SKRIPSI Jurusan Pendidikan Luar Biasa - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

IMPLEMENTASI LAYANAN PENDIDIKAN INKLUSIF: STUDI KASUS TENTANG KESIAPAN KOTA MADIUN DALAM MENYELENGGARAKAN SEKOLAH INKLUSIF

HALIM JAYA PERSADA

Abstrak


ABSTRAK

 

Persada, Halim Jaya. 2017. Implementasi Layanan Pendidikan Inklusif: Studi Kasus tentang Kesiapan Kota Madiun dalam Menyelenggarakan Sekolah Inklusif. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Biasa FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Mohammad Efendi, M.Pd. M.Kes, (II) Pramono, S.Pd. M.Or.

 

Kata kunci: Pendidikan Inklusif, Sekolah Inklusif, Kota Madiun

 

Pendidikan merupakan hak bagi semua manusia tak terkecuali bagi para penyandang disabilitas. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif menerangkan bahwa pendidikan inklusif merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki pontensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Namun, dalam pelaksanaannya masih ada pihak-pihak yang belum memaksimalkan pelaksanaan layanan pendidikan ini, salah satunya adalah Kota Madiun. Kota Madiun yang merupakan suatu kota yang berada di Provinsi Jawa Timur bagian barat, belum melaksanakan layanan pendidikan inklusif secara maksimal. Hal inilah yang ingin peneliti cari tahu. Sejauhmana persiapan Kota Madiun dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif.

Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, yang mana peneliti menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi dalam pengumpulan data. Hasil yang didapatkan oleh peneliti adalah adanya ketidakmaksimalan Dinas Pendidikan Kota Madiun dalam penyelenggaraan layanan pendidikan inklusif. Hal ini terbukti dengan tidak adanya penyediaan Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang seharusnya ada di sekolah inklusif. Sarana dan prasarana yang ada di sekolah inklusif juga belum terpenuhi secara maksimal. Alhasil sekolah inklusif berjalan apaadanya mengandalkan fasilitas yang ada tanpa adanya bantuan dari dinas terkait.

Kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini adalah Kota Madiun belum siap untuk menyelenggrakan layanan pendidikan inklusif secara berkelanjutan di masa yang akan datang. Namun melihat semangat yang tinggi dari sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah inklusif, harapan peneliti dan sekolah-sekolah inklusif di Kota Madiun adalah pemenuhan fasiltas yang memang seharusnya dimiliki oleh sekolah inklusif, seperti tenaga kependidikan khusus yakni Guru Pembimbing Khusus (GPK) dan pelengkapan fasilitas sarana dan prasarana guna memaksimalkan penyelenggaraan layanan pendidikan inklusif di Kota Madiun.