan mobilitas (Kemenristekdikti, 2017).

Modifikasi pembelajaran untuk mahasiswa autis dan gangguan perhatian, meliputi: a) Tingkat dan karakteristik autistik sangat beragam sehingga menyebabkan kebutuhan layanan khusus bersifat individual; b) Mahasiswa autis pada umumnya membutuhkan dukungan sosial yang berfungsi membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan; c) Dosen harus siap dengan segala kemungkinan perilaku yang ditunjukkan oleh mahasiswa autis, misalnya menyela pembicaraan, tertawa keras, dll; d) Pre-university briefing. Sebelum perkuliahan dimulai, mahasiswa autis hendaknya mendapatkan orientasi dalam berbagai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam perkuliahan; e) Peer Support Service. Setiap mahasiswa autis dan gangguan perhatian hendaknya dilengkapi dengan seorang atau beberapa teman yang berfungsi menjadi teman mentor untuk menolong mereka bersosialisasi dan mengikuti perkuliahan; f) Counseling Service. Universitas perlu menyediakan konselor bagi mahasiswa dengan autis dan gangguan perhatian ynag dapat diakses kapan saja; g) Diberikan peluang atau kesempatan untuk menentukan tempat khusus (cenderung sama setiap belajar), tidak dituntut untuk komunikasi dua arah, dan menyelesaikan tugas dengan waktu yang tidak terbatas (Kemenristekdikti, 2017).

Uraian diatas menjelaskan bahwa mahasiswa disabilitas berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu di perguruan tinggi. Pendidikan yang bermutu memerlukan efisiensi dan efektivitas yang dapat diperoleh dengan orientasi terhadap pendidikan inklusi. Hal ini membutuhkan peran berbagai pihak dalam pemberian layanan pendidikan sesuai dengan Panduan Layanan Mahasiswa Disabilitas di Perguruan Tinggi Tahun 2017 yang diterbitkan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Tahun 2017. Secara empiris studi pendahuluan yang sudah dilakukan peneliti melalui kegiatan observasi didapati perkuliahan mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi negeri inklusif masih belum benar-benar terlaksana dengan baik. Ditunjukkan dengan kesulitan komunikasi, mobilitas, dan akses belajar yang dialami oleh mahasiwa disabilitas.  Temuan inilah yang melatar belakangi penulis untuk melakukan sebuah penelitian Kegiatan Perkuliahan Mahasiswa Disabilitas dalam Perguruan Tinggi Negeri Inklusif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan dalam penyelenggaraan perkuliahan mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi.

 

METODE

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus dan rancangan multi situs (Moleong, 2013: 4). Peneliti menggunakan complete participant observation (Sugiyono, 2013:227), in depth interview (Sutopo, 2006:72), dan studi dokumentasi (Mulyana, 2001: 195). Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder (Bungin, 2001:128). Peneliti juga melakukan triangulasi metode dan triangulasi sumber (Denzin, 2009). Teknik analisis data dilakukan dengan tiga langkah, yaitu kondensasi data (data condensation), menyajikan data (data display), dan menarik simpulan atau verifikasi (conclusion drawing and verification) (Miles dkk, 2014:14). Lokasi penelitian dilakukan di Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya. Penelitian ini dimulai pada bulan Februari 2019.

 

HASIL

Perguruan tinggi negeri inklusif memiliki unit khusus yang memberikan layanan terhadap disabilitas. Unit tersebut berupa Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) atau Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) Diadakan kegiatan disability awareness untuk para dosen di perguruan tinggi. Pada kegiatan tersebut disampaikan bahwa di dalam penyusunan kurikulum tenaga pendidik harus mempertimbangkan keberadaan mahasiswa disabilitas dimana mereka memiliki kemampuan yang berbeda. Tidak ada pengelolaan akademik yang khusus untuk mahasiswa disabilitas Tentang bagaimana pelayanan di kelas adalah tergantung kebijakan dosen. Apabila disabilitas mengalami kesulitan dapat menghubungi dosen di luar kelas.

Kurikulum ditentukan oleh program studi masing-masing. Kurikulum tersebut juga dibuat standard dan tidak bisa membuat kurikulum khusus karena standard yang digunakan sama Tidak ada kurikulum yang bisa mengakomodasi seluruh mahasiswa di dalam kelas inklusif. Mahasiswa disabilitas harus menyesuaikan kurikulum mahasiswa non disabilitas. Untuk mengakomodir hal tersebut, diupayakan materi yang disampaikan sedapat mungkin diterima oleh mahasiswa disabilitas secara optimal. Mahasiswa disabilitas netra diberikan file-file, diberikan teknik evaluasi dengan mengerjakan pada laptop, dan diperkenankan untuk didampingi oleh volunteer. Sudah ada upaya pendampingan, tapi pendampingan belum memberikan banyak pengaruh terhadap perkembangan mahasiswa disabilitas. Banyak capaian pembelajaran yang secara konten materi belum begitu sampai ke mahasiswa disabilitas. Mahasiswa disabilitas netra dan daksa umumnya dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Tetapi untuk mahasiswa disabilitas rungu mungkin tidak seperti mahasiswa yang lain.

