SKRIPSI Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PROBLEMATIKA PENGGUNAAN METODE EKSPERIMEN PADA PEMBELAJARAN IPA DI KELAS V SD DI WILAYAH GUGUS 2 MADYOPURO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG

DINA APRIANI SANTOSO PUTRI

Abstrak


ABSTRAK

 

Putri, Dina Apriani Santoso. 2012. Problematika Penggunaan Metode Eksperimen Pada pembelajaran IPA Di Kelas V SD Di Wilayah Gugus 2 Madyopuro Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sukamti, M.Pd, (II) Dra. Sri Estu Winahyu, M.Pd.

 

Kata Kunci: problematika pembelajaran, IPA SD, metode eksperimen.

 

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan kepada guru, diperoleh temuan bahwa guru sudah melaksanakan pembelajaran dengan metode eksperimen, namun hanya dilakukan pada sebagian kecil materi saja. Hal ini dikarenakan pada saat akan menggunakan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA, guru menjumpai problematika. Problematika tersebut muncul pada saat guru sedang membuat perencanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen, pada saat pelaksanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen, dan pada saat melakukan penilaian terhadap pembelajaran IPA yang menggunakan metode eksperimen.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan: (1) problematika yang dijumpai oleh guru pada saat membuat perencanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen, (2) problematika yang dijumpai oleh guru pada saat pelaksanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen, dan (3) problematika yang dijumpai oleh guru pada saat melakukan penilaian terhadap pembelajaran IPA yang menggunakan metode eksperimen.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, instrument utamanya adalah peneliti, dan instrument pendukung lain yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, dan pedoman angket. Untuk menjaga keabsahan data menggunakan triangulasi data dengan cara membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan angket. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam melaksanakan eksperimen, sebagian besar guru di SD yang tergabung di Gugus 2 Madyopuro Kecamatan Kedungkandang Kota Malang mengalami kesulitan dalam hal pembuatan LKK yang mencakup aktivitas siswa dalam menemukan konsep dan membuat langkah-langkah/ petunjuk kerja yang sederhana agar mudah dipahami oleh siswa,  tidak semua alat/ media dan bahan untuk eksperimen tersedia di sekolah, kalaupun ada jumlah terbatas, terbatasnya waktu untuk mata pelajaran IPA, kesulitan melakukan pengelolaan kelas karena jumlah siswa yang banyak, tidak bisa melakukan penilaian proses yang akurat pada setiap siswa karena jumlah siswa yang banyak.

Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa pada saat menggunakan metode eksperimen pada pembelajaran IPA di kelas V SD, guru menjumpai problematika. Pada umumnya problematika dari segi perencanaan meliputi kesulitan dalam hal pembuatan LKK yang mencakup aktivitas siswa dalam menemukan konsep dan membuat langkah-langkah/ petunjuk kerja yang sederhana agar mudah dipahami oleh siswa, dan tidak semua alat/ media dan bahan untuk eksperimen tersedia di sekolah, kalaupun ada jumlah terbatas. Problematika yang muncul dari segi pelaksanaan meliputi terbatasnya waktu untuk mata pelajaran IPA, dan kesulitan melakukan pengelolaan kelas karena jumlah siswa yang banyak. Problematika yang muncul dari segi penilaian adalah tidak bisa melakukan penilaian proses yang akurat pada setiap siswa karena jumlah siswa yang banyak. Meskipun dalam penggunaan metode eskperimen ini guru banyak menjumpai problematika, tetapi guru diharapkan tetap menggunakan metode eksperimen ini dalam pembelajaran IPA, karena melalui eksperimen, konsep-konsep IPA yang bersifat abstrak akan lebih mudah dipahami oleh siswa.