SKRIPSI Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Perkalian Melalui Pendekatan Cooperative learning Metode Pemecahan Masalah Siswa Kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan.

SRI RAHAYU HARTATIK

Abstrak


ABSTRAK

 

Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Perkalian Melalui Pendekatan Cooperative learning Metode Pemecahan Masalah                  Siswa Kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan.

Oleh : Sri Rahayu Hartatik

Kata Kunci    : Pendekatan Cooperative Learning, Pemecahan Masalah

   Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1) Bagaimanakanh penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan dalam pembelajaran matematika ?  2) Bagaimanakah penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang perkalian siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan ? 3) Apakah dengan menggunakan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas III SDNTembokrejo I Pasuruan ?

Subjek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan sebanyak 25 orang siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka. Dari 25 orang siswa, hasil tes diperoleh nilai rata-rata 52 dengan perincian nilai sebagai berikut : 1 orang siswa memperoleh nilai 100, 5 orang siswa memperoleh nilai 80, 9 orang siswa memperoleh nilai 60,  3 orang siswa memperoleh nilai 40, dan 7 orang memperoleh nilai 20. Pada kompetensi dasar di atas telah ditentukan KKM nya 70, artinya siswa dikatakan tuntas belajarnya apabila telah memperoleh nilai minimal 70. Dari hasil tes dapat disimpulkan bahwa siswa yang tuntas belajar 6 orang siswa (24% ), sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar ada 19 orang siswa (76% ). Sehingga pembelajaran dikatakan belum berhasil. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan pedoman wawancara.

    Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan (1 ) Hasil observasi aktivitas siswa siklus I adalah 74,6 % dengan kategori  baik. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II adalah78,7 %. Aktivitas siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 4,1 %, secara keseluruhan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dikategorikan baik. Pada penilaian proses untuk siklus I adalah kualifikasi amat baik ada 3 orang siswa, yang mencapai kualifikasi baik ada 12 orang siswa ,dan kualifikasi cukup ada 10 orang siswa. Pada siklus II diperoleh kualifikasi amat baik ada 6 orang siswa, yang mencapai kualifikasi baik ada 18 orang siswa, dan kualifikasi cukup ada 1 orang siswa.

Pada penilaian hasil untuk siklus I adalah nilai rata-rata76,8. Siswa yang tuntas belajar 15 orang siswa, sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar ada 10 orang siswa. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 84,8, siswa yang tuntas belajar 25 orang siswa (100 % ).

Berdasarkan hasil temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa sebelum penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah jauh dari kriteria keberhasilan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi peneliti pada pra tindakan.  Pada pra tindakan diperoleh nilai rata-rata 49,6, 19 siswa belum mencapai ketuntasan belajar dan 6 siswa mencapai ketuntasan belajar. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 76,8, 15 siswa belum mencapai ketuntasan belajar dan 10 siswa mencapai ketuntasan belajar. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 84,8, 25 siswa (100%) mencapai ketuntasan belajar. Disimpulkan bahwa hasil belajar sebelum penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah perlu adanya peningkatan. Hasil belajar setelah penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dikatakan meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi siswa selama tindakan pada siklus I dan siklus II.