Perguruan tinggi menggunakan standard kelulusan yang sama bagi setiap mahasiswa baik disabilitas maupun non disabilitas. Apabila dinyatakan tidak lulus maka kompetensinya belum tercapai sehingga diharuskan mengulang lagi. Hanya saja, dalam pengerjaannya dia dibantu oleh pendamping dan tutor. Unit memberikan banyak akomodasi untuk aktivitas perkuliahan

Mahasiswa disabilitas mengalami masalah dalam lingkup perkuliahan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang akomodatif terhadap kedisabilitasannya. Contoh konkrit yang terjadi adalah seorang mahasiswa disabilitas netra harus menyelesaikan tugas statistik dan tugas keterampilan yang melibatkan indera visual seperti menggambar. Karenanya, dosen memberinya izin untuk digambarkan oleh temannya Masalah perkuliahan yang dialami oleh disabilitas selama ini dibantu oleh volunteer. Pendampingan ini merupakan bentuk usaha yang dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa disabilitas. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan berkomunikasi dan memahami materi dalam perkuliahan. Menurut hasil wawancara yang dilakukan kepada salah satu volunteer, dia mendampingi mahasiswa disabilitas sesuai dengan kebutuhan disabilitas tersebut. Apsbila mendampingi mahasiswa disabilitas netra, dia mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh dosen. Ketika dosen menampilkan video, volunteer menjelaskan isi videonya dengan jelas dan detail. Poin-poin yang dicatat volunteer akan dijelaskan di akhir perkuliahan apabila diperlukan. Berbeda dengan mendampingi disabilitas netra, pendampingan terhadap disabilitas rungu biasanya dilakukan dengan cara mencatat, karena beberapa volunteer tidak begitu bisa bahasa isyarat. Tetapi, selama volunteer bisa berisyarat untuk beberapa kata, maka dia akan melakukannya

Disabilitas autis mengalami permasalahan sosial seperti tidak tidak ada teman sekelas yang mengajak bicara dan dia sibuk dengan dunianya sendiri. Kondisi ini berdampak pada bagaimana pembagian kelompok di dalam sebuah perkuliahan menjadi tidak efektif karena tidak ada yang ingin satu kelompok dengan disabilitas autis tersebut. Ketidakfokusan yang dialami oleh disabilitas autis juga berpengaruh pada seberapa banyak dia menerima meteri, sehingga volunteer selalu mengingatkan untuk terus mendengarkan dosen dan mencatat hal-hal yang penting di dalam perkuliahan

Dosen tidak memberikan layanan khusus kepada mahasiswa disabilitas. Volunteer lah yang dimaksimalkan dalam memberikan akomodasi untuk membantu mahasiswa disabilitas menyelesaikan tuntutan-tuntutan yang diberikan oleh universitas. Selain itu, kurikulum dan standard kelulusan mahasiswa disabilitas sama dengan kurikulum dan standard kelulusan mahasiswa non disabilitas. Hal ini bertujuan untuk menjaga konsistensi kredibilitas lulusan Perguruan Tinggi sehingga output yang dihasilkan adalah lulusan yang berkualitas tanpa terkecuali. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa disabilitas beragam, ada yang mampu mengikuti dan ada yang kesulitan mengikuti perkuliahan. Hal tersebut dinilai wajar karena mahasiswa non disabilitas pun juga bisa mengalaminya.  Namun, volunteer dan unit tetap berusaha memberikan akomodasi secara maksimal.

 

PEMBAHASAN

Keterbatasan yang dialami oleh mahasiswa disabilitas mengharuskan adanya upaya modifikasi cara dan atau alat sehingga memungkinkan mereka mengikuti perkuliahan dengan baik. Adapun modifikasi pembelajaran untuk disabilitas netra meliputi: a) Perangkat pembelajaran disediakan dalam bentuk braille atau soft copy; b) Memperbanyak informasi secara verbal; c) Pengerjaan soal evaluasi menggunakan braille, laptop, atau rekaman audio; dan d) Pengerjaan tugas seperti makalah dituntut menyerahkan printout seperti mahasiswa lainnya (Kemenristekdikti, 2017).

