SKRIPSI Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE SOSIODRAMA PADA SISWA KELAS V SDN I PUCANGLABAN KABUPATEN TULUNGAGUNG

Feni Halimah

Abstrak


ABSTRAK

 

Halimah, Feni. 2012. Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Sosiodrama pada Siswa Kelas V SDN 1Pucanglaban Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Program Studi S1 PGSD Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Suhel Madyono S.Pd , M.Pd, (II) Dra. Sri Nuryati M.Pd

 

Kata kunci: keterampilan berbicara, memerankan tokoh, metode pembelajaran sosiodrama

 

Berbicara merupakan salah satu aspek  berbahasa yang bersifat produktif, artinya suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menyampaikan gagasan, pikiran atau perasaan sehingga gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran pembicara dapat dipahami orang lain. Pembelajaran berbicara di sekolah belum dapat memenuhi tuntutan kegiatan berbicara yang dibutuhkan masyarakat. Pembelajaran berbicara di sekolah umumya kurang mendapatkan simpati dari para siswa. hasil observasi awal di kelas V SDN I Pucanglaban Kabupaten Tulungagung yang terdiri dari 14 siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran berbicara, ditemukan fakta antaralain : (1) siswa malas mengemukakan pendapat atau pertanyaan, (2) siswa merasa malu atau takut berbicara pada saat belajar di kelas, (3) jika disuruh berbicara, siswa tidak mampu menyampaikan ide dengan benar, merasa grogi serta tidak lancar dalam berdialek, dan (4) 10 siswa tidak dapat  mencapai ketuntasan dalam pembelajaran, keadaan ini disebabkan karena siswa tidak dapat mengungkapkan pendapatnya dengan benar. Siswa masih mendapatkan nilai jauh dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yakni 70. Dari 14 siswa kelas V, hanya 3 anak yang mendapat nilai di 80, 2 anak mendapat nilai di atas 70, dan 9 anak mendapat nilai dibawah 70 yaitu kisaran 55 sampai 65 dengan rata-rata kelas 60,57. Rendahnya keterampilan  berbicara siswa disebabkan oleh berbagai faktor antaralain, (1) minat siswa dalam belajar kurang, hal ini terlihat dalam proses pembelajaran siswa terlihat kurang aktif, (2) metode yang digunakan guru monoton, dan (3) guru tidak menggunakan media pembelajaran.

Metode pembelajaran sosiodrama adalah suatu model permainan peran yang ditujukan untuk memecahkan masalah – masalah sosial yang timbul dalam hubungan antar manusia. Didalam sosio drama ini seseorang akan memerankan suatu peran tertentu dari situasi masalah sosial (Djumbur & Muh Surya,2001:109). Tujuan sosiodrama yaitu  (1) agar siswa mendapatkan keterampilan sosial sehingga mereka nantinya tidak akan canggung dalam menghadapi masalah – masalah sosial dalam kehidupan mereka, (2) menghilangkan perasaan rendah diri, (3) mendidik dan mengembangkan kemampuan mereka untuk berani mengeluarkan pendapatnya baik di depan teman sendiri maupun orang lain dan (4) membiasakan diri untuk sanggup menerima pendapat dari orang lain.

Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian berupa proses pembelajaran metode sosiodrama dan peningkatan keterampilan berbicara siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Kegiatan analisis data dilakukan dengan metode alur meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Hasil penelitian yang dilakukan selama dua siklus pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara siswa. Peningkatan keterampilan berbicara siswa mengacu pada kriteria yang telah ditentukan.Kriteria tersebut berupa pelafalan, intonasi, kelancaran dan ekspresi yang ditunjukkan dalam memerankan tokoh drama Sedangkan peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari meningkatnya nilai rata-rata dan prosentase ketuntasan belajar secara klasikal dari data awal, siklus I dan siklus II. Secara berturut-turut nilai rata-rata siswa dari data awal, siklus I, dan siklus II adalah60,57; 64,14; 71,28;73,85 dan 79,14 dan prosentase ketuntasan belajar siswa dari data awal, siklus I dan siklus II adalah 36%, 57%,64%;71 dan 86%. Jumlah siswa yang belum tuntas belajar berkurang dari data awal, siklus I dan siklus II. Secara berturut-turut jumlah siswa yang belum tuntas belajar pada data awal, siklus I dan siklus II adalah sebanyak 9 siswa, 6 siswa, 5 siswa, 4 siswa dan 2 siswa.