Kurikulum ditentukan oleh program studi masing-masing. Kurikulum tersebut juga dibuat standard dan tidak bisa membuat kurikulum khusus karena standard yang digunakan sama Tidak ada kurikulum yang bisa mengakomodasi seluruh mahasiswa di dalam kelas inklusif. Mahasiswa disabilitas harus menyesuaikan kurikulum mahasiswa non disabilitas. Untuk mengakomodir hal tersebut, diupayakan materi yang disampaikan sedapat mungkin diterima oleh mahasiswa disabilitas secara optimal. Mahasiswa disabilitas netra diberikan file-file, diberikan teknik evaluasi dengan mengerjakan pada laptop, dan diperkenankan untuk didampingi oleh volunteer. Dosen sudah memberikan modifikasi metode dan alat untuk mahasiswa disabilitas netra sesuai dengan Kemenristekdikti tahun 2017.

Selanjutnya adalah modifikasi pembelajaran untuk disabilitas rungu meliputi: a) Memperbanyak bahan ajar yang bersifat visual; b) Tidak memalingkan wajah dari disabilitas rungu kerena mereka mendapat informasi dari gerakan bibir; c) Mahasiswa disabilitas rungu duduk paling depan; d) Hindari ucapan yan terlalu cepat dan kalimat kompleks; e) Dianjurkan menggunakan metode demonstrasi, peragaan, atau praktek langsung; f) Disabilitas rungu diperbolehkan menjelaskan pikirannya dengan menggunakan bahasa isyarat dan/atau tulis; g) Menyediakan interpreter bahasa isyarat (Kemenristekdikti, 2017).

Perkuliahan mahasiswa disabilitas rungu sudah mengupayakan adanya pendampingan tetapi pendampingan belum memberikan banyak pengaruh terhadap perkembangan mahasiswa disabilitas. Sehingga banyak capaian pembelajaran yang secara konten materi belum begitu sampai ke mahasiswa disabilitas. Menurut hasil observasi peneliti yang dilakukan secara partisipatif, mahasiswa disabilitas rungu ada yang duduk di bangku tengah dan ada yang duduk di bangku depan tergantug pada masing-masing individu. Pendamping mencatat dan sedikit mengisyaaratkan penjelasan dosen. Penjelasnanya melalui power point dan papan tulis berupa tabel dan rumus-rumus sehingga mahasiswa disabilitas rungu juga dapat mengikuti dengan baik

Modifikasi pembelajaran untuk mahasiswa disabilitas daksa, yaitu: a) Memodifikasi atau mensubstitusi pembelajaran yang menuntut aktivitas motorik; b) Memberikan tugas alternatif sesuai kemampuan disabilitas; c) Hendaknya ditempatkan ada posisi yang memudahkan mereka melakukan mobilitas; d) Lingkungan fisik dan peralatan kelas harus ditata sehingga memungkinkan kursi roda melakukan mobilitas (Kemenristekdikti, 2017).

Menurut hasil observasi partisipatif di kelas mahasiswa disabilitas daksa pembelajaran yang menuntut aktivitas motorik dimodifikasi berupa kurikulum yang disubstitusi. Ketika mahasiswa lain bermain basket, mahasiswa disabilitas daksa diminta berlari saja. Seain itu, dosen juga menggantinya dengan tugas. Apabila ada kelas yang tidak dapat diakses, dilakukan lobbying dengan tenaga kependidikan maupun kelas lain yang bersangkutan.Permasalahan yang terjadi cenderung pada bagaimana mobilitas mahasiswa disabilitas daksa dari satu tempat ke tempat lain Meskipun sudah dibangunn bidang miring pad trotoar, disabilitas dakasa sulit menjangkaunya sendiri karena terlalu curam.

Modifikasi pembelajaran untuk mahasiswa autis dan gangguan perhatian, meliputi: a) Tingkat dan karakteristik autistik sangat beragam sehingga menyebabkan kebutuhan layanan khusus bersifat individual; b) Mahasiswa autis pada umumnya membutuhkan dukungan sosial yang berfungsi membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan; c) Dosen harus siap dengan segala kemungkinan perilaku yang ditunjukkan oleh mahasiswa autis, misalnya menyela pembicaraan, tertawa keras, dll; d) Pre-university briefing. Sebelum perkuliahan dimulai, mahasiswa autis hendaknya mendapatkan orientasi dalam berbagai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam perkuliahan; e) Peer Support Service. Setiap mahasiswa autis dan gangguan perhatian hendaknya dilengkapi dengan seorang atau beberapa teman yang berfungsi menjadi teman mentor untuk menolong mereka bersosialisasi dan mengikuti perkuliahan; f) Counseling Service. Universitas perlu menyediakan konselor bagi mahasiswa dengan autis dan gangguan perhatian ynag dapat diakses kapan saja; g) Diberikan peluang atau kesempatan untuk menentukan tempat khusus (cenderung sama setiap belajar), tidak dituntut untuk komunikasi dua arah, dan menyelesaikan tugas dengan waktu yang tidak terbatas (Kemenristekdikti, 2017).

Mahasiswa autis tidak didampingi dengan alasan tidak mau didampingi. Ada juga yang dikarenakan dosen tidak berkenan mahasiswa didampingi oleh volunteer. Berdasarkan wawancara tidak terstruktur yang dilakukan di sela kegiatan bersama disabilitas autis, dia menyadari bahwa dirinya autis dan menghendaki untuk didampingi, tetapi karena dosen tidak mengizinkan maka yang terjadi adalah volunteer yang satu kelas dengannya mendampingi tanpa terlihat mencolok. Berdasarkan hasil observasi pun terlihat ada sedikit perilaku maladaptif yang muncul pada saat dia mulai bosan. Tidak ada teman sekelas yang mengajak bicara. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Kondisi ini berdampak pada bagaimana pembagian kelompok di dalam sebuah perkuliahan menjadi tidak efektif karena tidak ada yang ingin satu kelompok dengan disabilitas autis tersebut. Beberapa mahasiswa autis sulit menyerap materi. Terbukti pada saat ujian dia tidak dapat mengerjakannya dengan baik sehingga volunteer memberikan clue untuk menjawabnya. Tetapi untuk beberapa volunteer yang sabar dia memberikan jawaban atas dasar kemanusiaan. Mahasiswa autis juga pernah tantrum di kelas.

Pada proses perkuliahan, dosen tidak memberikan layanan khusus kepada mahasiswa disabilitas. Unit yang dimaksimalkan dalam memberikan akomodasi dalam bentuk apapun untuk membantu mahasiswa disabilitas menyelesaikan tuntutan-tuntutan yang diberikan oleh universitas. Selain itu, kurikulum dan standard kelulusan mahasiswa disabilitas sama dengan kurikulum dan standard kelulusan mahasiswa non disabilitas. Hal ini bertujuan untuk menjaga konsistensi kredibilitas lulusan sehingga output yang dihasilkan adalah lulusan yang berkualitas tanpa terkecuali. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa disabilitas beragam, ada yang mampu mengikuti dan ada yang kesulitan mengikuti perkuliahan.  Volunteer dan Unit tetap berusaha memberikan akomodasi secara maksimal.

 

PENUTUP

Kegiatan perkuliahan mahasiwa disabilitas di perguruan tinggi negeri inklusif sudah cukup sesuai dengan Buku Panduan Layanan Disabilitas oleh Kemenristekdikti tahun 2017. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki untuk menjadikan perguruan tinggi negeri inklusif menjadi lebih baik.

 

Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari penelitian tentang kegiatan perkuliahan mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi inklusif, meliputi:

1.Kurikulum dan Standar kelulusan antara mahasiwa disabilitas dan mahasiswa non disabilitas sama.

2.Mahasiwa disabilitas mendapatkan akomodasi dan modifikasi. Akomodasi tersebut berupa materi softfile, volunteer, dan pemilihan ruangan yang akses. Modifikasi tersebut berupa modifikasi metode perkuliahan dan modifikasi teknik evaluasi.

3.Akomodasi perkuliahan untuk mahasiswa disabilitas autis masih menim, tetapi sudah ada upaya melalui kegiatan disability awareness dan penyediaan volunteer

 

Saran

Adapun saran dari penelitian tentang kegiatan perkuliahan mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi inklusif, meliputi:

1.Perguruan tinggi perlu melakukan monitoring secara intensif dan langsung tentang kegiatan perkuliahan terutama di kelas inklusif

2.Perlu dilakukan evaluasi tentang kurikulum dan pemahaman dosen dalam memberikan materi perkuliahan di kelas inklusif

3.Perlu dilakukan sosialisasi yang berkelanjutan tentang disabilitas dan inklusivitas untuk menciptakan lingkungan sosial yang akomodatif, menghargai perbedaan, dan inklusif.

 

DAFTAR RUJUKAN

Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial. Surabaya: Airlangga University Press.

Convention on The Rights of Persons With Disabilities (CRPD).

Denzin & Lincoln. 2009. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

J. Moleong, Lexy. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya; Bandung. 167 hlm

Miles,M.B, Huberman,A.M, dan Saldana,J. 2014. Qualitative Data Analysis, A Methods Sourcebook, Edition 3. USA: Sage Publications. Terjemahan Tjetjep Rohindi Rohidi, UI-Press.

Mulyana, Dedi. 2001. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Panduan Layanan Mahasiswa Disabilitas di Perguruan Tinggi Tahun 2017 oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfa Beta.

Sutopo, H.B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif: Dasar Teori dan terapannya dalam Penelitian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

 

Undang-undang Dasar 1945 Pasal 31